LOGIN
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”
“Rif–”
“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan suaranya, “dan yang paling penting, jangan pernah lagi jodoh-jodohkan aku dengan siapa pun.”
“Bunda nggak pernah jodoh-jodohkan kamu,” balas Deswita cepat, nada suaranya mulai naik tetapi ia segera menahan diri karena mereka berada di tempat umum. Jika tidak didatangi di kantor, Arif pasti akan susah ditemui. “Bunda cuma mau kamu move on dan kenalan dengan anak teman-teman Bunda atau Ayahmu. Bukan mau jodohin kamu. Jadi, jangan selalu negative thinking.”
“Move on? Kenalan?” Arif tertawa singkat dan hambar. “Duduk satu meja, dipaksa basa-basi sama perempuan pilihan Bunda? Yang bener aja, Bun.”
Pernah sekali Arif akhirnya luluh karena Deswita kerap menanyakan kabar, memberi perhatian, dan datang menitipkan makanan untuknya di resepsionis gedung. Karena itulah, Arif mencoba berdamai dengan keadaan.
Arif berpikir, Deswita benar-benar ingin memperbaiki hubungan. Namun, ternyata ia salah. Di balik sikap hangat itu, ibunya sudah menyiapkan sesuatu. Sebuah makan malam yang sudah diatur. Arif dipertemukan dengan anak dari teman Deswita, lengkap dengan obrolan yang mengarah ke satu hal.
Penjodohan.
Sejak saat itu, Arif kembali menjaga jarak karena tidak ingin Deswita mengatur dan ikut campur dalam urusan perasaannya.
“Salah Bunda di mana?”
“Bunda masih tanya salahnya di mana?” Arif akhirnya berdiri lebih dulu karena beberapa rekan kerjanya mulai memandang dengan tatapan penuh curiga.
“Rif, Bunda ini bundamu, ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu,” ucap Deswita ikut berdiri. “Dan Bunda cuma ingin yang terbaik buat kamu. Nggak ada niatan lain.”
“Tapi cara Bunda yang salah.” Arif merentangkan satu tangannya menuju pintu keluar. “Biar aku antar sampai lift, silakan.”
Deswita menghabiskan jarak. “Kamu ngusir Bunda.”
“Bun, ini kantor.”
“Dan ini sudah waktunya pulang, kan?”
“Please, Bun, pleaseee.” Arif merangkul Deswita dengan senyum yang mau tidak mau harus dipaksakan. Ia membawa ibunya keluar dari area kantor. “Aku ada janji dengan orang satu jam lagi. Jadi, silakan pulang dan jangan pernah lagi datang ke kantorku.”
Deswita melepas rangkulan putranya begitu mereka berada di lorong menuju lift. Ia berhenti dan menatap tajam. “Sampai segitunya kamu sama Bundamu sendiri, Rif? Ini bukan pertama kali kamu ngusir Bunda, ninggalin Bunda, dan nggak mau bicara sama Bunda.”
Arif mengusap kasar wajahnya. Frustasi dengan tingkah kekanakan ibunya. “Aku butuh ruang, butuh jarak, butuh batas.”
“Sejak kapan seorang ibu harus berjarak dan harus dibatasi dengan anaknya sendiri?” Deswita meninggikan suaranya.
“Sejak Bunda masuk terlalu jauh dalam kehidupanku.”
“Nila!” Deswita tersenyum miring dan menggeleng. “Semua gara-gara perempuan itu!”
Rahang Arif sontak mengeras. Daripada terus berdebat, akhirnya ia pergi menuju lift lebih dulu dan berhenti di depannya.
“Rif …” Deswita buru-buru menyusul putranya. “Dengar, kamu bisa dapatkan perempuan yang bibit, bebet, bobotnya jauh lebih baik dari Nila. Jadi–”
“Bunda mau aku nikah?” putus Arif menahan pintu lift yang sudah terbuka di hadapannya.
“Jelas!” seru Deswita bersedekap. “Karena itulah Bunda betul-betul memilih dan memilah perempuan yang terbaik buatmu. Dan Bunda pastikan dia lebih baik dari Nila.”
Arif tersenyum tipis. “Oke! Kalau Bunda mau aku nikah, aku akan menikah!”
“Serius!” Mata Deswita mulai berbinar bahagia.
“Serius!” Arif kembali tersenyum tipis. “Tapi, dengan pilihanku sendiri. Sekarang silakan masuk, karena aku mau siap-siap ketemu orang. Permisi.”
💙💙💙💙💙💙💙
“Nikah … kontrak?” ulang Suci pelan, memastikan ia tidak salah dengar.
Arif mengangguk tanpa ragu. “Iya.”
Suci reflek tertawa canggung sambil memijat tengkuknya yang kaku setelah bekerja sehari penuh. Namun, tawa itu hanya sekejap saat melihat ekspresi Arif yang sama sekali tidak berubah. Ia lantas menegakkan tubuh dan kembali memasang wajah serius.
Suci mengusap wajahnya, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Pak. Tapi, ini nggak masuk akal. Saya cuma office girl dan Bapak … pengacara. Intinya, saya bukan siapa-siapa, jadi kenapa saya? Apa kata orang nanti?”
“Justru itu tujuannya.”
Suci mengerut dahi. “Maksudnya?”
Arif tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya ia memejamkan mata.
“Pak …” tegur Suci pelan saat melihat keterdiaman Arif.
“Aku pernah hampir menikah,” ucap Arif akhirnya, datar. “Tapi, ibuku nggak setuju. Semuanya hancur… cuma karena status sosial yang berbeda. Bebet, bibit, bobot yang nggak setara menurut pendapat dia.”
Suci menelan ludah. “Jadi… saya ini cuma—”
“Alat.”
“Bapak mau balas dendam dengan ibu sendiri?” tebak Suci setelah mendengar jawaban gamblang dari pria itu. Sesungguhnya, ia agak tersinggung setelah mengerti alasan Arif ingin melakukan pernikahan kontrak dengannya.
Arif menatap dingin. Ia tidak akan menutupi hal apa pun di depan Suci agar semua jelas. “Aku cuma mau ibuku ... merasakan apa yang aku rasakan selama ini.”
Hening.
Suci akhirnya menggeleng pelan setelah berpikir, lalu memundurkan kursinya. “Maaf, Pak, saya–”
“Dua puluh juta sebulan.”
Gerakan Suci terhenti. Ia bahkan tidak jadi berdiri. Tubuhnya yang sudah sedikit bangkit akhirnya terduduk kembali. Harga diri yang sempat tertanam di dalam hati, mendadak goyah setelah mendengar angka yang akan diterimanya jika menerima tawaran Arif nanti.
“Fasilitas kesehatan, tempat tinggal, dan semua kebutuhan pokokmu, aku yang tanggung,” lanjut Arif semakin tegas. “Tugasmu cuma satu, pura-pura jadi istriku. Semua cuma di atas kertas dan nggak lebih dari itu.”
Suci semakin mencengkram erat tali tas selempangnya yang warnanya sudah sangat pudar. Bayangan dua puluh juta mendarat mulus di rekeningnya setiap bulan, langsung menari di pikiran. Beban bulanan yang di pikulnya selama ini juga bisa terbayar dengan begitu mudah jika ia menerima tawaran tersebut.
Dan bagi Suci, jelas angka tersebut sangatlah besar. Terlebih itu semua di luar kebutuhan pokok hariannya.
“Kamu masih bisa nego,” lanjut Arif, kali ini dengan senyum tipis. “Aku kasih waktu dua hari.”
Arif meraih ponselnya di meja kemudian berdiri. Menurutnya, semua hal sudah ia sampaikan pada Suci, jadi, gadis itu tinggal memikirkannya saja. Sebelum pergi meninggalkan Suci, ia berujar, “kita ketemu lagi sabtu pagi, jam tujuh. Di sini. Dan ingat, pembicaraan ini hanya antara kamu dan aku. Sampai jumpa.”
“Seratus juta … dua puluh lima juta sebulan.” Suci menelan ludah setelah mengucap hal tersebut. “Tapi … Bi-bisa saya minta uang mukanya dulu, Pak … seratus, juta.” Dengan jemari yang bergetar dan jantung yang mulai bertalu kencang, Suci membuka tas dan mengeluarkan dompetnya. “Ba-bapak … Bapak bisa bawa KTP sama SIM saya sebagai jaminan, karena cuma itu yang saya punya. Saya janji nggak bakal melarikan diri.”
Arif memperhatikan ekspresi dan gestur tubuh Suci dengan seksama. Gadis itu tampak gelisah, takut, juga ragu. Bahkan, rona wajahnya mulai terlihat pias saat jemari yang bergetar itu meletakkan dua buah kartu identitas di meja.
“Itu artinya, kamu setuju?” tebak Arif menyimpulkan.
Suci menelan ludah. Menatap Arif sembari mengangguk pelan. Lupakan tentang harga diri, karena saat ini ia tidak sedang menjual tubuhnya pada Arif. Suci hanya perlu berpura-pura menjadi istri di atas kertas dan tidak lebih dari itu. “Saya setuju.”
“Datang ke apartemenku besok kalau begitu, jam enam pagi,” pinta Arif setelah melihat jam tangannya. Kemudian, ia mengeluarkan dompet dan menarik access card yang dulu pernah dipinjamkan pada Suci. “Ada yang harus kita bicarakan, sebelum seratus juta pindah ke tanganmu.”
“A-apa yang mau kita bicarakan?”
“Semua … tentangmu dan tentang kontrak kita,” ucapnya sambil menyodorkan access card di hadapan gadis itu. “Jadi, sampai ketemu besok, di tempatku.”
🩵🩵🩵🩵🩵🩵🩵
Halu, Mba beb ter~💙
Kita ketemu lagi di judul baru, dengan tokoh lama dari “Setitik Nila” yang akhirnya dilanjut di sini. Dan ternyata, bu Deswita masih sama saja ~~ 🫣
Hepi riding yaaa ~~
Kisseesss
💋💋💋💋
Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi bekerja lebih pagiAneh. Apa telah terjadi sesuatu?Untuk itu, Suci bergegas menghampiri Arif lalu duduk di sofa yang sama. “Mas nggak kerja?” “Aku cuti.”“Cuti?” Suci segera membuka layar tablet yang dibawanya sejak tadi. Membuka aplikasi kalender untuk memastikan sesuatu. “Kok, ngambil cutinya pas deket natal. Nggak tahun baru aja?”“Aku cuti cuma sehari,” ujar Arif menambahkan penjelasannya. “Kenapa? Sakit perut lagi?” “Lagi berkabung.”“Ha?” Suci geleng-geleng. Sepertinya Arif memang sedang tidak waras. Jika memang pria itu sedang berkabung, pastinya Arif akan pergi ke rumah duka sejak tadi. Tidak bersantai di rumah dan menonton televisi seperti sekarang. “Mas …” Suci mendekati Ar
“Perutku sakit.”Suci membaca pesan dari Arif setelah jam lesnya telah usai. Dahinya berkerut, mengingat kondisi pria itu ketika ia meninggalkan unit apartemen beberapa waktu lalu. Saat itu, Arif terlihat baik-baik saja. Bahkan, pria itu sempat melempar protes akan penampilan Suci sebelum ia berangkat les.Dengan segera Suci mengetikkan balasan. “Dari kapan? Habis makan apa?”Suci melihat pesan itu langsung terbaca. Namun, tidak ada jawaban setelah ia menunggu beberapa saat kemudian. Karena itu, ia kembali mengetikkan sebuah pesan.“Mas? Masih sakit perut?”Tetap tidak ada balasan, meski pesan itu langsung dibaca oleh Arif. Suci mulai merasa khawatir. Terlebih, selama mengenal Arif, pria itu tidak pernah mengeluh sakit sama sekali. Apa mungkin kondisi perut Arif benar-benar parah?Suci kembali mencoba mengirimkan pesan. “Mas Arif diare? Maag? Mual? Atau gimana?”Lagi, pesan itu hanya dibaca tetapi tidak ada balasan.“Ci, ayo!”“Ha?” Suci mendongak. Menatap tutor bahasa Inggrisnya yan
“Siang, Pak Ivan,” sapa Arif ketika langkahnya sudah sejajar dengan sang ayah yang berjalan menuju pintu keluar pengadilan. Ia hanya menoleh pada Jose yang ada di sisi lain Ivan dan memberi anggukan singkat. Ivan langsung berhentik melangkah. Meraih siku Arif yang terus saja berjalan, agar putranya itu tidak melewatinya dan pergi begitu saja. “Jose, duluan ke mobil.”“Baik, Pak,” jawab Jose lalu menatap Arif dan memberi anggukan sopan. “Duluan, Mas.”“Ya,” jawab Arif tanpa melihat Jose karena fokus pada ayahnya. ”Ka–”“Sampai kapan sandiwaramu dengan Suci berakhir?” tanya Ivan baik-baik. Tanpa ada emosi sama sekali. “Maksud Ayah, sampe kapan kamu mau buat Bundamu sakit kepala?”“Memangnya siapa yang lagi sandiwara?”“Kalau memang bukan sandiwara, untuk apa pernikahanmu dengan Suci masih ditutupi?” “Suci yang minta,” jawab Arif tenang. “Bapaknya di penjara dan ibunya kabur entah ke mana. Jadi, lebih baik kami diam-diam saja. Yang penting SAH.”“Oh ya?” Ivan tertawa hambar sambil mene
“Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar hingga pagi ini. Semalam, Suci tidak berani mengganggu, karena pria itu berkata ingin beristirahat dan langsung tidur.“Sarapan dulu,” lanjut Suci dengan sabar berdiri di depan pintu kamar Arif. Hening sesaat. Sampai akhirnya Suci melihat gagang pintu kamar bergerak. Pintu itu terbuka, menampilkan Arif dengan rambut sedikit berantakan, wajah lelah, dan bayangan gelap di bawah matanya.Kemungkinan besar, pria itu hampir tidak tidur semalaman.“Sarapan dulu,” ulang Suci ragu-ragu, “Mas Arif sakit? Mau aku bawain sarapannya ke kamar? Atau aku bikinin teh anget. Mas Arif bisa mandi aja dulu.”Arif mengusap pelan wajahnya. Kemudian, ia menggeleng. Menatap Suci yang kembali dengan penampilannya
“Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci. Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya. “Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal tersebut, tetapi Arif tetap tidak memedulikannya. “Kita ke sana.” Telunjuk Arif mengarah pada salah satu butik yang menjual pakaian wanita.“Males.” Suci berhenti melangkah. Diam di tempat dan bersedekap. “Hapus dulu fotonya.”Tahu Suci tidak lagi berada di sampingnya, Arif pun terkekeh kecil. Ia melangkah mundur dan berhenti di sebelah Suci. “Mau sampe kapan ngambeknya?”“Siapa yang ngambek.” Suci mencibir. “Berarti ini lagi nggak ngambek?”“Nggak.”“Ya udah.” Arif meraih pergelangan Suci. Mencengkramnya lembut, lalu menariknya dengan perlahan. Membawa gadis itu menuju butik yang ia tunjuk sebelumnya. “Di hapeku juga ada foto nikah kita, tapi kamu nggak pernah minta hapus.
“Ci, aku ke kantor dulu,” pamit Arif berhenti di sudut meja makan. Menatap Suci yang tengah santai menonton video resep di salah satu platform media sosial. Beberapa waktu lalu, Deswita sudah pergi bersama Ivan. Tidak ada keributan, tidak ada perdebatan apa pun. Semuanya berlangsung dengan damai, bahkan terlalu tenang untuk seseorang seperti Deswita. Ingin rasanya Arif berpikiran negatif terhadap ibunya, tetapi hal tersebut dengan segera ia urungkan. Siapa tahu saja, Deswita memang benar-benar lelah dan butuh waktu untuk introspeksi diri. “Mas nggak papa?” tanya Suci menatap Arif setelah menghentikan video yang ia tonton. Pria itu sudah berpakaian rapi seperti biasa dan tentu saja terlihat tampan. “Nggak papa. Memangnya kenapa?”“Didiemin sama ibunya.”“Mau gimana lagi.” Arif menghela panjang. “Yang penting, ibu mertuamu itu sudah nggak tinggal di sini lagi.”Suci tertawa kecil. Ternyata, Arif masih bisa bercanda di saat seperti ini. “Nanti aku pindahin lagi barang-barangku ke kama







