LOGINKehangatan pagi di Istana Drakonis menyapa Kirana dengan pendar sinar matahari yang menembus jendela batu Kamar Sayap Emas. Kirana terbangun dengan senyuman tipis saat melihat Lumi masih tertidur lelap di sampingnya, memeluk bantal bulu dengan napas teratur. Anak dari Makhluk Abadi itu tampak sangat tenang dan menggemaskan.Kirana mengelus lembut rambut perak Lumi sebelum bangkit dari ranjang. Setelah merapikan diri dan mengenakan gaun sutra mewahnya, Kirana mendengar ketukan lembut di pintu kamar.Ktok! Ktok!"Kirana, apa kau sudah bangun?" suara berat Valerius terdengar dari luar.Kirana melangkah membuka pintu. "Selamat pagi, Kirana. Sesuai janjiku kemarin, aku ingin mengajakmu melihat taman kristal di puncak benteng," ujar Valerius ramah."Selamat pagi, Vale. Boleh juga, aku sudah penasaran dari kemarin," jawab Kirana tersenyum miring.Lumi yang sudah terbangun melangkah keluar dari kamar, memegang erat ujung gaun Kirana dengan mata ungunya yang jernih. Valerius yang melihat sosok
Kereta naga kerajaan melaju mulus membelah jalan batu menuju Istana Drakonis. Di dalam kereta, Kirana bersandar di kursi beludru merah sambil memejamkan mata sejenak untuk memulihkan tenaganya.Valerius yang duduk di hadapannya menatap Kirana dengan raut cemas yang halus. "Energi sihirmu terkuras banyak saat memproses awan pemurni tadi?"Kirana membuka mata, menyunggingkan senyum tipis. "Cuma lelah fisik sedikit. Pengerahan energi kalung giok secara mendadak memang butuh penyesuaian.""Sesampainya di istana, kau harus langsung beristirahat," kata Valerius lembut. "Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan teh herbal Bunga Api hangat di kamarmu.""Terima kasih, Vale," sahut Kirana ramah. "Tapi tagihan jasa pembersihan perbatasan tetap berlaku ya."Valerius terkekeh rendah, mengangguk pelan. "Tentu saja."Kereta berhenti tepat di depan gerbang utama istana. Saat pintu dibuka, barisan prajurit naga dan pengawal bertombak berbaris rapi. Begitu Kirana dan Valerius melangkah turun, seluruh praj
Raksasa bertanduk empat itu melangkah maju, membuat tanah di sekeliling perbatasan bergetar hebat. Pedang raksasanya terangkat, memancarkan hawa membunuh yang sangat pekat ke arah Kirana.Valerius langsung melangkah pasang badan di depan Kirana. Pedang emas miliknya terhunus instan, memancarkan kobaran api murni yang membakar udara."Mundur, Kirana!" perintah Valerius tegas. "Dia Jenderal Golgoth, penglima tertinggi pemberontak Suku Naga Merah!"Kirana tidak bergerak mundur sedikit pun. Dia justru melangkah santai ke samping Valerius sambil memegang botol air pemurnian."Raksasa bau tanah begini doang?" sahut Kirana dingin. "Suaranya doang yang keras, fisiknya penuh celah."Golgoth tertawa menggelegar hingga kabut racun di sekitarnya bergulung. "Manusia lemah! Penguasa Kegelapan sudah menyiapkan hadiah atas kepalamu karena berani mengacaukan pasokan racun kami!""Penguasa Kegelapanmu itu kurang bayar gaji ya?" potong Kirana sinis. "Suruh kroco kayak kamu buat hadapi aku sama Raja Naga
Matahari merah di alam Drakonis Prime baru saja terbenam di balik pegunungan batu hitam ketika Kirana menyuruh para pelayan istana keluar dari Kamar Sayap Emas. Pintu kayu jati berukir naga itu tertutup rapat.Kirana meregangkan badannya sejenak, lalu memegang kalung giok di lehernya."Sistem, bawa aku masuk ke rumah dimensi Zona B," gumam Kirana pelan.WUSH!Dalam sekejap, pemandangan kamar istana berganti menjadi ruang tamu rumah mewahnya di dalam dimensi. Udara segar beraroma bunga langsung menyambut indra penciumannya.Kirana berjalan menuju sofa empuk di tengah ruangan. Saat hendak memiringkan tubuh untuk duduk, perhatiannya teralih pada sebuah benda pipih hitam di atas meja kaca dekat sofa. Benda itu tampak seperti ponsel pintar dengan layar transparan tanpa merek."Perasaan tadi siang benda ini belum ada di meja," kata Kirana sambil mengambil benda tersebut.TING!Layar ponsel pintar itu mendadak menyala sendiri, menampilkan antarmuka aplikasi belanja sederhana dengan ikon kera
Kirana baru saja selesai memasukkan batangan Mithril terakhir ke dalam ruang dimensinya ketika kalung giok di lehernya mendadak bergetar hebat. Pendar cahaya keemasan hangat merekah pekat, membentuk layar holografis transparan yang mengambang di udara.【 NOTIFIKASI UPGRADE ZONA B BERHASIL! 】【 VOLUME AIR SUNGAI PEMURNIAN MENINGKAT DRASTIS. KAPASITAS PRODUKSI AIR SPIRITUAL MURNI KINI MELIMPAH. 】【 FITUR BARU TERBUKA: AKSES LINTAS DIMENSI KHUSUS PELANGGAN VIP (KERAJAAN DRAKONIS PRIME). 】Kirana membelalak menatap tulisan tersebut. "Fitur melintas dimensi? Aku bisa pergi langsung ke dunia naga?"【 BENAR. PEMILIK TOKO DAPAT MELAKUKAN PERJALANAN FISIK KE DRAKONIS PRIME SELAMA ENERGI KALUNG GIOK TERHUBUNG DENGAN BATU KOMUNIKASI. PELANGGAN LAIN BELUM TERHUBUNG. 】Kirana mengetuk jemarinya di meja kasir. Udara di gudang mendadak kembali bergetar pelan. Suara Valerius terdengar dari Batu Komunikasi Jiwa Naga di sakunya, kali ini terdengar sangat cemas dan kelelahan."Kirana... racun kabut hita
Telepon genggam Kirana yang diletakkan di atas meja kasir baru saja mati setelah obrolannya dengan Arsenio mengenai rekor penjualan dua triliun rupiah usai. Kirana menyandarkan tubuhnya ke konter, bernapas lega.Namun, belum sempat Kirana melangkah menuju tangga lantai dua, udara di sudut gudang ruko mendadak merosot drastis hingga membeku dingin. Udara di sekitarnya berubah menjadi aroma uap biru es yang sangat tajam dan familier.WUSH!Sebuah portal magis berwarna biru perak merekah lebar di lantai gudang. Komandan Vaelen—prajurit tinggi elf dari Alam Es—melangkah keluar dari dalam portal dengan wajah pucat penuh kecemasan.Zirah perak Vaelen tampak berantakan, dan napasnya tersengal-sengal tidak teratur. Pria elf tampan itu tidak menyapa dengan nada anggun seperti biasa, melainkan langsung berlutut di depan Kirana."Nona Kirana! Tolong kami!" panggil Vaelen dengan suara gemetar penuh keputusasaan.Kirana menghentikan gerakannya. Raut wajah santainya seketika hilang, berganti menjad







