Se connecterSetelah pembicaraan tentang lamaran selesai, suasana ruang tamu kembali tenang. Tidak ada lagi yang dibahas, tetapi semua orang memahami satu hal—keputusan sudah ditetapkan.Zidan berdiri dari duduknya.“Om, Tante, Khalisa… aku pamit,” ucapnya sopan. “Insyaallah besok aku datang bersama ibu.”Yono mengangguk. “Iya, Nak. Kami tunggu kedatangan kamu besok dengan niat yang baik.”“Iya, Om, insyaallah,” jawab Zidan singkat.Ia melangkah menuju pintu. Tidak ada tatapan ke arah Khalisa, tidak ada kalimat tambahan. Seperti biasa—tegas, seperlunya, dan langsung.Pintu terbuka, lalu tertutup kembali setelah ia keluar.Khalisa masih duduk di tempatnya. Matanya mengikuti arah pintu, meski sosok itu sudah tidak terlihat. Ia berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.Semua terasa cepat. Terlalu cepat. Seolah semuanya sudah disiapkan tanpa sepengetahuannya.“Om…” suara Khalisa akhirnya terdengar pelan.Yono dan Tami menoleh ke arahnya.“Apa semua ini… rencana Om sama Tante?” tanyanya langsung.Y
Zidan terdiam sejenak.Ruang tamu itu kembali hening, seolah semua menunggu jawaban darinya. Namun seperti biasa, ia tidak terburu-buru. Ia bukan tipe pria yang menjawab cepat hanya untuk mengisi kekosongan. Setiap kata yang keluar darinya selalu dipilih dengan hati-hati.Perlahan, ia menarik napas.“Aku cuma menjaga sesuatu… kalau itu menyangkut orang tua,” ucapnya akhirnya.Suaranya tenang, datar, tanpa dramatisasi. Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu dalam.Khalisa terpaku.Kalimat itu sederhana—sangat sederhana. Namun entah bagaimana, langsung menembus hatinya.Ia menunduk pelan. Air matanya kembali menggenang tanpa bisa ditahan.Selama ini, ia terlalu sibuk dengan luka yang ia rasakan. Dengan kehilangan yang ia tanggung. Namun ia tidak pernah benar-benar berpikir… bagaimana cara menjaga apa yang telah ditinggalkan.Rumah itu.Kenangan itu.Orang tuanya.Dan kini—justru orang lain yang menjaganya.Diam-diam.Tanpa diminta.Tanpa diketahui.Sementara ia sendiri… hany
Khalisa masih berdiri di ambang pintu, tubuhnya terasa kaku seolah tak mampu bergerak. Pandangannya terpaku pada sosok Zidan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, langkah kaki terdengar dari dalam rumah.“Zidan? Sudah datang, Nak?” suara Yono terdengar hangat.Khalisa langsung menoleh. Keningnya berkerut.Yono berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Zidan dengan akrab. “Masuk dulu. Jangan di luar saja.”“Baik, Om,” jawab Zidan sopan.Tanpa ragu, Zidan melangkah masuk, melewati Khalisa yang masih berdiri mematung. Posturnya tegap, langkahnya mantap, seolah ia sudah sangat familiar dengan rumah itu.Khalisa menatap punggungnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Heran.Bingung.Dan sedikit… tidak percaya.Ia menutup pintu perlahan, lalu berbalik. Matanya masih mengikuti langkah Zidan yang kini sudah duduk di ruang tamu bersama Yono.“Eh, Nak Zidan sudah datang,” sambut Tante Tami dengan senyum ramah dari arah dapur.Khalisa semakin terdiam.Nama
Pagi itu datang dengan harapan yang diam-diam tumbuh di hati Khalisa. Sejak bangun tidur, ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda—campuran antara gugup, cemas, dan harap. Hari ini bukan hari biasa, karena seseorang akan datang untuk membuktikan keseriusannya: Adit. Khalisa sudah bersiap sejak pagi, memilih pakaian yang sederhana namun rapi. Ia beberapa kali bercermin, bukan karena ingin terlihat sempurna, melainkan untuk memastikan dirinya cukup pantas menghadapi pertemuan penting itu.Di ruang tamu, Tante Tami sibuk menyiapkan minuman dan camilan, sementara Om Yono duduk tenang, meski sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu berjalan perlahan. Pukul sembilan lewat, namun belum ada tanda-tanda kedatangan. Khalisa mulai menggenggam ponselnya lebih erat, membuka layar, menatap nama Adit, lalu mencoba menghubungi. Namun hasilnya membuat alisnya berkerut—nomor itu tidak aktif.“Mungkin lagi di jalan…” gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri.Waktu terus berjalan. Pukul sepulu
Malam itu terasa lebih hangat dari biasanya, meski di dalam hati Khalisa masih tersisa kegelisahan yang belum benar-benar hilang. Setelah makan malam sederhana bersama Tante Tami dan Om Yono, mereka bertiga duduk santai di ruang tamu. Televisi menyala, menampilkan sinetron yang sebenarnya tak terlalu mereka perhatikan. Camilan tersaji di meja, namun hanya sesekali tersentuh. Khalisa duduk di antara mereka, tangannya menggenggam bantal kecil di pangkuannya. Tatapannya sesekali tertuju ke layar, tetapi pikirannya jelas melayang ke tempat lain. “Khalisa…” suara Yono akhirnya memecah suasana. Khalisa menoleh pelan. “Iya, Om?” “Gimana dengan tawaran Om kemarin?” tanyanya tenang, namun penuh makna. Khalisa menarik napas panjang. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang, hanya saja… ia belum benar-benar siap menjawabnya. “Hmmm…” ia berpikir sejenak, lalu menunduk. “Apa gak bisa lebih lama lagi, Om? Khalisa… pengen sendiri dulu.” Jawaban itu diucapkan hati-hati, seolah takut meluk
Khalisa menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih tidak teratur. Namun semakin ia mencoba tenang, semakin terasa jelas detak jantungnya yang berdebar tak menentu.“Adit…” ucapnya pelan. Suaranya terdengar lebih lemah dari sebelumnya.Ia tidak menatap pria itu, seolah takut jika pandangan mereka kembali bertemu, semua pertahanannya akan runtuh begitu saja.“Kamu pulang aja, ya…”Kalimat itu sederhana, tetapi diucapkan dengan susah payah.Adit terdiam. Tatapannya tertuju pada Khalisa, mencoba memahami apa yang sebenarnya dirasakan wanita itu.“Aku gak mau hubungan tanpa restu,” lanjut Khalisa, masih tanpa menatapnya. “Aku sudah pernah di posisi itu… dan semuanya hancur.”Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.“Aku gak mau mengulang hal yang sama.”Hening.Adit menarik napas dalam.“Lis…” suaranya kini lebih pelan, tidak lagi menekan, tidak lagi terburu-buru. “Kalau aku yang memperjuangkan restu itu… gimana?”Khalisa akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu
“Terus ibu harus gimana, Fahri?!”Suara Laila meledak lagi, memantul di ruang tunggu tahanan yang sempit. Beberapa orang yang sedang mengurus laporan menoleh. Petugas jaga langsung bangkit dari kursinya.“Bu, tolong jaga suara,” katanya tegas. “Ini masih kantor polisi.”Laila menoleh sekilas, lalu
Fahri berdiri lama di depan jeruji. Dadanya naik turun. Ia tahu, tidak ada jalan pintas lagi. “Aku mau minta mediasi,” katanya akhirnya pada petugas yang berjaga. “Tolong hubungi Khalisa.” Petugas menatap Fahri beberapa detik, menilai. Lalu mengangguk pelan. “Kami coba. Tapi keputusan tetap di p
Fahri masuk ke toko tanpa salam.Pintu kaca terbuka cukup keras hingga beberapa pelanggan menoleh. Suara bel kecil berdenting nyaring, tapi Fahri tidak peduli. Matanya langsung menyapu ruangan, mencari satu nama.“Lis!” teriaknya.Dinda yang sedang di balik kasir terkejut. “Fahri"Fahri tidak berhe
Mobil polisi melaju pelan meninggalkan halaman toko. Laila duduk di kursi belakang, napasnya masih tersengal. Tangannya gemetar saat merogoh tas dan mengambil ponsel. Wajahnya kusut, tapi amarahnya belum turun.Ia menekan nama Fahri, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Fahri! Fahri, tolong ibu!” s







