Home / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 28. kamu harus pergi

Share

28. kamu harus pergi

last update publish date: 2026-01-02 21:14:20

“Aku tidak akan pergi, Khalisa. Aku masih mencintaimu,” ucap Fahri. Nada suaranya terdengar lembut, tapi entah tulus atau hanya upaya terakhir mempertahankan kuasa.

Khalisa tertawa singkat. Bukan tawa bahagia—lebih mirip hembusan napas yang lelah.

“Cukup,” bentaknya. Matanya melotot, rahangnya mengeras. “Aku tidak mau dengar kata cinta lagi keluar dari mulutmu.”

Fahri tidak mundur. Justru ia melangkah ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana, menyandarkan punggung dengan sikap seolah-olah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 110. Bercerai

    Laila pergi dengan tergesa-gesa bersama Arini, meninggalkan rumah yang masih berantakan tanpa menoleh lagi ke belakang. Suara angkot yang membawa mereka perlahan menghilang dari depan rumah. Dan setelah itu… rumah terasa jauh lebih sunyi. Namun sunyi yang menyesakkan. Fahri masih duduk di sofa dengan tubuh membungkuk. Kedua sikunya bertumpu di lutut, sementara tangannya menekan kepala sendiri kuat-kuat. Pikirannya kacau. Semua terjadi terlalu cepat. Rumah hilang. Ibunya pergi. Dan hidupnya benar-benar berantakan. Di kamar belakang, suara tangisan bayi Nayla masih terdengar sejak tadi. Tangisan kecil yang terus bersahut-sahutan memenuhi rumah itu. Nayla berusaha menenangkan anaknya sambil menggoyangkan tubuh kecil itu perlahan. Namun bayinya justru semakin rewel, mungkin ikut merasakan ketegangan sejak pagi. Fahri yang sedang emosional akhirnya membentak keras dari ruang tengah. “Diamkan tangisan anakmu itu, Nay!” Suara bentakan itu membuat Nayla langsung terdiam. Dadanya terasa sepert

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 109. Ke rumah khalisa

    “Terserah kalian mau ke mana,” ucap Laila akhirnya sambil mengusap air matanya kasar. “Tapi ibu mau ke rumah Khalisa dulu. Ibu yakin Khalisa masih ingat semua kebaikan ibu dan pasti luluh.”Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa ia sadari.Padahal, jika dipikir kembali… hampir tidak ada kebaikan yang benar-benar pernah ia berikan pada Khalisa selain tuntutan, tekanan, dan luka hati selama bertahun-tahun.Namun dalam keadaan terdesak seperti sekarang, Laila hanya ingin percaya bahwa masih ada tempat yang bisa menerimanya.“Aku ikut, Bu,” sahut Arini cepat.Semua menoleh padanya.Remaja itu menggenggam ujung bajunya pelan sebelum melanjutkan, “Aku juga gak mau tinggal di kontrakan desak-desakan. Kalau di rumah Kak Khalisa kan nyaman sekarang…”Nada suaranya terdengar penuh harap.Ucapan polos itu justru membuat suasana semakin terasa pahit.Nayla hanya terdiam sambil memeluk bayinya lebih erat. Ia menunduk, mencoba menahan perasaan sesak di dadanya.Bahkan dalam keadaan seperti ini pun,

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 108. Ingin kembali

    “Maaf, Pak, Bu… dengan terpaksa kami harus meminta semuanya mengosongkan rumah ini paling lambat besok,” ucap Pak Beni pelan sebelum akhirnya menutup map dokumennya.Pria itu memberi anggukan singkat, lalu berjalan menuju mobil bersama petugas lainnya.Suasana langsung terasa hening setelah mereka pergi.Laila masih berdiri di halaman dengan wajah pucat. Tangannya gemetar hebat. Matanya menatap rumah itu tanpa berkedip, seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi.“Ini tidak mungkin terjadi…” ucapnya lirih sebelum berubah menjadi teriakan histeris. “Tidak mungkin!”Tangisnya pecah begitu saja.Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal baginya. Di rumah itulah ia merasa paling dihormati oleh lingkungan sekitar. Semua orang tahu rumah itu miliknya. Dan sekarang… semuanya akan hilang begitu saja.Sementara itu, Fahri justru terlihat pasrah.Ia mengusap wajahnya kasar lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah malas.“Sudahlah, Bu. Mau gimana lagi? Kita kemas saja barang-barangnya

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 107. Nasib keluarga Fahri

    Beberapa bulan berlalu sejak uang hasil gadai rumah itu habis begitu saja. Awalnya Fahri masih mencoba menenangkan semuanya dengan janji-janji. Ia berkata keadaan akan membaik, ia akan mencari uang, dan semua angsuran pasti bisa dibayar. Namun kenyataannya tidak pernah benar-benar berubah. Tagihan demi tagihan mulai datang. Telepon dari pihak bank semakin sering terdengar. Surat peringatan mulai menumpuk di atas meja ruang tamu. Dan Fahri… tetap tidak memiliki solusi. Ia sempat bekerja beberapa minggu di sebuah toko elektronik milik temannya, tetapi baru sebentar sudah berhenti karena merasa gajinya terlalu kecil. Sementara bunga pinjaman terus berjalan. Rumah yang dulu menjadi kebanggaan Laila perlahan berubah menjadi sumber ketakutan terbesar dalam hidupnya. Hingga pagi itu datang. Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah mereka. Dua pria berpakaian rapi turun sambil membawa map dokumen di tangan. Salah satunya adalah Pak Beni, petugas bank yang sejak bebera

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 106. Karena Kayla

    Biasanya, setelah pertemuan penting seperti tadi, seseorang akan kembali menghubunginya. Sekadar bertanya apakah ia sudah makan, sudah beristirahat, atau memastikan keadaannya baik-baik saja. Namun Zidan tidak. Pria itu seolah menghilang begitu saja setelah menyampaikan keseriusannya. Khalisa mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan dagunya di atas lutut. Angin malam terasa semakin dingin menyapu teras lantai dua tempatnya duduk sendiri. Dari bawah masih terdengar suara Tami yang sedang berbicara di telepon dengan beberapa kerabat. Sesekali terdengar tawa kecil penuh kelegaan. Sementara Khalisa justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia kembali membuka profil Zidan. Tetap sama. Foto profil kosong. Tidak ada bio. Tidak ada status. Bahkan unggahan media sosialnya pun hampir tidak ada. “Ini orang hidupnya isinya kerja doang apa gimana…” gumamnya pelan. Tanpa sadar, rasa penasarannya justru semakin besar. Jemarinya sempat berhenti di kolom chat. Beberapa kali

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 105. Menghargai

    Percakapan di ruang tamu masih berlanjut, tetapi suasananya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Sesekali terdengar suara Tami dan Ibu Halimah yang mulai membahas hal-hal sederhana tentang persiapan acara. Yono lebih banyak diam sambil sesekali mengangguk, mendengarkan pembicaraan dengan wajah serius namun lebih rileks.Sementara itu, Khalisa hanya duduk memperhatikan.Pikirannya perlahan mengikuti arah pembicaraan yang sejak tadi terasa begitu nyata.Pernikahan.Kata itu kini bukan lagi sesuatu yang jauh atau sekadar bayangan.Di tengah obrolan, Zidan yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara.“Baik, Bu… Om, Tante,” ucapnya tenang.Semua langsung menoleh ke arahnya.“Kali ini biarkan saya yang menentukan konsep pernikahan kami.”Kalimat itu diucapkan sederhana, tanpa nada berlebihan. Namun cukup membuat suasana hening sesaat.Khalisa ikut menoleh. Tatapannya tertahan pada Zidan beberapa detik. Ia tidak menyangka pria itu akan mengatakan hal seperti itu.Yono terseny

  • Ku Miskinkan Suamiku   51. Fahri mengikuti Arini

    Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Laila mulai mengeluarkan belanjaan. Ia membuka satu bungkus gorengan dan meletakkannya di piring. “Makan,” katanya. “Daripada ribut.” Arlina langsung duduk. Nayla ragu, lalu ikut duduk. Fahri masih berdiri. Ia menatap meja makan yang sekarang penuh. B

  • Ku Miskinkan Suamiku   50. Uang dari Arini

    “Bu,” Fahri akhirnya angkat suara. “Khalisa ngancam. Kalau Ibu ke sana lagi, dia bakal lapor.” Laila tertawa pendek. Bukan geli—lebih ke meremehkan. “Hahaha… Fahri, Fahri.” Ia menggeleng. “Itulah bodohnya kamu. Masa mau percaya begitu saja?” Fahri menatap ibunya. “Aku cuma ngingetin.” “Serahin ke ib

  • Ku Miskinkan Suamiku   49. kegelisahan Laila

    “Lis—” “Diam!” potongnya keras. “Aku belum selesai.” Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Kamu tahu rasanya didorong ibu kamu di rumah yang aku anggap aman?” suaranya naik. “Kamu tahu rasanya barang-barang aku diseret keluar, sementara kamu berdiri di situ… DIAM?” Fahri menunduk. “Aku nggak pern

  • Ku Miskinkan Suamiku   48. Emosi Khalisa

    Belum lima menit setelah ibu itu pergi, pintu toko kembali terbuka.Kali ini suara geserannya terdengar keras.Khalisa yang sedang mencatat penjualan otomatis menoleh.Darahnya langsung terasa turun.Laila berdiri di ambang pintu.Hijabnya dililit asal, wajahnya tegang, matanya menyapu toko dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status