تسجيل الدخول“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”
“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”
Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenang. “Kamu punya pacar? Atau sudah ada rencana nikah?”
Arif bertanya karena Suci meminta uang muka seratus juta lebih dulu. Mungkin saja, uang tersebut akan dijadikan tabungan untuk menikah.
Suci menggeleng cepat. “Nggak punya.”
“Terus, uang seratus juta mau kamu pakai buat apa?”
“Ahh …” Suci menghela pelan dan terdiam sesaat. Jemarinya saling bertaut dan terasa dingin. “Buat bayar utang. Saya mau ambil sertifikat rumah yang digadai sama Ibu saya setahun yang lalu sama Tante saya.”
“Satu tahun, seratus juta?”
Suci mengangguk. “Sudah sama bunganya. Makanya mau saya lunasin, biar bulan depan nggak berbunga lagi.”
“Kenapa sampai berutang?”
“Itu Pak …” Suci tersenyum pedih. “Dulu, Bapak saya kelilit pinjol karena main judi.”
“Ke mana Bapakmu sekarang?”
“Di penjara,” jawab Suci dengan suara yang lebih pelan. Kedua tangannya saling menggenggam erat, karena khawatir Arif akan berubah pikiran setelah mendengar sedikit latar belakang keluarganya. Suci tidak bisa berbohong, karena lambat laun, pria itu pasti tahu dengan kondisi keluarganya yang carut marut.
“Karena?”
“Bapak … ikut nadah barang curian.” Suci sampai tidak berani memandang Arif.
“Ibumu kerja?”
“Ibu … nggak tau sekarang ada di mana?” jawab Suci menunduk lesu. “Nggak lama Bapak masuk penjara, Ibu minggat. Sudah sepuluh bulanan nggak ada kabarnya.”
“Saudara?” tanya Arif kembali menginterogasi. “Kakak? Adek?”
“Dua adek cowok,” jawab Suci, “Satu kuliah sambil kerja serabutan. Terus, satu lagi masih SMA.”
Arif menahan napas. Tidak langsung menanggapi karena cukup terkejut setelah mendengar penuturan Suci tentang keluarganya. Ia tidak menyangka, jika latar belakang Suci dan keluarganya cukup rumit.
“Apa Bapak masih mau nerusin kontraknya?” tanya Suci mulai resah. Bayangan uang seratus juta kini terasa mulai menjauh.
Sunyi mendera. Arif tengah menimbang resiko dan konsekuensi yang akan diterimanya dengan kondisi keluarga Suci.
Apakah semua yang akan dilakukannya nanti akan sepadan?
“Saya bisa ngerti kalau … Bapak berubah pikiran,” celetuk Suci akhirnya memecah keheningan.
Arif menggeleng. Separuh hatinya diliputi keraguan, tetapi sisi lainnya ia ingin sekali memberi sebuah “shock terapi” untuk Deswita. Profil Suci dengan kondisi keluarganya saat ini, sepertinya benar-benar sempurna untuk mengejutkan ibunya nanti.
“Durasi kontrak kita satu tahun,” ujar Arif akhirnya mengambil keputusan. “Bisa diperpanjang kalau diperlukan, dengan kesepakatan kedua pihak. Tapi kalau kurang dari setahun, aku tetap bayar kamu selama durasi waktu yang ada di kontrak. Bagaimana?”
“Bapak yakin … tetap mau lanjut?”
Arif mengangguk kecil. “Selama kamu bisa menuruti apa yang aku minta dan melakukan peranmu dengan baik di depan ibuku, itu sudah cukup. Jadi, ayo kita revisi kontraknya dan langsung tanda tangan … pagi ini juga!”
~~~~~~~~~~~~
“Kamu mau jual dirmmp …”
Suci buru-buru membungkam kuat mulut Sahli, memotong ucapan adiknya sebelum sempat terdengar lebih jelas. Dengan terpaksa, Suci menceritakan kesepakatan kontrak pada Sahli agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan. Selain itu, ia juga membutuhkan seseorang untuk membantunya jika ada masalah sewaktu-waktu.
“Diem!” hardik Suci pelan sambil melotot pada Sahli. “Jangan keras-keras, nanti Hadi dengar!”
Saat Sahli mengangguk-angguk, barulah Suci melepas tangannya dan kembali duduk bersila di hadapan pemuda itu. “Dan aku nggak jual diri. Aku cuma pura-pura jadi istri, cuma status dan nggak aneh-aneh.”
Sahli menatapnya tajam, penuh curiga. Ia belum bisa memercayai ucapan kakaknya 100 persen. “Kamu kira aku bego?”
Suci menghela napas panjang. “Aku nggak jual diri,” ulangnya lebih tegas, “di kontraknya jelas, nggak ada yang begitu-begitu. Dia cuma mau ngasih ‘pelajaran’ sama ibunya dan nggak ada niat lain.”
Dahi Sahli mengerut dalam. “Dan kamu mau?”
“Seratus juta, Li!” desis Suci tajam. Bagaimanapun caranya, ia harus meyakinkan Sahli agar sang adik berada di pihaknya. “Kita bisa ambil sertifikat rumah sama Te Nurul, terus minta anaknya pergi dari rumah kita.”
“Ck!” Sahli mulai gamang. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Di satu sisi, Sahli tidak ingin kakaknya terjebak dalam pernikahan kontrak yang terdengar tidak masuk akal. Namun, di sisi lain, ia juga sudah muak tinggal di rumah sendiri tapi seperti menumpang. Ia muak melihat Suci dan adiknya diperlakukan seenaknya oleh tante mereka dan keluarganya.
“Sekarang kita sudah nggak punya pilihan,” ucap Suci menatap adiknya lekat. “Seratus jutanya sudah ada di rekening dan aku sudah tanda tangan kontrak buat satu tahun. Jadi, besok kita bicara sama Te Nurul juga Om Bahlil buat ambil sertifikat rumah. Gimana? Apa kamu ada kuliah atau kerjaan besok pagi?”
“Kita jawab apa kalau Te Nurul nanya seratus juta dapat dari mana?” ujar Sahli memelankan suaranya.
“Duh! Iya lagi.”
Keduanya terdiam. Memikirkan jalan keluar yang sekiranya masuk akal.
“Pinjam sama bosku, potong gaji,” celetuk Suci setelah memikirkan hal tersebut masak-masak, “Terus, mulai minggu depan aku tinggal di rumah bosku itu. Jadi ART. Dah, gitu aja!”
“Om Bahlil gimana, Tan?” tanya Suci sambil berjalan menuju kursi tamu di rumah Ginanjar.Dua hari lalu, Bahlil sudah diperbolehkan pulang ke rumah, jadi, Suci dan Arif menyempatkan diri untuk membesuk di hari libur seperti sekarang. Tentunya tidak bersama Aska, karena bayi yang sedang aktif-aktifnya itu kini berada di tangan oma dan opanya. “Lagi di kamar,” jawab Nurul kemudian menghela berat. “Tidur.”Setelah mendapat musibah, hari-hari Nurul kini hanya disibukkan dengan mengurus Bahlil. Ia tidak bisa meninggalkan sang suami terlalu lama, karena khawatir Bahlil membutuhkan sesuatu. “Untungnya rumah Bapakmu cuma kena teras sama bagian samping,” lanjut Nurul menatap Arif yang berada di depan rumah. Pria itu sedang bicara dengan tukang, juga Sahli yang sudah lebih dulu datang pagi-pagi sekali. “Jadi kami masih bisa tinggal di sini.”Suci tersenyum tipis. Sebenarnya, ia kasihan saat melihat kondisi Nurul dan Bahlil saat ini. Namun, saat mengingat bagaimana perlakuan mereka dulu terhada
“Kapan Mas Arif nyiapin amplop?” tanya Suci setelah berada di pelataran rumah sakit. “Kok, aku nggak liat? Aku juga nggak dikasih tau kalau mau ngasih Te Nurul.”“Waktu kamu mandi.” Arif meringis. “Tadi mau ngasih tau, tapi lupa.”“Ngasih berapa?”“Nggak banyak.”“Nggak banyak itu berapa?” Suci mendesis pelan. Cengkraman tangannya mengerat di lengan Arif karena mulai kesal.“Cuma lima juta,” jawab Arif tersenyum lembut pada Suci yang wajahnya mulai tertekuk. “Udah nggak usah dibahas.”Suci berdecak kecil. “Aku bukannya nggak mau ngasih atau bantu, tapi kalau ingat kelakuan mereka jadi males. Lagian, Te Nurul itu juga uangnya banyak. Kan, dia rentenir.”“Udahlah biarin aja,” ucap Arif kemudian merangkul istrinya dan berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. “Anggap sedekah. Nggak akan ada ruginya.”“Sedekah, sih, sedekah,” gerutu Suci tetap merasa tidak ikhlas. “Tapi kalau ingat gimana mulutnya mereka itu, rasanya, kok, nggak ikhlas.”“Anggap mereka lagi ditegur sama Tuhan,” ujar Arif
“Gimana Bapak hari pertama kerja?” tanya Suci pada Sahli yang ia minta untuk memantau Ginanjar di tempat kerja barunya. Bapak mereka lebih memilih bekerja menjadi staff gudang, daripada harus menjadi tukang bersih-bersih. “Aman aja kayaknya,” jawab Sahli tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. “Udah, nggak usah terlalu mikirin Bapak. Biar aku yang urus. Kamu fokus aja sama adeknya Aska.”“Ya maunya juga gitu, tapi tetap aja kepikiran.”Sahli akhirnya mengalihkan wajah dari layar laptop. Menatap Suci yang berbaring di tempat tidur miliknya. “Sudah kubilang, Bapak biar jadi urusanku,” ujar Sahli kembali beralih pada laptopnya. “Kalau masih macam-macam lagi, langsung aja tinggalin. Nggak usah diurus lagi.”“Hm,” gumam Suci pelan. Meski begitu, masih ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. “Kalau gitu anggaplah masalah Bapak dengan kerjaannya selesai. Tapi, masih ada dua kompor yang pasti ngerecokin Bapak terus.”“Kalau itu, aku angkat tangan,” ucap Sahli menatap serius pa
“Bun, gimana?” tanya Arif mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar. Ia mondar-mandir di depan pintu dengan perasaan yang campur aduk. Antara cemas dan penasaran.Ketika Arif mendengar Suci mengatakan jadwal bulanannya telat, ia langsung pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Ia tidak jadi mengambil Aska, karena ada hal penting yang harus diketahui dan dipastikan lebih dulu.“Sayang.” Arif kembali mengetuk pintu, lalu menempelkan telinganya di sana. Namun, ia belum juga mendengar suara apa pun dari dalam sana. “Bun? Gimana, Bun? Aku penasaran. Kenapa nggak keluar-keluar.”Tepat setelah Arif menyelesaikan kalimatnya, ia mendengar suara handle pintu. Ia refleks mundur satu langkah, Suci muncul dari celah pintu.“Satu atau dua garisnya?” tanya Arif terburu dan deg-degan karena memang tidak berencana memiliki anak lagi. “Positif atau negatif?”Suci menghela napas panjang lebih dulu, lalu menyodorkan tiga buah alat tes kehamilan pada sang suami. Arif menatap ketiga alat tes
“Apa kata Suci?” tanya Nurul langsung pergi menemui Ginanjar begitu tahu pria itu sudah berada di rumah. “Ya, begitu,” jawab Ginanjar lelah. Entah mengapa, Ginanjar merasa tidak lagi memiliki kuasa atas anak-anaknya. Baik Suci maupun Sahli tidak lagi bisa diperintah sama sekali. Situasinya justru terbalik, semua kendali seolah berada di tangan kedua anaknya itu. Sementara Hadi, sudah tidak ada kabarnya sama sekali. Putranya yang satu itu seolah menghindar dan tidak ingin menemuinya sama sekali.“Begitu gimana?” buru Nurul penasaran. Ia sampai duduk bersila di samping Ginanjar, di kursi tamu. “Masih kayak kemaren? Abang masih disuruh kerja?”Ginanajar mengangguk. “Nanti dicariin kerja, jadi aku tunggu kabar aja.”“Abang mau?”“Terus mau gimana?” Ginanjar bertanya balik. Intonasi bicaranya mulai meninggi. “Kalau nggak mau, terus aku makan apa? Memangnya kamu mau ngasih aku makan tiap hari? Mau beliin beras, gula, kopi, bayar air, listrik, sama yang lain-lainnya?”Nurul membuang wajah
“Kalau gitu, kita tunggu sampai besok pagi,” ucap Arif sambil memikirkan beberapa hal setelah mendengar cerita Suci. “Kalau memang Bapak nelpon, berarti ada niat buat berubah. Tapi kalau nggak, ya, sudah. Nggak usah lagi dipikirkan. Yang penting, kita sebagai anak sudah punya niat baik.”“Sahli juga bilang gitu,” balas Suci sudah pasrah dengan semuanya. Jika memang Ginanjar tidak bisa berubah, maka Suci dan kedua adiknya akan benar-benar memutuskan hubungan dengan pria itu. “Kalau memang sampai besok Bapak nggak nelpon juga, kami nggak bakal mau tau semuanya tentang Bapak,” lanjut Suci. “Kita juga sepakat nggak akan ngasih apa-apa sama sekali. Rencana ngasih sembako juga bakal dibatalin. Nggak papa, kan, Mas?”“Nggak papa,” jawab Arif justru cukup senang karena baik Suci maupun Sahli bisa mengambil sikap tegas. “Nggak perlu ngerasa bersalah, karena yang mengambil keputusan adalah Bapak.”“Gosip yang beredar di kampung pasti beda,” keluh Suci mengerucutkan bibirnya. “Te Nurul–”“Ngap
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de







