تسجيل الدخول“Mereka sudah pergi,” ujar Arif. Sejak tadi, ia menatap layar yang menampilkan rekaman CCTV di depan rumahnya. Untuk sementara, kebohongannya tentang kepindahan ke apartemen mungkin bisa membuat Nurul dan Bahlil berhenti mencari keberadaan Suci. Setidaknya, mereka tidak akan datang ke rumah dan mengganggu ketenangan Suci yang baru saja pulang dari rumah sakit.“Tapi, sampai kapan kita harus bohong?” tanya Suci. Ia duduk santai di sofa dan tengah menikmati potongan buah. “Lama-lama mereka pasti curiga karena nggak ada yang mau nerima telpon atau balas chatnya kayak dulu.”“Biarkan.” Arif berbalik, lalu ikut duduk di samping Suci. “Orang seperti mereka itu, bakal minta jantung kalau dikasih hati. Tapi, biar besok aku kirim bingkisan ke rumahnya.”“Buat apa?” tanya Suci tidak mengerti. “Sebagai ucapan terima kasih,” jawab Arif sambil menyomot potongan apel dari piring Suci. “Karena tiap Te Nurul ke rumah sakit, dia selalu bawa masakan yang lumayan enak. Aku nggak mau berutang, jadi, ak
“Welcome home!” seru Sahli, Hadi, dan Masni bersamaan saat menyambut kedatangan Suci yang akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Mereka sudah menyiapkan balon bertuliskan ucapan tersebut di ruang keluarga yang di tempel di salah satu dinding. Begitu Suci dan Arif masuk, Sahli dan Hadi langsung menarik konfeti yang sudah disiapkan hingga serpihan kertas warna-warni berhamburan di udara.Meski begitu, Suci belum diperbolehkan melakukan banyak aktivitas. Dokter juga memintanya lebih banyak beristirahat dan menghindari hal-hal yang bisa memicu kelelahan.Suci yang masih duduk di kursi roda lantas tertawa pelan. “Ngapain coba, pake disambut gini.”“Biar kayak orang kaya,” celetuk Sahli. Suci langsung terkekeh. “Emang orang kaya kalau pulang dari rumah sakit disambut begini?”“Di tivi-tivi gitu,” jawab Sahli lagi.“Nggak papa, Mbak,” timpal Masni ikut bahagia karena kedatangan Suci kembali ke rumah. “Sekali-sekali. Biar saya juga ngerasain kayak orang kaya.”Tawa di ruang keluarga
“Jadi, Ayah balik ke rumah lagi,” ujar Arif menyimpulkan setelah mendengar cerita ayahnya. Ivan mengangguk. Ia tidak punya pilihan selain kembali ke rumah. Andai sesuatu terjadi pada Deswita karena kepergiannya, makan hal itu akan menjadi penyesalan seumur hidup. Hal yang tidak akan bisa ia maafkan hingga kapan pun. “Mau bagaimana lagi,” ujar Ivan menatap kopinya yang sudah tersisa setengah gelas. “Dan kamu, kapan mau jenguk Bunda?”Arif mengendik singkat. “Aku nggak akan nginjakkan kaki ke rumah, sebelum Bunda nerima Suci. Paling nggak, kalau memang masih nggak mau nerima kehadiran istri dan calon anakku, cukup diam dan jangan ganggu mereka.”“Kasih Bundamu waktu.” Sejak tadi, Ivan terus menggunakan kata “Bundamu” saat bicara dengan Arif agar putranya itu tidak semakin menjauh dari ibunya sendiri. “Mungkin sekarang Bundamu belum bisa menerima semuanya, tapi bukan berarti selamanya akan seperti itu.”“Waktu dan kesempatan itu selalu ada,” balas Arif melihat jam tangannya sekilas. “T
“Titip Suci, Bu,” ujar Arif sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. “Jangan telat makan. Vitaminnya juga jangan lupa diminum. Buah juga. Pokoknya, sedikit-sedikit makan. Perutnya jangan sampe kosong.”“Beres, Mas,” jawab Masni sambil mengupas apel di sofa. “Oia, Mas Arif jadi nyari orang buat jaga rumah?”“Jadi,” ujar Arif dengan anggukan. “Bu Mas ada kenalan yang bisa dipercaya?”“Kalau suami saya boleh, Mas?” tanya Masni agak sungkan. “Soalnya belum dapat panggilan kerja di mana-mana. Sementara ini masih ngojol.”Arif berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Besok pagi suruh ke sini. Kita ngobrol dulu.”Masni mengangguk pelan. “Baik, Mas. Makasih.”“Sama-sama,” balas Arif kemudian menghampiri Suci. “Pergi dulu. Nurut apa kata Dokter biar cepat pulang.”“Dari kemaren-kemaren juga sudah nurut,” ujar Suci sambil mengerucutkan bibir. Ia meraih tangan kanan Arif yang baru terangkat lalu menciumnya. “Hati-hati di jalan. Sukses buat sidangnya.”Arif tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia mend
Pagi itu, rumah terasa berbeda.Deswita duduk sendirian di meja makan. Di hadapannya, sarapan yang disiapkan oleh asisten rumah tangga sama sekali tidak tersentuh. Sejak bangun tidur, pikirannya terus tertuju pada satu orang, yakni Ivan.Tidak ada pesan.Tidak ada telepon.Suaminya sama sekali tidak menghubunginya sejak pergi dari rumah. Bahkan, untuk sekadar berbasa-basi atau menanyakan kabarnya pun tidak.Deswita menatap kursi kosong di sebelahnya. Biasanya, Ivan akan duduk di sana sambil menikmati sarapan. Mereka juga selalu berbicara tentang rencana hari itu sebelum menjalani kesibukan masing-masing.Namun, kini kursi itu kosong.Tidak ada suara Ivan yang menyapanya. Tidak ada percakapan ringan yang biasanya mengisi pagi mereka. Bahkan rumah yang luas itu terasa terlalu hening ketika hanya dirinya yang berada di dalamnya.Deswita menghela napas berat. Ia beranjak dari meja makan, tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. Ada sesuatu yang hilang dari rumah itu, hingga membuat perasa
“Masa’ dia bawa uang di dompet sampe sejuta lebih,” ujar Nurul masih dalam keadaan heboh saat membicarakan perihal Arif pada suaminya. “Waktu dia ngeluarin semua uang yang seratus ribuan, yang lima puluhan masih ada tuh, nyisa di dalamnya.”“Itu baru di dompet,” sahut Irul yang juga ikut mendengarkan. “Belum yang di rekening.”“Sama emas!” timpal Nurul setuju dengan ucapan putranya. “Nggak mungkin orang kayak Arif nggak punya simpanan yang begitu-gitu.”“Pastinya!” ujar Bahlil menambahkan. “Tapi itu tadi, ternyata pernikahan Suci sama Arif itu nggak disetujui sama mertuanya.”“Nah! Iya itu!” seru Nurul menjentikkan jari lalu menunjuk Bahlil yang duduk di sampingnya. Mereka bertiga tengah menikmati makan malam di meja bundar sembari membicarakan Suci tanpa henti. Sejak tadi, topik pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari pernikahan Suci dan Arif, terutama setelah mengetahui bahwa keluarga Arif ternyata tidak sepenuhnya menerima Suci.“Tapi, Arif itu kelihatannya sudah cinta mati ke Suc
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan
“Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp







