Home / Romansa / Kontrak Suci / 3~Demi Masa Depan

Share

3~Demi Masa Depan

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-04-14 22:39:21

“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”

Suci menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Dipinjemin bosku, Te. Tapi, potong gaji.”

“Potong gaji sampe berapa tahun, ha?” Nurul tertawa kecil. Sekaligus menatap remeh pada Suci. “Andaipun kamu jual diri, seratus juta pun nggak bakal kamu dapat dalam semalam. Memangnya kamu siapa? Artis? Seleb?”

Suci menarik napas pelan atas cibiran Nurul barusan. 

“Tapi kami sudah ada uangnya, Te,” timpal Sahli kemudian menatap Bahlil yang baru menyingkap gorden kamar lalu keluar. Omnya itu lantas duduk di samping Nurul. Mengangkat satu kakinya ke atas dan bersandar santai. 

“Digaji berapa kamu sebulan sama bosmu?” tanya Bahlil menunjuk ringan pada Suci. Sebelumnya, aa sudah mendengar percakapan antara istrinya dan Suci dari kamarnya. “Terus, dipotong berapa persen sebulan?”

“Aku masih digaji tiga setengah juta, Om,” jawab Suci berusaha tenang, “sementara di potong dua juta, tapi makan sudah ditanggung. Cuma, aku memang harus tinggal di sana.”

“Anggaplah … ini anggap aja tetap dipotong dua juta sebulan.” Bahlil masih menatap tajam pada Suci sembari berhitung. “Itu artinya … empat tahun dua bulan. Jadi, selama itu kamu kerja sama bosmu?”

“Iya, Om.” Suci mengangguk. Omnya itu, pasti sedang memikirkan masalah uang. Pria itu pasti mulai berhitung, karena tidak akan ada lagi pemasukan dari Suci setiap bulan setelah sertifikat rumah kembali ke tangannya. “Tapi nggak papa. Yang penting utang kami lunas. Jadi, nggak ada tanggungan lagi.”

“Terus biaya sekolah Hadi, kuliah Sahli, sama biaya rumah dan yang lain-lain, nanti gimana?” Nurul menimpali dengan nada protesnya. 

Jika Suci tidak berada di rumah selama empat tahunan, siapa nantinya yang bisa Nurul suruh-suruh? Memasak, membersihkan rumah, mencuci baju? Serta beberapa hal lainnya.

“Sisa uang gaji bisa aku transfer ke Sahli, nanti biar dia yang ngatur,” jawab Suci masih berusaha sopan pada tante dan omnya. “Kalau aku, yang penting dapat makan tiga kali sehari sudah cukup.”

Nurul dan Bahlil saling melempar pandangan yang sama dalam diam. Namun, sesaat kemudian mereka memutus tatapan tersebut dan kembali fokus pada keponakan yang ada di hadapan. 

“Memangnya kamu sekarang kerja di mana? Kerjaanmu itu sebagai apa?” tanya Nurul lagi. “Siapa bosmu? Tante harus tau orangnya, karena zaman sekarang ini banyak orang jahat! Mana tau kamu nanti dijual sama dia?”

“Aku jadi pembantu, Te,” jawab Suci, “kerjaannya ya kayak pembantu biasanya. Bersih-bersih, masak, nyuci.”

“Di mana?” sambar Bahlil yang sejak tadi terus menelisik ekspresi Suci. Ada sesuatu yang membuatnya curiga, sehingga Bahlil tidak bisa memercayai perkataan Suci begitu saja. “Om harus tau di mana kamu kerja, supaya–”

“Maaf, Om,” sela Suci tidak ingin memberi penjelasan lebih lanjut pada om dan tantenya. Sepertinya, mereka berdua hanya mengulur-ulur waktu saja dan enggan menyerahkan surat berharga itu kembali.

Sebenarnya, dulu hidup Suci dan keluarganya tidak seperti sekarang. Mereka memang sederhana, tetapi cukup. Tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan. Namun, Semua mulai berubah sejak ayahnya terjerat judi online.

Yang awalnya hanya coba-coba, lalu jadi kebiasaan yang akhirnya tidak bisa dihentikan. Dari situlah, utang mulai menumpuk dan pinjaman online menjadi jalan cepat yang justru memperburuk keadaan. 

“Apa bisa sertifikatnya dikasih sekarang? Soalnya aku mau kerja, kalau telat nanti potong gaji,” ujar Suci memelas sambil melihat sekilas pada jam dinding di ruangan tersebut. Waktu terus berjalan, sementara urusan mereka belum juga jelas. “Minggu ini aku masih jadi office girl di kantornya, senin depan baru aku kerja di rumah bosku.”

Nurul bersedekap, tidak bisa menutupi kekesalannya. Jemarinya mengetuk-ngetuk siku dengan cepat, karena pergolakan batin yang tidak biasa. Tidak ada lagi alasan yang benar-benar kuat untuk menahan sertifikat itu, sebab Suci sudah memiliki uang untuk menebusnya. Namun di sisi lain, ia juga tidak rela melepaskannya begitu saja.

“Iya, Te,” timpal Sahli memberi dukungan pada Suci, “jangan sampe Kak Suci potong gaji karena telat. Lagian uangnya pas seratus juta sama bunganya juga di bulan ini. Jadi, tunggu apa lagi.”

“Nggak usah ngajarin, Om juga sudah tau bulan ini totalnya seratus juta,” sambar Bahlil lalu berdecak. Ia melempar pandangan pada istrinya. “Ambilin sertifikatnya.”

Nurul menarik napas panjang demi meredam kekesalannya. Karena sang suami yang memberi perintah, maka ia pun akhirnya beranjak pergi menuju kamar. Mengambil sertifikat yang disimpan di lemari lalu keluar dan menghempasnya begitu saja di atas meja. 

“Transfer sekarang juga,” titah Bahlil sambil menunjuk sertifikat yang tergeletak di meja. 

Suci tidak membuang waktu. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi mobile banking dan segera mentransfer sebesar seratus juta di rekening Nurul.

“Sudah, Te,” ucap Suci dengan kelegaan yang luar biasa. Setelah ini, tidak ada lagi beban yang ia tanggung. Sahli bisa kuliah dengan tenang, tanpa harus ikut pusing membantu membayar pokok dari utang ibunya setiap bulan. “Cek dulu.”

“Hm!” Nurul bergumam malas. Begitu mendengar notifikasi yang berasal dari ponselnya, ia tahu bahwa seratus juta dari Suci telah mendarat mulus di rekeningnya. Untuk sekadar memastikan, Nurul pun membuka ponsel dan mengecek langsung mutasi rekeningnya di aplikasi. “Masuk!”

Suci mengangguk pelan, lalu meraih sertifikat rumah yang ditempatinya tanpa ragu. Akhirnya, setelah ini ia dan kedua adiknya bisa hidup dengan tenang. Paling tidak, mereka tidak perlu lagi membayar pokok utang yang selalu berbunga tanpa kejelasan setiap bulannya. 

Masalah rumah selesai. 

Seratus juta sudah lunas, tetapi kontraknya dengan Arif baru saja dimulai. Setahun ke depan, ia akan menjalani peran sebagai istri kontrak. Suci hanya butuh waktu berjalan cepat, tanpa cacat. Karena setelah semua selesai, ia berjanji akan mengejar mimpi yang tertunda dan menata kembali hidupnya yang sempat kacau karena permasalahan keluarga. 

Apa pun risikonya, Suci akan bertahan sampai kontrak itu usai. Demi hidupnya. Demi … masa depannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk dengan senyum kecil. Meski berat karena ia sudah cocok dengan Suci dan pekerjaannya, Mila tidak bisa mencegah gadis itu itu untuk mengundurkan diri. Terlebih ketika Suci mengatakan ingin beristirahat sejenak untuk menyelesaikan masalah keluarga. “Kalau suatu saat butuh kerjaan lagi, kamu bisa hubungi aku. Nanti biar aku rekomendasiin ke teman.”Suci tersenyum dan kembali mengangguk. “Iya, Bu. Nanti saya pasti hubungi Ibu.”Tidak banyak yang bisa Suci katakan lagi, karena alasan pengunduran dirinya adalah kebohongan. Ia hanya membungkuk sekali lagi, lalu meletakkan seluruh kunci kantor di meja wanita itu.“Ini kunci-kunci kantor dan … saya pamit,” ucap Suci lalu mengulurkan tangan pada Mila.“

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi kontraknya lebih cepat. Penghulu sudah pulang. Sahli juga sudah pergi setelah bicara empat mata dengan Arif. Kedua teman pria Arif yang menjadi saksi pun telah meninggalkan unit sejak beberapa saat yang lalu. Kini, Suci berdiri canggung di samping sofa, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Kebaya putih sederhana yang masih ia kenakan menjadi bukti nyata, bahwa yang dilaluinya barusan bukanlah mimpi. Di sisi lain, Arif berdiri tidak jauh darinya. Melepaskan jasnya dengan gerakan tenang, lalu meletakkannya di sandaran sofa. Ekspresinya datar, seolah pernikahan yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang berarti.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada senyum.Hanya dua orang asing yang kini terik

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah mempertimbangkannya secara singkat, Bias sudah bisa menilai jika perbuatan Arif tersebut hanya akan mendatangkan hal negatif. “Nggak ada untungnya sama sekali buatmu!”“Kamu nggak ada di posisiku, Bi,” sahut Arif membela diri. Pernikahan kontrak yang akan dilakukannya memang tidak akan mendatangkan keuntungan apa pun bagi Arif. Tidak secara materi, tidak juga secara perasaan. Namun, semua ini bukan soal untung atau rugi.Ini soal … luka yang belum selesai. Seharusnya, rasa sakit itu telah terkubur bersama waktu. Namun, perbuatan Deswita semakin membuatnya merasa sesak dan akhirnya Arif memutuskan untuk memberi sebuah “pelajaran” hidup bagi ibunya. Arif mengerti, Deswita hanya ingin Arif mend

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Dipinjemin bosku, Te. Tapi, potong gaji.”“Potong gaji sampe berapa tahun, ha?” Nurul tertawa kecil. Sekaligus menatap remeh pada Suci. “Andaipun kamu jual diri, seratus juta pun nggak bakal kamu dapat dalam semalam. Memangnya kamu siapa? Artis? Seleb?”Suci menarik napas pelan atas cibiran Nurul barusan. “Tapi kami sudah ada uangnya, Te,” timpal Sahli kemudian menatap Bahlil yang baru menyingkap gorden kamar lalu keluar. Omnya itu lantas duduk di samping Nurul. Mengangkat satu kakinya ke atas dan bersandar santai. “Digaji berapa kamu sebulan sama bosmu?” tanya Bahlil menunjuk ringan pada Suci. Sebelumnya, aa sudah mendengar percakapan antara istrinya dan Suci dari kamarnya. “Teru

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenang. “Kamu punya pacar? Atau sudah ada rencana nikah?”Arif bertanya karena Suci meminta uang muka seratus juta lebih dulu. Mungkin saja, uang tersebut akan dijadikan tabungan untuk menikah.Suci menggeleng cepat. “Nggak punya.”“Terus, uang seratus juta mau kamu pakai buat apa?”“Ahh …” Suci menghela pelan dan terdiam sesaat. Jemarinya saling bertaut dan terasa dingin. “Buat bayar utang. Saya mau ambil sertifikat rumah yang digadai sama Ibu saya setahun yang lalu sama Tante saya.”“Satu tahun, seratus juta?”Suci mengangguk. “Sudah sama bunganya. Makanya mau saya lunasin, biar bulan depan nggak berbunga lagi.”“Kenapa sampai berutang?”“Itu Pak …” Suci tersenyum pedih. “Dulu, Bapak saya keli

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan suaranya, “dan yang paling penting, jangan pernah lagi jodoh-jodohkan aku dengan siapa pun.”“Bunda nggak pernah jodoh-jodohkan kamu,” balas Deswita cepat, nada suaranya mulai naik tetapi ia segera menahan diri karena mereka berada di tempat umum. Jika tidak didatangi di kantor, Arif pasti akan susah ditemui. “Bunda cuma mau kamu move on dan kenalan dengan anak teman-teman Bunda atau Ayahmu. Bukan mau jodohin kamu. Jadi, jangan selalu negative thinking.”“Move on? Kenalan?” Arif tertawa singkat dan hambar. “Duduk satu meja, dipaksa basa-basi sama perempuan pilihan Bunda? Yang bener aja, Bun.”Pernah sekali Arif akhirnya luluh karena Deswita kerap menanyakan kabar, memberi perhatian, dan dat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status