LOGINKeheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan Murni.Maya memandangi pergelangan tangan kanannya. Di balik selubung renda zamrud yang membungkus kulitnya, rajah duri hitam berukir benang emas itu berdenyut halus. Denyutannya tidak lagi terasa panas atau menyengat bagai ancaman, melainkan bergetar dalam ritme yang amat teratur, selaras sempurna dengan detak jantung pria di hadapannya."Mengikat jiwa kami..." bisik Maya pelan. Suaranya yang parau menyerap seluruh kehampaan di dalam ruangan. "Jadi sejak awal... ini bukan sekadar perjanjian di atas k
Keheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan.Maya memandangi pergelangan tangan kanannya. Di balik selubung renda zamrud yang membungkus kulitnya, rajah duri hitam berukir benang emas itu berdenyut halus. Denyutannya tidak lagi terasa panas atau menyengat bagai ancaman, melainkan bergetar dalam ritme yang amat teratur, selaras sempurna dengan detak jantung pria di hadapannya."Mengikat jiwa kami..." bisik Maya pelan. Suaranya yang parau menyerap seluruh kehampaan di dalam ruangan. "Jadi sejak awal... ini bukan sekadar perjanjian di atas kertas
Langkah kaki Maya yang tergesa-gesa dan tak menentu akhirnya membawanya kembali ke dalam lingkungan Sayap Mawar Hitam. Dengan napas tersengal-sengal, ia mendorong pintu kayu berukir itu lalu membantingnya hingga tertutup rapat. Ia menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada permukaan pintu batu seraya berusaha mengatur napasnya yang memburu. Bella, yang sedang merapikan tirai beludru di dekat perapian, terperanjat kaget melihat kedatangan Maya yang mendadak dalam keadaan menangis sesenggukan dan diselimuti oleh percikan sihir emas yang tak terkendali."Nona Maya! Demi Para Leluhur, apa yang telah terjadi pada Anda?" seru Bella panik, langsung membuang kain di tangannya dan melangkah mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran."Tinggalkan aku sendiri, Bella. Aku mohon... tinggalkan aku sendiri," bisik Maya serak, menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang dingin.Bella menatap Maya dengan rasa iba dan simpati yang sangat mendalam. Sebagai peri hutan yang peka, ia bisa meras
Keheningan yang menyelubungi balkon melayang di sayap utara istana terasa kian berat dan membeku seiring berlalunya detik demi detik. Di bawah naungan pendaran cahaya dari tiga bulan yang melayang sejajar di langit malam, Maya memandangi tangan tegap Lucien yang masih terulur padanya. Pengakuan pria itu bahwa ia adalah sang penguasa tertinggi Negeri Bayangan—sosok yang selama ini namanya ia dengar dari mulut Azrael, para pengawal, dan para bangsawan—mendadak menghantam kesadaran Maya bagaikan hantaman gelombang es yang sangat mematikan.Perasaan hangat yang sempat menjalar di dadanya, kehalusan senyuman Lucien beberapa saat lalu, dan kata-kata manismu tentang kepercayaan murni seketika menguap tanpa bekas. Semuanya berganti menjadi sengatan rasa kebas dan dingin yang merayap cepat ke seluruh aliran darahnya. Rasa tertipu yang amat membakar perlahan meluap dari dalam relung jiwanya yang paling dalam.Maya memundurkan fisiknya satu langkah besar ke belakang, menepis uluran tangan Lucien
Ketegangan yang membekukan di Aula Pertemuan Agung akhirnya mereda setelah Lucien menggunakan otoritas mutlaknya untuk membubarkan perdebatan Dewan Bangsawan Murni. Tanpa membiarkan para pengawal, pejabat, atau Lord Kael mendekat untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut, Lucien langsung membimbing Maya keluar dari aula utama. Mereka melintasi lorong-lorong rahasia di sayap utara istana yang sangat sunyi dan berudara segar, menaiki tangga batu melingkar yang menanjak tinggi hingga akhirnya sampai di sebuah balkon melayang yang amat luas dan terisolasi sepenuhnya dari hiruk-pikuk kehidupan istana.Di luar sana, tiga bulan melayang sejajar di langit malam yang gelap pekat, memancarkan pendaran cahaya violet dan keemasan yang menerangi hamparan Kota Astralia jauh di bawah sana. Angin malam berembus cukup kencang, menerbangkan jubah hitam Lucien dan gaun hijau zamrud yang dikenakan Maya dengan anggun.Maya menyandarkan tubuhnya pada pembatas batu kristal balkon, menghembuskan napas panjang
Pintu porselen raksasa Aula Pertemuan Agung terbuka lebar dengan derit anggun yang bergema nyaring menembus seluruh sudut ruangan. Cahaya kristal keemasan menyiram wajah Maya saat ia melangkah masuk tepat di samping Lucien. Di dalam aula yang amat luas dan megah itu, puluhan bangsawan berdarah murni duduk melingkar di atas tribun bertingkat yang terbuat dari batu pualam. Mereka mengenakan jubah-jubah mewah berhiaskan permata langka dan lambang klan masing-masing. Suasana yang tadinya amat bising oleh bisikan-bisikan dingin mendadak senyap seketika begitu langkah sang penguasa menapak di atas karpet beludru merah yang membentang di tengah ruangan.Namun, perhatian Maya sama sekali tidak tertuju pada jajaran dewan tua yang menatapnya penuh curiga. Pandangannya langsung terkunci pada seorang wanita yang berdiri anggun tepat di dekat mimbar utama.Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna biru keperakan yang menjuntai indah bagaikan aliran air raksa. Rambut peraknya disanggul tinggi denga







