เข้าสู่ระบบGema bisikan dan desas-desus racun di Balairung Utama perlahan-lahan kembali teratur, meski atmosfer di sekitar pilar-pilar batu obsidian raksasa kini sepenuhnya diwarnai oleh rasa segan serta ketakutan yang amat baru. Keberangkatan Lord Brandon yang tertunduk malu dengan jemari lecet memerah menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh tatapan takjub dari para tetua klan berdarah murni. Di tengah ruangan yang perlahan kembali bernapas itu, posisi Lucien yang masih merangkul pinggang Maya secara protektif terasa begitu kokoh dan tak tergoyahkan, seolah menjadi benteng pertahanan mutlak yang tak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun bagi sang gadis fana.Lucien menundukkan kepalanya sedikit ke arah kanan, mendekatkan rahang tegasnya ke arah telinga Maya. Kepulan napas hangatnya berhembus halus, menyentuh kulit leher Maya, sementara suara berat sang Raja mengalun sangat rendah—sebuah bisikan privat yang hanya ditujukan khusus untuk pendengaran sang Tunangan Kerajaan seorang."Kau sunggu
Harapan Lady Lysandra untuk melihat Maya hancur, terpojok, dan dipermalukan di hadapan seluruh dewan kerajaan runtuh sepenuhnya hanya dalam hitungan menit berikutnya. Keangkuhan para bangsawan muda yang mengelilingi Maya mendadak memuncak tatkala seorang pangeran muda bertubuh tinggi besar dari klan utama Es Utara—Lord Brandon, keponakan kandung Lysandra—melangkah maju memangkas jarak secara agresif dan demonstratif. Pria itu sengaja mengambil alih panggung provokasi, bermaksud membuktikan superioritas darah murni di depan seluruh hadirin yang menyaksikan dari kejauhan.Wajah Brandon yang tampan dipenuhi keangkuhan murni khas bangsawan yang terbiasa menundukkan klan-klan kecil. Di jemari tangan kanannya terikat cincin bersihir es purba yang memancarkan pendaran hawa beku menusuk tulang, secara sengaja disebarkan ke udara di sekitar mereka untuk mengintimidasi fisik fana sang gadis."Lady Maya," sapa Brandon dengan nada suara meliuk-liuk yang dibuat-buat, membungkuk sangat rendah secar
Deklarasi tegas Lucien di atas podium takhta memang sanggup memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh ruangan bertekuk lutut. Tekanan aura sang penguasa yang berpadu dengan luapan sihir Primordial dari tubuh Maya berhasil membungkam keraguan terbuka para tetua dewan tua. Namun, dinamika di Istana Bayangan tidak pernah sesederhana itu. Begitu ritual pengumuman selesai dan jamuan makan resmi dimulai, Lucien terpaksa berpisah sejenak dari sisi Maya untuk berdiskusi secara mendesak dengan para jenderal perang dan petinggi klan di sudut balairung. Seiring melangkah jauhnya sang Raja, keheningan mencekam yang semula membungkus ruangan perlahan-lahan mencair, berganti menjadi riak bisikan racun yang kian membendung udara pesta.Maya berdiri sendirian di dekat meja panjang bertaplak beludru hitam yang dipenuhi oleh cawan-cawan anggur kristal serta bermacam-macam hidangan buah-buahan sihir yang asing. Kepulan asap dupa berbahan kayu cendana magis membumbung tinggi, mempertegas atmosfer
Langkah kaki bertempo tegas dari jajaran prajurit berzirah besi hitam bergema teratur di sepanjang koridor utama Sayap Mawar Hitam. Sejak pengakuan Lucien mengenai Kontrak Primordial dan keputusan tegas Maya untuk bertahan di Istana Bayangan, atmosfer di seluruh penjuru istana telah berubah total. Tempat yang semula terasa bagaikan penjara megah penuh bisikan bisu kini berubah menjadi kancah politik terbuka, di mana seluruh mata bangsawan berdarah murni tertuju penuh pada sosok gadis fana yang membawa sihir Primordial tersebut.Pagi itu, Maya berdiri diam di depan cermin kristal berbingkai emas setinggi tubuhnya. Gaun yang mengenakannya kali meunjukkan perbedaan yang amat drastis dari sebelumnya—bukan lagi kain zamrud biasa, melainkan gaun beludru hitam pekat berhiaskan sulaman benang-benang sihir emas yang berpendar halus setiap kali ia menghembuskan napas. Kain gaun itu jatuh dengan sangat anggun, menyapu lantai pualam. Di lehernya yang jenjang, melingkar sebuah kalung batu obsidian
Keheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan Murni.Maya memandangi pergelangan tangan kanannya. Di balik selubung renda zamrud yang membungkus kulitnya, rajah duri hitam berukir benang emas itu berdenyut halus. Denyutannya tidak lagi terasa panas atau menyengat bagai ancaman, melainkan bergetar dalam ritme yang amat teratur, selaras sempurna dengan detak jantung pria di hadapannya."Mengikat jiwa kami..." bisik Maya pelan. Suaranya yang parau menyerap seluruh kehampaan di dalam ruangan. "Jadi sejak awal... ini bukan sekadar perjanjian di atas k
Keheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan.Maya memandangi pergelangan tangan kanannya. Di balik selubung renda zamrud yang membungkus kulitnya, rajah duri hitam berukir benang emas itu berdenyut halus. Denyutannya tidak lagi terasa panas atau menyengat bagai ancaman, melainkan bergetar dalam ritme yang amat teratur, selaras sempurna dengan detak jantung pria di hadapannya."Mengikat jiwa kami..." bisik Maya pelan. Suaranya yang parau menyerap seluruh kehampaan di dalam ruangan. "Jadi sejak awal... ini bukan sekadar perjanjian di atas kertas







