Share

Pertarungan

Author: Izah04
last update Last Updated: 2025-11-25 21:40:49

Delapan perampok itu langsung menyerang ke arah Ragma dengan sangat beringas. Dua rampok dari sisi kanan melesatkan tendangan beruntun, akan tetapi ditangkis dengan kedua tangannya.

Bugh!!

Bugh!!...

Pemuda itu melakukan serangan balasan, menghentakkan kaki ke tanah, lalu menendang tepat di rahang mereka berdua, hingga mundur beberpa langkah kebelakang.

"Arrgh... "

Bugh!

Bugh!

Wusshhh...

Di sisi lain, dua perampok lainnya menyerang menggunakan senjata tajam. Mereka melesatkan hendak menusuk tepat ke dada Ragma, akan tetapi pemuda itu menghindar dengan sangat gesit.

Ia mundur ke kiri dan ke kanan, menghindari setiap serangan yang memburu dirinya. Ragma mengepal kedua tangannya, lalu melesatkan pukulan beruntun, menahan salah satu tangan perampok, memelintirnya, dan mengambil senjatanya. Ia lalu menyerang balik ke arah mereka semua.

Trang!!

Wussh....

Trang... Tang!!

Senjata-senjata itu saling beradu, terdengar suara dua logam tajam yang begitu nyaring. Di belakang, Larasati yang melihat pertarungan itu, benar-benar gemetar ketakutan.

Ia menelan salivanya dan bersembunyi di balik pohon. Matanya melotot memperhatikan bagaimana Ragma melawan delapan orang tersebut dengan lincah dan gesit, meski sedikit kewalahan karena para perampok itu pun tidak kalah tangguh kemampuannya.

"Bunuh, Dia!!" Teriak ketua perampok, penuh amarah..

Wush..

Trang!!

Bugh!!..

Mereka kembali menyerang bersama, Ragma melesatkan senjata itu, menebas tepat mengenai di dada dan punggung dua diantara rampok, itu.

Teriakan kesakitan terdengar, menggema dihutan itu.

Di sisi lain, Utomo berlari keluar dari hutan. Ia langsung menuju desa. Suasana desa yang baru saja selesai waktu Maghrib itu benar-benar sepi dan hening.

Pintu-pintu rumah warga masih tertutup dengan rapat sekali. Bisa jadi para warga sekitar masih berada di masjid. Utomo terus berlari menuju rumah kepala desa, yang tidak lain adalah ayah dari Larasati.

“Loh, Pak Utomo! Kenapa kok lari-lari seperti dikejar setan saja, hehehe,” ujar salah satu pemuda yang baru saja pulang dari masjid, bersama teman-temannya.

“Mau ke rumah Pak Kades! Larasati ada di hutan, dikejar perampok! Tapi lagi dijaga sama Ragma! Ayo cepat kita ke rumah Pak Kades!” teriak Utomo setengah berlari.

“Astagfirullah, apa?!” pemuda itu terkejut. Para pemuda lain yang mendengar seketika ikut panik. Sebagian langsung menuju hutan, sedangkan beberapa lainnya mengikuti Utomo ke rumah kepala desa.

Saat dijalan, mereka juga bertemu dengan para orang-orang yang sebaya utomo, merasa heran.

"Loh, ada apa ini?!" tanya salah satu pria paruh baya.

"Laras, Paklek. Dikejar rampok.. Ada dihutan, ini mau kerumah pak Kades" sahut satu pemuda sambil terus mengejar Utomo.

"Apa?!.. Ayo kita ikut, juga.. "

Para warga yang sekitar 40 dan 50 tahun itu, langsung mengejar mereka semua, dengan sangat cepat.

Setibanya di sana, Utomo langsung berlari menuju rumah itu.

Tok tok tok!

“Assalamualaikum, Pak Kades! Assalamualaikum!” teriak Utomo terburu-buru sambil mengetuk pintu itu.

Para warga yang mengejarnya pun ikut mendekati.

“Assalamualaikum, Pak Kades! Buka pintunya! Assalamualaikum!” teriak para warga.

Utomo tersenyum canggung, meski wajahnya penuh kecemasan memikirkan Larasati di hutan.

“Iya, waalaikumsalam,” jawab suara seseorang dari dalam.

Ceklek!!

Tidak lama, pintu itu terbuka. Ternyata itu adalah Pak Kades dan juga istrinya. Mereka cukup terkejut melihat para warga yang sudah berkumpul di depan rumah.

“Astaghfirullahaladzim! Ada apa, toh, ini? Maghrib-maghrib datang-datang kayak mau demo saja. Baru juga selesai shalat Maghrib,” kata Pak Kades sambil sedikit keluar memperhatikan warganya dengan tatapan heran.

“Ayo, Pak Kades! Kita ke hutan! Larasati dikejar rampok! Lagi sama Ragma, sedang menghadapi para rampoknya, lumayan banyak!” kata Utomo melaporkan cepat.

“Astaghfirullah... Gusti! Anakku!” teriak Pak Kades ketakutan. “Ayo, ayo, ayo! Zaki! Ayo ke hutan, itu adikmu dikejar rampok!”

"Ya Allah, putriku... " seru istri Pak Kades, ketakutan.

Istrinya seketika mundur panik. Zaki yang baru keluar langsung menangkap ibunya.

“Ada apa, toh?” tanya Zaki bingung.

Namun Pak Kades, Utomo, dan para warga sudah berlari meninggalkan rumah.

“Adikmu, katanya, dikejar rampok! Saat ini Ragma sedang nolongin dia! Zaki, ayo cepat kita ke hutan!” ujar sang ibu yang langsung berlari ke depan.

“ Astagfirullah, Laras.. Iya, Bu, ayo!” jawab Zaki.

Ia tidak tahu harus berkata apa. Pemuda itu langsung menggenggam tangan ibunya dan ikut berlari mengejar rombongan dengan sangat terburu-buru. Bahkan Zaki sampai lupa memakai alas kaki.

"Zaki.. Ibu lelah."

Sang ibu yang sudah kelelahan membuat Zaki kebingungan. Ia lalu melihat salah satu gadis yang lewat di sekitar tempat itu.

“Maya!” panggil Zaki, lalu menoleh ke ibunya kembali. “Ibu, di sini saja kalau kelelahan. Aku minta tolong sama Maya buat jagain Ibu, ya?” ujarnya

“Ibu mau lihat adikmu, Zaki! Masa Ibu nggak lihat? Ibu khawatir!” ujar wanita itu panik.

“Udah, Larasati nggak apa-apa! Itu warga desa juga ke sana sama Bapak. Bentar ya, Bu.” Zaki kembali melihat ke arah Maya. “Maya! Sini dulu! Ya ampun, dipanggil kok nggak datang-datang!” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Maya mengangguk, lalu datang menghampiri pemuda itu.

“Ada apa, Kang Zaki? Kok manggil kayak gitu? Loh, Ibu kenapa?” tanya Maya kaget melihat wanita paruh baya itu.

“Larasati dikejar rampok kehutan. Aku mau ke sana dulu. Udah ada Bapak sama warga. Kamu tolong jagain Ibu, ya. Kalau perlu, antar pulang aja, Ibuku kecapekan. Takutnya malah pingsan. Aku minta tolong, ya, Maya.” Zaki kemudian menatap ibunya lagi. “Bu, aku pergi dulu. Sama Maya aja dulu, ya,” ujarnya terburu-buru, lalu langsung berlari ke arah hutan.

"Zaki... " Panggil wanita itu,

"Ayo, bude.. Kita kerumah saja, nanti kita kesana.. " Ajak Maya.

"Gak mau, ayo.. Kita kehutan, aku mau lihat anakku, Larasati.. "

Maya kebingungan, namun tidak ada pilihan, Ia akhirnya membantu wanita itu, dan menemani menuju hutan, mereka berlari cepat dan terburu-buru.

Sementara itu, di hutan, Ragma masih bertarung dengan delapan orang perampok itu,meski tiga di antara sudah terluka masih menyerang pemuda itu.

Larasati terduduk lemas di tanah sambil memeluk batang pohon. Ia benar-benar semakin ketakutan karena belum ada tanda-tanda Ragma akan memenangkan pertarungan untuk menyelamatkannya.

Wush...

Trang!!

Bugh!!

Crashh...

Tiga orang di antara para rampok itu mengacungkan celurit. Satu di antaranya menendang kepala Ragma, sementara dua orang lainnya langsung menebas tepat di dada dan perutnya.

"Arrgh... " erang Ragma.

“Aaaa...Kang Ragma!” teriak Larasati ketakutan saat darah mengucur deras di tubuh Ragma.

Wush!!

Crassh..

Bugh!!

Bugh!!

Jleb!!

Saat Ragma mundur beberapa langkah, ia merasakan sakit luar biasa ketika dada dan perutnya terkoyak. Dua dari rampok lainnya pun mengacungkan golok dan mengayunkannya cepat, menebas ke punggung, dan menusuk tepat di dada Ragmaa. Namun, Ragma masih berusaha menghindar.

Bugh!!

Crassh..

Tiga perampok lain kembali menyerang brutal, menebas dada, kaki, dan punggung Ragma. Bahkan, satu di antaranya menusukkan senjata tepat di dada hingga berulan kali, mereka mengeroyok tidak memberi celah, Ragma untuk membalas.

Brugh...

"Kang Ragmaa...." teriak Larasati, menangis histeri.

Pemuda itu akhirnya terjatuh di tanah, bersimbah darah dengan tubuh penuh tebasan senjata tajam.

Di saat yang bersamaan, Utomo dan para warga pun sampai di hutan itu.

"Ragma...."

"Astaghfirulah, Ragma.."

Para warga melihat bagaimana Ragma, tergeletak di tanah, penuh luka dan bersimbah darah.

“Ragmaaa!” teriak Zaki begitu syok melihat kondisi Ragma. Hendak langsung mendekati tubuh pemuda itu, namun sesuatu yang aneh terjadi.

Wussss....

Wosssssh....

Sssssh...

"Hah.... "

Tiba-tiba saja, angin mulai berhembus sangat kencang. Utomo berdiri dengan tenang di dekat Pak Kades, sedang para warga dan Pak Kades memandang tubuh Ragma dengan penuh kesedihan.

“Hahaha! Matilah kau!” teriak dua perampok yang merasa puas melihat kondisi Ragma yang tampak sudah tidak bernyawa.

Woshhhh...

Brak....

Angin semakin kencang berhembus di antara mereka, bahkan dahan dan ranting pohon tiba-tiba saja patah, dihantam angin hingga berjatuhan, Para warga yang mulai ketakutan, sambil menutup mata, saat angin yang berhembus itu, membawa debu yang yang tebal.

Utomo menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Guratan kekhawatiran tampak jelas di wajahnya.

“Kenapa harus secepat ini…” gumam Utomo, mengepalkan kedua tangannya.

Gruuduk...

Blarrr...

Tarr!!!

Tidak lama kemudian, langit bergemuruh. Kilat mulai bermunculan, suara petir saling bersahutan. Para rampok kebingungan. Malam yang tadinya cerah seketika berubah mencekam.

Kilatan petir seolah marah, membentang di langit malam itu. Bintang-bintang yang tadinya terlihat tiba-tiba menghilang, begitu juga cahaya dengan bulan. Suasana menjadi gelap, hanya tersisa gemuruh petir dan angin yang berpadu menakutkan.

“Lihat itu!” seru beberapa warga.

Semua orang menoleh, termasuk para perampok, Zaki, dan Pak Kades, ke arah yang ditunjuk para warga. Mereka semua terbelalak kaget.

Baju Ragma terkoyak, dan terhempas jauh dibawa angin, namun bukan itu yang menjadi perhatian, melainkan luka-luka di tubuhnya mulai menutup sendiri. Darah yang tadinya mengalir deras seolah terserap kembali ke dalam tubuhnya dan mengering tanpa jejak.

“Hah?!” Zaki tersentak. “Ragma…?” matanya melotot sempurna.

"Apa yang terjadi?.. "

"Lihat, luka Ragma hilang.. "

"I-iya.. Itu, dia bangkit.. "

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
CUI LAN TONG
kenapa utomo tadi gak membantu betarung ,kok malah lari ke kampung
goodnovel comment avatar
Wulan Widi
tegang nya ya ampun .. mantap cerita nya ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ksatria Katana Kembar   Dodi Vs Lima Anak Buah Gerry

    Kata Dwi Toro, kepada ajudannya, lalu melihat Gerry, "Baiklah, Gerry, siapkan pasukanmu sekarang. Aku sudah memilih Dodi dulu untuk melawan pertama kali,” kata Dwi Toro sambil berjalan menuju salah satu sofa yang sudah disiapkan lebih dulu, sedangkan Ragma dan Dodi mengikuti dan kembali berdiri tegak di belakang laki-laki itu.“Baiklah, kalian siapkan 5 orang untuk melawan ajudan pribadi Tuan Dwi Toro. Kalian tentu mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?” perintah Gerry.“Siap, mengerti Tuan,” terdengar suara bariton dari sana. Kemudian 5 orang laki-laki tiba-tiba saja maju dan berdiri tegak di hadapan semua orang. Dodi pun akhirnya maju dan kini berdiri di hadapan mereka.“D183, aku yakin kamu bisa menghadapi mereka. Selesaikan tugasmu dan tunjukkan bahwa ajudanku bukanlah orang biasa,” ujar Dwi Toro sambil memandang punggung pemuda itu.“Apakah diizinkan menggunakan senjata” Dodi balik bertanya tanpa menjawab ucapan Dwi Toro.“Tentu saja. Di sini dibebaskan menggunakan apa pun, t

  • Ksatria Katana Kembar   Akan Diuji

    Satya bertanya-tanya, dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara saat ini Zein kembali bergerak. Ia mengaktifkan alat yang terkoneksi dengan ponsel pribadinya itu, di mana di sana terlihat jelas mobil Ramona sudah bergerak. Zein pun langsung menginjak pedal gas mobilnya dan pergi meninggalkan area tersebut. Ia benar-benar mengikuti rute sesuai dengan keberadaan mobil Ramona yang sudah terlacak saat ini, sehingga setelah cukup lama akhirnya ia berhenti di sebuah tempat. Pandangan matanya memperhatikan sekitar; ternyata itu adalah tempat karaoke.“Ini tempat karaoke biasa dan umumnya hanya untuk melepas penat, tapi ada juga perjudian. Apa dia seorang LC?” gumam Zein. “Tapi kalau melihat penampilannya itu tidak mungkin, tapi bisa juga.”Zein memundurkan mobilnya dan mematikan mesin di sekitar tempat itu. Ia lalu melihat lebih dekat bagaimana Ramona keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat karaoke tersebut.“Tapi ini masih pagi. Tempat ini tentu masih tutup,” gumamnya. Ia juga

  • Ksatria Katana Kembar   Satya Menggeledah

    Zaki seketika melihat ke arah Ganang yang menatap intens dirinya.“Tadi saya melihat bibir kamu bergerak-gerak, kamu sedang mengatakan apa?” tanya Ganang. Sontak saja Zaki membelalak kaget dengan mulut yang menganga. Pemuda itu terlihat gugup, akan tetapi langsung berubah seperti biasa. “Oh itu, saya lagi menghafal jadwal Nona muda tuan besar, karena kebetulan kan ada beberapa catatan yang ditinggalkan di kamar saya, jadi saya lagi menghafal itu. Apalagi di beberapa tanggal lumayan banyak tanggal ganjilnya, kalau nggak ingat nanti takutnya terlambat bangun pagi,” jawab Zaki sambil nyengir mencari alasan.“Oh, saya pikir kamu sedang memikirkan apa. Jangan terlalu melamun. Ingat, kamu adalah seorang ajudan dan kamu mengawal Putri saya. Jaga baik-baik Revina, jangan sampai terluka. Kamu mengerti?” Ganang memberikan peringatan kepada Zaki.“Siap, tuan besar. Saya akan selalu mengingat pesan Anda.”“Ya sudah kalau begitu,” ujar Ganang pada akhirnya sambil menyelesaikan sarapan pagi itu.

  • Ksatria Katana Kembar   Kewaspadaan Ragma

    “Tingkat kecurigaanku ada pada laki-laki bernama Dodi ini. Tapi tempatnya pun sudah diperiksa, tidak ada apa-apa. Memang kalau diperlihatkan dari caranya bergerak dan memperhatikan sekitar, aku tidak yakin dia itu seorang yang tidak punya keahlian. Dan aku harus menunggu laporan dari para anak buahku yang sudah berpencar,” Satya berbicara seorang diri sambil terus memperhatikan CCTV itu.Setelah cukup lama, ia pun meninggalkan ruangannya, kemudian berjalan menuju kamar pribadinya. Para ajudan sudah mulai bergantian untuk berjaga. Semua ajudan yang menjaga siang beristirahat, gantian untuk para ajudan yang berjaga malam hari ini.Suasana tenang di rumah Dwi Toro terlihat begitu jelas. Hening tanpa suara. Penjagaan ketat begitu jelas. Beberapa ajudan mulai berkeliling di rumah utama untuk memeriksa semuanya.Salah satu ajudan itu melihat ke arah kamar Dodi dan juga Ragma yang bersebelahan. Dia berjalan mendekati pintu kamar Ragma lalu mendekatkan telinganya ke balik pintu.“Kau ngapain

  • Ksatria Katana Kembar   Selalu Diawasi

    “Bagaimana dia mau menikah, sedangkan Dwitoro saja hingga saat ini belum meresmikan hubungannya dengan Angela,” jawab Ganang sambil menikmati minuman yang ada di depannya itu.“Ya sudahlah kalau seperti itu. Terserah ke anak-anakmu saja ya. Maksudnya kan seperti anak-anakku yang sudah berumah tangga. Usia anak kita kan tidak terpaut jauh, hanya sekitar satu atau sampai dua tahun saja hahaha.” Taufik beranjak dari tempatnya. “Kalau gitu aku harus segera pergi, tidak bisa berlama-lama lagi di sini,” ujarnya.“Sama, aku juga,” sahut yang lainnya serempak. Ganang tersenyum dan mengantarkan mereka menuju mobil mewahnya masing-masing. Semuanya pergi meninggalkan rumah itu. Masing-masing dari mereka juga membawa ajudan pribadi.“Baiklah, aku harus segera istirahat. Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama memang sangat menyenangkan. Tapi semua itu sudah berakhir. Besok aku harus kembali pulang, apalagi Andini sudah sampai di rumah pastinya,” Ganang berbicara seorang diri lalu menuju rumah dan

  • Ksatria Katana Kembar   Arahan Dodi

    Ragma menatap serius ke arah Dodi.“Pantau pergerakan teman baru kalian, kata si Zaki. Kalian punya teman baru kan di kota ini? Perlu kamu ketahui Ragma, bahwa setiap keluarga kalangan atas pasti mereka punya mata-mata, dan mereka tidak akan pernah percaya dengan ajudan-ajudan baru. Untuk membuktikan kebenaran dan juga kejujuran, ada jawaban yang pernah kita berikan saat ditanya pertama kali oleh tuan kita.” jelas Dodi Ragma mendengarkan dengan serius, seketika ia teringat akan Mona. Pemuda itu mengangguk, menatap ke arah Dodi kembali.“Kamu mengatakan kalau kamu adalah anak pertama dan kamu memiliki keluarga di Kalimantan. Percayalah, itu akan mereka telusuri.”“Begitu ya, Mas? Terima kasih sekali sudah memberikan aku peringatan seperti ini. Tiba-tiba saja aku teringat dengan teman baru kami. Semoga dia baik-baik saja, Mas.” ujar Ragma“Ya, semoga saja. Kamu tahu, sebelum aku memutuskan untuk bisa masuk menjadi ajudan di sini, beberapa kali aku juga mencari tahu semuanya. Tuan Dwito

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status