Home / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 6. Kemarahan khalisa

Share

6. Kemarahan khalisa

last update publish date: 2025-12-18 21:22:55

Khalisa mendengar semuanya. Tangannya gemetar saat menyendok nasi ke piringnya sendiri. Air mata hampir jatuh lagi, tapi ia buru-buru menegakkan kepala.

Ia duduk, lalu mulai makan. Satu suapan, dua suapan. Hatinya masih perih, tapi ia menelan semuanya dengan mantap. “Nggak apa-apa. Aku masih punya harga diri. Aku masih lebih berharga daripada mereka yang hidupnya numpang tapi berani menghina.” Setiap suapan terasa pahit, bercampur dengan rasa sakit di dadanya. Tapi semakin ia makan, semakin ia merasa ada sedikit kekuatan kembali di tubuhnya.

Khalisa sadar: kalau ia menyerah, kalau ia terus sembunyi, maka mereka akan menang. Ia tidak boleh kalah. Setelah suapan terakhir ditelannya, Khalisa meletakkan sendok dengan tenang. Perutnya kenyang, tapi hatinya masih terasa pahit. Ia duduk tegak, menatap kosong beberapa detik, lalu menarik napas dalam-dalam. Ada tekad yang baru saja tumbuh dalam dirinya: ia tidak boleh terus diperlakukan seperti boneka bisu.

Dengan langkah pasti, ia berjalan ke ruang tamu. TV masih menyala keras, menayangkan sinetron dengan suara tangisan yang dramatis. Namun yang lebih dramatis justru kenyataan di hadapan Khalisa sendiri. Nayla masih selonjoran, sesekali mengelus perut besarnya dengan gaya penuh kemenangan. Laila duduk santai sambil menggenggam jeruk setengah kupas. Meja dipenuhi sampah plastik, kulit kacang, bungkus keripik, botol kosong, semua berserakan tanpa peduli siapa yang harus membersihkannya.

Khalisa berdiri tegak di depan mereka. Suaranya mantap, tak bergetar sedikit pun. “Maaf ya, aku mau nonton. Ini TV-ku. Silakan bergeser dan bersihkan sampah kalian.” Sekejap ruangan sunyi. Volume TV tetap berisik, tapi yang mereka dengar hanya suara Khalisa yang tegas barusan.

Laila spontan menoleh, wajahnya memerah. “Apa kamu bilang, Lis?!” serunya sambil menepuk paha. “Astaga, dasar nggak tahu diri! Kami ini keluarga Fahri, kamu cuma numpang hidup di nama suami!” Khalisa tetap berdiri tegak, menatap lurus. “Saya bukan numpang, Bu. Ini rumah saya bukan rumah anak ini. Jadi tolong hormati.”

Nayla menahan senyum, pura-pura sibuk merapikan rambutnya. Ia jelas menikmati adegan ini. Laila semakin geram, tangannya menunjuk tepat ke arah Khalisa. “Kamu itu perempuan mandul! Coba lihat Nayla—sebentar lagi kasih cucu buat saya. Fahri juga pasti lebih bahagia sama dia. Jadi jangan banyak gaya di depan saya!” Kata mandul itu menampar hati Khalisa. Dadanya sesak, tapi kali ini ia tak ingin menangis. Ia hanya mendengus pelan. “Mandul atau tidak, itu urusan saya dengan Allah. Bukan alasan buat kalian semena-mena di rumah ini.”

Arman yang dari tadi hanya diam, bangkit perlahan. Ia tidak membela siapa pun, hanya mengambil bungkus rokok dari saku celana. “Saya keluar dulu,” gumamnya, lalu melangkah santai ke teras. Seperti biasa, ia memilih jalan aman: pura-pura buta, pura-pura tuli. Kini hanya tersisa Nayla dan Laila yang masih menatap penuh amarah. Khalisa berjalan ke meja, lalu menunjuk sampah berserakan. “Kalau mau makan, makanlah. Tapi habis itu buang sampah kalian sendiri. Kalau tidak, saya akan masukkan semua sampah ini ke kamar kalian.” Laila melotot. “Kurang ajar!”

Namun Khalisa tidak mundur. Ia lipat tangannya di dada, tatapannya menantang. “Silakan coba kalau mau teriak lagi. Saya nggak takut.” Untuk pertama kalinya, Laila kehilangan kata-kata. Nafasnya memburu, wajahnya merah padam. Sementara Nayla tersenyum tipis, jelas puas melihat pertengkaran ini. Ia sengaja tidak ikut campur, karena semakin keras Laila memaki, semakin Khalisa terlihat terpojok di mata Fahri nanti.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Khalisa sama sekali tidak bergeming. Akhirnya, dengan gerakan kasar, Laila berdiri dan mulai memungut bungkus keripik dari meja. “Dasar perempuan nggak tahu diri… disuruh ngalah aja nggak bisa…” gerutunya sambil menendang kantong plastik.

Khalisa menatap dengan dingin. “Terima kasih sudah mengerti.” Nada datarnya justru makin menyulut api. Laila hampir saja melempar kantong plastik itu ke wajah Khalisa, tapi Nayla buru-buru menahan lengannya.

“Sudahlah, Bu… jangan terlalu keras. Nanti Kak Lis bilangnya kita yang jahat. Lagian aku kan di sini cuma sebentar. Kalau Kak Lis bisa sabar sedikit, toh semuanya bisa damai,” ucap Nayla dengan nada manis yang penuh racun. Khalisa melirik sekilas ke arahnya. Sebentar? Atau selamanya? batinnya getir.

Laila akhirnya masuk ke kamar dengan muka masam, membawa sampah seadanya. Pintu kamar dibanting keras hingga membuat vas di meja bergoyang. Hanya tersisa Khalisa dan Nayla di ruang tamu. TV masih menyala, menampilkan adegan tokoh wanita yang ditampar mertua dalam sinetron. Khalisa tersenyum miris—seperti cermin kehidupannya sendiri.

“Bagus ya, Kak, berani juga lawan mertua,” Nayla akhirnya bicara, suaranya tenang, tapi matanya penuh tantangan. “Cuma aku takut Kak Lis capek sendiri. Soalnya, di rumah ini… Kakak sendirian. Fahri kan selalu sama aku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 152. Fatimah lagi

    Iya, bagian tadi memang masih terlalu dibuat-buat. Saya akan turunkan kadar dialog dan candanya, lebih banyak narasi, dan percakapannya dibuat seperti pasangan yang sudah nyaman satu sama lain.Zidan berdiri dari tempatnya."Sayang, ayo balik. Kita ke kota."Khalisa ikut berdiri sambil mengenakan kembali sepatunya."Ke kota?""Iya. Cari makan."Khalisa mengambil ponselnya dan membuka maps."Jauh nggak?""Nggak terlalu. Sekitar empat puluh menit."Khalisa melihat rute yang tertera di layar."Empat puluh menit?""Iya.""Kirain dekat."Zidan hanya tersenyum kecil.Mereka berjalan kembali ke rumah melalui jalan yang sama. Setelah sampai, Zidan mengambil kunci mobil, sementara Khalisa mengambil tas kecilnya.Tidak lama kemudian mereka berangkat.Mobil melewati jalan desa yang masih sepi. Perkebunan dan rumah-rumah batu perlahan tertinggal di belakang. Beberapa menit pertama, Khalisa lebih banyak diam sambil menikmati pemandangan dari balik jendela.Setelah sekitar dua puluh menit, jalan mu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 151. Kebersamaan Khalisa dan Zidan

    Zidan merangkul bahu Khalisa ketika mereka berjalan menyusuri jalan kecil menuju perkebunan.Khalisa tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan pemandangan di sekelilingnya. Udara pagi terasa dingin, tetapi sinar matahari mulai menghangatkan jalan yang mereka lewati.Beberapa saat kemudian, Zidan menoleh kepadanya."Bahagia?"Khalisa ikut menoleh. Bukannya menjawab, ia malah tersenyum lebar."Menurut Mas?"Zidan memperhatikan wajah istrinya beberapa detik."Kelihatannya sih iya.""Kelihatannya?"Khalisa memasang wajah pura-pura kesal."Mas ini gimana, sih? Lihat saja wajahku."Ia menunjuk pipinya sendiri."Ini wajah orang bahagia."Zidan tertawa."Iya, iya. Aku percaya."Khalisa ikut tertawa. Setelah itu mereka kembali berjalan tanpa banyak bicara.Beberapa menit kemudian, jalan kecil itu membawa mereka sampai ke sebuah perkebunan yang cukup luas.Khalisa langsung berhenti.Matanya membesar melihat beberapa ekor sapi yang sedang merumput. Di sisi lain, sebuah aliran sungai kecil

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 150. Suasana malam hari

    Sore berganti malam.Desa itu semakin sepi. Lampu-lampu rumah mulai menyala, sementara jalanan di depan rumah mereka hampir tidak dilewati kendaraan.Khalisa sedang duduk di ruang tamu ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.Ia menoleh ke arah jendela."Mas, ada mobil."Zidan yang sedang memainkan ponselnya mengangkat kepala."Iya.""Siapa?""Orang yang biasa bantu aku di sini."Tak lama kemudian, seorang pria masuk membawa beberapa kantong besar."Pak Zidan, pesanannya sudah datang.""Iya, taruh di meja."Khalisa ikut berdiri.Begitu melihat makanan yang dibawa, ia langsung mengernyit."Mas...""Hm?""Kamu pesan sebanyak ini?"Zidan melihat meja yang hampir penuh."Kayaknya iya.""Kayaknya?""Aku nggak ingat pesan sebanyak itu."Khalisa menatapnya."Terus siapa yang pesan?"Zidan diam sebentar."Ya... mungkin aku."Khalisa terkekeh."Ini makanan atau mau buka warung?""Kalau habis ya nggak masalah.""Mana mungkin habis malam ini.""Besok tinggal dipanasin."Khalisa meng

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 149. Kemunculan Fahri

    Keesokan paginya, suasana di depan kontrakan masih cukup sepi.Arlina sudah bersiap sejak pagi. Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana, lalu membawa tas kecil yang berisi beberapa perlengkapan.Di depan kontrakan, sebuah motor bekas terparkir.Motor itu memang tidak baru. Catnya sudah sedikit kusam dan beberapa bagian bodinya memiliki goresan.Namun bagi Arlina, motor tersebut sangat berarti.Ia membelinya dengan harga murah dan membayarnya secara cicilan sedikit demi sedikit."Yang penting bisa dipakai kerja," gumamnya.Arlina memasukkan kunci ke kontak.Baru saja ia hendak menyalakan mesin, terdengar suara seseorang dari belakang."Arlina?"Arlina langsung menoleh.Matanya membulat."Kak Fahri?"Fahri berdiri beberapa langkah darinya.Wajah laki-laki itu terlihat jauh berbeda dibanding terakhir kali Arlina melihatnya.Tubuhnya tampak lebih kurus.Wajahnya kusut.Matanya terlihat lelah.Fahri berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu adiknya."Kamu mau ke mana pagi-pagi?""Kerja,

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 149. Kepedulian Arlina

    Setelah suasana kembali sedikit tenang, Bu Laila akhirnya mengajak Arini masuk ke kamar kecil di bagian belakang kontrakan.Kamar itu tidak luas. Hanya ada sebuah kasur tipis, lemari plastik, dan meja kecil yang sudah terlihat kusam."Sudah, kamu istirahat saja," ujar Bu Laila.Arini mengangguk pelan."Iya, Bu."Bu Laila kemudian keluar dari kamar.Berbeda dengan sebelumnya, kali ini pikirannya sudah jauh lebih ringan. Uang yang diberikan Arini membuatnya tidak lagi memikirkan dari mana putrinya mendapatkannya.Baginya, selama masih ada uang untuk membeli makanan, masalah itu bisa dipikirkan belakangan.Sementara itu, Arlina yang masih berada di ruang tengah diam-diam memperhatikan kakaknya.Ada sesuatu yang membuatnya penasaran.Sikap Arini berbeda dari biasanya.Apalagi setelah mendengar pertanyaan Pak Arman.Arlina tidak langsung masuk ke kamarnya.Ia memilih menunggu beberapa saat.Ketika melihat Bu Laila sudah kembali duduk di ruang depan sambil memeriksa uang yang diberikan Arin

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 148. Kerja apa kamu Arini?

    Setelah pertanyaan Arlina, tidak ada satu pun yang langsung menjawab. Arini hanya duduk sambil menundukkan kepala. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas dengan erat. Sementara Bu Laila sibuk memasukkan uang pemberian Arini ke dalam dompetnya. Pak Arman yang sejak tadi memperhatikan putrinya akhirnya memanggil. "Arini." Arini mengangkat wajah. "Iya, Pak?" "Sini." Nada suara Pak Arman membuat Arini sedikit gugup. Ia perlahan mendekat. "Ada apa, Pak?" Pak Arman menatap putrinya cukup lama. "Apa pekerjaan kamu sekarang?" Arini terdiam. "Aku kerja, Pak." Pak Arman mengernyit. "Bapak tahu kamu kerja." "Bapak tanya, kamu kerja apa?" Arini mulai gelisah. "Kenapa sih, Pak?" "Bapak mau menyudutkan Arini?" "Apa Bapak nggak bersyukur ada Arini yang cari uang untuk kita makan?" Bu Laila yang mendengar itu langsung menyela. "Sudahlah, Man." "Jangan terus desak Arini." "Yang penting dia pulang bawa uang." Pak Arman tidak menghiraukan istrinya.

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 102. Perkelahian

    Adit membeku di tempatnya.Wajahnya yang tadi tegang perlahan memucat. Tatapannya berpindah dari meja yang penuh hidangan… ke Khalisa… lalu ke Yono.“Khalisa… aku minta maaf,” ucapnya cepat. “Kemarin keadaannya mendesak.”Tidak ada yang langsung menjawab.Sebelum Khalisa sempat berbicara—“Cukup.”

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 100. Lamaran

    Zidan terdiam sejenak.Ruang tamu itu kembali hening, seolah semua menunggu jawaban darinya. Namun seperti biasa, ia tidak terburu-buru. Ia bukan tipe pria yang menjawab cepat hanya untuk mengisi kekosongan. Setiap kata yang keluar darinya selalu dipilih dengan hati-hati.Perlahan, ia menarik napas

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 98. Kedatangan orang

    Pagi itu datang dengan harapan yang diam-diam tumbuh di hati Khalisa. Sejak bangun tidur, ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda—campuran antara gugup, cemas, dan harap. Hari ini bukan hari biasa, karena seseorang akan datang untuk membuktikan keseriusannya: Adit. Khalisa sudah bersiap sejak pagi,

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 72. Lihat rumah

    Sore itu toko mulai sepi. Pelanggan terakhir baru saja keluar. Nadia menutup pintu setengah, menyisakan celah untuk udara masuk. Dinda menghitung uang di laci kasir.Khalisa duduk di kursi kecil dekat meja lipat. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya lebih penuh dari biasanya.“Lis, gimana?” tanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status