Masukkeesokan paginya, khalisa belum pernah keluar dari kamarnya sejak kemarin, namun suara koper diseret pelan terdengar di lantai bawah, Fahri sudah berpakaian rapi dengan jas kerjanya. Rambutnya disisir ke belakang, wajahnya berusaha terlihat tenang, meski jelas ada gurat lelah dan kegelisahan.
Ia berdiri di depan pintu kamar Khalisa. Tangannya mengetuk pelan. “Lis… aku berangkat dulu. Tolong bukain pintunya sebentar. Aku cuma mau pamit.” Tidak ada jawaban. Hanya hening. Fahri mengetuk lagi, lebih keras. “Lis, jangan begini. Aku tahu kamu marah, tapi aku cuma minta kita pamit baik-baik.” Masih tidak ada suara. Di dalam kamar, Khalisa duduk di atas sajadahnya. Matanya sembab, wajahnya pucat. Air mata menetes lagi, membasahi sajadah yang sudah lama jadi saksi bisunya doa-doa. Bibirnya terus bergetar, menyebut nama Allah dengan suara lirih. “Ya Allah… hanya Engkau tempatku bersandar. Kalau memang rumah tanggaku ini bukan yang terbaik, kuatkan aku untuk melepasnya. Kalau masih ada jalan, tunjukkan jalan itu. Dan jagalah arwah ayah bundaku… mereka satu-satunya alasan aku bertahan selama ini.” Khalisa menggenggam erat mukenanya, tubuhnya bergetar. Ia mendengar jelas suara Fahri di balik pintu, tapi hatinya menolak. Tiba-tiba suara lain terdengar dari lantai bawah. “Sudah, Mas! Ngapain sih dipaksa-paksa!” teriak Nayla, nada bicaranya penuh rasa memiliki. “Iya, Fahri! Biarin aja! Kalau dia nggak mau, nggak usah diladenin,” cetus Laila dari ruang tamu. Fahri mengepalkan tangannya, matanya menatap pintu kamar dengan putus asa. Ia berbisik pelan, “Lis, aku pulang Jumat nanti. Tolong jangan bikin semuanya tambah rumit. Aku… aku masih sayang kamu.” Tapi tetap tidak ada balasan. Fahri akhirnya menuruni tangga dengan wajah dingin. Di bawah, Nayla sudah menunggunya sambil membawa segelas susu hangat.“Minum dulu, Mas. Biar kuat kerja,” ucap Nayla manja, menyodorkan gelas. Fahri hanya menatap sebentar, lalu menolaknya halus. “iya sini cepat. Aku buru-buru." Wajah Nayla langsung berubah berseri, ia cepat menempel lagi di sisi Fahri. “Ya udah, hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa kabarin aku. Aku kan yang paling butuh Mas sekarang.” Laila ikut menyahut sambil melipat tangannya di dada. “Udah jangan dipikirin Khalisa itu. Cepat atau lambat dia pasti kalah juga. Lagian apa dia bisa hidup tanpa kamu? Semua dari kamu kan, Fahri." Fahri hanya diam. Sementara itu, di sofa, Arman duduk dengan santai. TV menyala, menayangkan acara pagi. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun. Tangannya sibuk memegang HP, tertawa kecil melihat sesuatu di layar. Sejak lama, Arman sudah jadi pengangguran. Hidupnya bergantung penuh pada Fahri. Uang bulanan, rokok, bahkan bensin motor tua miliknya—semua dari Fahri. Tak hanya Arman, biaya hidup Laila, bahkan sekolah adik Fahri yang masih SMA juga semua ditanggung oleh Fahri. Selama ini Khalisa lah yang sering putar otak agar uang 20 juta gaji suaminya cukup untuk menghidupi begitu banyak mulut. Padahal ia sendiri hidup sederhana, jarang membeli sesuatu untuk dirinya. Dan kini, ketika suaminya mengkhianati, ketika rumah tangganya runtuh—justru orang-orang inilah yang menikamnya dari belakang. Fahri akhirnya keluar rumah dengan langkah cepat. Pintu ditutup keras, di dalam kamar Khalisa masih menangis di atas sajadah. Suaranya parau, nyaris tak terdengar, tapi penuh luka. “Ya Allah… kenapa mereka tega padaku… padahal aku yang selalu berkorban… aku yang selalu menjaga…” Tangisnya kembali pecah, tiba-tiba Perut Khalisa keroncongan, rasa lapar menusuk hingga membuat kepalanya sedikit pusing. Seharian ia mengurung diri di kamar, hanya ditemani air mata dan doa. Namun, tubuhnya tetaplah manusia. Ia butuh makan. Dengan gerakan berat, Khalisa bangkit. Tangannya mengusap wajahnya yang sembab. Bibirnya bergetar, berbisik pada dirinya sendiri. “Ini rumahku… aku yang punya hak. Seharusnya mereka yang sungkan padaku, bukan aku yang bersembunyi.” Ada kekuatan entah dari mana yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya. Ia berjalan ke kamar mandi, mandi dengan air dingin yang membuat tubuhnya segar kembali. Setelah itu, ia mengenakan gamis rumahan warna biru muda dan bergo sederhana. Raut wajahnya masih pucat, tapi matanya kini lebih tegak. Dengan langkah pasti, Khalisa membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga. Di ruang tamu, Nayla, Laila, dan Arman sedang duduk santai. TV besar menyala dengan volume cukup keras, menayangkan sinetron sore. Meja depan penuh dengan kantong-kantong makanan cepat saji—gorengan, roti, dan minuman kemasan. Nayla duduk selonjoran, satu tangan memegang perut buncitnya, satu tangan lagi sibuk menyuapkan kacang rebus ke mulut. Sesekali ia tertawa kecil melihat adegan lucu di TV.Laila duduk di sampingnya, tangannya sibuk mengupas jeruk sambil ikut berkomentar tentang sinetron. Arman? Ia malah rebahan, kakinya naik ke meja, mulutnya sibuk mengunyah keripik kentang. Semua tampak begitu nyaman. Terlalu nyaman. Khalisa berhenti sebentar di tangga, dadanya sesak melihat pemandangan itu. “Mereka benar-benar memperlakukan aku seperti orang asing di rumahku sendiri,” batinnya perih, namun ia menegakkan tubuh, melangkah lurus menuju dapur tanpa sedikit pun menoleh pada mereka. Tak lama, terdengar suara Laila. “Oh, akhirnya keluar juga dari guanya,” ucapnya dengan nada sinis, meski masih menatap ke arah TV. Khalisa pura-pura tidak mendengar. Ia membuka kulkas, mengambil beberapa bahan: telur, sayur, dan sedikit daging ayam yang tersisa. Tangannya mulai sibuk memasak di dapur. Tapi Laila tidak berhenti. “Kamu itu istri, Lis. Kalau memang mau dihargai, ya bersikaplah seperti istri. Masa keluarga suami sendiri datang, kamu ngurung diri kayak anak kecil? Bukannya melayani, malah ngambek. Nggak heran kalau Fahri jadi bosan.” Tangannya yang sedang memotong bawang sempat terhenti. Gigi Khalisa bergemeletuk menahan amarah. Ia ingin membalas, ingin berteriak, tapi ia memilih diam. Ia menyalakan kompor, menuangkan minyak, dan mulai menumis bawang. Aroma harum memenuhi dapur. Arman tiba-tiba ikut buka suara, tanpa menoleh dari TV. “Udahlah, Lis. Jangan bikin suasana rumah panas terus. Fahri kerja banting tulang buat kita semua. Jangan egois. Keluarga harus saling dukung. Kalau nggak bisa ngikutin, ya… terserah kamu mau tinggal di mana.” Ucapan itu menusuk seperti belati. Khalisa nyaris membanting spatula di tangannya, tapi ia menahan diri. “Ya Allah, kuatkan aku… jangan biarkan aku kalah oleh mereka,” doanya lirih dalam hati. Beberapa menit kemudian, masakan sederhana siap: ayam goreng, tumis sayur, dan sambal. Khalisa menata semuanya di piring, lalu membawa ke meja makan. Nayla melirik sambil tertawa kecil. “Masak buat sendiri? Nggak sekalian masakin buat kita juga, Kak?” Laila menimpali cepat, “Sudahlah Nay, biarin aja. Dia memang nggak bisa jadi istri yang baik. Mikirin perut sendiri aja susah, apalagi mikirin yang lain.”Matahari pagi mulai menghangatkan ruangan melalui celah tirai kamar hotel. Setelah salat Subuh dan berdoa bersama, Khalisa dan Zidan masih duduk berdampingan di atas sajadah. Suasana terasa damai. Tidak ada suara selain pendingin ruangan yang berdengung pelan. Zidan memandangi wajah istrinya yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Perlahan ia mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Khalisa dengan lembut. "Sayang." "Hm?" "Kamu nggak keberatan kan kalau aku ingin punya anak secepatnya?" Pertanyaan itu membuat Khalisa sedikit tertegun. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi hatinya mendadak dipenuhi kegelisahan yang sudah lama ia simpan. Ia teringat masa lalunya. Pernikahannya dengan Fahri. Bertahun-tahun bersama tanpa kehadiran seorang anak. Meski pada akhirnya hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya, luka dan keraguan itu masih tersisa di hatinya. Bagaimana kalau ternyata hasil pemeriksaan itu salah? Bagaiman
Khalisa yang berada dalam pelukannya hanya tersenyum malu. Jujur saja, sampai sekarang ia masih sulit percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Bahwa dirinya kini telah menjadi istri Zidan. Bahwa pria yang selama ini terasa begitu misterius kini memeluknya dengan penuh rasa sayang. Zidan tidak melepaskan pelukannya. Seolah ingin memastikan bahwa Khalisa benar-benar ada di sisinya. "Khalisa." "Hm?" Panggilan itu terdengar begitu lembut. Khalisa mengangkat wajahnya sedikit. Ia mendapati Zidan sedang menatapnya. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Lebih hangat. Lebih dalam. Dan entah kenapa membuat jantungnya kembali berdebar. "Ada apa?" tanya Khalisa pelan. Zidan tersenyum tipis. "Aku mencintaimu." Khalisa membeku. Untuk beberapa detik ia hanya menatap suaminya tanpa berkedip. Mungkin karena ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Zidan malam ini. "Apa?" Senyum Zidan semakin lebar. "Aku mencintaimu, Khalisa." Mata Khalisa p
"Aku ingin jadi istri yang baik buat kamu." Senyum tulus mengembang di bibir Khalisa. Zidan menatapnya beberapa saat. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dalam sorot matanya. "Jadi malam ini kita menunaikan hak dan kewajiban sebagai suami istri?" tanyanya pelan. Khalisa langsung menundukkan kepala. Pipinya kembali memerah. Perlahan ia mengangguk. "Iya." Senyum Zidan melebar. Namun bukan senyum jahil seperti biasanya, melainkan senyum penuh rasa syukur. "Alhamdulillah." Khalisa menahan malu lalu berdiri dari kursinya. "Tapi bersih-bersih dulu." "Siap." Jawaban Zidan begitu cepat hingga membuat Khalisa tertawa kecil. "Semangat sekali." "Tentu saja." Zidan langsung berdiri. "Perintah istri harus dilaksanakan." "Zidan." "Apa?" "Kamu nggak capek?" "Tadi capek." "Sekarang?" Zidan menatapnya sambil tersenyum. "Sekarang hilang." Khalisa langsung menggeleng geli. Pria itu benar-benar berbeda dari kesan dingin yang selama ini ia lihat. Tak lama kemudian Zidan berjalan menuju kamar mandi. Sebelu
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Zidan membawa Khalisa menuju hotel mewah yang telah ia siapkan. Bukan hanya untuk mereka berdua, Zidan juga telah menyewakan beberapa kamar terbaik untuk Tante Tami, Om Yono, Tante Rina, Nadia, Dinda, dan keluarga Khalisa lainnya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena telah menemani Khalisa sampai hari pernikahan mereka.Bahkan sebuah jamuan makan malam khusus juga telah disiapkan untuk keluarga besar Khalisa sebelum mereka beristirahat.Malam mulai turun ketika Khalisa dan Zidan akhirnya masuk ke kamar mereka.Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk resepsi tadi.Khalisa berjalan masuk tanpa banyak bicara.Ia duduk di depan meja rias lalu mulai melepas satu per satu perhiasan yang menghiasi kepalanya sejak pagi.Anting.Mahkota kecil.Jepit rambut.Semua dilepas perlahan hingga yang tersisa hanya hijab yang masih menutupi kepalanya.Zidan yang sejak tadi memperhatikannya menyadari
Wanita berhijab itu masih berdiri di sudut ruangan. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat Zidan berbicara dengan para tamu.Namun di balik senyum itu, ada perasaan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.Matanya perlahan memanas.Bukan karena iri.Bukan karena marah.Melainkan karena kenangan lama yang tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya.Beberapa tahun lalu...Di bawah rindangnya pohon di halaman sebuah kampus Islam ternama, seorang pria berdiri di hadapannya.Zidan.Saat itu usia mereka masih jauh lebih muda."Jadi kamu benar-benar akan berangkat?" tanya Zidan.Fatimah mengangguk pelan."Aku sudah diterima.""Kapan?""Bulan depan."Zidan terdiam cukup lama.Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu."Lalu kita?"Fatimah tersenyum kecil.Senyum yang saat itu justru terasa menyakitkan bagi Zidan."Nggak ada kita.""Fatimah...""Aku serius."Zidan mengepalkan tangannya."Kita sudah dijodohkan keluarga.""Aku tahu.""Orang tua kit
Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana gedung perlahan berubah menjadi lebih santai. Para tamu mulai berpindah ke area jamuan. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu penting terlihat berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan.Khalisa yang kini duduk berdampingan dengan Zidan masih sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu. Namun di balik senyumnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Ia melirik suaminya pelan.Pria itu tampak tenang seperti biasa. Sesekali membalas sapaan tamu dengan sopan, lalu kembali duduk tanpa menunjukkan sedikit pun rasa canggung.Khalisa menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat."Kamu siapa sebenarnya, Zidan?" bisiknya pelan.Zidan menoleh.Tatapan mereka bertemu."Apa itu penting?" tanyanya tenang.Khalisa langsung mengangguk."Iya, penting.""Kenapa?"Karena sekarang aku sudah jadi istrimu."Jawaban itu membuat sudut bibir Zid
Nayla menatap Fahri dengan kening berkerut. Nada suaranya naik, penuh heran.“Kenapa balik lagi, Mas?” tanyanya. “Bukannya mau langsung ke tempat Khalisa, terus bebaskan ibu?”Fahri menghela napas panjang. Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir sebentar, lalu berhenti di dekat jendela.“Duitn
“Terus ibu harus gimana, Fahri?!”Suara Laila meledak lagi, memantul di ruang tunggu tahanan yang sempit. Beberapa orang yang sedang mengurus laporan menoleh. Petugas jaga langsung bangkit dari kursinya.“Bu, tolong jaga suara,” katanya tegas. “Ini masih kantor polisi.”Laila menoleh sekilas, lalu
Fahri berdiri lama di depan jeruji. Dadanya naik turun. Ia tahu, tidak ada jalan pintas lagi. “Aku mau minta mediasi,” katanya akhirnya pada petugas yang berjaga. “Tolong hubungi Khalisa.” Petugas menatap Fahri beberapa detik, menilai. Lalu mengangguk pelan. “Kami coba. Tapi keputusan tetap di p
Tidak membutuhkan waktu lama, Nadia benar-benar membawa pembeli.Siang itu, Khalisa sedang mengecek stok di laptop ketika Nadia mendekat sambil menurunkan suara.“Lis, orangnya datang. Yang mau lihat rumah.”Khalisa menutup laptopnya. “Oke.”Seorang laki-laki berdiri tidak jauh dari pintu toko. Usi







