Share

17. Diam!

last update publish date: 2025-12-26 16:28:00
Keesokan paginya, rumah itu kembali hidup sejak subuh—bukan oleh kehangatan, tapi oleh kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar berubah.

Khalisa turun dari kamar dengan langkah tenang. Ia sudah rapi. Gamis sederhana berwarna netral membalut tubuhnya, dipadukan dengan kerudung yang jatuh bersih menutup dada. Tidak berlebihan, tidak mencolok. Rapi, pantas, dan jelas menunjukkan ia hendak pergi.

Di ruang tengah, Laila sedang menata meja. Begitu melihat Khalisa, alisnya langsung terangkat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 96. Mempertahankan

    Khalisa menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih tidak teratur. Namun semakin ia mencoba tenang, semakin terasa jelas detak jantungnya yang berdebar tak menentu.“Adit…” ucapnya pelan. Suaranya terdengar lebih lemah dari sebelumnya.Ia tidak menatap pria itu, seolah takut jika pandangan mereka kembali bertemu, semua pertahanannya akan runtuh begitu saja.“Kamu pulang aja, ya…”Kalimat itu sederhana, tetapi diucapkan dengan susah payah.Adit terdiam. Tatapannya tertuju pada Khalisa, mencoba memahami apa yang sebenarnya dirasakan wanita itu.“Aku gak mau hubungan tanpa restu,” lanjut Khalisa, masih tanpa menatapnya. “Aku sudah pernah di posisi itu… dan semuanya hancur.”Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.“Aku gak mau mengulang hal yang sama.”Hening.Adit menarik napas dalam.“Lis…” suaranya kini lebih pelan, tidak lagi menekan, tidak lagi terburu-buru. “Kalau aku yang memperjuangkan restu itu… gimana?”Khalisa akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 95. Adit datang

    Hening menggantung di antara mereka. Khalisa menatap Tami dengan mata yang masih basah. Dadanya naik turun, menahan sisa tangis yang belum sepenuhnya reda. “Siapa, Tan?” tanyanya pelan. Ada rasa penasaran… tapi juga ketakutan. Tami tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Khalisa lebih dalam, seolah ingin memastikan sesuatu. “Kalau Tante bilang sekarang…” ucapnya hati-hati, “apa kamu sudah siap menerimanya?” Pertanyaan itu membuat Khalisa terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Ia menunduk. Jari-jarinya saling bertaut, menggenggam satu sama lain seolah mencari kekuatan. “Hm…” ia menghela napas pelan. “Beri aku waktu, Tan…” Suaranya lirih, tapi jelas. Tami terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Namun matanya tetap menyimpan kegelisahan. “Jangan lama-lama, Nak…” ucapnya pelan. Nada suaranya berubah—lebih dalam, lebih jujur. “Tante… gak selamanya bisa tinggal sama kamu.” Khalisa langsung mengangkat wajahnya. Ada keterkejutan di sana. Tami tersenyum tipis, me

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 94. Siapa dia

    Suaranya nyaris tak terdengar. Tatapannya berpindah ke arah Tami, seolah mencari penjelasan… mencari alasan.Tami menatapnya lembut, meski ada kegugupan yang tak bisa disembunyikan.“Iya, Nak…” ucapnya hati-hati. “Kami cuma ingin kamu bahagia.”Khalisa menunduk. Roti di tangannya perlahan ia letakkan kembali ke piring.Pagi yang tadi terasa hangat, tiba-tiba berubah. Bukan menjadi dingin… tapi terasa berat.Di dalam dadanya, sesuatu bergerak—kenangan, rasa takut, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.Ia menarik napas pelan.“Kenapa… tiba-tiba, Tante?” tanyanya lirih.Yono tidak langsung menjawab. Ia menatap Khalisa sejenak, lalu berkata pelan,“Karena kamu gak bisa terus sendiri, Nak.”Khalisa tersenyum tipis. Senyum yang berbeda dari sebelumnya—tipis dan rapuh.“Sendiri… gak selalu buruk, Om,” ucapnya pelan, meski suaranya terdengar goyah.Tami menggeleng kecil.“Bukan itu maksud kami. Kami hanya ingin ada orang yang menjaga kamu… yang benar-benar tulus.”Khalisa terdiam. Tatapannya

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 93. Menikah?

    Malam itu berjalan pelan.Televisi menyala di ruang tengah, menampilkan acara yang sebenarnya tidak benar-benar mereka perhatikan.Tami duduk di sofa, tangannya terlipat di pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jauh ke mana-mana.Yono duduk di sampingnya, bersandar tenang. Sesekali matanya melirik ke arah tangga.Seolah memastikan Khalisa benar-benar sudah beristirahat.Suasana hening beberapa saat.Hanya suara televisi yang mengisi ruangan.“Apa sudah waktunya, Pah… kita kasih tahu Khalisa?” suara Tami akhirnya memecah keheningan.Pelan.Penuh keraguan.Yono tidak langsung menjawab.Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Jangan tunggu lama, Ma,” jawabnya tenang. “Nanti keburu gak sesuai rencana.”Tami menoleh.Ada kegelisahan yang jelas terlihat di wajahnya.“Aku masih takut, Pah…” ucapnya lirih. “Kalau Khalisa nolak… dan akhirnya semua malah berantakan.”Yono menatap istrinya.Lama.Seolah mencoba menenangkan tanpa harus banyak kata.“Kita gak maks

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 92. Perhatian

    Setelah melayani pelanggan dan merapikan barang di toko hingga sore, Khalisa akhirnya pulang. Ia menyetir sendiri. Jalanan terasa biasa saja, tapi pikirannya penuh. Lelah… bukan hanya fisik, tapi juga hati. Semua kejadian hari itu seperti berputar ulang di kepalanya—Adit, Kayla, dan Zidan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mobilnya perlahan masuk ke halaman rumah. Begitu turun, langkahnya terhenti. Halaman rumah terlihat rapi. Rumput dipotong pendek, tanaman tersusun indah. “Wah… indah sekali,” celetuknya pelan. Di sudut halaman, Yono sedang merapikan sisa potongan rumput. Khalisa langsung menghampiri. “Ya ampun, Om… gak usah repot-repot potong rumput,” ucapnya dengan senyum yang mulai mengembang. Perasaan hangat perlahan muncul. Seperti… punya orang tua lagi di rumah ini. Yono menoleh dan tersenyum. “Gak apa-apa. Biar enak dilihat,” jawabnya santai. “Sana masuk, bersihin diri dulu. Om beresin ini sebentar lagi.” “Baik, Om,” jawab

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 91. Menjauh

    Zidan berdiri di samping ibunya, tetapi perhatiannya justru tertuju pada ponselnya.Jari-jarinya sibuk mengetik, sesekali menatap layar dengan serius.Seolah urusan di dalam layar itu lebih penting dari apa pun di sekitarnya.“Yang itu aja, Nak. Ibu sudah suka,” ucap wanita tua itu lembut.Khalisa tersenyum kecil, lalu segera mengambil baju yang ditunjuk.“Oh iya, Bu,” jawabnya ramah sambil mendekat.Ia menyerahkan baju itu dengan hati-hati.Sekilas, Khalisa melirik ke arah Zidan.Namun pria itu masih saja fokus pada ponselnya.Tidak memperhatikan sama sekali.Khalisa sedikit mengernyit, tapi tidak mengatakan apa-apa.“Nah, yang ini cocok dengan usia Ibu,” lanjut wanita itu lagi sambil memperhatikan bahan baju di tangannya.Khalisa mengangguk.“Iya, Bu. Bahannya juga nyaman dipakai,” jelasnya.Wanita itu tersenyum puas.“Bagus. Ibu ambil ini saja.”Khalisa mengangguk lagi.“Baik, Bu. Saya siapkan ya.”Ia berbalik menuju meja kasir.Sementara itu, Zidan akhirnya menurunkan ponselnya.T

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 77. Perdebatan

    Beberapa hari kemudian, setelah urusan rumah sakit dan jaminan biaya selesai, Nayla dan bayi itu akhirnya dibawa pulang. Rumah yang dulu terasa biasa saja kini terasa sempit. Pengap. Penuh bisik-bisik tak terlihat. Nayla duduk di sofa dengan tubuh masih lemah. Luka operasi belum kering benar. Ba

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 76. Hinaan buat Khalisa

    Dua hari kemudian, uang itu akhirnya cair.Seratus lima puluh juta rupiah.Fahri menggenggam map berisi bukti pencairan dengan tangan yang masih terasa dingin. Sertifikat rumah sudah tergadai. Tidak ada jalan mundur. Jika ia gagal menebusnya nanti, rumah itu akan benar-benar lepas.Ia kembali ke ru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 75. Makan bersama

    “Tapi kamu keren,” puji Adit lagi, kali ini lebih pelan.Khalisa hanya diam. Ia tidak terbiasa dipuji, apalagi setelah semua yang pernah ia lalui. Baginya, membeli rumah hari ini bukan tentang pencapaian. Itu hanya cara bertahan.“Oke, sudah nggak ada lagi yang perlu dicek?” tanya Adit memastikan.

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 74. Keseriusan?

    Khalisa menoleh pada Adit saat ia bertanya.“Aku suka,” ucapnya pelan tapi pasti. “Dan rumah ini nggak jauh dari toko yang aku sewa.”Kalimatnya terdengar mantap. Tidak ragu seperti tadi pagi.Pak Jaka tersenyum, tampak semakin yakin.“Baik, mau lanjut transaksi, Bu?” tanyanya hati-hati.Khalisa ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status