LOGINFahri terdiam. Wajahnya tegang. Ia tahu, Khalisa bukan tipe wanita yang mudah dikalahkan. Dengan langkah gemetar tapi tegas, Khalisa keluar dari rumah itu. Air matanya belum berhenti jatuh, tapi ada api baru menyala di hatinya. Api amarah yang perlahan mengusir kesedihan.
“Jangan angkuh, Khalisa! Bisa apa kamu tanpa Fahri? Kamu itu cuma pengangguran, hidupmu numpang di rumahnya Fahri. Jangan mimpi bisa bangkit tanpa dia!” suara Bu Laila melengking dari balik pintu. Langkah Khalisa terhenti sejenak. Dadanya sesak, hatinya berdenyut sakit mendengar kata-kata itu. Ia menoleh sebentar, matanya berair tapi penuh amarah. “Insya Allah, Bu… saya bisa hidup tanpa anak Ibu, tanpa semuanya. Kalian lihat saja nanti.” Khalisa melangkah cepat keluar gerbang, air matanya deras, pipinya basah. Belum jauh berjalan, suara lain menghentikan langkahnya. Dua gadis berseragam SMA berdiri di teras rumah, menatap Khalisa dengan pandangan heran. Mereka adalah Arini dan Arlina, adik Fahri. “Mbak Khalisa? Ada apa? Kok keluar kayak orang habis berantem?” tanya Arini polos. Khalisa tidak menjawab. Ia menunduk, mempercepat langkah. Arlina menyikut kakaknya lalu berbisik, cukup keras untuk terdengar. “Aneh banget istri Mas Fahri. Mungkin dia yang salah, makanya dimarahin.” Dan tawa keduanya pecah. Khalisa menutup mulutnya, menahan tangis yang kian memuncak. Dadanya terasa ditusuk-tusuk. “Ya Allah… apa salahku sampai mereka semua menghina aku begini?” bisiknya lirih. Sesampainya di rumah besar miliknya, Khalisa masuk dengan langkah gemetar. Ruang tamu yang biasanya terasa hangat kini tampak kosong dan dingin. Ia menjatuhkan diri di sofa, menangis tersedu-sedu. “Aku ini apa? Istri atau boneka? Aku dijaga hanya karena status, tapi saat nggak bisa kasih anak, aku dibuang kayak sampah.” Tangannya gemetar, menggenggam ponsel. Foto-fotonya bersama Fahri masih tersimpan di galeri: saat ulang tahun pernikahan, saat makan malam sederhana, saat Fahri pamit kerja dengan senyum hangat. Semua itu sekarang terasa seperti kebohongan besar. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor Fahri. Fahri: Lis, aku minta maaf. Jangan ambil keputusan gegabah. Aku sayang kamu, tapi aku juga nggak bisa ninggalin Nayla. Dia sebentar lagi lahiran. Aku janji tetap tanggung jawab sama kamu. Khalisa terdiam membaca pesan itu. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh lagi. “Jadi… aku disuruh terima jadi istri kedua? Terima kasih sudah dikhianati, terima kasih sudah dibagi?!” suaranya meninggi. Ia melempar ponsel ke sofa, tubuhnya bergetar menahan marah. Keesokan harinya, Khalisa duduk di teras rumahnya. Wajahnya sembab. Saat itulah sahabatnya sejak kuliah, Nadia, datang berkunjung. “Lis… aku dengar kabar dari tetangga. Kamu nggak apa-apa?” tanya Nadia, duduk di sampingnya. Khalisa menutup wajahnya. “Dia selingkuh, Nad. Suamiku selingkuh. Dan parahnya… keluarganya dukung dia. Mereka hina aku karena belum bisa kasih anak.” Nadia mengepalkan tangan. “Astaga, Lis. Mereka itu keterlaluan! Kamu yang setia, yang sabar, malah disia-siain. Kamu harus bangkit, Lis. Jangan biarkan mereka injak harga dirimu.” “Aku bingung, Nad. Aku nggak punya orang tua, nggak punya siapa-siapa. Mereka bilang aku nggak bisa hidup tanpa Fahri.” Nadia menatapnya tajam. “Mereka salah besar! Kamu bisa, Lis. Kamu punya rumah, kamu punya otak, kamu punya kemampuan. Jangan remehkan dirimu sendiri. Kalau perlu, kamu buktikan… kamu bisa bikin Fahri nyesel sampai hancur!” Khalisa menatap sahabatnya, matanya masih berkaca-kaca, tapi ada cahaya lain yang mulai menyala. “Aku takut, Nad… tapi aku juga marah. Aku nggak terima diperlakukan kayak gini.” Nadia mengangguk. “Bagus. Gunakan marahmu itu buat bangkit. Jangan buang air matamu percuma untuk laki-laki pengkhianat.”Malam itu, Khalisa duduk di ruang kerjanya. Ia menatap layar laptop, mengingat semua kata-kata hinaan yang keluar dari mulut mertuanya. “Pengangguran.” “Tidak bisa kasih keturunan.” “Hanya numpang hidup dari Fahri.” Khalisa mengepalkan tangan. “Baik. Kalau mereka pikir aku lemah, aku bakal tunjukkan siapa aku. Aku mungkin bukan siapa-siapa sekarang… tapi aku bisa jadi lebih besar dari Fahri. Aku akan buat dia menyesal. Aku akan miskinkan dia dengan tanganku sendiri.”"Aku bilang nggak apa-apa," jawab Khalisa singkat.Ia belum ingin membicarakan soal Fatimah. Apalagi Zidan masih berdiri di dekatnya dengan pandangan sesekali mengarah ke dalam restoran.Ponsel Khalisa tiba-tiba berdering.Nama Dinda muncul di layar.Khalisa langsung mengangkatnya."Assalamualaikum, Din.""Waalaikumsalam, Lis."Suara Dinda terdengar berbeda dari biasanya. Ada nada panik yang cukup jelas.Khalisa langsung berjalan beberapa langkah menjauh dari Zidan agar bisa mendengar dengan jelas."Kenapa? Suaramu kok kayak panik?""Lis, aku minta maaf."Khalisa mengernyit."Minta maaf buat apa?"Dinda terdiam sebentar."Lis...""Hm?""Aku sudah bikin toko kamu rugi puluhan juta."Langkah Khalisa berhenti."Rugi?""Iya."Khalisa menarik napas, berusaha tetap tenang."Gimana ceritanya, Din?""Aku sudah ketipu."Khalisa tidak langsung menyalahkan sahabatnya. Ia tahu Dinda sedang panik."Kamu tenang dulu. Ceritain pelan-pelan."Dinda menarik napas panjang dari seberang telepon."Aku ket
Fatimah berhenti beberapa langkah dari meja mereka."Iya."Namun sebelum benar-benar pergi, ia menambahkan dengan santai,"Lebih tepatnya, aku yang punya tempat ini."Zidan yang semula hendak mengambil sendok langsung menoleh."Kamu?"Fatimah mengangguk."Iya."Zidan terlihat cukup terkejut. Pandangannya beralih ke sekeliling restoran yang semakin ramai. Baru sekarang ia menyadari bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya bukan sekadar pegawai."Sejak kapan kamu punya restoran di sini?""Sudah lama. Sekitar empat tahun lalu."Zidan mengangguk pelan."Empat tahun?""Iya."Khalisa yang sejak tadi diam akhirnya ikut memperhatikan percakapan mereka. Sesekali matanya melihat Fatimah, kemudian beralih kepada Zidan."Bukannya waktu itu kamu masih kuliah, Fatimah?" tanya Zidan.Fatimah tersenyum."Iya, aku masih kuliah."Ia menarik kursi kosong di meja sebelah sebelum duduk sebentar. Restoran sedang ramai, tetapi ia tampaknya tidak keberatan menjelaskan."Sambil kuliah, aku mulai bangun rest
Iya, bagian tadi memang masih terlalu dibuat-buat. Saya akan turunkan kadar dialog dan candanya, lebih banyak narasi, dan percakapannya dibuat seperti pasangan yang sudah nyaman satu sama lain.Zidan berdiri dari tempatnya."Sayang, ayo balik. Kita ke kota."Khalisa ikut berdiri sambil mengenakan kembali sepatunya."Ke kota?""Iya. Cari makan."Khalisa mengambil ponselnya dan membuka maps."Jauh nggak?""Nggak terlalu. Sekitar empat puluh menit."Khalisa melihat rute yang tertera di layar."Empat puluh menit?""Iya.""Kirain dekat."Zidan hanya tersenyum kecil.Mereka berjalan kembali ke rumah melalui jalan yang sama. Setelah sampai, Zidan mengambil kunci mobil, sementara Khalisa mengambil tas kecilnya.Tidak lama kemudian mereka berangkat.Mobil melewati jalan desa yang masih sepi. Perkebunan dan rumah-rumah batu perlahan tertinggal di belakang. Beberapa menit pertama, Khalisa lebih banyak diam sambil menikmati pemandangan dari balik jendela.Setelah sekitar dua puluh menit, jalan mu
Zidan merangkul bahu Khalisa ketika mereka berjalan menyusuri jalan kecil menuju perkebunan.Khalisa tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan pemandangan di sekelilingnya. Udara pagi terasa dingin, tetapi sinar matahari mulai menghangatkan jalan yang mereka lewati.Beberapa saat kemudian, Zidan menoleh kepadanya."Bahagia?"Khalisa ikut menoleh. Bukannya menjawab, ia malah tersenyum lebar."Menurut Mas?"Zidan memperhatikan wajah istrinya beberapa detik."Kelihatannya sih iya.""Kelihatannya?"Khalisa memasang wajah pura-pura kesal."Mas ini gimana, sih? Lihat saja wajahku."Ia menunjuk pipinya sendiri."Ini wajah orang bahagia."Zidan tertawa."Iya, iya. Aku percaya."Khalisa ikut tertawa. Setelah itu mereka kembali berjalan tanpa banyak bicara.Beberapa menit kemudian, jalan kecil itu membawa mereka sampai ke sebuah perkebunan yang cukup luas.Khalisa langsung berhenti.Matanya membesar melihat beberapa ekor sapi yang sedang merumput. Di sisi lain, sebuah aliran sungai kecil
Sore berganti malam.Desa itu semakin sepi. Lampu-lampu rumah mulai menyala, sementara jalanan di depan rumah mereka hampir tidak dilewati kendaraan.Khalisa sedang duduk di ruang tamu ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.Ia menoleh ke arah jendela."Mas, ada mobil."Zidan yang sedang memainkan ponselnya mengangkat kepala."Iya.""Siapa?""Orang yang biasa bantu aku di sini."Tak lama kemudian, seorang pria masuk membawa beberapa kantong besar."Pak Zidan, pesanannya sudah datang.""Iya, taruh di meja."Khalisa ikut berdiri.Begitu melihat makanan yang dibawa, ia langsung mengernyit."Mas...""Hm?""Kamu pesan sebanyak ini?"Zidan melihat meja yang hampir penuh."Kayaknya iya.""Kayaknya?""Aku nggak ingat pesan sebanyak itu."Khalisa menatapnya."Terus siapa yang pesan?"Zidan diam sebentar."Ya... mungkin aku."Khalisa terkekeh."Ini makanan atau mau buka warung?""Kalau habis ya nggak masalah.""Mana mungkin habis malam ini.""Besok tinggal dipanasin."Khalisa meng
Keesokan paginya, suasana di depan kontrakan masih cukup sepi.Arlina sudah bersiap sejak pagi. Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana, lalu membawa tas kecil yang berisi beberapa perlengkapan.Di depan kontrakan, sebuah motor bekas terparkir.Motor itu memang tidak baru. Catnya sudah sedikit kusam dan beberapa bagian bodinya memiliki goresan.Namun bagi Arlina, motor tersebut sangat berarti.Ia membelinya dengan harga murah dan membayarnya secara cicilan sedikit demi sedikit."Yang penting bisa dipakai kerja," gumamnya.Arlina memasukkan kunci ke kontak.Baru saja ia hendak menyalakan mesin, terdengar suara seseorang dari belakang."Arlina?"Arlina langsung menoleh.Matanya membulat."Kak Fahri?"Fahri berdiri beberapa langkah darinya.Wajah laki-laki itu terlihat jauh berbeda dibanding terakhir kali Arlina melihatnya.Tubuhnya tampak lebih kurus.Wajahnya kusut.Matanya terlihat lelah.Fahri berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu adiknya."Kamu mau ke mana pagi-pagi?""Kerja,
“Bu, memang semua ini punya Khalisa,” kata Fahri akhirnya, suaranya terdengar terburu-buru, seolah ingin segera menutup situasi yang makin menekan. “Tapi selama ini aku yang menafkahi.”Kalimat itu jatuh begitu saja di ruangan yang sudah tegang.Khalisa terdiam.Bukan karena tidak punya jawaban, ta
Khalisa belum sempat menjawab ketika dari sudut ruang keluarga terdengar suara tawa kecil. Arini dan Arlina masih duduk santai di sofa, mata mereka terpaku ke layar televisi. Sinetron sore diputar cukup keras. Sesekali mereka saling melirik, tersenyum, bahkan terkekeh kecil seolah kegaduhan di ruma
Khalisa menoleh perlahan, menatap lurus ke mata Nayla. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum tulus, melainkan senyum getir. “Kita lihat nanti saja. Siapa yang benar-benar sendirian pada akhirnya.” Nayla terdiam, tak menyangka Khalisa bisa balik menohok. Malam itu, Khalisa duduk di kursi empuk r
Khalisa mendengar semuanya. Tangannya gemetar saat menyendok nasi ke piringnya sendiri. Air mata hampir jatuh lagi, tapi ia buru-buru menegakkan kepala.Ia duduk, lalu mulai makan. Satu suapan, dua suapan. Hatinya masih perih, tapi ia menelan semuanya dengan mantap. “Nggak apa-apa. Aku masih punya







