Home / Fantasi / Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP / BAB 8 Berkas Gugatan dan Formula Rahasia

Share

BAB 8 Berkas Gugatan dan Formula Rahasia

Author: aleta xaviera
last update publish date: 2026-10-16 12:20:19

Kirana membawa empat batangan Logam Mithril milik Kurcaci Gimble ke Zona B ruang dimensinya. Logam perak kebiruan itu ditumpuknya rapi di dekat aliran sungai pemurnian.

"Modal dari alam bawah tanah aman. Sekarang tinggal urus bisnis dunia nyata," gumam Kirana.

Dia kembali ke lantai satu ruko, mengunci rapat seluruh pintu, lalu naik ke lantai dua untuk tidur.

Pagi harinya, sinar matahari menembus kaca depan Kirana Jaya Mart. Kirana sedang menyeduh kopi di belakang meja kasir saat bel pintu berdering pelan.

Arsenio Baskara melangkah masuk. Pria itu meletakkan sebuah map tebal bersampul merah di atas meja kasir dengan bunyi berdenting.

"Ada surat cinta untukmu," kata Arsenio rendah.

Kirana menyeruput kopinya santai, lalu membuka map tersebut. Matanya membaca cepat judul berkas di halaman depan.

"Surat gugatan hak waris dan pembekuan rekening?" Kirana tertawa sinis. "Si tua Hendra itu benar-benar nggak ada kapoknya."

"Ayahmu menyewa pengacara dari firma hukum kelas menengah," Arsenio bersandar pada tepi konter kasir. "Mereka menuntut kepemilikan ruko ini. Tidak cuma itu, Rian dan ibunya mulai menyebar wawancara di media sosial. Mereka menyudutkanmu sebagai anak durhaka yang menguasai harta keluarga sendirian."

"Dia pikir bisa menjatuhkan aku pakai drama murahan?" Kirana melempar berkas itu kembali ke atas meja. "Sertifikat ruko ini murni atas nama almarhumah ibuku. Tidak ada satu sen pun modal dari pria yang bikin ibuku depresi sampai meninggal itu!"

Arsenio menatap Kirana lurus-lurus. "Hukum dan opini publik bisa berdampak buruk jika dibiarkan, Kirana. Reputasi yang rusak bisa mengganggu peluncuran lini kosmetik Kirana Botanical Luxury minggu depan."

Kirana menyilangkan tangan di dada. "Selesaikan lewat jalur hukum resmi, Pak Bos. Semua bukti transfer perasan uang dan surat perselingkuhan masa lalu ayahku masih kusimpan rapi. Kita balik serang mereka di pengadilan."

"Tim hukum Baskara Group yang akan menangani kasus ini langsung," tegas Arsenio. "Kau tidak perlu mengotori tanganmu untuk urusan keluarga parasit itu."

"Terima kasih, Pak Bos. Kerja sama denganku memang pilihan paling tepat buat bisnismu," Kirana tersenyum cerdik.

Arsenio merogoh saku jas mewahnya, mengeluarkan botol kaca kecil berisi ekstrak Bunga Salju Abadi yang diberikan Kirana kemarin.

"Hasil uji laboratorium privatku sudah keluar," kata Arsenio, tatapannya berubah intens. "Kandungan regenerasi sel dalam cairan ini benar-benar tidak masuk akal. Para peneliti kimia privatku bahkan tidak bisa mengidentifikasi struktur tumbuhan jenis apa ini."

"Yang penting aman untuk kulit dan tidak melanggar aturan BPOM, kan?" Kirana menaikkan sebelah alisnya.

"Sangat aman. Hasil formulasinya bisa memudarkan flek dan bekas luka hanya dalam waktu tiga hari," sahut Arsenio. "Pabrik pemrosesan kita siap memproduksi seribu botol pertama. Tapi kita butuh kepastian pasokan bahan baku dari kebun privatmu."

"Soal pasokan bahan baku, aman seratus persen," jawab Kirana mantap. "Aku garansi stoknya selalu siap tepat waktu."

"Bagus. Aku akan mengurus serangan media sosial dari ayahmu," kata Arsenio sambil menyambar jasnya. "Fokus saja pada persiapan stokmu."

"Sip! Hati-hati di jalan, Pak Bos!"

Malam harinya, waktu menunjukkan pukul dua belas tepat.

Kirana berdiri di gudang belakang ruko. Dia memasang papan kayu berukir di samping pintu tripleks gudang bertuliskan: JALUR PORTAL RESMI UNTUK PELANGGAN VIP.

"Biar si kurcaci sama pelanggan lain nggak asal jebol lewat cermin lagi," celoteh Kirana.

TENG! TENG! TENG!

Pintu kayu gudang belakang bergetar halus, memancarkan pendar keemasan hangat. Pintu portal eksklusif Lord Valerius terbuka tepat waktu.

Krieeek...

Lord Valerius melangkah keluar dari pendar cahaya keemasan. Sang Raja Naga berdiri tegap, menatap Kirana dengan mata emas cairnya yang membara.

"Kau terlihat memikirkan sesuatu, Pemilik Toko," kata Valerius, suara beratnya bergema pelan di dalam gudang.

Kirana menyandarkan tubuhnya di konter kayu, mengumbar senyum tipisnya. "Cuma urusan kecil di dunia manusia, Lord Val. Biasa, orang iri selalu ada di mana-mana."

Valerius melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Tangan besarnya yang hangat terangkat, jari-jarinya mengelus garis rahang Kirana dengan lembut.

"Jika ada manusia di duniamu yang membuatmu terusik, katakan padaku," bisik Valerius rendah dan posesif. "Aku bisa melenyapkan mereka dalam hitungan detik."

Jantung Kirana mendesir pelan merasakan ketegangan manis itu. Namun, dia memegang teguh harga dirinya. Kirana memegang pergelangan tangan Valerius dengan lembut, lalu menggesernya perlahan dari wajahnya.

"Urusan duniaku biar kuselesaikan dengan caraku sendiri, Lord Val," kata Kirana tegas namun manis. "Toko ini butuh pemilik yang mandiri, bukan wanita cengeng."

Valerius terkekeh rendah, menatap Kirana dengan rasa kagum yang makin dalam. "Sikapmu ini yang selalu membuatku menghormatimu, Kirana."

Sang Raja Naga merogoh cincin penyimpanannya, meletakkan dua peti kecil berisi koin emas murni di atas meja transaksi.

"Ini pembayaran untuk pasokan medis dan suplemen stamina minggu lalu," terang Valerius.

"Kerja sama yang sangat menyenangkan, Lord Val!" mata Kirana berbinar gembira. "Barang pesananmu berikutnya sudah tertata rapi di kardus sebelah kiri."

Valerius menyedot puluhan kardus pasokan itu ke dalam cincin sihirnya, lalu berpamitan.

"Sampai jumpa minggu depan, Kirana."

"Pintu toko selalu terbuka buatmu, Lord Val," sahut Kirana ramah.

Portal keemasan menutup rapat. Kirana langsung memindahkan seluruh koin emas itu ke dalam ruang dimensi Zona B miliknya.

Pagi harinya, Kirana terbangun oleh nada dering ponsel di atas meja kasir. Nama Arsenio tertera di layar.

"Halo, Pak Bos? Ada kabar apa?" sapa Kirana santai sambil mengunyah roti tawar.

"Buka televisi atau media sosial sekarang, Kirana," suara Arsenio di seberang telepon terdengar dingin dan tegas. "Ayahmu baru saja melakukan wawancara live di depan gedung pengadilan. Dia menuduhmu melakukan penggelapan aset dan memeras harta keluarga."

Kirana menyipitkan matanya, mengulas senyuman sinis. "Bagus. Biarkan dia senang-senang sebentar di depan kamera."

"Tim hukumku sudah menyiapkan dokumen balasan," kata Arsenio. "Konferensi pers resmi perusahaan Kirana Nusantara Holding dijadwalkan sore ini jam tiga di hotel utama."

Kirana menyambar kunci mobil dan tas tangannya. "Sempurna! Aku akan datang ke sana bawa semua bukti arsip kelakuan busuk dia!"

"Sopir pribadi sudah meluncur ke tokomu," ujar Arsenio. "Kita hancurkan kebohongan mereka sore ini."

"Deal, Pak Bos! Saatnya kita selesaikan drama parasit ini sampai tuntas!" seru Kirana penuh rasa percaya diri.

Kirana menutup ponselnya, lalu melangkah mantap menuju cermin di kamar lantai dua. Dia mengganti kemeja lamanya dengan setelan blazer hitam yang dipadu celana kain berpotongan tegas. Penampilannya kini memancarkan aura seorang pemilik perusahaan holding yang anggun, mahal, dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kirana mengoleskan lipstik merah menyala di bibirnya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan kilatan mata penuh keyakinan.

"Kalian salah pilih lawan," bisik Kirana dingin. "Dulu ibuku diam saja waktu kalian peras, tapi sekarang aku yang bakal bikin kalian bertekuk lutut di depan hukum!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP    BAB 20 Kehadiran Sang Putri dan Bayangan Cemburu

    Kehangatan pagi di Istana Drakonis menyapa Kirana dengan pendar sinar matahari yang menembus jendela batu Kamar Sayap Emas. Kirana terbangun dengan senyuman tipis saat melihat Lumi masih tertidur lelap di sampingnya, memeluk bantal bulu dengan napas teratur. Anak dari Makhluk Abadi itu tampak sangat tenang dan menggemaskan.Kirana mengelus lembut rambut perak Lumi sebelum bangkit dari ranjang. Setelah merapikan diri dan mengenakan gaun sutra mewahnya, Kirana mendengar ketukan lembut di pintu kamar.Ktok! Ktok!"Kirana, apa kau sudah bangun?" suara berat Valerius terdengar dari luar.Kirana melangkah membuka pintu. "Selamat pagi, Kirana. Sesuai janjiku kemarin, aku ingin mengajakmu melihat taman kristal di puncak benteng," ujar Valerius ramah."Selamat pagi, Vale. Boleh juga, aku sudah penasaran dari kemarin," jawab Kirana tersenyum miring.Lumi yang sudah terbangun melangkah keluar dari kamar, memegang erat ujung gaun Kirana dengan mata ungunya yang jernih. Valerius yang melihat sosok

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 19 Perjamuan Kemenangan dan Penghormatan Dewan

    Kereta naga kerajaan melaju mulus membelah jalan batu menuju Istana Drakonis. Di dalam kereta, Kirana bersandar di kursi beludru merah sambil memejamkan mata sejenak untuk memulihkan tenaganya.Valerius yang duduk di hadapannya menatap Kirana dengan raut cemas yang halus. "Energi sihirmu terkuras banyak saat memproses awan pemurni tadi?"Kirana membuka mata, menyunggingkan senyum tipis. "Cuma lelah fisik sedikit. Pengerahan energi kalung giok secara mendadak memang butuh penyesuaian.""Sesampainya di istana, kau harus langsung beristirahat," kata Valerius lembut. "Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan teh herbal Bunga Api hangat di kamarmu.""Terima kasih, Vale," sahut Kirana ramah. "Tapi tagihan jasa pembersihan perbatasan tetap berlaku ya."Valerius terkekeh rendah, mengangguk pelan. "Tentu saja."Kereta berhenti tepat di depan gerbang utama istana. Saat pintu dibuka, barisan prajurit naga dan pengawal bertombak berbaris rapi. Begitu Kirana dan Valerius melangkah turun, seluruh praj

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP    BAB 18 Ancam di Perbatasan dan Gertakan Kirana

    Raksasa bertanduk empat itu melangkah maju, membuat tanah di sekeliling perbatasan bergetar hebat. Pedang raksasanya terangkat, memancarkan hawa membunuh yang sangat pekat ke arah Kirana.Valerius langsung melangkah pasang badan di depan Kirana. Pedang emas miliknya terhunus instan, memancarkan kobaran api murni yang membakar udara."Mundur, Kirana!" perintah Valerius tegas. "Dia Jenderal Golgoth, penglima tertinggi pemberontak Suku Naga Merah!"Kirana tidak bergerak mundur sedikit pun. Dia justru melangkah santai ke samping Valerius sambil memegang botol air pemurnian."Raksasa bau tanah begini doang?" sahut Kirana dingin. "Suaranya doang yang keras, fisiknya penuh celah."Golgoth tertawa menggelegar hingga kabut racun di sekitarnya bergulung. "Manusia lemah! Penguasa Kegelapan sudah menyiapkan hadiah atas kepalamu karena berani mengacaukan pasokan racun kami!""Penguasa Kegelapanmu itu kurang bayar gaji ya?" potong Kirana sinis. "Suruh kroco kayak kamu buat hadapi aku sama Raja Naga

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 17 Ponsel Belanja Lintas Dimensi

    Matahari merah di alam Drakonis Prime baru saja terbenam di balik pegunungan batu hitam ketika Kirana menyuruh para pelayan istana keluar dari Kamar Sayap Emas. Pintu kayu jati berukir naga itu tertutup rapat.Kirana meregangkan badannya sejenak, lalu memegang kalung giok di lehernya."Sistem, bawa aku masuk ke rumah dimensi Zona B," gumam Kirana pelan.WUSH!Dalam sekejap, pemandangan kamar istana berganti menjadi ruang tamu rumah mewahnya di dalam dimensi. Udara segar beraroma bunga langsung menyambut indra penciumannya.Kirana berjalan menuju sofa empuk di tengah ruangan. Saat hendak memiringkan tubuh untuk duduk, perhatiannya teralih pada sebuah benda pipih hitam di atas meja kaca dekat sofa. Benda itu tampak seperti ponsel pintar dengan layar transparan tanpa merek."Perasaan tadi siang benda ini belum ada di meja," kata Kirana sambil mengambil benda tersebut.TING!Layar ponsel pintar itu mendadak menyala sendiri, menampilkan antarmuka aplikasi belanja sederhana dengan ikon kera

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 16 Panggilan Lintas Alam dan Istana Drakonis

    Kirana baru saja selesai memasukkan batangan Mithril terakhir ke dalam ruang dimensinya ketika kalung giok di lehernya mendadak bergetar hebat. Pendar cahaya keemasan hangat merekah pekat, membentuk layar holografis transparan yang mengambang di udara.【 NOTIFIKASI UPGRADE ZONA B BERHASIL! 】【 VOLUME AIR SUNGAI PEMURNIAN MENINGKAT DRASTIS. KAPASITAS PRODUKSI AIR SPIRITUAL MURNI KINI MELIMPAH. 】【 FITUR BARU TERBUKA: AKSES LINTAS DIMENSI KHUSUS PELANGGAN VIP (KERAJAAN DRAKONIS PRIME). 】Kirana membelalak menatap tulisan tersebut. "Fitur melintas dimensi? Aku bisa pergi langsung ke dunia naga?"【 BENAR. PEMILIK TOKO DAPAT MELAKUKAN PERJALANAN FISIK KE DRAKONIS PRIME SELAMA ENERGI KALUNG GIOK TERHUBUNG DENGAN BATU KOMUNIKASI. PELANGGAN LAIN BELUM TERHUBUNG. 】Kirana mengetuk jemarinya di meja kasir. Udara di gudang mendadak kembali bergetar pelan. Suara Valerius terdengar dari Batu Komunikasi Jiwa Naga di sakunya, kali ini terdengar sangat cemas dan kelelahan."Kirana... racun kabut hita

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP    BAB 15 Pasokan Darurat dan Kristal Biru Abadi

    Telepon genggam Kirana yang diletakkan di atas meja kasir baru saja mati setelah obrolannya dengan Arsenio mengenai rekor penjualan dua triliun rupiah usai. Kirana menyandarkan tubuhnya ke konter, bernapas lega.Namun, belum sempat Kirana melangkah menuju tangga lantai dua, udara di sudut gudang ruko mendadak merosot drastis hingga membeku dingin. Udara di sekitarnya berubah menjadi aroma uap biru es yang sangat tajam dan familier.WUSH!Sebuah portal magis berwarna biru perak merekah lebar di lantai gudang. Komandan Vaelen—prajurit tinggi elf dari Alam Es—melangkah keluar dari dalam portal dengan wajah pucat penuh kecemasan.Zirah perak Vaelen tampak berantakan, dan napasnya tersengal-sengal tidak teratur. Pria elf tampan itu tidak menyapa dengan nada anggun seperti biasa, melainkan langsung berlutut di depan Kirana."Nona Kirana! Tolong kami!" panggil Vaelen dengan suara gemetar penuh keputusasaan.Kirana menghentikan gerakannya. Raut wajah santainya seketika hilang, berganti menjad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status