LOGIN"Mulai!" teriak sutradara memberikan aba-aba mutlak dari balik monitor, sementara lensa kamera bergeser mendekat, menangkap setiap detail keringat dingin di pelipis Citra. Mau tak mau, Citra harus tunduk di bawah kendali sutradara dan cengkeraman tak kasat mata dari sang penguasa sindikat. Harga dirinya telah terkoyak habis, menyisakan keputusasaan yang teramat pekat di dalam dadanya. Dengan tangan yang bergetar hebat hingga nyaris tak mampu mengendalikan jemarinya sendiri, Citra perlahan menarik kain tipis *lingerie* hitam yang membalut tubuhnya—menggesernya ke atas hingga menyingkap pahanya yang mulus. Ia memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit sebelum melafalkan dialog yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya. "Kemarilah, Tuan... mari saya puaskan Anda," ucap Citra dengan suara bergetar parau, menatap nanar ke arah Xavier. "Asal... asal saya bisa membawa uang dalam koper ini untuk menyelamatkan anak saya." Xavier menikmati setiap detik pemandangan di hadapannya.
Citra bangkit dengan tertatih. Wajahnya sembab, pucat, dan kusut berantakan. Ini sama sekali bukan ekspresi yang dibuat-buat demi tuntutan naskah; ini adalah retakan jiwa yang sesungguhnya dari seorang ibu yang terperangkap di dalam mimpi buruk. Matanya menyiratkan kepedihan yang teramat dalam, menatap kosong ke lantai studio yang dingin.Sutradara tidak menyia-nyiakan momen langka dan berharga tersebut. Melihat emosi mentah yang begitu nyata terpancar dari wajah Citra, ia segera memberikan instruksi tegas kepada juru kamera."Kamera tetap rolling! Jangan di-cut! Tangkap setiap detik ekspresi itu!" teriak sutradara dengan suara menggelegar di dalam studio.Mendengar aba-aba tersebut, aktor pria yang memerankan sang suami langsung kembali masuk ke dalam karakternya. Dengan gestur yang beringas, ia mencengkeram lengan atas Citra dengan kasar, menarik tubuh wanita yang lemas itu hingga kembali berdiri.Tanpa memberi kesempatan bagi Citra untuk menarik napas, tangan besar sang aktor merab
Sutradara mengangkat tangannya kembali, memberikan aba-aba tegang kepada seluruh kru. "Kamera satu dan dua, siap... action!"Aktor pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang rasa gentarnya demi mengikuti instruksi mutlak dari sang pemilik gedung. Dengan ekspresi beringas yang dipaksakan, ia kembali melangkah mendekati Citra. Sebelum wanita itu sempat menghindar, tangan besar sang aktor melayang lebih cepat dan jauh lebih keras dari sebelumnya.*Plak!*Hantaman pukulan kedua itu telak mengenai sisi wajah Citra. Kali ini kekuatannya jauh melampaui batas wajar sebuah adegan sandiwara. Rasa sakit yang teramat sangat meledak di kepalanya, membuat telinganya berdenging hebat dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Citra kembali terjatuh ke lantai panggung yang keras, mengecap rasa amis darah segar yang kini mengalir semakin deras dari sudut bibirnya yang robek.Di balik monitor pengawas, Xavier menyandarkan punggungnya dengan santai. Senyuman tipis dan dingin terukir jelas di wajahn
Tiba-tiba, pintu samping ruangan terbuka. Dua orang perempuan berpenampilan menarik dengan gaun malam yang pas badan melangkah masuk, mendorong sebuah gantungan baju beroda yang dipenuhi oleh berbagai pilihan pakaian minim dan tembus pandang.Citra menoleh dengan cepat ke arah mereka. Napasnya tertahan. "Apa ini?" tanyanya, suaranya mengeras karena tidak percaya.Salah satu wanita berambut panjang itu tersenyum tipis, merapikan gantungan baju di depannya. "Ini adalah beberapa pakaian yang akan Anda pakai nanti selama *shooting*, Bu Citra."Citra memandangi koleksi pakaian yang tergantung itu dengan mata membelalak. Bahan satin tipis, renda hitam yang provokatif, hingga potongan gaun yang teramat terbuka. "Apa? Kau tidak salah membawa baju-baju itu kan?" Citra menoleh tajam ke arah Xavier, napasnya mulai memburu. "Aku penulis naskah! Aku bukan model pakaian dalam!"Xavier, yang sejak tadi berdiri melipat tangan di dada, menyunggingkan senyuman tipis yang dingin. "Tentu saja tidak, *Sig
Suasana di depan ruang ICU terasa begitu mencekam. Waktu seolah berhenti berputar. Setelah perjuangan panjang tim medis di dalam, pintu ruangan akhirnya terbuka dan dokter spesialis penanggung jawab Nayla melangkah keluar dengan wajah kuyu dan penuh peluh. "Bu Citra..." suara dokter paruh baya itu terdengar berat. "Kondisi Nayla kritis. Racun dari sel kanker dan kegagalan fungsi organ tubuhnya menuntut tindakan operasi darurat malam ini juga. Kita butuh obat pengencer darah khusus dan prosedur medis lanjutan yang biayanya harus segera dilunasi pihak keluarga malam ini, atau kita akan kehilangan dia." Dunia Citra seakan runtuh seketika. Lututnya yang lemas membuatnya jatuh terduduk di kursi tunggu rumah sakit. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa menyakitkan. *Malam ini. Saat itu juga.* Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, Citra teringat pada laptop yang ia bawa dari rumah kontrakan. Benda ti
Citra melamun saat berada di depan ruang perawatan putrinya. Dia menatap Nayla yang berbaring dengan wajah pucat tak berdaya. Air matanya menetes. Membayangkan betapa sakit penderitaan yang dialami oleh anak kecil seusia 5 tahun. Dia yang seharusnya lincah dan aktif akan masuk ke taman sekolah kanak-kanak namun justru takdir berkata lain.Citra menghapus jejak air matanya yang terus mengalir. Berusaha menenangkan jiwanya lalu duduk di tepi ranjang Nayla."Sayang... maafkan mama. Mama belum bisa menjadi ibu yang terbaik buat kamu."Citra mengelus lembut puncak kepala Nayla. Dadanya begitu sesak saat mengingat perlakuan suaminya sendiri yang seakan tak peduli pada nasib anaknya. Citra juga kembali teringat pada kontrak terlarang yang sudah ia tanda-tangani.Ia mengusap pelan air matanya lalu bangkit keluar ruangan itu. Citra pulang untuk mengambil laptopnya di rumah. secepatnya ia harus membuat naskah yang di inginkan Bastian.Di rumah, Citra kembali bertemu dengan suaminya yang tengah







