Início / Romansa / Kontrak Suci / 98~Tinggal Menunggu Waktu

Compartilhar

98~Tinggal Menunggu Waktu

Autor: Kanietha
last update Data de publicação: 2026-09-11 23:39:28

“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti,” ujar Ivan sambil melepas dasi yang melingkar di lehernya setelah duduk sofa.

Deswita yang sedang menatap ponselnya langsung menoleh.

Apa ia tidak salah dengar?

Arif mengundang Deswita makan malam Sabtu nanti?

“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti?” Deswita mengulang kalimat yang dilontarkan Ivan. “Malam minggu nanti?”

“Iya.” Ivan meluruskan kedua kakinya, meletakkan di atas meja. “Kalau mau, kita berangkat
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (13)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
udah berubah sih tapi masih blm lunak, masih mempertahankan egonya walau sedikit
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
gimana budes merasa tertampar ngga? hadi sama sahli itu ngga cuma nompang gitu aja masih usaha sendiri buat cari cuan minta maaf noh udah suuzon sama adik2nya suci
goodnovel comment avatar
V3_
Suruh masuk panci presto aja Bu Deswitanya biar cepet lunak hatinya. Lagian keras banget kayak batu.
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Kontrak Suci   110~Kebahagiaan

    “Bun, gimana?” tanya Arif mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar. Ia mondar-mandir di depan pintu dengan perasaan yang campur aduk. Antara cemas dan penasaran.Ketika Arif mendengar Suci mengatakan jadwal bulanannya telat, ia langsung pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Ia tidak jadi mengambil Aska, karena ada hal penting yang harus diketahui dan dipastikan lebih dulu.“Sayang.” Arif kembali mengetuk pintu, lalu menempelkan telinganya di sana. Namun, ia belum juga mendengar suara apa pun dari dalam sana. “Bun? Gimana, Bun? Aku penasaran. Kenapa nggak keluar-keluar.”Tepat setelah Arif menyelesaikan kalimatnya, ia mendengar suara handle pintu. Ia refleks mundur satu langkah, Suci muncul dari celah pintu.“Satu atau dua garisnya?” tanya Arif terburu dan deg-degan karena memang tidak berencana memiliki anak lagi. “Positif atau negatif?”Suci menghela napas panjang lebih dulu, lalu menyodorkan tiga buah alat tes kehamilan pada sang suami. Arif menatap ketiga alat tes

  • Kontrak Suci   109~Aku, Telat

    “Apa kata Suci?” tanya Nurul langsung pergi menemui Ginanjar begitu tahu pria itu sudah berada di rumah. “Ya, begitu,” jawab Ginanjar lelah. Entah mengapa, Ginanjar merasa tidak lagi memiliki kuasa atas anak-anaknya. Baik Suci maupun Sahli tidak lagi bisa diperintah sama sekali. Situasinya justru terbalik, semua kendali seolah berada di tangan kedua anaknya itu. Sementara Hadi, sudah tidak ada kabarnya sama sekali. Putranya yang satu itu seolah menghindar dan tidak ingin menemuinya sama sekali.“Begitu gimana?” buru Nurul penasaran. Ia sampai duduk bersila di samping Ginanjar, di kursi tamu. “Masih kayak kemaren? Abang masih disuruh kerja?”Ginanajar mengangguk. “Nanti dicariin kerja, jadi aku tunggu kabar aja.”“Abang mau?”“Terus mau gimana?” Ginanjar bertanya balik. Intonasi bicaranya mulai meninggi. “Kalau nggak mau, terus aku makan apa? Memangnya kamu mau ngasih aku makan tiap hari? Mau beliin beras, gula, kopi, bayar air, listrik, sama yang lain-lainnya?”Nurul membuang wajah

  • Kontrak Suci   108~Jauhi

    “Kalau gitu, kita tunggu sampai besok pagi,” ucap Arif sambil memikirkan beberapa hal setelah mendengar cerita Suci. “Kalau memang Bapak nelpon, berarti ada niat buat berubah. Tapi kalau nggak, ya, sudah. Nggak usah lagi dipikirkan. Yang penting, kita sebagai anak sudah punya niat baik.”“Sahli juga bilang gitu,” balas Suci sudah pasrah dengan semuanya. Jika memang Ginanjar tidak bisa berubah, maka Suci dan kedua adiknya akan benar-benar memutuskan hubungan dengan pria itu. “Kalau memang sampai besok Bapak nggak nelpon juga, kami nggak bakal mau tau semuanya tentang Bapak,” lanjut Suci. “Kita juga sepakat nggak akan ngasih apa-apa sama sekali. Rencana ngasih sembako juga bakal dibatalin. Nggak papa, kan, Mas?”“Nggak papa,” jawab Arif justru cukup senang karena baik Suci maupun Sahli bisa mengambil sikap tegas. “Nggak perlu ngerasa bersalah, karena yang mengambil keputusan adalah Bapak.”“Gosip yang beredar di kampung pasti beda,” keluh Suci mengerucutkan bibirnya. “Te Nurul–”“Ngap

  • Kontrak Suci   107~Sampai Kapan pun

    Bab ini free, ya ~ Hepi ridiiing 💙💙💙💙💙💙💙“Jadi, kalian betul-betul mau ngebiarin Bapak hidup begini? Sendirian?”Suci yang baru berbalik dan berniat pergi itu, tidak jadi mengayunkan kaki ketika mendengar suara Ginanjar. Tubuhnya kembali berputar bersama Sahli dan menghela lelah saat menatap bapaknya. “Hidup itu pilihan,” ujar Suci menarik napas panjang. “Aku sudah bilang, kami bertiga masih membuka pintu dengan lebar buat Bapak. Jadi, semua keputusan ada di tangan Bapak.”“Kamu bisa ngomong begitu, karena kehidupanmu sekarang sudah enak.” Ginanjar kembali memberi alasan untuk membantah.“Justru karena hidupku sekarang sudah enak, itu yang mau kujaga,” balas Suci kembali menarik napas. “Aku, Sahli, sama Hadi nggak mau lagi hidup kayak dulu.”“Dan harusnya Bapak mikir,” timpal Sahli menyambung dengan cepat. “Kalau kami mau, kami bisa kok, nggak peduli sama Bapak. Kami bisa langsung putus hubungan sama Bapak. Apalagi kalau ingat semua yang sudah Bapak lakuin ke kami, terutama sa

  • Kontrak Suci   106~Untuk Selamanya!

    “Roman-romanya begitu,” ujar Arif menjawab pertanyaan Ivan mengenai Ginanjar. “Awal datang, dia minta ikut tinggal di sini sambil marah-marah. Terus tadi, semuanya berubah 180 derajat. Tapi tetap kelihatan kalau tujuannya masih sama. Cuma caranya aja yang beda.”“Dan kamu diam aja?”“Selama dia nggak buat masalah, ya, sudah.”“Berarti, ada di penjara nggak membuat dia berubah,” ujar Ivan menarik kesimpulan. “Yang aku tangkap dari obrolan Suci sama Sahli, Bapaknya memang nggak berubah,” terang Arif.“Uang?”Arif mengangguk. “Uang, status sosial. Intinya, semua nggak jauh-jauh dari situ.”“Kalau dibiarkan, pasti jadi benalu.” “Hm.” Arif menyerahkan tabletnya pada Ivan. Meminta ayahnya untuk melihat laporan keuangan sementara. “Tapi Suci sama adik-adiknya tetap jaga jarak dengan Bapak mereka.”Ivan menatap deretan angka-angka di layar dengan mengerut dahi. Sejurus itu, ia kembali menyerahkan tablet tersebut pada Arif. “Kacamata Ayah di mobil,” ujar Ivan. “Kirim ke e-mail aja.”“Oke.” A

  • Kontrak Suci   105~Berhadapan Langsung

    Begitu pintu pagar rumah Arif ditutup, Ginanjar langsung berdecih kesal. Ia sudah datang baik-baik, tetapi tetap saja keduanya memasang jarak yang sangat jelas. Baik Suci maupun Arif, seolah kompak menghindarinya dan tidak memberi celah untuk mendekat. Namun, sebelum sempat menarik gas, Ginanjar terpaku di tempat karena sebuah sedan hitam yang berbelok perlahan dan berhenti di sampingnya. Ia mengurungkan niat untuk pergi dan memilih menunggu karena penasaran. Siapakah gerangan yang ada di dalam mobil tersebut.Akan tetapi, setelah beberapa saat menunggu, tidak ada seorang pun yang keluar dari mobil. Justru sebaliknya, Ginanjar melihat Jaja membuka pintu pagar tidak lama setelah mobil tersebut membunyikan klakson. Pria itu membiarkan pagar terbuka lebar sampai sedan tersebut masuk ke dalam carport.“Siapa, Pak?” tanya Ginanjar masih berada di motornya. Jaja tersenyum sopan. “Tamu, Pak,” ucapnya lalu bergeser ke balik pagar dan menutupnya kembali dari dalam. Ginanjar mendengkus ker

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status