Share

cemas

Penulis: Arish-girl
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 15:17:03

Citra melamun saat berada di depan ruang perawatan putrinya. Dia menatap Nayla yang berbaring dengan wajah pucat tak berdaya. Air matanya menetes. Membayangkan betapa sakit penderitaan yang dialami oleh anak kecil seusia 5 tahun. Dia yang seharusnya lincah dan aktif akan masuk ke taman sekolah kanak-kanak namun justru takdir berkata lain.

Citra menghapus jejak air matanya yang terus mengalir. Berusaha menenangkan jiwanya lalu duduk di tepi ranjang Nayla.

"Sayang... maafkan mama. Mama belum bisa menjadi ibu yang terbaik buat kamu."

Citra mengelus lembut puncak kepala Nayla. Dadanya begitu sesak saat mengingat perlakuan suaminya sendiri yang seakan tak peduli pada nasib anaknya. Citra juga kembali teringat pada kontrak terlarang yang sudah ia tanda-tangani.

Ia mengusap pelan air matanya lalu bangkit keluar ruangan itu. Citra pulang untuk mengambil laptopnya di rumah. secepatnya ia harus membuat naskah yang di inginkan Bastian.

Di rumah, Citra kembali bertemu dengan suaminya yang tengah duduk di ruang tamu.

"Ngapain kamu bawa-bawa laptop?" tanya Bagas ketus, berdiri di ambang pintu dengan sebelah alis terangkat. Tidak ada sisa-sisa kepedulian di mata pria itu, yang ada hanya tatapan sinis.

Citra menghentikan langkahnya, menatap suaminya dengan sorot mata yang terasa begitu dingin. "Bukan urusanmu."

Bagas mendengus, melangkah mendekat dengan bau alkohol yang menguar tipis. "Bukan urusanku? Kau lupa aku suamimu? Mau sok sibuk apa lagi kamu dengan laptop usang itu? Mau nulis cerita romansa yang uangnya nggak seberapa sementara cicilan rumah dan biaya hidup numpuk? Urus sana anakmu yang sakit itu, jangan bikin pusing!"

Mendengar nama Nayla disebut dengan nada seenteng itu, dada Citra terasa seperti dihantam palu berat. Namun, ia tidak lagi memiliki tenaga untuk berteriak atau berdebat.

Citra menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa gentar. "Biaya rumah sakit Nayla sudah beres."

Bagas yang tadinya hendak berbalik langsung menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut tajam. "Hah? Beres dari mana maksudmu? Jangan ngigo kamu! Uang dari mana setengah miliar semalam?"

Citra tidak menjawab. Ia hanya melirik suaminya dengan senyuman tipis penuh ironi, lalu berjalan melewati Bagas dan mengunci pintu kamar tidurnya rapat-rapat.

Di dalam kamar yang temaram, Citra membuka laptopnya. Jemarinya yang dingin mulai menari di atas papan ketik, menuangkan kepedihan hidupnya ke dalam lembar dokumen digital.

*Ia menyadari bahwa pernikahan bukanlah tempat berlindung, melainkan kuburan bagi mimpi-mimpinya. Ketika seorang suami memilih menutup mata atas penderitaan darah dagingnya sendiri, saat itulah seorang ibu dipaksa berjalan ke dalam gua singa, menukar harga diri demi detik-detik waktu yang bisa dibeli dengan uang haram...*

Citra mengeklik tombol simpan. Di luar jendela rumah kontrakannya, ia menatap ke kejauhan. Membayangkan nasib Nayla di rumah sakit tanpa ada yang menemani.

Merasa tak tenang di kamar itu, Citra memutuskan membawa laptopnya dan akan pergi kembali ke rumah sakit. Namun saat melangkah ke lorong depan pintu, ia berpapasan dengan Bagas yang baru saja hendak masuk ke dalam rumah kontrakan mereka yang sempit.

"Mau kemana lagi?" tanyanya dengan acuh tak acuh.

"Mau ke rumah sakit, nemenin Nayla," jawab Citra tak kalah dingin. "Nayla sendirian di rumah sakit. Kasihan tidak ada yang menemani."

"Hmmm... Masih kamu nungguin anak itu? Sudahlah, Citra... buat apa sih? Kalau soal anak, jika Nayla memang tidak bisa dipertahankan, kita bisa membuat anak lagi. Kita masih muda, kan?"

*Plak.*

Sebuah tamparan keras dilayangkan Citra tepat ke wajah suaminya.

"Aku akan berjuang untuk kesembuhan Nayla. Mungkin bagimu nyawa Nayla nggak ada artinya, tapi bagiku dia segalanya!" amarah Citra akhirnya meledak, suaranya bergetar hebat menahan luka dan kebencian yang sudah memuncak.

Bagas tertegun di tempatnya, sebelah tangannya perlahan memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan tersebut. Matanya melebar, menatap Citra dengan kilatan amarah yang mulai tersulut. Selama ini, istrinya adalah wanita penurut yang tidak pernah berani meninggikan suara, apalagi melayangkan tangan di dalam rumah kontrakan petakan mereka yang berdinding tipis.

"Beraninya kamu..." desis Bagas penuh murka, tangannya terangkat hendak membalas.

Namun Citra sama sekali tidak gentar. Ia menatap tajam mata suaminya tanpa sedikit pun rasa takut, menghimpun sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki.

"Sentuh aku lagi, dan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat aku dan Nayla di rumah ini lagi," ancam Citra dengan suara rendah namun dingin, membuat tangan Bagas yang melayang di udara seketika membeku.

Tanpa membuang waktu lagi, Citra menerobos melewati sisi suaminya, melangkah keluar dari pintu kontrakan yang reyot itu menuju jalan raya untuk mencari taksi.

Taksi yang ditumpungi Citra berhenti dengan rem mendadak di pelataran rumah sakit. Tanpa memedulikan kembalian uang dari sang sopir, Citra meloncat keluar dan berlari kencang menembus pintu lobi. Kakinya terus membimbingnya menaiki tangga darurat karena ia tak sabar menunggu lift yang terasa lambat, menerobos lorong rumah sakit dengan napas memburu dan dada yang bergemuruh hebat.

Namun, setibanya ia di depan ruang perawatan VIP putrinya, pemandangan yang menyambutnya membuat darah Citra mendadak membeku.

Pintu kamar terbuka lebar. Lampu darurat di dalam ruangan menyala terang benderang. Tiga orang dokter spesialis dan empat perawat berlari sibuk keluar-masuk, wajah mereka tegang di balik masker putih. Suara alarm melengking dari monitor detak jantung memecah kesunyian malam—sebuah bunyi *beep* panjang yang konstan dan mengerikan, menandakan garis lurus tanpa denyut.

"Nayla!" teriak Citra histeris.

Ia menerobos masuk seperti orang kehilangan akal, nyaris menabrak troli obat yang didorong seorang perawat. Di atas ranjang putih itu, tubuh kecil Nayla mengejang hebat sebelum akhirnya terkulai lemah. Bibir mungilnya membiru, dan monitor menunjukkan penurunan drastis pada fungsi pernapasannya.

"Dok! Ada apa dengan anak saya?! Nayla!" Citra mencengkeram lengan jas putih salah satu dokter yang berusaha memasang alat kejut jantung defibrillator. Air matanya tumpah seketika, membasahi pipinya yang pucat. Tangisnya pecah menjadi jeritan putus asa yang merobek hati siapa pun yang mendengarnya.

"Ibu harap tenang di luar, biarkan kami bekerja!" sergah perawat wanita dengan nada panik namun tegas, mencoba mendorong Citra mundur.

"Nggak! Ini anak saya! Nayla, bangun, sayang... Mama di sini!" Citra berontak, menolak untuk disingkirkan. Kakinya lemas hingga ia terduduk di lantai dingin rumah sakit, menatap kosong pada tubuh putrinya yang dikelilingi tangan-tangan medis yang berusaha menyelamatkan nyawa kecil itu, sementara dunia di sekelilingnya runtuh seketika dalam gelap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Adegan di hentikan

    "Mulai!" teriak sutradara memberikan aba-aba mutlak dari balik monitor, sementara lensa kamera bergeser mendekat, menangkap setiap detail keringat dingin di pelipis Citra. Mau tak mau, Citra harus tunduk di bawah kendali sutradara dan cengkeraman tak kasat mata dari sang penguasa sindikat. Harga dirinya telah terkoyak habis, menyisakan keputusasaan yang teramat pekat di dalam dadanya. Dengan tangan yang bergetar hebat hingga nyaris tak mampu mengendalikan jemarinya sendiri, Citra perlahan menarik kain tipis *lingerie* hitam yang membalut tubuhnya—menggesernya ke atas hingga menyingkap pahanya yang mulus. Ia memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit sebelum melafalkan dialog yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya. "Kemarilah, Tuan... mari saya puaskan Anda," ucap Citra dengan suara bergetar parau, menatap nanar ke arah Xavier. "Asal... asal saya bisa membawa uang dalam koper ini untuk menyelamatkan anak saya." Xavier menikmati setiap detik pemandangan di hadapannya.

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Kenapa dia?

    Citra bangkit dengan tertatih. Wajahnya sembab, pucat, dan kusut berantakan. Ini sama sekali bukan ekspresi yang dibuat-buat demi tuntutan naskah; ini adalah retakan jiwa yang sesungguhnya dari seorang ibu yang terperangkap di dalam mimpi buruk. Matanya menyiratkan kepedihan yang teramat dalam, menatap kosong ke lantai studio yang dingin.Sutradara tidak menyia-nyiakan momen langka dan berharga tersebut. Melihat emosi mentah yang begitu nyata terpancar dari wajah Citra, ia segera memberikan instruksi tegas kepada juru kamera."Kamera tetap rolling! Jangan di-cut! Tangkap setiap detik ekspresi itu!" teriak sutradara dengan suara menggelegar di dalam studio.Mendengar aba-aba tersebut, aktor pria yang memerankan sang suami langsung kembali masuk ke dalam karakternya. Dengan gestur yang beringas, ia mencengkeram lengan atas Citra dengan kasar, menarik tubuh wanita yang lemas itu hingga kembali berdiri.Tanpa memberi kesempatan bagi Citra untuk menarik napas, tangan besar sang aktor merab

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Sakit dalam adegan

    Sutradara mengangkat tangannya kembali, memberikan aba-aba tegang kepada seluruh kru. "Kamera satu dan dua, siap... action!"Aktor pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang rasa gentarnya demi mengikuti instruksi mutlak dari sang pemilik gedung. Dengan ekspresi beringas yang dipaksakan, ia kembali melangkah mendekati Citra. Sebelum wanita itu sempat menghindar, tangan besar sang aktor melayang lebih cepat dan jauh lebih keras dari sebelumnya.*Plak!*Hantaman pukulan kedua itu telak mengenai sisi wajah Citra. Kali ini kekuatannya jauh melampaui batas wajar sebuah adegan sandiwara. Rasa sakit yang teramat sangat meledak di kepalanya, membuat telinganya berdenging hebat dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Citra kembali terjatuh ke lantai panggung yang keras, mengecap rasa amis darah segar yang kini mengalir semakin deras dari sudut bibirnya yang robek.Di balik monitor pengawas, Xavier menyandarkan punggungnya dengan santai. Senyuman tipis dan dingin terukir jelas di wajahn

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Adegan Kekerasan

    Tiba-tiba, pintu samping ruangan terbuka. Dua orang perempuan berpenampilan menarik dengan gaun malam yang pas badan melangkah masuk, mendorong sebuah gantungan baju beroda yang dipenuhi oleh berbagai pilihan pakaian minim dan tembus pandang.Citra menoleh dengan cepat ke arah mereka. Napasnya tertahan. "Apa ini?" tanyanya, suaranya mengeras karena tidak percaya.Salah satu wanita berambut panjang itu tersenyum tipis, merapikan gantungan baju di depannya. "Ini adalah beberapa pakaian yang akan Anda pakai nanti selama *shooting*, Bu Citra."Citra memandangi koleksi pakaian yang tergantung itu dengan mata membelalak. Bahan satin tipis, renda hitam yang provokatif, hingga potongan gaun yang teramat terbuka. "Apa? Kau tidak salah membawa baju-baju itu kan?" Citra menoleh tajam ke arah Xavier, napasnya mulai memburu. "Aku penulis naskah! Aku bukan model pakaian dalam!"Xavier, yang sejak tadi berdiri melipat tangan di dada, menyunggingkan senyuman tipis yang dingin. "Tentu saja tidak, *Sig

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Penyerahan Naskah

    Suasana di depan ruang ICU terasa begitu mencekam. Waktu seolah berhenti berputar. Setelah perjuangan panjang tim medis di dalam, pintu ruangan akhirnya terbuka dan dokter spesialis penanggung jawab Nayla melangkah keluar dengan wajah kuyu dan penuh peluh. "Bu Citra..." suara dokter paruh baya itu terdengar berat. "Kondisi Nayla kritis. Racun dari sel kanker dan kegagalan fungsi organ tubuhnya menuntut tindakan operasi darurat malam ini juga. Kita butuh obat pengencer darah khusus dan prosedur medis lanjutan yang biayanya harus segera dilunasi pihak keluarga malam ini, atau kita akan kehilangan dia." Dunia Citra seakan runtuh seketika. Lututnya yang lemas membuatnya jatuh terduduk di kursi tunggu rumah sakit. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa menyakitkan. *Malam ini. Saat itu juga.* Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, Citra teringat pada laptop yang ia bawa dari rumah kontrakan. Benda ti

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    cemas

    Citra melamun saat berada di depan ruang perawatan putrinya. Dia menatap Nayla yang berbaring dengan wajah pucat tak berdaya. Air matanya menetes. Membayangkan betapa sakit penderitaan yang dialami oleh anak kecil seusia 5 tahun. Dia yang seharusnya lincah dan aktif akan masuk ke taman sekolah kanak-kanak namun justru takdir berkata lain.Citra menghapus jejak air matanya yang terus mengalir. Berusaha menenangkan jiwanya lalu duduk di tepi ranjang Nayla."Sayang... maafkan mama. Mama belum bisa menjadi ibu yang terbaik buat kamu."Citra mengelus lembut puncak kepala Nayla. Dadanya begitu sesak saat mengingat perlakuan suaminya sendiri yang seakan tak peduli pada nasib anaknya. Citra juga kembali teringat pada kontrak terlarang yang sudah ia tanda-tangani.Ia mengusap pelan air matanya lalu bangkit keluar ruangan itu. Citra pulang untuk mengambil laptopnya di rumah. secepatnya ia harus membuat naskah yang di inginkan Bastian.Di rumah, Citra kembali bertemu dengan suaminya yang tengah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status