Home / Romansa / Kontrak Suci / 4~Tutup Mulut

Share

4~Tutup Mulut

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-04-17 09:44:49

“Gila!” 

Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. 

“Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah mempertimbangkannya secara singkat, Bias sudah bisa menilai jika perbuatan Arif tersebut hanya akan mendatangkan hal negatif. “Nggak ada untungnya sama sekali buatmu!”

“Kamu nggak ada di posisiku, Bi,” sahut Arif membela diri. 

Pernikahan kontrak yang akan dilakukannya memang tidak akan mendatangkan keuntungan apa pun bagi Arif. Tidak secara materi, tidak juga secara perasaan. Namun, semua ini bukan soal untung atau rugi.

Ini soal … luka yang belum selesai. 

Seharusnya, rasa sakit itu telah terkubur bersama waktu. Namun, perbuatan Deswita semakin membuatnya merasa sesak dan akhirnya Arif memutuskan untuk memberi sebuah “pelajaran” hidup bagi ibunya. 

Arif mengerti, Deswita hanya ingin Arif mendapatkan semua yang terbaik. Namun, yang ia sesalkan adalah, sikap ibunya yang cukup arogan dan selalu merasa paling benar. 

“Kalau begitu pikirkan lagi matang-matang,” lanjut Bias kembali memberi argumen untuk menyadarkan Arif, “Apa yang bakal orang pikirkan, kalau kamu nikah sama office girl terus cerai setahun kemudian? Reputasimu pasti juga jadi taruhannya. Belum lagi ada nama besar Adiningrat di belakangmu. Sadarlah, Rif!”

Bias menggaruk kepala dengan cepat. “Terus, apa kamu yakin kamu nggak bakal tergoda sama si … siapa tadi namanya?”

“Suci!” seru Arif sembari menggeleng pasti. “Aku nggak bakal tergoda sama dia.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Kenapa? Dia nggak cantik? Nggak bohai? Nggak mulus?” cecar Bias tiba-tiba penasaran. “Makanya kamu nikahin dia? Karena selain status sosialnya jauh di bawah keluargamu, penampilan si Suci itu jauh dari kata sempurna. Alias … jelek! Nggak enak dipandang.”

“Aaa …” Mulut Arif terbuka dengan gumaman yang menggantung, karena tengah mengingat penampilan Suci dari ujung rambut hingga kaki. Sejauh ini, ia sama sekali tidak pernah menilai penampilan fisik gadis itu.

Di benak Arif, ia hanya mencari seorang gadis yang status sosialnya jauh di bawah keluarga Adiningrat untuk bisa melancarkan rencananya. Karena ia sudah mengenal Suci sebelumnya, maka pilihannya jatuh pada gadis itu. 

“Semua perempuan pasti cantik.” Arif mencari jawaban aman.

“CIH!” Bias berdecih keras tanpa ragu. Ia seolah berkaca dari hubungannya dengan Cinta dahulu kala. Kasusnya memang berbeda, tetapi alurnya cukup serupa. “Memangnya kamu bisa tahan tinggal satu atap dengan perempuan ‘halal’ selama satu tahun? Kamu nggak ingat gimana hubunganku dengan Cinta? Ha?”

Karena Arif pernah ditunjuk menjadi pengacara Cinta untuk mengurus perceraiannya dengan Bias, maka pria itu pasti sudah mengerti dengan kondisi hubungan rumah tangganya dahulu kala.

Arif tersenyum miring dan melepas tawa kecil dengan ekspresi meledek. “Kita, beda. Aku, bukan kamu.”

Tanpa ragu, Bias membalas tawa Arif lebih keras. Pergaulan mereka di luar profesi sebagai pengacara memang berbeda. Jika dulu Bias akrab dengan hiruk pikuk dunia malam untuk mengusir penat, hidup Arif justru lurus-lurus saja dan tidak pernah macam-macam.

Kendati demikian, Bias dan Arif tetaplah pria yang memiliki hasrat terhadap lawan jenis. Itulah sebabnya, Bias sangsi Arif mampu "bertahan" hidup satu atap dengan Suci tanpa menaruh hati atau menyentuhnya sedikit pun.

“Mau taruhan?”

“Seratus juta,” jawab Arif enteng.

“Oke! Deal!” Bias tiba-tiba bersemangat, meski nominal yang dipertaruhkan tidaklah terlalu besar. “Aku tunggu kamu … kena batunya!”

💙💙💙💙💙💙💙

“Cuma ini barang-barangmu?” tanya Arif melihat sebuah tas duffel dan sebuah ransel yang dipakai Suci di depan dada. Tas ranselnya masih terlihat cukup baik, tetapi tas duffel yang dibawa gadis itu benar-benar terlihat usang. 

Suci mengangguk. Ia tidak bisa menjelaskan, bagaimana kondisi perasaannya saat ini. Yang jelas, setiap kali memikirkan kontrak yang sudah ditandatanganinya, jantung Suci pasti langsung bertalu kencang. Kira-kira, apa yang akan terjadi selama satu tahun ke depan?

“Cuma ini, Pak,” jawab Suci tersenyum canggung, “nggak banyak.”

“Oke.” Arif mengambil alih tas duffle dari tangan Suci dengan mudahnya. “Ikut aku.”

“Tasnya biar–”

“Biar aku yang bawa,” putus Arif sudah mengerti dengan hal protes yang akan diucapkan gadis itu.

Suci tidak membantah. Ia segera menyamakan langkah dengan Arif. Berjalan menuju lift dan berhenti di depannya. 

“Kenapa … Bapak pindah apartemen?” tanya Suci melihat area sekeliling lobi sambil menunggu pintu lift di depannya terbuka. 

“Untuk menghindari beberapa hal yang mungkin terjadi,” jawab Arif mempersilakan Suci masuk lebih dulu ke dalam lift yang baru terbuka, “dan ini bukan apartemenku, tapi punya teman. Aku sewa.”

Dan teman yang dimaksud adalah Bias. 

“Jadi, selama kontrak, kita tinggal di sini?” tanya Suci memastikan.

“Benar!” Arif menatap Suci ketika pintu lift sudah tertutup. “Ada kemungkinan ibuku akan lebih sering datang setelah tahu kita menikah untuk memisahkan kita. Dengan kata lain, dia mungkin … akan bicara banyak hal yang kurang enak didengar. Karena itu aku memutuskan untuk tinggal jauh dari kantor supaya nggak ada gosip yang bisa menyebar ke mana-mana. Cuma jaga-jaga, kalau-kalau ibuku marah-marah di depan umum.”

“Ahh!” Suci membuka lebar matanya ketika mengingat sosok wanita yang beberapa kali dijumpai Arif di lobi. “Jadi, ibu-ibu cantik yang beberapa kali datang dan bicara sama Bapak itu … ibunya Bapak?”

Arif mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel, lalu mencari foto Deswita di dalam galerinya. Setelah dapat, ia menunjukkan pada Suci. “Apa ini orangnya?”

“Iya! Ini orangnya! Ini Ibunya Bapak?”

Arif kembali mengangguk. “Ibu Deswita.”

“Maaf, tapi dari mukanya … udah keliatan jutek,” ujar Suci jujur sambil berjalan keluar lift.

“Itulah Ibuku,” ujar Arif berjalan cepat menyusuri unit yang baru ia masuki. “Di sini kita pake private lift dan ini kamarmu,” ucapnya sambil membuka pintu sebuah kamar lalu memasukinya.

“Oia, kita nikah nanti malam di sini,” ujar Arif meletakkan tas duffel milik Suci di lantai, “semua sudah dipersiapkan, jadi, kamu istirahatlah dulu.”

“Malam ini juga?” 

“Ya! Lebih cepat, lebih baik,” jawab Arif, “dan karena salah satu adikmu sudah tau tentang sandiwara kita, suruh dia ke sini sekalian untuk jadi walimu biar semuanya lebih meyakinkan. Tapi, tetap pastikan dia tutup mulut dengan semua sandiwara ini dan bilang kalau dia juga akan dapat bayaran.”

Suci membuang napas panjang. Sudah tidak ada jalan mundur, terlebih ketika adiknya juga ikut terlibat dalam drama yang dilakoninya.

“Baik, Pak! Kami pasti akan tetap … tutup mulut.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
papa bi bakalan menang
goodnovel comment avatar
Christina Natalia
wahhh ada cibi,bita ,nich
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
Ada papah Bias juga....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   37~Semua Kebohongan

    Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi bekerja lebih pagiAneh. Apa telah terjadi sesuatu?Untuk itu, Suci bergegas menghampiri Arif lalu duduk di sofa yang sama. “Mas nggak kerja?” “Aku cuti.”“Cuti?” Suci segera membuka layar tablet yang dibawanya sejak tadi. Membuka aplikasi kalender untuk memastikan sesuatu. “Kok, ngambil cutinya pas deket natal. Nggak tahun baru aja?”“Aku cuti cuma sehari,” ujar Arif menambahkan penjelasannya. “Kenapa? Sakit perut lagi?” “Lagi berkabung.”“Ha?” Suci geleng-geleng. Sepertinya Arif memang sedang tidak waras. Jika memang pria itu sedang berkabung, pastinya Arif akan pergi ke rumah duka sejak tadi. Tidak bersantai di rumah dan menonton televisi seperti sekarang. “Mas …” Suci mendekati Ar

  • Kontrak Suci   36~Status Kita

    “Perutku sakit.”Suci membaca pesan dari Arif setelah jam lesnya telah usai. Dahinya berkerut, mengingat kondisi pria itu ketika ia meninggalkan unit apartemen beberapa waktu lalu. Saat itu, Arif terlihat baik-baik saja. Bahkan, pria itu sempat melempar protes akan penampilan Suci sebelum ia berangkat les.Dengan segera Suci mengetikkan balasan. “Dari kapan? Habis makan apa?”Suci melihat pesan itu langsung terbaca. Namun, tidak ada jawaban setelah ia menunggu beberapa saat kemudian. Karena itu, ia kembali mengetikkan sebuah pesan.“Mas? Masih sakit perut?”Tetap tidak ada balasan, meski pesan itu langsung dibaca oleh Arif. Suci mulai merasa khawatir. Terlebih, selama mengenal Arif, pria itu tidak pernah mengeluh sakit sama sekali. Apa mungkin kondisi perut Arif benar-benar parah?Suci kembali mencoba mengirimkan pesan. “Mas Arif diare? Maag? Mual? Atau gimana?”Lagi, pesan itu hanya dibaca tetapi tidak ada balasan.“Ci, ayo!”“Ha?” Suci mendongak. Menatap tutor bahasa Inggrisnya yan

  • Kontrak Suci   35~Mas Bule

    “Siang, Pak Ivan,” sapa Arif ketika langkahnya sudah sejajar dengan sang ayah yang berjalan menuju pintu keluar pengadilan. Ia hanya menoleh pada Jose yang ada di sisi lain Ivan dan memberi anggukan singkat. Ivan langsung berhentik melangkah. Meraih siku Arif yang terus saja berjalan, agar putranya itu tidak melewatinya dan pergi begitu saja. “Jose, duluan ke mobil.”“Baik, Pak,” jawab Jose lalu menatap Arif dan memberi anggukan sopan. “Duluan, Mas.”“Ya,” jawab Arif tanpa melihat Jose karena fokus pada ayahnya. ”Ka–”“Sampai kapan sandiwaramu dengan Suci berakhir?” tanya Ivan baik-baik. Tanpa ada emosi sama sekali. “Maksud Ayah, sampe kapan kamu mau buat Bundamu sakit kepala?”“Memangnya siapa yang lagi sandiwara?”“Kalau memang bukan sandiwara, untuk apa pernikahanmu dengan Suci masih ditutupi?” “Suci yang minta,” jawab Arif tenang. “Bapaknya di penjara dan ibunya kabur entah ke mana. Jadi, lebih baik kami diam-diam saja. Yang penting SAH.”“Oh ya?” Ivan tertawa hambar sambil mene

  • Kontrak Suci   34~Gemas Sendiri

    “Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar hingga pagi ini. Semalam, Suci tidak berani mengganggu, karena pria itu berkata ingin beristirahat dan langsung tidur.“Sarapan dulu,” lanjut Suci dengan sabar berdiri di depan pintu kamar Arif. Hening sesaat. Sampai akhirnya Suci melihat gagang pintu kamar bergerak. Pintu itu terbuka, menampilkan Arif dengan rambut sedikit berantakan, wajah lelah, dan bayangan gelap di bawah matanya.Kemungkinan besar, pria itu hampir tidak tidur semalaman.“Sarapan dulu,” ulang Suci ragu-ragu, “Mas Arif sakit? Mau aku bawain sarapannya ke kamar? Atau aku bikinin teh anget. Mas Arif bisa mandi aja dulu.”Arif mengusap pelan wajahnya. Kemudian, ia menggeleng. Menatap Suci yang kembali dengan penampilannya

  • Kontrak Suci   33~Semua Luka

    “Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci. Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya. “Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal tersebut, tetapi Arif tetap tidak memedulikannya. “Kita ke sana.” Telunjuk Arif mengarah pada salah satu butik yang menjual pakaian wanita.“Males.” Suci berhenti melangkah. Diam di tempat dan bersedekap. “Hapus dulu fotonya.”Tahu Suci tidak lagi berada di sampingnya, Arif pun terkekeh kecil. Ia melangkah mundur dan berhenti di sebelah Suci. “Mau sampe kapan ngambeknya?”“Siapa yang ngambek.” Suci mencibir. “Berarti ini lagi nggak ngambek?”“Nggak.”“Ya udah.” Arif meraih pergelangan Suci. Mencengkramnya lembut, lalu menariknya dengan perlahan. Membawa gadis itu menuju butik yang ia tunjuk sebelumnya. “Di hapeku juga ada foto nikah kita, tapi kamu nggak pernah minta hapus.

  • Kontrak Suci   32~Hapus, Nggak!

    “Ci, aku ke kantor dulu,” pamit Arif berhenti di sudut meja makan. Menatap Suci yang tengah santai menonton video resep di salah satu platform media sosial. Beberapa waktu lalu, Deswita sudah pergi bersama Ivan. Tidak ada keributan, tidak ada perdebatan apa pun. Semuanya berlangsung dengan damai, bahkan terlalu tenang untuk seseorang seperti Deswita. Ingin rasanya Arif berpikiran negatif terhadap ibunya, tetapi hal tersebut dengan segera ia urungkan. Siapa tahu saja, Deswita memang benar-benar lelah dan butuh waktu untuk introspeksi diri. “Mas nggak papa?” tanya Suci menatap Arif setelah menghentikan video yang ia tonton. Pria itu sudah berpakaian rapi seperti biasa dan tentu saja terlihat tampan. “Nggak papa. Memangnya kenapa?”“Didiemin sama ibunya.”“Mau gimana lagi.” Arif menghela panjang. “Yang penting, ibu mertuamu itu sudah nggak tinggal di sini lagi.”Suci tertawa kecil. Ternyata, Arif masih bisa bercanda di saat seperti ini. “Nanti aku pindahin lagi barang-barangku ke kama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status