Beranda / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 5. Aku yang punya hak

Share

5. Aku yang punya hak

last update Tanggal publikasi: 2025-12-18 20:50:28

keesokan paginya, khalisa belum pernah keluar dari kamarnya sejak kemarin, namun suara koper diseret pelan terdengar di lantai bawah, Fahri sudah berpakaian rapi dengan jas kerjanya. Rambutnya disisir ke belakang, wajahnya berusaha terlihat tenang, meski jelas ada gurat lelah dan kegelisahan.

Ia berdiri di depan pintu kamar Khalisa. Tangannya mengetuk pelan. “Lis… aku berangkat dulu. Tolong bukain pintunya sebentar. Aku cuma mau pamit.” Tidak ada jawaban. Hanya hening. Fahri mengetuk lagi, lebih keras. “Lis, jangan begini. Aku tahu kamu marah, tapi aku cuma minta kita pamit baik-baik.” Masih tidak ada suara.

Di dalam kamar, Khalisa duduk di atas sajadahnya. Matanya sembab, wajahnya pucat. Air mata menetes lagi, membasahi sajadah yang sudah lama jadi saksi bisunya doa-doa. Bibirnya terus bergetar, menyebut nama Allah dengan suara lirih.

“Ya Allah… hanya Engkau tempatku bersandar. Kalau memang rumah tanggaku ini bukan yang terbaik, kuatkan aku untuk melepasnya. Kalau masih ada jalan, tunjukkan jalan itu. Dan jagalah arwah ayah bundaku… mereka satu-satunya alasan aku bertahan selama ini.” Khalisa menggenggam erat mukenanya, tubuhnya bergetar. Ia mendengar jelas suara Fahri di balik pintu, tapi hatinya menolak. Tiba-tiba suara lain terdengar dari lantai bawah.

“Sudah, Mas! Ngapain sih dipaksa-paksa!” teriak Nayla, nada bicaranya penuh rasa memiliki.

“Iya, Fahri! Biarin aja! Kalau dia nggak mau, nggak usah diladenin,” cetus Laila dari ruang tamu. Fahri mengepalkan tangannya, matanya menatap pintu kamar dengan putus asa. Ia berbisik pelan, “Lis, aku pulang Jumat nanti. Tolong jangan bikin semuanya tambah rumit. Aku… aku masih sayang kamu.” Tapi tetap tidak ada balasan.

Fahri akhirnya menuruni tangga dengan wajah dingin. Di bawah, Nayla sudah menunggunya sambil membawa segelas susu hangat.“Minum dulu, Mas. Biar kuat kerja,” ucap Nayla manja, menyodorkan gelas. Fahri hanya menatap sebentar, lalu menolaknya halus. “iya sini cepat. Aku buru-buru." Wajah Nayla langsung berubah berseri, ia cepat menempel lagi di sisi Fahri. “Ya udah, hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa kabarin aku. Aku kan yang paling butuh Mas sekarang.”

Laila ikut menyahut sambil melipat tangannya di dada. “Udah jangan dipikirin Khalisa itu. Cepat atau lambat dia pasti kalah juga. Lagian apa dia bisa hidup tanpa kamu? Semua dari kamu kan, Fahri." Fahri hanya diam.

Sementara itu, di sofa, Arman duduk dengan santai. TV menyala, menayangkan acara pagi. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun. Tangannya sibuk memegang HP, tertawa kecil melihat sesuatu di layar. Sejak lama, Arman sudah jadi pengangguran. Hidupnya bergantung penuh pada Fahri. Uang bulanan, rokok, bahkan bensin motor tua miliknya—semua dari Fahri.

Tak hanya Arman, biaya hidup Laila, bahkan sekolah adik Fahri yang masih SMA juga semua ditanggung oleh Fahri. Selama ini Khalisa lah yang sering putar otak agar uang 20 juta gaji suaminya cukup untuk menghidupi begitu banyak mulut. Padahal ia sendiri hidup sederhana, jarang membeli sesuatu untuk dirinya. Dan kini, ketika suaminya mengkhianati, ketika rumah tangganya runtuh—justru orang-orang inilah yang menikamnya dari belakang.

Fahri akhirnya keluar rumah dengan langkah cepat. Pintu ditutup keras, di dalam kamar Khalisa masih menangis di atas sajadah. Suaranya parau, nyaris tak terdengar, tapi penuh luka.

“Ya Allah… kenapa mereka tega padaku… padahal aku yang selalu berkorban… aku yang selalu menjaga…” Tangisnya kembali pecah, tiba-tiba Perut Khalisa keroncongan, rasa lapar menusuk hingga membuat kepalanya sedikit pusing. Seharian ia mengurung diri di kamar, hanya ditemani air mata dan doa. Namun, tubuhnya tetaplah manusia. Ia butuh makan.

Dengan gerakan berat, Khalisa bangkit. Tangannya mengusap wajahnya yang sembab. Bibirnya bergetar, berbisik pada dirinya sendiri. “Ini rumahku… aku yang punya hak. Seharusnya mereka yang sungkan padaku, bukan aku yang bersembunyi.” Ada kekuatan entah dari mana yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya. Ia berjalan ke kamar mandi, mandi dengan air dingin yang membuat tubuhnya segar kembali. Setelah itu, ia mengenakan gamis rumahan warna biru muda dan bergo sederhana. Raut wajahnya masih pucat, tapi matanya kini lebih tegak.

Dengan langkah pasti, Khalisa membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga. Di ruang tamu, Nayla, Laila, dan Arman sedang duduk santai. TV besar menyala dengan volume cukup keras, menayangkan sinetron sore. Meja depan penuh dengan kantong-kantong makanan cepat saji—gorengan, roti, dan minuman kemasan.

Nayla duduk selonjoran, satu tangan memegang perut buncitnya, satu tangan lagi sibuk menyuapkan kacang rebus ke mulut. Sesekali ia tertawa kecil melihat adegan lucu di TV.Laila duduk di sampingnya, tangannya sibuk mengupas jeruk sambil ikut berkomentar tentang sinetron. Arman? Ia malah rebahan, kakinya naik ke meja, mulutnya sibuk mengunyah keripik kentang. Semua tampak begitu nyaman. Terlalu nyaman.

Khalisa berhenti sebentar di tangga, dadanya sesak melihat pemandangan itu. “Mereka benar-benar memperlakukan aku seperti orang asing di rumahku sendiri,” batinnya perih, namun ia menegakkan tubuh, melangkah lurus menuju dapur tanpa sedikit pun menoleh pada mereka. Tak lama, terdengar suara Laila. “Oh, akhirnya keluar juga dari guanya,” ucapnya dengan nada sinis, meski masih menatap ke arah TV.

Khalisa pura-pura tidak mendengar. Ia membuka kulkas, mengambil beberapa bahan: telur, sayur, dan sedikit daging ayam yang tersisa. Tangannya mulai sibuk memasak di dapur. Tapi Laila tidak berhenti. “Kamu itu istri, Lis. Kalau memang mau dihargai, ya bersikaplah seperti istri. Masa keluarga suami sendiri datang, kamu ngurung diri kayak anak kecil? Bukannya melayani, malah ngambek. Nggak heran kalau Fahri jadi bosan.”

Tangannya yang sedang memotong bawang sempat terhenti. Gigi Khalisa bergemeletuk menahan amarah. Ia ingin membalas, ingin berteriak, tapi ia memilih diam. Ia menyalakan kompor, menuangkan minyak, dan mulai menumis bawang. Aroma harum memenuhi dapur. Arman tiba-tiba ikut buka suara, tanpa menoleh dari TV.

“Udahlah, Lis. Jangan bikin suasana rumah panas terus. Fahri kerja banting tulang buat kita semua. Jangan egois. Keluarga harus saling dukung. Kalau nggak bisa ngikutin, ya… terserah kamu mau tinggal di mana.” Ucapan itu menusuk seperti belati. Khalisa nyaris membanting spatula di tangannya, tapi ia menahan diri.

“Ya Allah, kuatkan aku… jangan biarkan aku kalah oleh mereka,” doanya lirih dalam hati. Beberapa menit kemudian, masakan sederhana siap: ayam goreng, tumis sayur, dan sambal. Khalisa menata semuanya di piring, lalu membawa ke meja makan.

Nayla melirik sambil tertawa kecil. “Masak buat sendiri? Nggak sekalian masakin buat kita juga, Kak?” Laila menimpali cepat, “Sudahlah Nay, biarin aja. Dia memang nggak bisa jadi istri yang baik. Mikirin perut sendiri aja susah, apalagi mikirin yang lain.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 159. Batin Arlina

    Arlina akhirnya masuk ke kamarnya.Namun rasa penasaran membuatnya sulit tidur.Ia terus memikirkan kejadian di lampu merah tadi.Perempuan yang dilihatnya memang sangat mirip dengan Arini.Begitu juga pria yang duduk di sampingnya.Ada sesuatu yang terasa familiar.Tetapi Arlina belum bisa mengingatnya.Di kamar sebelah, Arini juga belum tidur.Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya.Sebuah pesan baru masuk.Arini membacanya sebentar, lalu langsung menghapusnya.Ia meletakkan ponsel di atas meja.Wajahnya terlihat gelisah.Sementara itu, Fahri yang tidur di ruang depan ternyata masih terjaga.Ia mendengar suara pintu kamar Arini tertutup.Fahri membuka matanya.Ia teringat ucapan Laila tentang Arini yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga.Fahri lalu melihat ke arah kamar adiknya."Kerja apa sebenarnya dia?"Ia menguap dan kembali berbaring.Namun beberapa saat kemudian, ia mendengar suara notifikasi dari ponsel Arini.Fahri tidak terlalu memperdulikannya.Hingga su

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 158. Siapa dia?

    Laila akhirnya masuk ke dapur. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa sepiring nasi dengan lauk seadanya. Hanya telur dadar, tumis sayur, dan sedikit sambal.Ia meletakkan piring itu di hadapan Fahri."Sudah, makan dulu."Fahri tidak banyak bicara. Ia langsung mengambil nasi dan mulai makan.Rasa lapar yang sejak tadi ditahannya membuat Fahri makan dengan lahap. Meski lauknya sederhana, ia tidak mempermasalahkannya.Laila memperhatikan dari samping."Jangan cuma tahu makan. Besok cari kerja."Fahri masih mengunyah."Iya, iya, Bu. Bisa diam nggak?"Laila langsung melotot."Dasar anak nggak tahu diri."Fahri hanya menghela napas dan kembali menyendok nasi.Beberapa saat kemudian, ia menatap ibunya."Oh iya, Bu.""Hm?""Kalian dapat uang dari mana?"Laila mengernyit."Maksudmu?""Rumah memang sederhana, tapi kelihatannya kebutuhan masih bisa jalan."Fahri kembali memasukkan nasi ke mulut."Arini kerja," jawab Laila singkat."Dia yang banyak membantu kebutuhan rumah."Fahri berhenti meng

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 157. kembali romantis

    Zidan perlahan kembali masuk ke kamar.Lampu kamar masih menyala redup. Khalisa masih membelakanginya, tubuhnya terdiam di balik selimut.Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur.Setelah berbicara dengan Nadya, ia baru menyadari betapa banyak hal yang tidak ia mengerti tentang istrinya.Ia kemudian naik ke tempat tidur.Perlahan, Zidan mendekat dan memeluk Khalisa dari belakang.Tubuh Khalisa sempat menegang.Namun hanya beberapa detik.Setelah itu ia kembali diam.Tidak menolak.Tidak pula membalas pelukan tersebut.Zidan merapatkan pelukannya.Tangannya hanya melingkar lembut di pinggang Khalisa.Ia tidak mengatakan apa-apa.Malam itu, untuk pertama kalinya, Zidan memilih diam dan membiarkan Khalisa dengan perasaannya sendiri.Khalisa memejamkan mata.Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali mengalir.Namun kali ini ia tidak mengusapnya.Entah kenapa, pelukan Zidan membuat pertahanannya sedikit runtuh.Ia tahu suaminya tidak bersalah.Ia tahu Zidan tidak melakukan apa pun

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 156. Ketakutan Khalisa

    Zidan akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia tidak ingin terus membangunkan Khalisa dengan pertanyaan yang sama. Perempuan itu jelas sedang tidak ingin bicara. Zidan keluar dari kamar dan duduk di teras. Udara malam di desa terasa dingin. Suara jangkrik terdengar dari sekitar rumah, sementara lampu-lampu rumah warga terlihat samar dari kejauhan. Zidan menyandarkan punggungnya pada kursi. Pikirannya masih tertuju pada Khalisa. Sejak mereka meninggalkan restoran tadi, sikap istrinya berubah. Awalnya Zidan mengira Khalisa hanya memikirkan masalah toko. Tetapi semakin ia mengingat kejadian sepanjang perjalanan, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak ia pahami. Khalisa tidak biasanya seperti itu. Kalau sedang kesal karena sesuatu, biasanya perempuan itu akan mengatakan dengan jelas. Tetapi kali ini tidak. Ia hanya diam. Menjawab seperlunya. Bahkan ketika Zidan menawarkan untuk mengganti kerugian toko, Khalisa tetap tidak menunjukkan ketertarikan. Zidan mengusap

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 155. Salah percaya?

    Mereka akhirnya meninggalkan kawasan kota dan kembali menuju desa. Jalanan perlahan kembali sepi. Deretan toko dan restoran mulai berganti menjadi perkebunan serta rumah-rumah yang jaraknya berjauhan.Beberapa menit dalam perjalanan, Zidan melirik Khalisa yang duduk diam di sampingnya."Sayang, nggak mau nginap di hotel sini aja?"Khalisa langsung menoleh."Nggak perlu. Kenapa mau nginap di sini?"Nada suaranya terdengar sedikit judes.Zidan kembali fokus ke jalan."Kan sudah sore. Kalau kita nginap di sini, besok nggak perlu buru-buru balik ke desa."Khalisa menggeleng."Nggak usah."Ia kembali memandang keluar jendela.Entah kenapa, sejak bertemu Fatimah tadi, perasaannya semakin tidak tenang. Ada rasa cemburu yang sulit ia kendalikan. Bukan karena Zidan melakukan sesuatu yang salah, tetapi karena pengalaman masa lalu membuatnya lebih sensitif terhadap hal-hal seperti itu.Trauma pernah dikhianati masih tersimpan rapi di dalam ingatannya.Khalisa tidak ingin kembali berada dalam pos

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 154. Masalah toko

    "Aku bilang nggak apa-apa," jawab Khalisa singkat.Ia belum ingin membicarakan soal Fatimah. Apalagi Zidan masih berdiri di dekatnya dengan pandangan sesekali mengarah ke dalam restoran.Ponsel Khalisa tiba-tiba berdering.Nama Dinda muncul di layar.Khalisa langsung mengangkatnya."Assalamualaikum, Din.""Waalaikumsalam, Lis."Suara Dinda terdengar berbeda dari biasanya. Ada nada panik yang cukup jelas.Khalisa langsung berjalan beberapa langkah menjauh dari Zidan agar bisa mendengar dengan jelas."Kenapa? Suaramu kok kayak panik?""Lis, aku minta maaf."Khalisa mengernyit."Minta maaf buat apa?"Dinda terdiam sebentar."Lis...""Hm?""Aku sudah bikin toko kamu rugi puluhan juta."Langkah Khalisa berhenti."Rugi?""Iya."Khalisa menarik napas, berusaha tetap tenang."Gimana ceritanya, Din?""Aku sudah ketipu."Khalisa tidak langsung menyalahkan sahabatnya. Ia tahu Dinda sedang panik."Kamu tenang dulu. Ceritain pelan-pelan."Dinda menarik napas panjang dari seberang telepon."Aku ket

  • Ku Miskinkan Suamiku   11. Pembuktian

    Khalisa belum sempat menjawab ketika dari sudut ruang keluarga terdengar suara tawa kecil. Arini dan Arlina masih duduk santai di sofa, mata mereka terpaku ke layar televisi. Sinetron sore diputar cukup keras. Sesekali mereka saling melirik, tersenyum, bahkan terkekeh kecil seolah kegaduhan di ruma

  • Ku Miskinkan Suamiku   7. keberanian khalisa

    Khalisa menoleh perlahan, menatap lurus ke mata Nayla. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum tulus, melainkan senyum getir. “Kita lihat nanti saja. Siapa yang benar-benar sendirian pada akhirnya.” Nayla terdiam, tak menyangka Khalisa bisa balik menohok. Malam itu, Khalisa duduk di kursi empuk r

  • Ku Miskinkan Suamiku   6. Kemarahan khalisa

    Khalisa mendengar semuanya. Tangannya gemetar saat menyendok nasi ke piringnya sendiri. Air mata hampir jatuh lagi, tapi ia buru-buru menegakkan kepala.Ia duduk, lalu mulai makan. Satu suapan, dua suapan. Hatinya masih perih, tapi ia menelan semuanya dengan mantap. “Nggak apa-apa. Aku masih punya

  • Ku Miskinkan Suamiku   4. Talak aku

    Fahri terdiam beberapa detik, seolah kata “talak aku sekarang juga” baru saja menghantam dadanya dengan keras. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Bu Laila hendak bersuara lagi, namun Fahri mengangkat tangan, memberi isyarat agar ibunya diam. “Lis… cukup,” katanya lirih namun memaksa. Tanpa me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status