MasukDeklarasi tegas Lucien di atas podium takhta memang sanggup memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh ruangan bertekuk lutut. Tekanan aura sang penguasa yang berpadu dengan luapan sihir Primordial dari tubuh Maya berhasil membungkam keraguan terbuka para tetua dewan tua. Namun, dinamika di Istana Bayangan tidak pernah sesederhana itu. Begitu ritual pengumuman selesai dan jamuan makan resmi dimulai, Lucien terpaksa berpisah sejenak dari sisi Maya untuk berdiskusi secara mendesak dengan para jenderal perang dan petinggi klan di sudut balairung. Seiring melangkah jauhnya sang Raja, keheningan mencekam yang semula membungkus ruangan perlahan-lahan mencair, berganti menjadi riak bisikan racun yang kian membendung udara pesta.Maya berdiri sendirian di dekat meja panjang bertaplak beludru hitam yang dipenuhi oleh cawan-cawan anggur kristal serta bermacam-macam hidangan buah-buahan sihir yang asing. Kepulan asap dupa berbahan kayu cendana magis membumbung tinggi, mempertegas atmosfer
Langkah kaki bertempo tegas dari jajaran prajurit berzirah besi hitam bergema teratur di sepanjang koridor utama Sayap Mawar Hitam. Sejak pengakuan Lucien mengenai Kontrak Primordial dan keputusan tegas Maya untuk bertahan di Istana Bayangan, atmosfer di seluruh penjuru istana telah berubah total. Tempat yang semula terasa bagaikan penjara megah penuh bisikan bisu kini berubah menjadi kancah politik terbuka, di mana seluruh mata bangsawan berdarah murni tertuju penuh pada sosok gadis fana yang membawa sihir Primordial tersebut.Pagi itu, Maya berdiri diam di depan cermin kristal berbingkai emas setinggi tubuhnya. Gaun yang mengenakannya kali meunjukkan perbedaan yang amat drastis dari sebelumnya—bukan lagi kain zamrud biasa, melainkan gaun beludru hitam pekat berhiaskan sulaman benang-benang sihir emas yang berpendar halus setiap kali ia menghembuskan napas. Kain gaun itu jatuh dengan sangat anggun, menyapu lantai pualam. Di lehernya yang jenjang, melingkar sebuah kalung batu obsidian
Keheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan Murni.Maya memandangi pergelangan tangan kanannya. Di balik selubung renda zamrud yang membungkus kulitnya, rajah duri hitam berukir benang emas itu berdenyut halus. Denyutannya tidak lagi terasa panas atau menyengat bagai ancaman, melainkan bergetar dalam ritme yang amat teratur, selaras sempurna dengan detak jantung pria di hadapannya."Mengikat jiwa kami..." bisik Maya pelan. Suaranya yang parau menyerap seluruh kehampaan di dalam ruangan. "Jadi sejak awal... ini bukan sekadar perjanjian di atas k
Keheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan.Maya memandangi pergelangan tangan kanannya. Di balik selubung renda zamrud yang membungkus kulitnya, rajah duri hitam berukir benang emas itu berdenyut halus. Denyutannya tidak lagi terasa panas atau menyengat bagai ancaman, melainkan bergetar dalam ritme yang amat teratur, selaras sempurna dengan detak jantung pria di hadapannya."Mengikat jiwa kami..." bisik Maya pelan. Suaranya yang parau menyerap seluruh kehampaan di dalam ruangan. "Jadi sejak awal... ini bukan sekadar perjanjian di atas kertas
Langkah kaki Maya yang tergesa-gesa dan tak menentu akhirnya membawanya kembali ke dalam lingkungan Sayap Mawar Hitam. Dengan napas tersengal-sengal, ia mendorong pintu kayu berukir itu lalu membantingnya hingga tertutup rapat. Ia menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada permukaan pintu batu seraya berusaha mengatur napasnya yang memburu. Bella, yang sedang merapikan tirai beludru di dekat perapian, terperanjat kaget melihat kedatangan Maya yang mendadak dalam keadaan menangis sesenggukan dan diselimuti oleh percikan sihir emas yang tak terkendali."Nona Maya! Demi Para Leluhur, apa yang telah terjadi pada Anda?" seru Bella panik, langsung membuang kain di tangannya dan melangkah mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran."Tinggalkan aku sendiri, Bella. Aku mohon... tinggalkan aku sendiri," bisik Maya serak, menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang dingin.Bella menatap Maya dengan rasa iba dan simpati yang sangat mendalam. Sebagai peri hutan yang peka, ia bisa meras
Keheningan yang menyelubungi balkon melayang di sayap utara istana terasa kian berat dan membeku seiring berlalunya detik demi detik. Di bawah naungan pendaran cahaya dari tiga bulan yang melayang sejajar di langit malam, Maya memandangi tangan tegap Lucien yang masih terulur padanya. Pengakuan pria itu bahwa ia adalah sang penguasa tertinggi Negeri Bayangan—sosok yang selama ini namanya ia dengar dari mulut Azrael, para pengawal, dan para bangsawan—mendadak menghantam kesadaran Maya bagaikan hantaman gelombang es yang sangat mematikan.Perasaan hangat yang sempat menjalar di dadanya, kehalusan senyuman Lucien beberapa saat lalu, dan kata-kata manismu tentang kepercayaan murni seketika menguap tanpa bekas. Semuanya berganti menjadi sengatan rasa kebas dan dingin yang merayap cepat ke seluruh aliran darahnya. Rasa tertipu yang amat membakar perlahan meluap dari dalam relung jiwanya yang paling dalam.Maya memundurkan fisiknya satu langkah besar ke belakang, menepis uluran tangan Lucien







