공유

27. Kembali

last update 게시일: 2026-01-01 21:50:58

Di atas sajadah, Khalisa shalat dengan tenang. Begitu sujud terakhir, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia tidak menangis karena Fahri. Ia menangis karena hidup terasa terlalu berat akhir-akhir ini.

Dalam doanya, ia bicara lirih, jujur, tanpa susunan kata indah.

“Ya Allah… Khalisa capek. Khalisa sudah berusaha kuat. Kehilangan orang tua, berjuang sendiri, menikah dengan harapan punya keluarga, tapi ternyata diuji lagi.”

Tangannya bergetar. “Kalau ini ujian, tolong beri Khalisa kekuatan. Jan
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 104. Terima dengan ikhlas

    Yono memecah keheningan yang sejak tadi memenuhi ruang tamu.“Bagaimana dengan Khalisa?”Suasana kembali hening. Semua mata tertuju pada Khalisa.Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha menenangkan gugup yang sejak tadi ia sembunyikan. Tatapannya jatuh pada Zidan.Pria itu juga sedang menatapnya.Tenang.Lurus.Tidak mendesak, tetapi penuh keseriusan.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Seolah hanya ada tatapan mereka berdua di tengah ruangan itu.Khalisa mencoba mencari keraguan di wajah Zidan.Namun yang ia temukan justru keteguhan.Tidak ada janji manis.Tidak ada rayuan berlebihan.Tetapi cara Zidan menatapnya membuat Khalisa merasa dihargai dan diperlakukan dengan sungguh-sungguh.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian menghadapi hidupnya.Khalisa menarik napas perlahan.Lalu dengan suara pelan, tetapi jelas, ia berkata,“Aku terima, Om.”Hening sesaat memenuhi ruangan.Tatapan Khalisa belum le

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 103. Meminang

    Khalisa masih menggenggam lengan Zidan. Tatapannya tertuju pada wajah pria itu—ada luka tipis di sudut bibirnya, tetapi ekspresinya tetap tenang. Tidak ada amarah, tidak pula emosi yang berlebihan. Justru ketenangan itu membuat Khalisa terdiam lebih lama. Ia menyadari, sikap Zidan bukan sekadar diam, melainkan bentuk kendali diri yang ia pilih.“Ayo masuk,” ucap Khalisa pelan. Suaranya kini terdengar lebih lembut. Ia kemudian menoleh ke arah ibu Zidan. “Tante, silakan.”Ibu Zidan mengangguk kecil. Raut wajahnya tetap tenang, meski jelas ia menyaksikan semua yang terjadi sejak awal. Tanpa banyak bicara, Zidan melangkah masuk. Sebelum itu, ia sempat melirik sekilas ke arah Adit—singkat, datar, lalu berlalu begitu saja.“Cemen lu!”Suara Adit terdengar keras dari belakang, sengaja dilontarkan untuk memancing. Langkah Khalisa sempat terhenti. Ia menoleh.Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Khalisa benar-benar melihat Adit dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sosok yang pernah ia tungg

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 102. Perkelahian

    Adit membeku di tempatnya.Wajahnya yang tadi tegang perlahan memucat. Tatapannya berpindah dari meja yang penuh hidangan… ke Khalisa… lalu ke Yono.“Khalisa… aku minta maaf,” ucapnya cepat. “Kemarin keadaannya mendesak.”Tidak ada yang langsung menjawab.Sebelum Khalisa sempat berbicara—“Cukup.”Suara Yono tegas. Tidak keras, tapi langsung menghentikan suasana.“Sekarang kamu pergi dari sini.”Adit menelan ludah, tapi tidak mundur.“Om, saya tahu saya salah. Tapi saya harus jelasin semuanya.”“Tidak perlu penjelasan lagi,” potong Yono, lebih dingin.Adit mengepalkan tangan. Napasnya mulai tidak teratur, tapi ia tetap bertahan.“Khalisa belum dengar dari saya, Om. Dia berhak tahu.”Yono melangkah satu langkah mendekat.“Yang dia butuh itu kehadiran kamu kemarin. Bukan penjelasan hari ini.”Adit terdiam sesaat.Lalu suaranya mulai naik. “Kemarin itu bukan hal sepele. Saya gak mungkin ninggalin semuanya kalau bukan karena penting.”Tami menggeleng kesal. “Semua orang punya masalah. Tap

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 101. Terlambat

    Setelah pembicaraan tentang lamaran selesai, suasana ruang tamu kembali tenang. Tidak ada lagi yang dibahas, tetapi semua orang memahami satu hal—keputusan sudah ditetapkan.Zidan berdiri dari duduknya.“Om, Tante, Khalisa… aku pamit,” ucapnya sopan. “Insyaallah besok aku datang bersama ibu.”Yono mengangguk. “Iya, Nak. Kami tunggu kedatangan kamu besok dengan niat yang baik.”“Iya, Om, insyaallah,” jawab Zidan singkat.Ia melangkah menuju pintu. Tidak ada tatapan ke arah Khalisa, tidak ada kalimat tambahan. Seperti biasa—tegas, seperlunya, dan langsung.Pintu terbuka, lalu tertutup kembali setelah ia keluar.Khalisa masih duduk di tempatnya. Matanya mengikuti arah pintu, meski sosok itu sudah tidak terlihat. Ia berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.Semua terasa cepat. Terlalu cepat. Seolah semuanya sudah disiapkan tanpa sepengetahuannya.“Om…” suara Khalisa akhirnya terdengar pelan.Yono dan Tami menoleh ke arahnya.“Apa semua ini… rencana Om sama Tante?” tanyanya langsung.Y

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 100. Lamaran

    Zidan terdiam sejenak.Ruang tamu itu kembali hening, seolah semua menunggu jawaban darinya. Namun seperti biasa, ia tidak terburu-buru. Ia bukan tipe pria yang menjawab cepat hanya untuk mengisi kekosongan. Setiap kata yang keluar darinya selalu dipilih dengan hati-hati.Perlahan, ia menarik napas.“Aku cuma menjaga sesuatu… kalau itu menyangkut orang tua,” ucapnya akhirnya.Suaranya tenang, datar, tanpa dramatisasi. Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu dalam.Khalisa terpaku.Kalimat itu sederhana—sangat sederhana. Namun entah bagaimana, langsung menembus hatinya.Ia menunduk pelan. Air matanya kembali menggenang tanpa bisa ditahan.Selama ini, ia terlalu sibuk dengan luka yang ia rasakan. Dengan kehilangan yang ia tanggung. Namun ia tidak pernah benar-benar berpikir… bagaimana cara menjaga apa yang telah ditinggalkan.Rumah itu.Kenangan itu.Orang tuanya.Dan kini—justru orang lain yang menjaganya.Diam-diam.Tanpa diminta.Tanpa diketahui.Sementara ia sendiri… hany

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 99. Zidan?

    Khalisa masih berdiri di ambang pintu, tubuhnya terasa kaku seolah tak mampu bergerak. Pandangannya terpaku pada sosok Zidan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, langkah kaki terdengar dari dalam rumah.“Zidan? Sudah datang, Nak?” suara Yono terdengar hangat.Khalisa langsung menoleh. Keningnya berkerut.Yono berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Zidan dengan akrab. “Masuk dulu. Jangan di luar saja.”“Baik, Om,” jawab Zidan sopan.Tanpa ragu, Zidan melangkah masuk, melewati Khalisa yang masih berdiri mematung. Posturnya tegap, langkahnya mantap, seolah ia sudah sangat familiar dengan rumah itu.Khalisa menatap punggungnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Heran.Bingung.Dan sedikit… tidak percaya.Ia menutup pintu perlahan, lalu berbalik. Matanya masih mengikuti langkah Zidan yang kini sudah duduk di ruang tamu bersama Yono.“Eh, Nak Zidan sudah datang,” sambut Tante Tami dengan senyum ramah dari arah dapur.Khalisa semakin terdiam.Nama

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 81. Pilihan

    Ruangan itu terasa semakin sempit.Khalisa menarik napas pelan, lalu menunduk sopan.“Kalau gitu… aku permisi,” ujarnya lirih.Adit langsung melangkah maju.“Jangan pulang, Lis. Aku yang mengundang kamu makan. Dan kita belum selesai.”“Adit, jaga perasaan Kayla!” bentak Bu Reni tajam.“Ma, cukup!”

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 80. Makan bersama

    Khalisa akhirnya menggeleng pelan.“Tapi maaf, Dit. Aku mau sendiri hari ini,” jelasnya lembut.Adit mendesah kecil. “Hmm… nggak bisa banget ya?”Khalisa tersenyum tipis. “Nggak.”Adit menggaruk tengkuknya, lalu pura-pura baru ingat sesuatu. “Oh iya, Lis. Aku sebenarnya mau ngajak kamu ke rumahku m

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 79. Kehadiran Adit

    Dua hari setelah kejadian di depan toko itu, bayangan wajah Fahri yang penuh amarah masih terlintas di benak Adit. Bukan karena takut. Tapi karena ia melihat sendiri bagaimana Khalisa berdiri sendirian menghadapi masa lalunya—tanpa gemetar, tanpa berlindung di balik siapa pun. Itu membuatnya semakin

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 78. Penyesalan

    Malam itu seperti menolak selesai.Tangis Nafa menggema di kamar sempit itu, memantul di dinding-dinding yang sejak awal tak pernah benar-benar hangat. Nayla berdiri dengan tubuh masih gemetar. Bekas operasi terasa perih, tapi hatinya jauh lebih sakit daripada luka di perutnya.“Sudah, Nak… Ibu di

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status