Partager

31. Penjelasan

last update Date de publication: 2026-01-06 22:24:18

Bu Vina menyandarkan punggungnya sebentar, lalu memperbaiki posisi duduk. Sikapnya berubah lebih fokus. Bukan lagi senyum ringan, tapi wajah orang yang benar-benar mendengarkan.

“Terus apalagi?” tanyanya pelan.

Khalisa menarik napas. Kali ini lebih dalam. Seperti membuka laci yang selama ini ia kunci rapat.

“Ibu mertua aku,” katanya akhirnya. “Dia menuntut penghasilan Fahri. Katanya selama ini dia yang menafkahi aku.”

Bu Vina tidak langsung memotong. Ia membiarkan Khalisa menyelesaikan kalimatn
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 126. Suami istri

    Khalisa yang berada dalam pelukannya hanya tersenyum malu. Jujur saja, sampai sekarang ia masih sulit percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Bahwa dirinya kini telah menjadi istri Zidan. Bahwa pria yang selama ini terasa begitu misterius kini memeluknya dengan penuh rasa sayang. Zidan tidak melepaskan pelukannya. Seolah ingin memastikan bahwa Khalisa benar-benar ada di sisinya. "Khalisa." "Hm?" Panggilan itu terdengar begitu lembut. Khalisa mengangkat wajahnya sedikit. Ia mendapati Zidan sedang menatapnya. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Lebih hangat. Lebih dalam. Dan entah kenapa membuat jantungnya kembali berdebar. "Ada apa?" tanya Khalisa pelan. Zidan tersenyum tipis. "Aku mencintaimu." Khalisa membeku. Untuk beberapa detik ia hanya menatap suaminya tanpa berkedip. Mungkin karena ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Zidan malam ini. "Apa?" Senyum Zidan semakin lebar. "Aku mencintaimu, Khalisa." Mata Khalisa p

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 125. Malam pertama

    "Aku ingin jadi istri yang baik buat kamu." Senyum tulus mengembang di bibir Khalisa. Zidan menatapnya beberapa saat. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dalam sorot matanya. "Jadi malam ini kita menunaikan hak dan kewajiban sebagai suami istri?" tanyanya pelan. Khalisa langsung menundukkan kepala. Pipinya kembali memerah. Perlahan ia mengangguk. "Iya." Senyum Zidan melebar. Namun bukan senyum jahil seperti biasanya, melainkan senyum penuh rasa syukur. "Alhamdulillah." Khalisa menahan malu lalu berdiri dari kursinya. "Tapi bersih-bersih dulu." "Siap." Jawaban Zidan begitu cepat hingga membuat Khalisa tertawa kecil. "Semangat sekali." "Tentu saja." Zidan langsung berdiri. "Perintah istri harus dilaksanakan." "Zidan." "Apa?" "Kamu nggak capek?" "Tadi capek." "Sekarang?" Zidan menatapnya sambil tersenyum. "Sekarang hilang." Khalisa langsung menggeleng geli. Pria itu benar-benar berbeda dari kesan dingin yang selama ini ia lihat. Tak lama kemudian Zidan berjalan menuju kamar mandi. Sebelu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 124. Cemburu

    Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Zidan membawa Khalisa menuju hotel mewah yang telah ia siapkan. Bukan hanya untuk mereka berdua, Zidan juga telah menyewakan beberapa kamar terbaik untuk Tante Tami, Om Yono, Tante Rina, Nadia, Dinda, dan keluarga Khalisa lainnya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena telah menemani Khalisa sampai hari pernikahan mereka.Bahkan sebuah jamuan makan malam khusus juga telah disiapkan untuk keluarga besar Khalisa sebelum mereka beristirahat.Malam mulai turun ketika Khalisa dan Zidan akhirnya masuk ke kamar mereka.Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk resepsi tadi.Khalisa berjalan masuk tanpa banyak bicara.Ia duduk di depan meja rias lalu mulai melepas satu per satu perhiasan yang menghiasi kepalanya sejak pagi.Anting.Mahkota kecil.Jepit rambut.Semua dilepas perlahan hingga yang tersisa hanya hijab yang masih menutupi kepalanya.Zidan yang sejak tadi memperhatikannya menyadari

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 123. Fatimah

    Wanita berhijab itu masih berdiri di sudut ruangan. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat Zidan berbicara dengan para tamu.Namun di balik senyum itu, ada perasaan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.Matanya perlahan memanas.Bukan karena iri.Bukan karena marah.Melainkan karena kenangan lama yang tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya.Beberapa tahun lalu...Di bawah rindangnya pohon di halaman sebuah kampus Islam ternama, seorang pria berdiri di hadapannya.Zidan.Saat itu usia mereka masih jauh lebih muda."Jadi kamu benar-benar akan berangkat?" tanya Zidan.Fatimah mengangguk pelan."Aku sudah diterima.""Kapan?""Bulan depan."Zidan terdiam cukup lama.Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu."Lalu kita?"Fatimah tersenyum kecil.Senyum yang saat itu justru terasa menyakitkan bagi Zidan."Nggak ada kita.""Fatimah...""Aku serius."Zidan mengepalkan tangannya."Kita sudah dijodohkan keluarga.""Aku tahu.""Orang tua kit

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 122. Hari bahagia khalisa

    Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana gedung perlahan berubah menjadi lebih santai. Para tamu mulai berpindah ke area jamuan. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu penting terlihat berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan.Khalisa yang kini duduk berdampingan dengan Zidan masih sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu. Namun di balik senyumnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Ia melirik suaminya pelan.Pria itu tampak tenang seperti biasa. Sesekali membalas sapaan tamu dengan sopan, lalu kembali duduk tanpa menunjukkan sedikit pun rasa canggung.Khalisa menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat."Kamu siapa sebenarnya, Zidan?" bisiknya pelan.Zidan menoleh.Tatapan mereka bertemu."Apa itu penting?" tanyanya tenang.Khalisa langsung mengangguk."Iya, penting.""Kenapa?"Karena sekarang aku sudah jadi istrimu."Jawaban itu membuat sudut bibir Zid

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 121. Pergi!

    Sementara itu, jauh dari kemegahan gedung tempat akad berlangsung, Fahri sedang duduk santai di ruang tamu rumah orang tua Nayla. Televisi menyala menemani suasana pagi, sementara Nayla dan ibunya sibuk di dapur menyiapkan makanan. Fahri tampak memainkan ponselnya sambil sesekali melirik layar televisi tanpa minat. Namun tiba-tiba sebuah tayangan siaran langsung pernikahan menarik perhatiannya. Awalnya ia tidak terlalu peduli, sampai kamera menyorot wajah pengantin wanita.Fahri langsung membeku. Ponselnya nyaris terjatuh dari genggamannya."Tunggu..." gumamnya pelan sambil menyipitkan mata. "Nggak mungkin..."Ia duduk tegak dan menatap layar tanpa berkedip. Dadanya mulai berdebar kencang."Itu... itu Khalisa?"Fahri langsung berdiri dan mendekati televisi. Semakin dekat ia melihat, semakin jelas wajah perempuan itu, dan semakin sulit baginya menyangkal kenyataan."Itu Khalisa..." lirihnya. "Tidak mungkin."Matanya membesar saat melihat sosok perempuan yang pernah menjadi istrinya itu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 78. Penyesalan

    Malam itu seperti menolak selesai.Tangis Nafa menggema di kamar sempit itu, memantul di dinding-dinding yang sejak awal tak pernah benar-benar hangat. Nayla berdiri dengan tubuh masih gemetar. Bekas operasi terasa perih, tapi hatinya jauh lebih sakit daripada luka di perutnya.“Sudah, Nak… Ibu di

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 77. Perdebatan

    Beberapa hari kemudian, setelah urusan rumah sakit dan jaminan biaya selesai, Nayla dan bayi itu akhirnya dibawa pulang. Rumah yang dulu terasa biasa saja kini terasa sempit. Pengap. Penuh bisik-bisik tak terlihat. Nayla duduk di sofa dengan tubuh masih lemah. Luka operasi belum kering benar. Ba

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 76. Hinaan buat Khalisa

    Dua hari kemudian, uang itu akhirnya cair.Seratus lima puluh juta rupiah.Fahri menggenggam map berisi bukti pencairan dengan tangan yang masih terasa dingin. Sertifikat rumah sudah tergadai. Tidak ada jalan mundur. Jika ia gagal menebusnya nanti, rumah itu akan benar-benar lepas.Ia kembali ke ru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 74. Keseriusan?

    Khalisa menoleh pada Adit saat ia bertanya.“Aku suka,” ucapnya pelan tapi pasti. “Dan rumah ini nggak jauh dari toko yang aku sewa.”Kalimatnya terdengar mantap. Tidak ragu seperti tadi pagi.Pak Jaka tersenyum, tampak semakin yakin.“Baik, mau lanjut transaksi, Bu?” tanyanya hati-hati.Khalisa ti

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status