Home / Romansa / Kontrak Suci / 1~Nikah Kontrak

Share

Kontrak Suci
Kontrak Suci
Author: Kanietha

1~Nikah Kontrak

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-04-03 23:01:50

“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”

“Rif–”

“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan suaranya, “dan yang paling penting, jangan pernah lagi jodoh-jodohkan aku dengan siapa pun.”

“Bunda nggak pernah jodoh-jodohkan kamu,” balas Deswita cepat, nada suaranya mulai naik tetapi ia segera menahan diri karena mereka berada di tempat umum. Jika tidak didatangi di kantor, Arif pasti akan susah ditemui. “Bunda cuma mau kamu move on dan kenalan dengan anak teman-teman Bunda atau Ayahmu. Bukan mau jodohin kamu. Jadi, jangan selalu negative thinking.”

Move on? Kenalan?” Arif tertawa singkat dan hambar. “Duduk satu meja, dipaksa basa-basi sama perempuan pilihan Bunda? Yang bener aja, Bun.”

Pernah sekali Arif akhirnya luluh karena Deswita kerap menanyakan kabar, memberi perhatian, dan datang menitipkan makanan untuknya di resepsionis gedung. Karena itulah, Arif mencoba berdamai dengan keadaan.

Arif berpikir, Deswita benar-benar ingin memperbaiki hubungan. Namun, ternyata ia salah. Di balik sikap hangat itu, ibunya sudah menyiapkan sesuatu. Sebuah makan malam yang sudah diatur. Arif dipertemukan dengan anak dari teman Deswita, lengkap dengan obrolan yang mengarah ke satu hal.

Penjodohan.

Sejak saat itu, Arif kembali menjaga jarak karena tidak ingin Deswita mengatur dan ikut campur dalam urusan perasaannya. 

“Salah Bunda di mana?” 

“Bunda masih tanya salahnya di mana?” Arif akhirnya berdiri lebih dulu karena beberapa rekan kerjanya mulai memandang dengan tatapan penuh curiga. 

“Rif, Bunda ini bundamu, ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu,” ucap Deswita ikut berdiri. “Dan Bunda cuma ingin yang terbaik buat kamu. Nggak ada niatan lain.”

“Tapi cara Bunda yang salah.” Arif merentangkan satu tangannya menuju pintu keluar. “Biar aku antar sampai lift, silakan.”

Deswita menghabiskan jarak. “Kamu ngusir Bunda.”

“Bun, ini kantor.”

“Dan ini sudah waktunya pulang, kan?”

“Please, Bun, pleaseee.” Arif merangkul Deswita dengan senyum yang mau tidak mau harus dipaksakan. Ia membawa ibunya keluar dari area kantor. “Aku ada janji dengan orang satu jam lagi. Jadi, silakan pulang dan jangan pernah lagi datang ke kantorku.”

Deswita melepas rangkulan putranya begitu mereka berada di lorong menuju lift. Ia berhenti dan menatap tajam. “Sampai segitunya kamu sama Bundamu sendiri, Rif? Ini bukan pertama kali kamu ngusir Bunda, ninggalin Bunda, dan nggak mau bicara sama Bunda.”

Arif mengusap kasar wajahnya. Frustasi dengan tingkah kekanakan ibunya. “Aku butuh ruang, butuh jarak, butuh batas.”

“Sejak kapan seorang ibu harus berjarak dan harus dibatasi dengan anaknya sendiri?” Deswita meninggikan suaranya.

“Sejak Bunda masuk terlalu jauh dalam kehidupanku.”

“Nila!” Deswita tersenyum miring dan menggeleng. “Semua gara-gara perempuan itu!”

Rahang Arif sontak mengeras. Daripada terus berdebat, akhirnya ia pergi menuju lift lebih dulu dan berhenti di depannya. 

“Rif …” Deswita buru-buru menyusul putranya. “Dengar, kamu bisa dapatkan perempuan yang bibit, bebet, bobotnya jauh lebih baik dari Nila. Jadi–”

“Bunda mau aku nikah?” putus Arif menahan pintu lift yang sudah terbuka di hadapannya. 

“Jelas!” seru Deswita bersedekap. “Karena itulah Bunda betul-betul memilih dan memilah perempuan yang terbaik buatmu. Dan Bunda pastikan dia lebih baik dari Nila.”

Arif tersenyum tipis. “Oke! Kalau Bunda mau aku nikah, aku akan menikah!”

“Serius!” Mata Deswita mulai berbinar bahagia.

“Serius!” Arif kembali tersenyum tipis. “Tapi, dengan pilihanku sendiri. Sekarang silakan masuk, karena aku mau siap-siap ketemu orang. Permisi.”

💙💙💙💙💙💙💙

“Nikah … kontrak?” ulang Suci pelan, memastikan ia tidak salah dengar.

Arif mengangguk tanpa ragu. “Iya.”

Suci reflek tertawa canggung sambil memijat tengkuknya yang kaku setelah bekerja sehari penuh. Namun, tawa itu hanya sekejap saat melihat ekspresi Arif yang sama sekali tidak berubah. Ia lantas menegakkan tubuh dan kembali memasang wajah serius.

Suci mengusap wajahnya, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Pak. Tapi, ini nggak masuk akal. Saya cuma office girl dan Bapak … pengacara. Intinya, saya bukan siapa-siapa, jadi kenapa saya? Apa kata orang nanti?”

“Justru itu tujuannya.”

Suci mengerut dahi. “Maksudnya?”

Arif tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya ia memejamkan mata.

“Pak …” tegur Suci pelan saat melihat keterdiaman Arif.

“Aku pernah hampir menikah,” ucap Arif akhirnya, datar. “Tapi, ibuku nggak setuju. Semuanya hancur… cuma karena status sosial yang berbeda. Bebet, bibit, bobot yang nggak setara menurut pendapat dia.”

Suci menelan ludah. “Jadi… saya ini cuma—”

“Alat.” 

“Bapak mau balas dendam dengan ibu sendiri?” tebak Suci setelah mendengar jawaban gamblang dari pria itu. Sesungguhnya, ia agak tersinggung setelah mengerti alasan Arif ingin melakukan pernikahan kontrak dengannya.

Arif menatap dingin. Ia tidak akan menutupi hal apa pun di depan Suci agar semua jelas. “Aku cuma mau ibuku ... merasakan apa yang aku rasakan selama ini.”

Hening.

Suci akhirnya menggeleng pelan setelah berpikir, lalu memundurkan kursinya. “Maaf, Pak, saya–”

“Dua puluh juta sebulan.” 

Gerakan Suci terhenti. Ia bahkan tidak jadi berdiri. Tubuhnya yang sudah sedikit bangkit akhirnya terduduk kembali. Harga diri yang sempat tertanam di dalam hati, mendadak goyah setelah mendengar angka yang akan diterimanya jika menerima tawaran Arif nanti.

“Fasilitas kesehatan, tempat tinggal, dan semua kebutuhan pokokmu, aku yang tanggung,” lanjut Arif semakin tegas. “Tugasmu cuma satu, pura-pura jadi istriku. Semua cuma di atas kertas dan nggak lebih dari itu.”

Suci semakin mencengkram erat tali tas selempangnya yang warnanya sudah sangat pudar. Bayangan dua puluh juta mendarat mulus di rekeningnya setiap bulan, langsung menari di pikiran. Beban bulanan yang di pikulnya selama ini juga bisa terbayar dengan begitu mudah jika ia menerima tawaran tersebut. 

Dan bagi Suci, jelas angka tersebut sangatlah besar. Terlebih itu semua di luar kebutuhan pokok hariannya.

“Kamu masih bisa nego,” lanjut Arif, kali ini dengan senyum tipis. “Aku kasih waktu dua hari.” 

Arif meraih ponselnya di meja kemudian berdiri. Menurutnya, semua hal sudah ia sampaikan pada Suci, jadi, gadis itu tinggal memikirkannya saja. Sebelum pergi meninggalkan Suci, ia berujar, “kita ketemu lagi sabtu pagi, jam tujuh. Di sini. Dan ingat, pembicaraan ini hanya antara kamu dan aku. Sampai jumpa.”

“Seratus juta … dua puluh lima juta sebulan.” Suci menelan ludah setelah mengucap hal tersebut. “Tapi … Bi-bisa saya minta uang mukanya dulu, Pak … seratus, juta.” Dengan jemari yang bergetar dan jantung yang mulai bertalu kencang, Suci membuka tas dan mengeluarkan dompetnya. “Ba-bapak … Bapak bisa bawa KTP sama SIM saya sebagai jaminan, karena cuma itu yang saya punya. Saya janji nggak bakal melarikan diri.”

Arif memperhatikan ekspresi dan gestur tubuh Suci dengan seksama. Gadis itu tampak gelisah, takut, juga ragu. Bahkan, rona wajahnya mulai terlihat pias saat jemari yang bergetar itu meletakkan dua buah kartu identitas di meja. 

“Itu artinya, kamu setuju?” tebak Arif menyimpulkan.

Suci menelan ludah. Menatap Arif sembari mengangguk pelan. Lupakan tentang harga diri, karena saat ini ia tidak sedang menjual tubuhnya pada Arif. Suci hanya perlu berpura-pura menjadi istri di atas kertas dan tidak lebih dari itu. “Saya setuju.”

“Datang ke apartemenku besok kalau begitu, jam enam pagi,” pinta Arif setelah melihat jam tangannya. Kemudian, ia mengeluarkan dompet dan menarik access card yang dulu pernah dipinjamkan pada Suci. “Ada yang harus kita bicarakan, sebelum seratus juta pindah ke tanganmu.”

“A-apa yang mau kita bicarakan?”

“Semua … tentangmu dan tentang kontrak kita,” ucapnya sambil menyodorkan access card di hadapan gadis itu. “Jadi, sampai ketemu besok, di tempatku.”

🩵🩵🩵🩵🩵🩵🩵

Halu, Mba beb ter~💙

Kita ketemu lagi di judul baru, dengan tokoh lama dari “Setitik Nila” yang akhirnya dilanjut di sini. Dan ternyata, bu Deswita masih sama saja ~~ 🫣

Hepi riding yaaa ~~

Kisseesss

💋💋💋💋

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (20)
goodnovel comment avatar
Tati sumiyati
mesti buka setitik nila lagi nih...
goodnovel comment avatar
Wili yana
yang digampar dimana kak,, kasih pencerahan soalnya aku lupa nih ...
goodnovel comment avatar
Wili yana
hari ini 20 mei akhirnya aku baca juga padahal pengen nunggu ampe 30an bab yang di up baru mau baca tapi aku penasaran ama ceritanya soalnya cerita kak kineth top markotop semua ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   69~Hidup Berdampingan

    Malam itu, Nurul masih belum bisa memejamkan mata. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tetapi pikirannya terus berputar pada rumah Suci yang siang tadi baru pertama kali ia datangi. Sambil melipat pakaian di depan televisi untuk mencari kesibukan, bayangan tentang rumah megah itu kembali memenuhi kepalanya. Semakin diingat, semakin sulit ia mempercayai bahwa keponakan yang dulu hidup apa adanya itu, kini tinggal di lingkungan elite.“Kenapa belum tidur?” tanya Bahlil begitu masuk ke rumah. Ia baru kembali dari pos ronda di ujung gang. Sarung yang semula diselempangkan di bahunya langsung dilepas dan dilemparkannya ke sandaran kursi.“Nggak bisa tidur,” jawab Nurul tidak melanjutkan melipat pakaian yang sudah berada di pangkuan. Pandangannya tertuju pada televisi yang masih menyala, tetapi tidak benar-benar ia tonton. “Kok bisa ya, Suci itu nikah sama Arif?”“Bukan itu masalahnya,” gerutu Bahlil sembari duduk di kursi dan menaikkan sebelah kakinya. “Aku jengkel karena mereka

  • Kontrak Suci   68~Jangan Diganggu

    “Ci, Tante mau ke kamar mandi,” ujar Nurul tidak kehabisan akal mencari alasan agar bisa masuk ke dalam rumah Suci. Kali ini, keponakannya itu tidak akan bisa mengelak, karena urusan ke kamar mandi bukanlah sesuatu yang bisa ditunda-tunda. “Kebelet habis minum es teh.”Suci membeku beberapa detik. Kali ini, ia benar-benar kalah dengan siasat Nurul. Tidak mungkin ia menolak seseorang yang mengaku sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi. Pada akhirnya, Suci tidak punya pilihan selain mengalah.“Ayo masuk,” ujar Suci beranjak lebih dulu. Ia membukakan pintu, lalu berjalan lebih dulu ke dalam rumah. Dengan langkah pelan, ia memandu Nurul menuju kamar mandi yang berada di ruang keluarga. Nurul segera melangkah masuk dengan wajah semringah. Hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menerpa wajah, lalu tubuhnya. Benar-benar luar biasa. Namun, alih-alih langsung menuju kamar mandi mengikuti Suci, ia justru sibuk menyapu setiap sudut rumah yang dilewatinya.Ruang tamu di bagian depan saja

  • Kontrak Suci   67~Kesempatan Langka

    “Kapan kira-kira kita beli perlengkapan bayi?” tanya Arif ikut memakan kuaci bersama Suci di kamar mereka. Padahal, ia tidak terlalu menyukai jenis makanan tersebut karena terlalu merepotkan untuk di makan. Namun, saat melihat Suci memakannya dengan wajah berbinar, maka Arif pun penasaran untuk mencobanya. Berawal dari sebutir kuaci, lalu bertambah menjadi beberapa butir lagi. Lama-kelamaan, tangannya justru lebih sering merogoh bungkus kuaci daripada berhenti.“Jenis kelaminnya aja belum tau, masa’ sudah mau beli?” Suci menepuk punggung tangan Arif yang kembali mengambil kuaci miliknya. “Mas itu kalau mau harusnya beli sendiri. Ini siapa yang pengen, siapa yang paling banyak ngabisin kuaci.”“Kamu kan, beli kacang juga,” ujar Arif menunjuk bungkus kacang kulit kemasan yang tergeletak di meja. Sepanjang perjalanan mengelilingi kompleks tadi, Suci sibuk mengunyah kacang tersebut hingga menghabiskan separuh isinya seorang diri. .“Jadi, lanjutin aja makan kacangnya. Habisin.”“Udah nggak

  • Kontrak Suci   66~Dijadiin Tumbal

    “Memangnya Bunda mau datang ke psikolog?” tanya Arif pada sang ayah yang duduk berseberangan dengannya. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa duduk berdua sambil makan siang sesudah mencocokkan jadwal.Mereka tidak melibatkan Deswita, karena ingin menikmati waktu dengan tenang tanpa ketegangan. “Bunda itu punya penghasilan sendiri,” lanjut Arif lalu menyeruput kuah soto tangkarnya. “Jadi, walau CC-nya diblokir, Bunda masih bisa shopping.”“Awal-awal memang masih bisa shopping pake uangnya sendiri,” balas Ivan sudah mempertimbangkan segalanya. “Tapi lama-lama? Bundamu pasti nggak rela kalau uang di rekeningnya terus berkurang. Ditambah dengan acara amalnya di mana-mana.”Arif tertawa pelan. Ia sampai lupa, kapan terakhir kali bisa duduk dengan damai seperti ini bersama ayahnya sendiri. Sepertinya, kehamilan Suci membawa berkah dan kebahagiaan tersendiri.“Tapi, sudah dapat psikolognya?” tanya Arif lagi.“Jose sudah dapat, tapi Bundamu yang belum mau datang.”“Ya, kita lihat aja na

  • Kontrak Suci   65~Beli Semua

    “Kabari kalau otewe pulang,” pesan Suci kembali mengingatkan ketika Hadi hendak berangkat sekolah. “Biar kutungguin di depan, kalau Irul datang lagi.”“Nggak usah,” sahut Sahli yang tengah mencuci motornya di carport. “Kamu pulangnya berhenti di pos satpam aja. Paling lima belas menitan aku dah di sini kayak kemarin. Nanti ke rumahnya sama aku.”“Aku di pos satpam aja,” ujar Hadi segera berdiri setelah memakai sepatunya. Ia menghampiri Suci, lalu berpamitan dengan kakak perempuannya lebih dulu karena ojeknya sudah standby di depan pagar. “Berangkat dulu.”“Hati-hati,” ucap Suci dan Sahli bersamaan. “Ibu yang mau kerja di sini itu jadi?” tanya Sahli.“Jadi,” jawab Suci mengangguk sambil menyapu dedaunan di taman depan. Udara pagi yang masih sejuk, membuat tubuhnya terasa lebih segar. “Datang jam tujuh, jam empat sudah pulang. Ingat, ya, kalau kamar bersihin masing-masing.”“Tau,” sahut Sahli sambil meraih kepala semprotan air lalu membilas motornya yang sudah penuh dengan sabun. “Ora

  • Kontrak Suci   64~Seperti Dulu Lagi

    “Cuekin aja,” ucap Suci enggan membahas masalah Irul dan keluarga pria itu yang sudah mengetahui semua sandiwaranya. “Kalau mereka sudah tau semuanya, ya, udah. Mau gimana lagi?”“Gimana kalau mereka datang lagi?” sahut Hadi pelan. “Tadi aja dia ngotot mau masuk. Pake ngomong kalau kita ini keluarga.”“Keluarga apaan!” seru Sahli kesal sendiri. “Dia itu datang pasti ada maunya. Tapi aku heran, kenapa mereka sampe ngurusin kita segitunya?”“Mereka begitu karena nggak punya pembantu gratisan lagi,” ujar Suci lalu menggeleng cepat sambil mengusap perutnya. “Haduh, jangan ngomongin mereka dah. Aku lagi hamil, nggak mau benci-benci sama orang. Kan, nggak lucu kalau anakku mirip …”Suci bergidik, tidak melanjutkan kalimatnya. “Mirip siapa emang?” tanya Hadi polos. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud kakak perempuannya itu.“Nggak usah diomongin kubilang,” ulang Suci lalu berdecak. Tidak seperti Sahli, pria itu justru tertawa. “Nggaklah, anakmu nanti mirip bapaknya. Kalau cowok pasti

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status