Masuk“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”
Suci menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Dipinjemin bosku, Te. Tapi, potong gaji.”
“Potong gaji sampe berapa tahun, ha?” Nurul tertawa kecil. Sekaligus menatap remeh pada Suci. “Andaipun kamu jual diri, seratus juta pun nggak bakal kamu dapat dalam semalam. Memangnya kamu siapa? Artis? Seleb?”
Suci menarik napas pelan atas cibiran Nurul barusan.
“Tapi kami sudah ada uangnya, Te,” timpal Sahli kemudian menatap Bahlil yang baru menyingkap gorden kamar lalu keluar. Omnya itu lantas duduk di samping Nurul. Mengangkat satu kakinya ke atas dan bersandar santai.
“Digaji berapa kamu sebulan sama bosmu?” tanya Bahlil menunjuk ringan pada Suci. Sebelumnya, aa sudah mendengar percakapan antara istrinya dan Suci dari kamarnya. “Terus, dipotong berapa persen sebulan?”
“Aku masih digaji tiga setengah juta, Om,” jawab Suci berusaha tenang, “sementara di potong dua juta, tapi makan sudah ditanggung. Cuma, aku memang harus tinggal di sana.”
“Anggaplah … ini anggap aja tetap dipotong dua juta sebulan.” Bahlil masih menatap tajam pada Suci sembari berhitung. “Itu artinya … empat tahun dua bulan. Jadi, selama itu kamu kerja sama bosmu?”
“Iya, Om.” Suci mengangguk. Omnya itu, pasti sedang memikirkan masalah uang. Pria itu pasti mulai berhitung, karena tidak akan ada lagi pemasukan dari Suci setiap bulan setelah sertifikat rumah kembali ke tangannya. “Tapi nggak papa. Yang penting utang kami lunas. Jadi, nggak ada tanggungan lagi.”
“Terus biaya sekolah Hadi, kuliah Sahli, sama biaya rumah dan yang lain-lain, nanti gimana?” Nurul menimpali dengan nada protesnya.
Jika Suci tidak berada di rumah selama empat tahunan, siapa nantinya yang bisa Nurul suruh-suruh? Memasak, membersihkan rumah, mencuci baju? Serta beberapa hal lainnya.
“Sisa uang gaji bisa aku transfer ke Sahli, nanti biar dia yang ngatur,” jawab Suci masih berusaha sopan pada tante dan omnya. “Kalau aku, yang penting dapat makan tiga kali sehari sudah cukup.”
Nurul dan Bahlil saling melempar pandangan yang sama dalam diam. Namun, sesaat kemudian mereka memutus tatapan tersebut dan kembali fokus pada keponakan yang ada di hadapan.
“Memangnya kamu sekarang kerja di mana? Kerjaanmu itu sebagai apa?” tanya Nurul lagi. “Siapa bosmu? Tante harus tau orangnya, karena zaman sekarang ini banyak orang jahat! Mana tau kamu nanti dijual sama dia?”
“Aku jadi pembantu, Te,” jawab Suci, “kerjaannya ya kayak pembantu biasanya. Bersih-bersih, masak, nyuci.”
“Di mana?” sambar Bahlil yang sejak tadi terus menelisik ekspresi Suci. Ada sesuatu yang membuatnya curiga, sehingga Bahlil tidak bisa memercayai perkataan Suci begitu saja. “Om harus tau di mana kamu kerja, supaya–”
“Maaf, Om,” sela Suci tidak ingin memberi penjelasan lebih lanjut pada om dan tantenya. Sepertinya, mereka berdua hanya mengulur-ulur waktu saja dan enggan menyerahkan surat berharga itu kembali.
Sebenarnya, dulu hidup Suci dan keluarganya tidak seperti sekarang. Mereka memang sederhana, tetapi cukup. Tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan. Namun, Semua mulai berubah sejak ayahnya terjerat judi online.
Yang awalnya hanya coba-coba, lalu jadi kebiasaan yang akhirnya tidak bisa dihentikan. Dari situlah, utang mulai menumpuk dan pinjaman online menjadi jalan cepat yang justru memperburuk keadaan.
“Apa bisa sertifikatnya dikasih sekarang? Soalnya aku mau kerja, kalau telat nanti potong gaji,” ujar Suci memelas sambil melihat sekilas pada jam dinding di ruangan tersebut. Waktu terus berjalan, sementara urusan mereka belum juga jelas. “Minggu ini aku masih jadi office girl di kantornya, senin depan baru aku kerja di rumah bosku.”
Nurul bersedekap, tidak bisa menutupi kekesalannya. Jemarinya mengetuk-ngetuk siku dengan cepat, karena pergolakan batin yang tidak biasa. Tidak ada lagi alasan yang benar-benar kuat untuk menahan sertifikat itu, sebab Suci sudah memiliki uang untuk menebusnya. Namun di sisi lain, ia juga tidak rela melepaskannya begitu saja.
“Iya, Te,” timpal Sahli memberi dukungan pada Suci, “jangan sampe Kak Suci potong gaji karena telat. Lagian uangnya pas seratus juta sama bunganya juga di bulan ini. Jadi, tunggu apa lagi.”
“Nggak usah ngajarin, Om juga sudah tau bulan ini totalnya seratus juta,” sambar Bahlil lalu berdecak. Ia melempar pandangan pada istrinya. “Ambilin sertifikatnya.”
Nurul menarik napas panjang demi meredam kekesalannya. Karena sang suami yang memberi perintah, maka ia pun akhirnya beranjak pergi menuju kamar. Mengambil sertifikat yang disimpan di lemari lalu keluar dan menghempasnya begitu saja di atas meja.
“Transfer sekarang juga,” titah Bahlil sambil menunjuk sertifikat yang tergeletak di meja.
Suci tidak membuang waktu. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi mobile banking dan segera mentransfer sebesar seratus juta di rekening Nurul.
“Sudah, Te,” ucap Suci dengan kelegaan yang luar biasa. Setelah ini, tidak ada lagi beban yang ia tanggung. Sahli bisa kuliah dengan tenang, tanpa harus ikut pusing membantu membayar pokok dari utang ibunya setiap bulan. “Cek dulu.”
“Hm!” Nurul bergumam malas. Begitu mendengar notifikasi yang berasal dari ponselnya, ia tahu bahwa seratus juta dari Suci telah mendarat mulus di rekeningnya. Untuk sekadar memastikan, Nurul pun membuka ponsel dan mengecek langsung mutasi rekeningnya di aplikasi. “Masuk!”
Suci mengangguk pelan, lalu meraih sertifikat rumah yang ditempatinya tanpa ragu. Akhirnya, setelah ini ia dan kedua adiknya bisa hidup dengan tenang. Paling tidak, mereka tidak perlu lagi membayar pokok utang yang selalu berbunga tanpa kejelasan setiap bulannya.
Masalah rumah selesai.
Seratus juta sudah lunas, tetapi kontraknya dengan Arif baru saja dimulai. Setahun ke depan, ia akan menjalani peran sebagai istri kontrak. Suci hanya butuh waktu berjalan cepat, tanpa cacat. Karena setelah semua selesai, ia berjanji akan mengejar mimpi yang tertunda dan menata kembali hidupnya yang sempat kacau karena permasalahan keluarga.
Apa pun risikonya, Suci akan bertahan sampai kontrak itu usai. Demi hidupnya. Demi … masa depannya.
Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi bekerja lebih pagiAneh. Apa telah terjadi sesuatu?Untuk itu, Suci bergegas menghampiri Arif lalu duduk di sofa yang sama. “Mas nggak kerja?” “Aku cuti.”“Cuti?” Suci segera membuka layar tablet yang dibawanya sejak tadi. Membuka aplikasi kalender untuk memastikan sesuatu. “Kok, ngambil cutinya pas deket natal. Nggak tahun baru aja?”“Aku cuti cuma sehari,” ujar Arif menambahkan penjelasannya. “Kenapa? Sakit perut lagi?” “Lagi berkabung.”“Ha?” Suci geleng-geleng. Sepertinya Arif memang sedang tidak waras. Jika memang pria itu sedang berkabung, pastinya Arif akan pergi ke rumah duka sejak tadi. Tidak bersantai di rumah dan menonton televisi seperti sekarang. “Mas …” Suci mendekati Ar
“Perutku sakit.”Suci membaca pesan dari Arif setelah jam lesnya telah usai. Dahinya berkerut, mengingat kondisi pria itu ketika ia meninggalkan unit apartemen beberapa waktu lalu. Saat itu, Arif terlihat baik-baik saja. Bahkan, pria itu sempat melempar protes akan penampilan Suci sebelum ia berangkat les.Dengan segera Suci mengetikkan balasan. “Dari kapan? Habis makan apa?”Suci melihat pesan itu langsung terbaca. Namun, tidak ada jawaban setelah ia menunggu beberapa saat kemudian. Karena itu, ia kembali mengetikkan sebuah pesan.“Mas? Masih sakit perut?”Tetap tidak ada balasan, meski pesan itu langsung dibaca oleh Arif. Suci mulai merasa khawatir. Terlebih, selama mengenal Arif, pria itu tidak pernah mengeluh sakit sama sekali. Apa mungkin kondisi perut Arif benar-benar parah?Suci kembali mencoba mengirimkan pesan. “Mas Arif diare? Maag? Mual? Atau gimana?”Lagi, pesan itu hanya dibaca tetapi tidak ada balasan.“Ci, ayo!”“Ha?” Suci mendongak. Menatap tutor bahasa Inggrisnya yan
“Siang, Pak Ivan,” sapa Arif ketika langkahnya sudah sejajar dengan sang ayah yang berjalan menuju pintu keluar pengadilan. Ia hanya menoleh pada Jose yang ada di sisi lain Ivan dan memberi anggukan singkat. Ivan langsung berhentik melangkah. Meraih siku Arif yang terus saja berjalan, agar putranya itu tidak melewatinya dan pergi begitu saja. “Jose, duluan ke mobil.”“Baik, Pak,” jawab Jose lalu menatap Arif dan memberi anggukan sopan. “Duluan, Mas.”“Ya,” jawab Arif tanpa melihat Jose karena fokus pada ayahnya. ”Ka–”“Sampai kapan sandiwaramu dengan Suci berakhir?” tanya Ivan baik-baik. Tanpa ada emosi sama sekali. “Maksud Ayah, sampe kapan kamu mau buat Bundamu sakit kepala?”“Memangnya siapa yang lagi sandiwara?”“Kalau memang bukan sandiwara, untuk apa pernikahanmu dengan Suci masih ditutupi?” “Suci yang minta,” jawab Arif tenang. “Bapaknya di penjara dan ibunya kabur entah ke mana. Jadi, lebih baik kami diam-diam saja. Yang penting SAH.”“Oh ya?” Ivan tertawa hambar sambil mene
“Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar hingga pagi ini. Semalam, Suci tidak berani mengganggu, karena pria itu berkata ingin beristirahat dan langsung tidur.“Sarapan dulu,” lanjut Suci dengan sabar berdiri di depan pintu kamar Arif. Hening sesaat. Sampai akhirnya Suci melihat gagang pintu kamar bergerak. Pintu itu terbuka, menampilkan Arif dengan rambut sedikit berantakan, wajah lelah, dan bayangan gelap di bawah matanya.Kemungkinan besar, pria itu hampir tidak tidur semalaman.“Sarapan dulu,” ulang Suci ragu-ragu, “Mas Arif sakit? Mau aku bawain sarapannya ke kamar? Atau aku bikinin teh anget. Mas Arif bisa mandi aja dulu.”Arif mengusap pelan wajahnya. Kemudian, ia menggeleng. Menatap Suci yang kembali dengan penampilannya
“Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci. Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya. “Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal tersebut, tetapi Arif tetap tidak memedulikannya. “Kita ke sana.” Telunjuk Arif mengarah pada salah satu butik yang menjual pakaian wanita.“Males.” Suci berhenti melangkah. Diam di tempat dan bersedekap. “Hapus dulu fotonya.”Tahu Suci tidak lagi berada di sampingnya, Arif pun terkekeh kecil. Ia melangkah mundur dan berhenti di sebelah Suci. “Mau sampe kapan ngambeknya?”“Siapa yang ngambek.” Suci mencibir. “Berarti ini lagi nggak ngambek?”“Nggak.”“Ya udah.” Arif meraih pergelangan Suci. Mencengkramnya lembut, lalu menariknya dengan perlahan. Membawa gadis itu menuju butik yang ia tunjuk sebelumnya. “Di hapeku juga ada foto nikah kita, tapi kamu nggak pernah minta hapus.
“Ci, aku ke kantor dulu,” pamit Arif berhenti di sudut meja makan. Menatap Suci yang tengah santai menonton video resep di salah satu platform media sosial. Beberapa waktu lalu, Deswita sudah pergi bersama Ivan. Tidak ada keributan, tidak ada perdebatan apa pun. Semuanya berlangsung dengan damai, bahkan terlalu tenang untuk seseorang seperti Deswita. Ingin rasanya Arif berpikiran negatif terhadap ibunya, tetapi hal tersebut dengan segera ia urungkan. Siapa tahu saja, Deswita memang benar-benar lelah dan butuh waktu untuk introspeksi diri. “Mas nggak papa?” tanya Suci menatap Arif setelah menghentikan video yang ia tonton. Pria itu sudah berpakaian rapi seperti biasa dan tentu saja terlihat tampan. “Nggak papa. Memangnya kenapa?”“Didiemin sama ibunya.”“Mau gimana lagi.” Arif menghela panjang. “Yang penting, ibu mertuamu itu sudah nggak tinggal di sini lagi.”Suci tertawa kecil. Ternyata, Arif masih bisa bercanda di saat seperti ini. “Nanti aku pindahin lagi barang-barangku ke kama







