MasukBerikut kelanjutan novelnya:MenulisTim MUA itu benar-benar profesional. Sejak Khalisa duduk di depan meja rias, mereka bekerja dengan sangat hati-hati. Salah satu perias utama bahkan beberapa kali memuji kulit wajah Khalisa yang terawat alami."Masyaallah, Mbak Khalisa cantik sekali. Jarang kami dapat pengantin dengan kulit sebersih ini," puji salah seorang anggota tim.Khalisa hanya tersenyum malu."Ah, biasa saja.""Bukan biasa, Mbak. Wajah Mbak memang fotogenik. Bahkan tanpa make up pun sudah cantik."Ucapan itu membuat Tami yang berdiri di belakang ikut tersenyum bangga.Proses rias berlangsung hampir dua jam. Sedikit demi sedikit wajah Khalisa berubah semakin anggun. Namun para perias sengaja tidak membuat riasan yang berlebihan. Mereka mempertahankan kecantikan alami Khalisa sehingga hasil akhirnya terlihat elegan dan berkelas.Di tengah kesibukan itu, suara mobil kembali terdengar dari luar rumah.Tak lama kemudian pintu terbuka."Nad!"Khalisa langsung tersenyum lebar.Nadia
Khalisa masih berdiri beberapa saat di halaman rumah. Udara malam terasa semakin sejuk setelah kepergian Laila dan Arini. Jalanan di depan rumah kembali sepi, hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas dari kejauhan. Di sampingnya, Zidan menatap lurus ke depan sebelum akhirnya membuka suara. "Jangan sedih." Khalisa menoleh pelan. "Dan jangan dengarkan omongan orang." Nada suara Zidan tetap tenang seperti biasanya. Tidak terdengar seperti sedang menasihati, apalagi menggurui. Ia hanya menyampaikan kalimat sederhana yang keluar dari ketulusannya. Khalisa tersenyum tipis. "Iya." Hanya itu jawabannya. Namun Zidan tahu perempuan itu mengerti maksudnya. Khalisa kemudian melangkah menuju teras rumah. Tami dan Yono yang sejak tadi memperhatikan dari depan pintu langsung menghampiri mereka. "Masuk dulu, Nak," ujar Tami hangat. Yono ikut mengangguk. "Iya, sudah malam juga." Namun Zidan menggeleng pelan. "Gak usah, Tante. Om. Saya mau langsung pulang."
Khalisa memejamkan matanya sesaat. Langkahnya sempat terhenti di depan teras rumah ketika kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Laila terdengar begitu tajam menusuk. Wanita itu berdiri di luar pagar dengan wajah memerah dipenuhi amarah dan frustrasi."Saya doakan hidup kamu tidak bahagia, Khalisa! Semoga kamu mandul! Semoga usaha kamu bangkrut! Semoga kamu merasakan lebih sakit dari yang saya rasakan sekarang!"Suara Laila menggema di halaman yang mulai sunyi. Arini langsung panik dan berusaha menenangkan ibunya."Bu... sudah, Bu."Namun Laila sudah kehilangan kendali. Semua kesulitan yang menimpanya kini seolah dilampiaskan kepada Khalisa. Sementara itu, Khalisa tetap berdiri membelakangi mereka. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, melainkan karena tidak menyangka perempuan yang pernah begitu ia hormati sebagai ibu mertua mampu mengucapkan doa-doa buruk seperti itu kepadanya.Perlahan Khalisa membuka matanya. Ia tidak berbalik, tidak membalas, dan tidak pula menangis. Ia hanya
Mobil yang dikendarai Zidan perlahan memasuki halaman rumah.Lampu teras sudah menyala sejak tadi. Deretan bunga yang ditata Tami terlihat cantik di bawah cahaya lampu malam.Namun baru saja mobil berhenti, Khalisa melihat dua sosok berdiri di luar pagar.Wajahnya langsung berubah.Laila.Dan Arini.Keduanya berdiri sambil membawa beberapa tas besar." Itu Khalisa!" seru Laila dengan wajah sumringah.Namun senyum itu langsung memudar ketika melihat Zidan turun dari kursi pengemudi.Tatapannya berubah jutek." Cepat juga ya kamu move on," sindirnya tajam.Khalisa menarik napas panjang.Beberapa jam lalu suasana hatinya masih tenang.Namun melihat Laila berdiri di depan rumahnya, luka-luka lama seolah muncul kembali begitu saja.Zidan menutup pintu mobil dengan tenang.Ia tidak ikut menanggapi sindiran itu.Hanya berdiri di samping Khalisa."Mau apa lagi Ibu Laila ke sini?" tanya Khalisa datar.Tidak ada senyum.Tidak ada keramahan berlebihan.Laila sedikit berdeham.Belum sempat menjaw
Zidan melihat daftar menu di tangannya."Menurut saya masih wajar."Khalisa hampir tertawa.Standar "wajar" versi Zidan ternyata berbeda jauh dengan kebanyakan orang.Beberapa saat kemudian staf katering mulai menjelaskan berbagai pilihan menu.Mulai dari hidangan utama, aneka makanan tradisional, hingga makanan penutup.Khalisa lebih banyak mendengarkan.Sedangkan Zidan sesekali mengajukan pertanyaan yang cukup detail.Tentang kualitas bahan.Tentang jumlah porsi.Tentang pelayanan saat acara berlangsung.Hal-hal yang bahkan tidak terpikirkan oleh Khalisa.Setelah staf itu pergi mengambil beberapa contoh menu, suasana menjadi lebih tenang.Khalisa akhirnya menatap Zidan."Sejak kapan kamu menyiapkan semua ini?"Zidan menoleh."Cukup lama.""Cukup lama itu kapan?""Sejak saya memutuskan datang ke rumahmu."Khalisa terdiam beberapa saat.Jawaban itu terdengar sederhana.Namun ada kesungguhan yang terasa di dalamnya.Ia menunduk memperhatikan katalog di depannya."Lalu kalau waktu itu a
Khalisa langsung menoleh ke arah Zidan.Tatapannya penuh kecurigaan."Saya akan bereskan sisanya," ucap Zidan tenang seolah itu hal biasa. "Hari ini tugas kamu hanya memilih gaun."Khalisa mengernyit."Tapi aku tetap harus tahu harganya.""Kamu akan tahu pada waktunya.""Kenapa harus nanti?"Zidan menutup katalog yang ada di tangannya lalu menatap Khalisa dengan tenang."Karena hari ini kita fokus pada apa yang kamu sukai, bukan pada angka."Jawaban itu membuat Khalisa kehabisan bantahan sesaat.Pria itu memang tidak banyak bicara.Namun setiap kalimatnya selalu sulit dipatahkan.Zidan kemudian berdiri dari duduknya."Kalau begitu, silakan dicoba dulu."Ia menoleh kepada pegawai butik."Tolong dibantu.""Baik, Pak."Pegawai itu langsung tersenyum ramah kepada Khalisa."Mari, Bu."Khalisa masih sempat melirik Zidan beberapa kali sebelum akhirnya berdiri."Kalau ternyata mahal sekali bagaimana?"Zidan menatapnya sekilas."Percayakan saja pada saya."Kalimat itu sederhana.Tidak berlebih
Bu Vina menyandarkan punggungnya sebentar, lalu memperbaiki posisi duduk. Sikapnya berubah lebih fokus. Bukan lagi senyum ringan, tapi wajah orang yang benar-benar mendengarkan.“Terus apalagi?” tanyanya pelan.Khalisa menarik napas. Kali ini lebih dalam. Seperti membuka laci yang selama ini ia kun
Malam semakin larut.Khalisa terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena dadanya terasa penuh. Sunyi rumah itu terasa menekan, seperti ada ruang kosong yang terlalu besar untuk diabaikan. Ia bangkit perlahan dari tempat tidur, duduk sejenak di tepi ranjang, menatap lantai tanpa benar-benar
Nayla mendengus keras. Wajahnya yang semula menunduk mendadak terangkat, matanya menyapu para ibu di depan pintu dengan tatapan menantang.“Kenapa sih ibu-ibu di sini pada sibuk ikut campur urusan tetangga?” katanya lantang, tanpa rasa sungkan. “Kalau nggak ada kerjaan, pulang sana! Jangan maksain
“Aku tidak akan pergi, Khalisa. Aku masih mencintaimu,” ucap Fahri. Nada suaranya terdengar lembut, tapi entah tulus atau hanya upaya terakhir mempertahankan kuasa.Khalisa tertawa singkat. Bukan tawa bahagia—lebih mirip hembusan napas yang lelah.“Cukup,” bentaknya. Matanya melotot, rahangnya meng







