Home / Romansa / Kontrak Suci / 5~Jangan Didebat

Share

5~Jangan Didebat

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-04-22 11:12:34

Sah.

Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.

Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi kontraknya lebih cepat. 

Penghulu sudah pulang. Sahli juga sudah pergi setelah bicara empat mata dengan Arif. Kedua teman pria Arif yang menjadi saksi pun telah meninggalkan unit sejak beberapa saat yang lalu. 

Kini, Suci berdiri canggung di samping sofa, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Kebaya putih sederhana yang masih ia kenakan menjadi bukti nyata, bahwa yang dilaluinya barusan bukanlah mimpi. 

Di sisi lain, Arif berdiri tidak jauh darinya. Melepaskan jasnya dengan gerakan tenang, lalu meletakkannya di sandaran sofa. Ekspresinya datar, seolah pernikahan yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang berarti.

Tidak ada ucapan selamat.

Tidak ada senyum.

Hanya dua orang asing yang kini terikat dalam satu status, dengan dua tujuan yang berbeda.

“Sudah siapkan surat-surat yang aku minta?” tanya Arif sembari duduk di sofa. Ia merentangkan satu tangan ke arah Suci, lalu meminta gadis itu duduk pada sofa tunggal di sampingnya. “Karena besok pernikahan kita langsung diurus di KUA.”

“Suratnya sudah siap, Pak,” jawab Suci tetap terpaku di tempatnya, “Bapak mau ambil sekarang–”

“Besok pagi aja,” putus Arif lalu menghela panjang, “dan segera urus pengunduran dirimu sama Mila. Tapi, jangan bilang kalau kamu berhenti karena menikah. Biarkan dia tahu semuanya dari orang lain.”

“Ohh …” Suci tidak punya pilihan selain mengangguk. Namun, sebenarnya ia sudah memiliki sebuah alasan untuk mengundurkan diri. Bahkan, Suci juga sudah mencari pengganti dirinya. “Beres, Pak.”

“Jangan lagi panggil Bapak. Apalagi nanti, kalau kita ketemu ibuku.”

Suci menggaruk lehernya. “Jadi, saya panggil Mas?”

“Boleh.” Arif mengangguk. “Dan nggak usah pake saya.”

“Iya, Mas.” Suci balas mengangguk meski semakin dilanda kecanggungan yang luar biasa. “Tapi … kapan kita ketemu sama ibunya Mas Arif.”

“Emm …” Arif mengetuk-ngetuk sandaran sofa sembari berpikir. “Begitu buku nikah keluar, kita temui ibuku. Tapi, kalau dia mendadak ngajak makan malam, kita datang!”

Suci menyentuh dadanya dengan kedua tangan. Merasakan debaran jantung yang mendadak bertalu kencang, sehingga napasnya terbuang begitu panjang. 

“Tapi, Mas … Mas Arif mau saya, maksudnya … aku harus seperti apa waktu ketemu dengan ibunya Mas?”

“Cukup jadi dirimu sendiri,” jawab Arif tenang. “Tapi, aku minta siapkan mentalmu baik-baik karena semua omongan ibuku nggak akan ada yang enak didengar dan pasti bikin kamu sakit hati”

Suci tersenyum hambar. “Kalau yang gitu-gitu, sudah biasa. Jadi, nggak ada masalah.”

Mulut Arif terbuka, tetapi, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Di satu titik, ada rasa bersalah karena harus melibatkan Suci dalam “pembalasan” sakit hatinya. Namun, semua sudah terjadi dan Arif tidak ingin mundur meski ia bisa membatalkan kontrak secara sepihak. 

Entahlah. Arif hanya berharap Deswita bisa berubah menjadi lebih baik lagi setelah mendapat “pelajaran” darinya nanti. Ibunya itu juga harus belajar untuk menghargai dan menghormati orang lain, tanpa memandang status sosialnya. 

“Kamu bisa istirahat sekarang,” ujar Arif ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka. Semakin lama, ia semakin merasa canggung ketika hanya berada berdua di satu ruangan dengan Suci. “Masuklah ke kamar.”

Sepertinya, Arif harus mulai membiasakan diri dengan hal ini agar mereka bisa bekerja sama dengan baik ke depannya. 

“Iya, Mas … permisi.”

💙💙💙💙💙💙💙

“Pagi,” sapa Arif, langkahnya terhenti di sudut kitchen island. Matanya mengikuti gerak-gerik Suci yang sedang berkutat dengan kompor. Gadis itu sepertinya tengah menghangatkan sisa sajian tadi malam.

Pagi ini adalah pagi pertama bagi Arif menempati apartemen yang disewanya. Dan semalam, menjadi malam pertama ia menginap di sana setelah resmi menyandang status sebagai suami Suci. 

Semua terasa baru, sekaligus asing. Terlebih dengan statusnya saat ini. Yakni, seorang suami.

Arif membuang napas pelan. Untuk sesaat, muncul rasa sesal karena jalan yang ia pilih memang terdengar tidak masuk akal. Mungkin ucapan Bias benar, ia sudah gila karena memilih menikah kontrak dengan Suci.

Akan tetapi, jika Arif tidak melakukan kegilaan ini, Deswita pasti tidak akan pernah berubah. Ibunya akan tetap arogan dan memandang seseorang hanya dari status sosialnya saja. 

“Oh, pagi, Mas.” Suci merespons dan menoleh cepat ke arah suara. Ia tersenyum, meski rasa canggung mulai mendera. “Aku lagi manasin sisa makanan tadi malam. Nasinya juga sudah mateng. Mas mau sarapan? Atau masih kepagian?”

“Maaf kalau merepotkan,” ucap Arif kemudian duduk di stool bar. “Tapi, besok-besok kamu nggak perlu seperti ini.”

“Nggak papa kok, Mas,” ucap Suci kembali fokus pada wajan di kompor. Gerakannya sedikit terburu, mencoba mengalihkan rasa kikuk yang tiba-tiba muncul. “Ini udah kerjaan tiap pagi kalau di rumah. Jadi, saya nggak repot.”

Arif mengangguk pelan, tetapi tatapannya belum juga lepas dari Suci. Seperti biasa, gadis itu mengikat rambut seadanya. Saat sempat menoleh tadi, wajahnya tampak polos, tanpa polesan apa pun. Hanya terlihat sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata.

Tampaknya, Suci tidak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam. Tidak hanya Suci, tetapi ia pun mengalami hal yang serupa. 

“Mas mau kopi atau teh?” tanya Suci setelah mematikan kompor dan berbalik. 

“Nggak usah repot-repot,” ucap Arif, “nanti aku bikin sendiri.”

Suci mengangguk pelan, tidak membantah atau memaksa. Ia tahu batasannya, atau mungkin ia sendiri masih bingung bagaimana harus bersikap sebagai seorang istri dalam ikatan kontrak bersama Arif.

Kemudian, jemarinya menunjuk ke sudut meja kitchen set.

“Kopi, teh, sama gulanya ada di sana, Mas,” ujar Suci memberi tahu karena pagi ini adalah pagi pertama Arif tinggal bersamanya. 

“Jadi, kamu sudah belanja keperluan dapur?” tebak Arif baru menyadari hal tersebut. Matanya menyapu deretan toples yang tertata rapi di sudut kitchen set

Suci mengangguk kecil sambil memindahkan bistik ke piring yang sudah disiapkan. “Iya, Mas. Aku sudah belanja dikit buat keperluan dapur. Aku pikir, Mas juga pasti butuh kopi atau teh kalau pagi, jadi aku beli sekalian.”

“Kamu juga beli … wajan?” Arif juga baru menyadari wajan berukuran sedang yang ada di atas kompor. 

Suci kembali mengangguk. Meletakkan piring berisi bistik di kitchen island. “Aku cuma beli wajan, air galon, sama magic com. Kalau dispenser di sini sudah ada.”

“Biar aku ganti uangnya, nanti kamu totalin habis–”

“Nggak usah, Mas,” potong Suci cepat, sebelum Arif menyelesaikan kalimatnya. 

“Kenapa? Itu kan, keperluan pokok yang harus aku tanggung. Begitu perjanjiannya.”

“Nggak semua harus dijalani sesuai dengan isi kontrak,” balas Suci tersenyum kecil. Ia melipat kedua tangan di atas kitchen island dan sedikit mencondongkan tubuh. “Anggap, kita ini kayak … emm … intinya, transferan Mas Arif kemarin itu kan, lebih. Totalnya 125 juta. Jadi ya, udahlah. Aku buat beliin keperluan di sini.”

“Tapi Ci, dari awal itu semua tanggung jawabku,” ujar Arif sedikit tidak enak hati. “Jadi, jangan pake uangmu.”

“Mas.” Suci menegakkan tubuh. Mencoba menatap tegas, meski terasa kikuk. “Biarkan aku berkontribusi walau cuma sedikit. Karena apa? Karena aku juga tinggal di sini. Aku nggak mau ngerasa …” 

Suci menjeda kalimatnya untuk mencari kalimat yang pas.

“Kayak cuma numpang di sini,” lanjut Suci memelankan suaranya. 

“Ini bukan soal kamu numpang atau nggak,” balas Arif memberi penjelasan. Ia tidak ingin Suci menjadikan kontrak di antara mereka sebagai beban. “Tapi, ini soal tanggung jawab.”

Suci membuang napas pelan. “Kalau begitu, anggap ini sebagai bagian dari tanggung jawabku juga.”

“Suci–”

“Mas.” Suci kembali memotong dengan berani. Meski, jantungnya mulai berdebar tidak menentu saat melihat tatapan Arif padanya. “Masalah dapur, biar jadi bagianku. Selama satu tahun ke depan, aku mau fokus belajar masak. Karena setelah kontrak kita selesai, aku mau buka usaha kecil-kecilan. Jadi tolong, untuk yang satu ini, jangan didebat!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
mari kuta liat, bakal kuat ngga arif dengan keputusannya
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
iihhh ingetan kk keren lohhh.aq dr tadi koq kaya ga asing suci ini.tapi ga inget2
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
berawal dari perut ini kayaknya,lama2 jadi perhatian
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   69~Hidup Berdampingan

    Malam itu, Nurul masih belum bisa memejamkan mata. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tetapi pikirannya terus berputar pada rumah Suci yang siang tadi baru pertama kali ia datangi. Sambil melipat pakaian di depan televisi untuk mencari kesibukan, bayangan tentang rumah megah itu kembali memenuhi kepalanya. Semakin diingat, semakin sulit ia mempercayai bahwa keponakan yang dulu hidup apa adanya itu, kini tinggal di lingkungan elite.“Kenapa belum tidur?” tanya Bahlil begitu masuk ke rumah. Ia baru kembali dari pos ronda di ujung gang. Sarung yang semula diselempangkan di bahunya langsung dilepas dan dilemparkannya ke sandaran kursi.“Nggak bisa tidur,” jawab Nurul tidak melanjutkan melipat pakaian yang sudah berada di pangkuan. Pandangannya tertuju pada televisi yang masih menyala, tetapi tidak benar-benar ia tonton. “Kok bisa ya, Suci itu nikah sama Arif?”“Bukan itu masalahnya,” gerutu Bahlil sembari duduk di kursi dan menaikkan sebelah kakinya. “Aku jengkel karena mereka

  • Kontrak Suci   68~Jangan Diganggu

    “Ci, Tante mau ke kamar mandi,” ujar Nurul tidak kehabisan akal mencari alasan agar bisa masuk ke dalam rumah Suci. Kali ini, keponakannya itu tidak akan bisa mengelak, karena urusan ke kamar mandi bukanlah sesuatu yang bisa ditunda-tunda. “Kebelet habis minum es teh.”Suci membeku beberapa detik. Kali ini, ia benar-benar kalah dengan siasat Nurul. Tidak mungkin ia menolak seseorang yang mengaku sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi. Pada akhirnya, Suci tidak punya pilihan selain mengalah.“Ayo masuk,” ujar Suci beranjak lebih dulu. Ia membukakan pintu, lalu berjalan lebih dulu ke dalam rumah. Dengan langkah pelan, ia memandu Nurul menuju kamar mandi yang berada di ruang keluarga. Nurul segera melangkah masuk dengan wajah semringah. Hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menerpa wajah, lalu tubuhnya. Benar-benar luar biasa. Namun, alih-alih langsung menuju kamar mandi mengikuti Suci, ia justru sibuk menyapu setiap sudut rumah yang dilewatinya.Ruang tamu di bagian depan saja

  • Kontrak Suci   67~Kesempatan Langka

    “Kapan kira-kira kita beli perlengkapan bayi?” tanya Arif ikut memakan kuaci bersama Suci di kamar mereka. Padahal, ia tidak terlalu menyukai jenis makanan tersebut karena terlalu merepotkan untuk di makan. Namun, saat melihat Suci memakannya dengan wajah berbinar, maka Arif pun penasaran untuk mencobanya. Berawal dari sebutir kuaci, lalu bertambah menjadi beberapa butir lagi. Lama-kelamaan, tangannya justru lebih sering merogoh bungkus kuaci daripada berhenti.“Jenis kelaminnya aja belum tau, masa’ sudah mau beli?” Suci menepuk punggung tangan Arif yang kembali mengambil kuaci miliknya. “Mas itu kalau mau harusnya beli sendiri. Ini siapa yang pengen, siapa yang paling banyak ngabisin kuaci.”“Kamu kan, beli kacang juga,” ujar Arif menunjuk bungkus kacang kulit kemasan yang tergeletak di meja. Sepanjang perjalanan mengelilingi kompleks tadi, Suci sibuk mengunyah kacang tersebut hingga menghabiskan separuh isinya seorang diri. .“Jadi, lanjutin aja makan kacangnya. Habisin.”“Udah nggak

  • Kontrak Suci   66~Dijadiin Tumbal

    “Memangnya Bunda mau datang ke psikolog?” tanya Arif pada sang ayah yang duduk berseberangan dengannya. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa duduk berdua sambil makan siang sesudah mencocokkan jadwal.Mereka tidak melibatkan Deswita, karena ingin menikmati waktu dengan tenang tanpa ketegangan. “Bunda itu punya penghasilan sendiri,” lanjut Arif lalu menyeruput kuah soto tangkarnya. “Jadi, walau CC-nya diblokir, Bunda masih bisa shopping.”“Awal-awal memang masih bisa shopping pake uangnya sendiri,” balas Ivan sudah mempertimbangkan segalanya. “Tapi lama-lama? Bundamu pasti nggak rela kalau uang di rekeningnya terus berkurang. Ditambah dengan acara amalnya di mana-mana.”Arif tertawa pelan. Ia sampai lupa, kapan terakhir kali bisa duduk dengan damai seperti ini bersama ayahnya sendiri. Sepertinya, kehamilan Suci membawa berkah dan kebahagiaan tersendiri.“Tapi, sudah dapat psikolognya?” tanya Arif lagi.“Jose sudah dapat, tapi Bundamu yang belum mau datang.”“Ya, kita lihat aja na

  • Kontrak Suci   65~Beli Semua

    “Kabari kalau otewe pulang,” pesan Suci kembali mengingatkan ketika Hadi hendak berangkat sekolah. “Biar kutungguin di depan, kalau Irul datang lagi.”“Nggak usah,” sahut Sahli yang tengah mencuci motornya di carport. “Kamu pulangnya berhenti di pos satpam aja. Paling lima belas menitan aku dah di sini kayak kemarin. Nanti ke rumahnya sama aku.”“Aku di pos satpam aja,” ujar Hadi segera berdiri setelah memakai sepatunya. Ia menghampiri Suci, lalu berpamitan dengan kakak perempuannya lebih dulu karena ojeknya sudah standby di depan pagar. “Berangkat dulu.”“Hati-hati,” ucap Suci dan Sahli bersamaan. “Ibu yang mau kerja di sini itu jadi?” tanya Sahli.“Jadi,” jawab Suci mengangguk sambil menyapu dedaunan di taman depan. Udara pagi yang masih sejuk, membuat tubuhnya terasa lebih segar. “Datang jam tujuh, jam empat sudah pulang. Ingat, ya, kalau kamar bersihin masing-masing.”“Tau,” sahut Sahli sambil meraih kepala semprotan air lalu membilas motornya yang sudah penuh dengan sabun. “Ora

  • Kontrak Suci   64~Seperti Dulu Lagi

    “Cuekin aja,” ucap Suci enggan membahas masalah Irul dan keluarga pria itu yang sudah mengetahui semua sandiwaranya. “Kalau mereka sudah tau semuanya, ya, udah. Mau gimana lagi?”“Gimana kalau mereka datang lagi?” sahut Hadi pelan. “Tadi aja dia ngotot mau masuk. Pake ngomong kalau kita ini keluarga.”“Keluarga apaan!” seru Sahli kesal sendiri. “Dia itu datang pasti ada maunya. Tapi aku heran, kenapa mereka sampe ngurusin kita segitunya?”“Mereka begitu karena nggak punya pembantu gratisan lagi,” ujar Suci lalu menggeleng cepat sambil mengusap perutnya. “Haduh, jangan ngomongin mereka dah. Aku lagi hamil, nggak mau benci-benci sama orang. Kan, nggak lucu kalau anakku mirip …”Suci bergidik, tidak melanjutkan kalimatnya. “Mirip siapa emang?” tanya Hadi polos. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud kakak perempuannya itu.“Nggak usah diomongin kubilang,” ulang Suci lalu berdecak. Tidak seperti Sahli, pria itu justru tertawa. “Nggaklah, anakmu nanti mirip bapaknya. Kalau cowok pasti

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status