Home / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 28. kamu harus pergi

Share

28. kamu harus pergi

last update publish date: 2026-01-02 21:14:20

“Aku tidak akan pergi, Khalisa. Aku masih mencintaimu,” ucap Fahri. Nada suaranya terdengar lembut, tapi entah tulus atau hanya upaya terakhir mempertahankan kuasa.

Khalisa tertawa singkat. Bukan tawa bahagia—lebih mirip hembusan napas yang lelah.

“Cukup,” bentaknya. Matanya melotot, rahangnya mengeras. “Aku tidak mau dengar kata cinta lagi keluar dari mulutmu.”

Fahri tidak mundur. Justru ia melangkah ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana, menyandarkan punggung dengan sikap seolah-olah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ami Fawwaz
muter muter, terlalu lemah dan bertele tele jadi bosen buat bacanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 147. Rahasia Arini

    Pintu kontrakan sederhana itu tertutup rapat. Ruangan sempit yang hanya diterangi satu lampu redup terasa semakin pengap. Arlina baru saja meletakkan tas kerjanya di atas kursi plastik ketika suara Bu Laila kembali terdengar. "Arlina!" "Iya, Bu?" "Mana uangnya?" "Ibu mau belanja." Arlina menghela napas pelan. "Bu, sabar." "Arlina belum gajian." Bu Laila langsung berdiri dari tikar yang didudukinya. "Belum gajian?" "Terus kita mau makan apa kalau kamu nggak kasih uang?" Arlina menundukkan kepala. "Bu, aku baru mulai kerja besok." "Gajinya juga belum tentu langsung dibayar." "Tolong mengerti dulu." Namun Bu Laila seolah tidak mau mendengar. "Kamu seharusnya berusaha kasih makan Ibu." "Ibu sudah capek-capek membesarkan kalian." "Tapi ini balasan kalian." "Terutama Fahri." "Dia tega meninggalkan ibunya dalam keadaan begini." Nama Fahri kembali membuat suasana semakin berat. Arlina menahan air matanya. "Bu..." "Aku tahu." "Tapi Arlina ma

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 146. Memanjakanmu

    Zidan lebih dulu membawa dua koper besar masuk ke dalam rumah.Sementara itu, Khalisa melangkah pelan menuju teras.Begitu sampai di sana, ia langsung terdiam.Di hadapannya terbentang pemandangan yang begitu menenangkan.Perbukitan hijau memanjang sejauh mata memandang.Beberapa rumah batu berdiri berjauhan, masing-masing dikelilingi taman kecil dan pepohonan.Jarak antar rumah cukup jauh sehingga suasana terasa sangat tenang.Yang terdengar hanya semilir angin dan kicauan burung.Khalisa menarik napas dalam."Masya Allah..."Ia tersenyum sendiri."Aku baru tahu ada tempat setenang ini."Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam rumah.Zidan keluar setelah selesai meletakkan koper.Melihat Khalisa yang masih menikmati pemandangan, ia menghampiri tanpa banyak bicara.Perlahan, kedua tangannya melingkar dari belakang, memeluk pinggang sang istri.Khalisa sempat tersentak kecil.Namun begitu merasakan pelukan hangat itu, ia langsung tersenyum.Ia tahu siapa yang memeluknya.Z

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 145. Kejutan

    Setelah menempuh perjalanan panjang dengan transit beberapa kali, akhirnya pesawat yang membawa Zidan dan Khalisa mendarat di Prancis. Setelah proses imigrasi dan mengambil koper selesai, mereka melanjutkan perjalanan darat menuju sebuah desa yang sudah dipilih Zidan. Semakin jauh meninggalkan kota, pemandangan di luar jendela berubah. Hamparan ladang hijau membentang luas. Rumah-rumah batu dengan atap cokelat berdiri berjajar rapi. Jalanan kecil yang bersih membelah perkampungan dengan pepohonan yang mulai menguning. Khalisa tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan kiri. "Mas..." "Iya?" "Indah banget." Zidan hanya tersenyum tipis. "Masih ada yang lebih indah." Khalisa mengernyit. "Masih?" "Sebentar lagi." Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah area parkir kecil. Sopir membantu menurunkan koper mereka. Begitu pintu mobil dibuka, udara sejuk langsung menyambut. Khalisa menarik napas panjang. "Masya Allah..." "Udaranya enak

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 144. Perjalanan bulan madu

    Setelah berpamitan dengan Ibu Zidan, mereka akhirnya berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ibu Zidan ikut mengantar mereka sampai ke bandara. Sementara koper-koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup santai. Zidan sesekali berbicara dengan ibunya yang duduk di kursi depan, sementara Khalisa duduk di belakang sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela. Namun, saat mobil sudah memasuki jalan tol, Khalisa tiba-tiba menepuk dahinya pelan. "Ya ampun..." Zidan yang sedang fokus mengemudi meliriknya melalui kaca spion. "Kenapa?" "Aku lupa pamitan sama Tante Rina." Zidan tersenyum tipis. "Ya sudah, telepon saja." Khalisa segera mengambil ponselnya. "Masih ingat nomornya?" "Masih." Ia kemudian mencari nama Tante Rina di kontak ponselnya lalu menekan tombol panggilan. Tidak lama kemudian, panggilan tersebut tersambung. "Assalamualaikum, Tante." Suara Khalisa langsung terdengar lebih ceria. "Waalai

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 143. Siap berangkat

    Setelah tengah malam, satu per satu teman-teman Zidan akhirnya berpamitan. "Terima kasih sudah menerima kami malam-malam begini," ujar Reza sambil tersenyum. Zidan menggeleng pelan. "Kalau lain kali mau datang, kabari dulu." "Kalau dikabari, nanti bukan kejutan lagi," sahut salah satu temannya. Zidan hanya tersenyum tipis. "Ya sudah. Hati-hati di jalan." Setelah semua temannya pergi, Zidan menutup pintu rumah lalu memastikan pintu sudah terkunci. Rumah kembali sunyi. Ia kemudian berjalan menuju kamar. Begitu pintu dibuka, Zidan mendapati Khalisa sudah tertidur. Perempuan itu berbaring menyamping dengan wajah yang terlihat tenang. Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur. Pikirannya kembali teringat pada percakapan bersama teman-temannya malam itu. Tentang Fatimah. Zidan menghela napas pelan. Ia tidak tahu kenapa nama itu masih sempat terlintas di pikirannya. Padahal selama ini, ia sudah tidak pernah memikirkan perempuan itu. Zidan menatap waj

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 142. Kedatangan tamu

    Zidan membalas pelukan Khalisa sebentar, lalu mengusap pelan punggung istrinya. "Sudah?" Khalisa tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mas." "Mas bikin aku kaget." Zidan tersenyum tipis. "Memang sengaja." "Biar ada yang diingat." Khalisa kembali melihat e-ticket di tangannya. "Mas, ini benar-benar sudah dibayar?" "Sudah." "Nggak bisa dibatalin lagi?" Zidan menggeleng pelan. "Bisa saja." "Tapi kenapa harus dibatalkan?" Khalisa tertawa kecil. "Soalnya masih terasa seperti mimpi." Zidan mengambil map itu lalu menaruhnya di atas meja. "Kita berangkat beberapa hari lagi." "Besok mulai siapkan barang yang perlu dibawa." "Kalau ada yang kurang, kita beli." Khalisa mengangguk. "Iya, Mas." "Tapi aku belum pernah ke negara yang dingin." "Aku juga nggak tahu harus bawa apa." "Nanti kita belanja secukupnya." "Nggak perlu berlebihan." Khalisa tersenyum. "Baik." Zidan melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah hampir malam." "Ayo makan dul

  • Ku Miskinkan Suamiku   15. Siapa yang bayar?

    “Gak bisa, Bu. Kan yang suruh pesan ibu tadi,” ujar Nayla akhirnya, nada suaranya mengeras. Tangannya menggenggam ponsel lebih erat, seolah angka empat juta di layar itu benda rapuh yang harus dijaga mati-matian. “Uang segitu buat kebutuhan aku. Aku bentar lagi lahiran.”Laila menatapnya tak percay

  • Ku Miskinkan Suamiku   14. gajian

    Hari-hari setelah itu berjalan dengan sunyi yang aneh.Keluarga Fahri benar-benar tidak pergi dari rumah Khalisa. Mereka tetap ada—mengisi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar—tapi seolah Khalisa tidak lagi termasuk di dalamnya. Tidak ada sapa. Tidak ada tegur. Tidak ada percakapan. Jika berpapasan,

  • Ku Miskinkan Suamiku   13. Talak aku mas!

    Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi k

  • Ku Miskinkan Suamiku   12. Hal yang sulit buat Fahri

    “Bu, memang semua ini punya Khalisa,” kata Fahri akhirnya, suaranya terdengar terburu-buru, seolah ingin segera menutup situasi yang makin menekan. “Tapi selama ini aku yang menafkahi.”Kalimat itu jatuh begitu saja di ruangan yang sudah tegang.Khalisa terdiam.Bukan karena tidak punya jawaban, ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status