Home / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 3. Bangkit dari keterpurukan

Share

3. Bangkit dari keterpurukan

last update Last Updated: 2025-09-22 16:25:40

Air matanya berhenti. Wajahnya tidak lagi hanya menyimpan luka, tapi juga tekad.Khalisa menatap bayangan dirinya di kaca jendela.

“Mulai hari ini… aku bukan lagi Khalisa yang sama, tidak akan tunduk lagi padamu mas!”. Dinda mengangguk mendukung keputusan sahabatnya itu.

Selang dua hari setelah khalisa dari rumah mertuanya tiba-tiba Suara klakson mobil berhenti tepat di depan pagar rumah besar Khalisa. Dari jendela lantai dua, ia bisa melihat mobil mewah hitam berkilau berhenti. Hatinya langsung berdebar tak enak. Nafasnya tercekat saat pintu mobil terbuka.

Fahri turun, dengan wajah tenang seakan tak terjadi apa-apa. Namun yang membuat darah Khalisa berdesir panas, ada Nayla yang ikut turun, bergelayut manja di lengan Fahri. Perut buncitnya jelas terlihat, dan ia tersenyum puas—senyum penuh kemenangan.

Belum cukup, Bu Laila dan Pak Arman, mertuanya, ikut keluar. Dua adik iparnya, Arini dan Arlina, ikut turun sambil cekikikan. Di tangan mereka ada koper besar, tas pakaian, bahkan beberapa kardus.

Khalisa berdiri kaku di balik pintu, tangannya bergetar saat gagang pintu diputar.

“Assalamu’alaikum!” suara Bu Laila lantang, seakan rumah itu memang miliknya. Khalisa membuka pintu perlahan. Wajahnya pucat. “Wa’alaikumussalam… ada apalagi datang ke sini rame-rame?”

Nayla menempel makin erat di lengan Fahri. “Lis, kamu nggak usah kaget. Kami cuma datang, ya, silaturahmi lah agar hubungan keluarga kita lebih harmonis. Rumah ini kan rumah bersama. Jadi wajar kalau kami juga di sini.”

Khalisa ternganga. “Apa maksud kamu? Ini rumah aku! Rumah yang aku beli dengan hasil jerih payahku! Kalian nggak punya hak seenaknya masuk!”

Bu Laila langsung maju, menunjuk hidung menantunya. “Jangan sombong, Khalisa! Kamu pikir tanpa Fahri kamu bisa apa? Rumah ini memang dibeli atas nama kamu, karena kamu istri Fahri Artinya ini rumah keluarga. Fahri punya hak penuh bawa kami masuk ke sini.”

Pak Arman hanya duduk di sofa sambil menyalakan rokok, menghembuskan asap dengan santai. “Sudahlah, Lis. Jangan ribut di depan orang. Toh ini juga rumah suamimu.”

“Rumah suamiku?” suara Khalisa bergetar. “Pak, Bu… kenapa kalian seenaknya begitu? Aku ini istrinya, bukan pembantu yang bisa diatur sesuka hati.” Arini dan Arlina cekikikan sambil menenteng koper.

“Aduh, repot banget sih Mbak Khalisa. Santai aja, toh rumahnya masih luas. Lagian, kalau ada Nayla, suasananya pasti makin ramai. Sebentar lagi ada bayi loh, cucu pertama Mama sama Papa!” Tawa mereka pecah.

Khalisa menahan napasnya, dadanya naik turun cepat. “Kalian semua tega banget. Mas Fahri, kamu diam aja? Kamu biarin keluargamu injak harga diriku di rumahku sendiri?” Fahri melangkah maju, mencoba meraih tangan istrinya. “Lis… tolong denger aku dulu. Aku bawa mereka ke sini supaya kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan emosi dulu, ayo masuk ke kamar. Kita bicara berdua.”

Khalisa menepis tangannya kasar. “Jangan sentuh aku, Fahri! Kamu sudah cukup bikin aku hancur kemarin. Sekarang kamu datang, bawa dia, bawa Nayla dan keluargamu, masuk seenaknya ke rumahku?!”

Nayla pura-pura tersenyum manis, tangannya mengelus perut buncit. “Lis, kamu nggak perlu marah-marah. Aku di sini juga karena Fahri yang ajak. Lagian, sebentar lagi aku lahiran. Masa iya suami aku ninggalin aku sendirian? Kamu kan tahu aku butuh dia.”

“Suami kamu?!” suara Khalisa meninggi. “Dia suamiku, Nayla! Sah secara agama, sah secara negara! Kamu itu cuma—” suaranya tercekat karena air mata menutupi pandangannya. Fahri buru-buru memotong. “Lis, jangan begitu! Aku nggak pernah niat nyakitin kamu. Aku salah, aku khilaf. Tapi aku mau tanggung jawab. Aku tetap ingin kamu jadi istriku. Aku cuma… aku juga harus ada buat Nayla. Dia butuh aku, Lis. Anakku ada di kandungannya.”

“Anakmu?” Khalisa menatapnya dengan mata merah, suara pecah. “Anakmu ada di rahim perempuan yang bukan istrimu! kalian pezina! Dan sekarang kamu bawa dia ke rumah ini, ke rumahku, minta aku nerima, aku jijik liat kalian?!” amarah khalisa memuncak.

Bu Laila maju, suaranya dingin. “Khalisa, kamu harus tahu diri. Kamu itu sudah 4 tahun menikah, tapi belum juga kasih cucu. Nayla bisa. Jadi wajar kalau Fahri lebih perhatiin dia. Kamu jangan egois, syukur karena Fahri masih mau bertanggung jawab dengan kamu."

“Aku egois?!” Khalisa nyaris menjerit. “Aku ini yang ditipu, dikhianati, dipermalukan! Aku yang ditinggalkan tanpa kabar sebulan penuh! Aku yang setiap malam berdoa supaya suamiku pulang dengan selamat! Dan sekarang aku yang dituduh egois?! Astaghfirullah, Bu… apa hati kalian sudah sekeras batu?!”

Pak Arman menghembuskan asap rokok, wajahnya datar. “Sudahlah, Lis. Nerima aja. Kamu kan masih istri sah. Kalau Fahri punya anak dari Nayla, apa ruginya buatmu? Malah kamu terbantu, nggak usah repot lahirkan anak sendiri.”

Khalisa membeku. Kata-kata itu menghantam dadanya lebih keras daripada pukulan. Ia menatap mereka satu per satu, air mata mengalir tanpa henti.

“Cukup…” bisiknya. “Kalian semua… kejam.” Ia menatap Fahri dengan mata penuh kebencian. “Mas Fahri, mulai hari ini… anggap saja aku nggak pernah jadi istrimu dan talak aku sekarang juga!, Aku lebih baik hidup sendirian daripada terus diinjak harga diriku begini. Keluarkan mereka semua dari rumahku sekarang… atau aku usir paksa kalian pergi!!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   65. Gadai

    Fahri berbalik tanpa menunggu reaksi siapa pun. Langkahnya cepat, kasar. Pintu kaca terbuka lalu tertutup keras di belakangnya. Bel kecil di atas pintu berdenting nyaring, memantul di udara toko yang masih tegang.Di luar, Fahri menaiki motornya. Mesin langsung meraung. Gas ditarik penuh, suaranya memekakkan telinga sebelum motor itu melesat pergi, meninggalkan bau bensin dan amarah yang belum reda.Khalisa berdiri diam beberapa detik, menatap pintu yang kini tertutup rapat. Dadanya terasa sesak, tapi ia memaksa napasnya tetap teratur.“Maaf, Zidan,” ucapnya akhirnya, pelan.Zidan menoleh, ekspresinya tenang.“Gak apa-apa, Khalisa,” jawabnya. “Aku paham kok.”Khalisa menoleh ke arah pelanggan. Ia sedikit meninggikan suara, cukup agar semua mendengar.“Aku minta maaf atas kekacauan ini,” katanya tegas. “Silakan dilanjutkan belanjanya.”Seorang pelanggan perempuan mengangguk sambil tersenyum tipis.“Baik, Mbak. Lain kali kalau dia datang, langsung kunci pintu saja,” celetuknya setengah

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 64. Fahri mengacau

    Motor berhenti di depan rumah menjelang siang. Fahri turun lebih dulu, langkahnya berat. Nayla menyusul dari belakang, wajahnya kusut, amplop cokelat masih di tangan Fahri. Begitu pintu tertutup, Nayla langsung bicara. “Ini belum cukup, Mas.” Fahri berhenti di tengah ruang tamu. Ia menoleh cepat. “Ibu ambil uang Khalisa berapa sih, Nay?” tanyanya kesal. “Dari awal sampai sekarang nggak ada yang jujur.” Nayla menghela napas. “Banyak, Mas. Aku lihat sendiri. Tebal. Ibu ambil dari tas waktu beli tas terakhir itu.” Fahri mengusap wajahnya kasar. “Ibu benar-benar cari masalah,” gumamnya. “Terus mau cari uang dari mana lagi?” Nayla terdiam sebentar, lalu bicara hati-hati. “Ya sudah, bawa saja ini ke Khalisa, Mas. Bilang nanti dicukupkan kalau sudah gajian.” Fahri langsung menoleh tajam. “Tapi aku sudah dipecat, Nay!” suaranya meninggi. “Aku nggak punya gajian!” Nayla mendekat setengah langkah. “Ya yakinkan saja belum dipecat,” katanya cepat. “Atau bilang masih pro

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 63. Menjual milik Laila

    Lampu ruang tamu menyala terang, tapi rasanya dingin. Nayla mondar-mandir dari sofa ke jendela, lalu kembali lagi. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang membesar, wajahnya cemas. “Gimana, dong, Mas?” tanyanya akhirnya. “Ibu beneran bisa ditahan.” Fahri duduk di ujung sofa. Siku bertumpu di lutut, kepala tertunduk. Sejak keluar dari kantor polisi, kepalanya seperti dipukul bertubi-tubi. Tidak ada solusi yang terasa benar. Belum sempat ia menjawab, ayahnya melintas dari arah dapur. Di tangannya ada sebungkus rokok, langkahnya santai, seolah malam itu tidak terjadi apa-apa. “Pa,” Fahri langsung berdiri. “Uang yang ibu kasih kemarin harus dikembalikan.” Ayahnya berhenti. Menoleh sebentar, lalu mendengus kecil. “Dikembalikan?” katanya heran. “Loh, itu kan sudah papa pakai. Buat rokok. Sama beli burung satu lagi, tuh.” Nada bicaranya ringan. Tidak ada rasa bersalah. Bahkan tidak ada pertanyaan. Fahri menatap ayahnya tajam. “Papa tahu nggak ibu sekarang ditahan gara-gara

  • Ku Miskinkan Suamiku   62. Di tinggalkan

    “Terus ibu harus gimana, Fahri?!”Suara Laila meledak lagi, memantul di ruang tunggu tahanan yang sempit. Beberapa orang yang sedang mengurus laporan menoleh. Petugas jaga langsung bangkit dari kursinya.“Bu, tolong jaga suara,” katanya tegas. “Ini masih kantor polisi.”Laila menoleh sekilas, lalu kembali ke Fahri. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat, keringat di pelipisnya terlihat jelas.“Apa kamu dengar, Fahri?” suaranya meninggi lagi. “Ibu nggak mau ditahan! Ibu nggak mau malam ini tidur di sini!”Fahri berdiri tepat di depannya. Jarak mereka hanya dipisahkan jeruji besi pendek—bukan sel, hanya pembatas ruang tahanan sementara. Tapi rasanya tetap seperti tembok tinggi.“Bu,” kata Fahri berat, “ibu sendiri yang bikin ini semua jadi begini.”“Itu bukan jawaban!” teriak Laila.Lalu, seolah baru mendapat ide, matanya menyipit.“Uang,” katanya cepat. “Kita kumpulin uangnya.”Fahri mengernyit.“Maksud ibu?”“Uang yang ibu kasih kemarin!” suara Laila mendesak. “Kalian semua harus balikin!

  • Ku Miskinkan Suamiku   61. Tidak mau di penjara

    Fahri berdiri lama di depan jeruji. Dadanya naik turun. Ia tahu, tidak ada jalan pintas lagi. “Aku mau minta mediasi,” katanya akhirnya pada petugas yang berjaga. “Tolong hubungi Khalisa.” Petugas menatap Fahri beberapa detik, menilai. Lalu mengangguk pelan. “Kami coba. Tapi keputusan tetap di pelapor.” Fahri mengangguk. Itu sudah cukup. Di sisi lain kota, ponsel Khalisa bergetar saat ia sedang duduk di ruang kantor toko. Dinda masih berdiri di dekat pintu, Nadia menyeduh air hangat. Nomor tak dikenal. Khalisa mengangkatnya. “Halo.” “Selamat malam, Bu Khalisa,” suara petugas terdengar formal. “Kami dari kantor polisi. Terkait laporan yang Ibu buat, pihak terlapor meminta mediasi. Apakah Ibu bersedia datang?” Khalisa diam sebentar. Tangannya mengerat di ponsel. “Untuk apa?” tanyanya singkat. “Untuk upaya damai. Jika ada kemungkinan penyelesaian,” jawab petugas. “Kondisinya jelas,” kata Khalisa datar. “Tidak ada damai tanpa tanggung jawab.” “Kami sampaikan ke pihak sana. A

  • Ku Miskinkan Suamiku   60. Cabut laporan

    Fahri masuk ke toko tanpa salam.Pintu kaca terbuka cukup keras hingga beberapa pelanggan menoleh. Suara bel kecil berdenting nyaring, tapi Fahri tidak peduli. Matanya langsung menyapu ruangan, mencari satu nama.“Lis!” teriaknya.Dinda yang sedang di balik kasir terkejut. “Fahri"Fahri tidak berhenti. Ia melangkah lebih dalam. Rak-rak pakaian berjajar rapi, beberapa pelanggan langsung mundur pelan, merasakan ketegangan yang tiba-tiba turun.“Lis!” suara Fahri lebih keras.Dari pintu belakang, Khalisa muncul. Ia sudah tahu Fahri akan datang. Wajahnya tenang, hijabnya terpasang rapi, ekspresinya dingin, tidak kaget, tidak panik.“Ada apa?” tanyanya santai. “Soal ibumu?”Nada itu membuat Fahri mendidih.“Lis… kok kamu tega mau memenjarakan ibu aku?” kata Fahri tegas, matanya merah, rahangnya mengeras.Khalisa melipat tangan di dada. “Karena ibumu mencuri.”Kata itu jatuh telak.“Cukup, Khalisa!” Fahri melangkah lebih dekat. “Ibu aku cuma ngira itu hak aku. Kenapa kamu malah besarin masa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status