Compartilhar

53. Menjual rumah

last update Data de publicação: 2026-01-26 20:06:40

Hari-hari berlalu cepat.

Toko Khalisa seperti tidak pernah tidur. Pagi dibuka dengan live, siang melayani pelanggan offline, sore packing, malam balas chat dan cek stok. Nadia semakin luwes di depan kamera. Suaranya ramah, cekatan menjawab pertanyaan pembeli. Penjualan naik signifikan sejak Nadia rutin live.

“Lis, ini yang warna sage habis lagi,” seru Nadia dari depan rak.

Khalisa menoleh dari laptop. “Catat, besok aku ambil sekalian.”

Dinda yang sedang mencoba gamis baru di depan cermin kecil
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 124. Cemburu

    Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Zidan membawa Khalisa menuju hotel mewah yang telah ia siapkan. Bukan hanya untuk mereka berdua, Zidan juga telah menyewakan beberapa kamar terbaik untuk Tante Tami, Om Yono, Tante Rina, Nadia, Dinda, dan keluarga Khalisa lainnya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena telah menemani Khalisa sampai hari pernikahan mereka.Bahkan sebuah jamuan makan malam khusus juga telah disiapkan untuk keluarga besar Khalisa sebelum mereka beristirahat.Malam mulai turun ketika Khalisa dan Zidan akhirnya masuk ke kamar mereka.Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk resepsi tadi.Khalisa berjalan masuk tanpa banyak bicara.Ia duduk di depan meja rias lalu mulai melepas satu per satu perhiasan yang menghiasi kepalanya sejak pagi.Anting.Mahkota kecil.Jepit rambut.Semua dilepas perlahan hingga yang tersisa hanya hijab yang masih menutupi kepalanya.Zidan yang sejak tadi memperhatikannya menyadari

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 123. Fatimah

    Wanita berhijab itu masih berdiri di sudut ruangan. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat Zidan berbicara dengan para tamu.Namun di balik senyum itu, ada perasaan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.Matanya perlahan memanas.Bukan karena iri.Bukan karena marah.Melainkan karena kenangan lama yang tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya.Beberapa tahun lalu...Di bawah rindangnya pohon di halaman sebuah kampus Islam ternama, seorang pria berdiri di hadapannya.Zidan.Saat itu usia mereka masih jauh lebih muda."Jadi kamu benar-benar akan berangkat?" tanya Zidan.Fatimah mengangguk pelan."Aku sudah diterima.""Kapan?""Bulan depan."Zidan terdiam cukup lama.Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu."Lalu kita?"Fatimah tersenyum kecil.Senyum yang saat itu justru terasa menyakitkan bagi Zidan."Nggak ada kita.""Fatimah...""Aku serius."Zidan mengepalkan tangannya."Kita sudah dijodohkan keluarga.""Aku tahu.""Orang tua kit

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 122. Hari bahagia khalisa

    Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana gedung perlahan berubah menjadi lebih santai. Para tamu mulai berpindah ke area jamuan. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu penting terlihat berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan.Khalisa yang kini duduk berdampingan dengan Zidan masih sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu. Namun di balik senyumnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Ia melirik suaminya pelan.Pria itu tampak tenang seperti biasa. Sesekali membalas sapaan tamu dengan sopan, lalu kembali duduk tanpa menunjukkan sedikit pun rasa canggung.Khalisa menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat."Kamu siapa sebenarnya, Zidan?" bisiknya pelan.Zidan menoleh.Tatapan mereka bertemu."Apa itu penting?" tanyanya tenang.Khalisa langsung mengangguk."Iya, penting.""Kenapa?"Karena sekarang aku sudah jadi istrimu."Jawaban itu membuat sudut bibir Zid

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 121. Pergi!

    Sementara itu, jauh dari kemegahan gedung tempat akad berlangsung, Fahri sedang duduk santai di ruang tamu rumah orang tua Nayla. Televisi menyala menemani suasana pagi, sementara Nayla dan ibunya sibuk di dapur menyiapkan makanan. Fahri tampak memainkan ponselnya sambil sesekali melirik layar televisi tanpa minat. Namun tiba-tiba sebuah tayangan siaran langsung pernikahan menarik perhatiannya. Awalnya ia tidak terlalu peduli, sampai kamera menyorot wajah pengantin wanita.Fahri langsung membeku. Ponselnya nyaris terjatuh dari genggamannya."Tunggu..." gumamnya pelan sambil menyipitkan mata. "Nggak mungkin..."Ia duduk tegak dan menatap layar tanpa berkedip. Dadanya mulai berdebar kencang."Itu... itu Khalisa?"Fahri langsung berdiri dan mendekati televisi. Semakin dekat ia melihat, semakin jelas wajah perempuan itu, dan semakin sulit baginya menyangkal kenyataan."Itu Khalisa..." lirihnya. "Tidak mungkin."Matanya membesar saat melihat sosok perempuan yang pernah menjadi istrinya itu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 120. Haru

    Khalisa berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang masih terdengar di sekitarnya. Ia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Hari ini bukan tentang penilaian orang lain. Hari ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Seorang wanita berpakaian rapi yang sejak tadi berdiri di dekat pelaminan berjalan mendekat. "Silakan, Bu Khalisa." Wanita itu tersenyum hangat lalu menuntunnya menuju tempat duduk yang telah disiapkan. Khalisa kembali dibuat terkejut. Tempat duduk itu berada di bagian depan ruangan dengan dekorasi yang sangat mewah. Bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut. Lampu kristal menggantung indah di atas kepala. Semuanya tampak elegan tanpa terlihat berlebihan. Ia duduk perlahan. Dari tempat itu, ia bisa melihat dengan jelas area akad yang berada tidak jauh di depannya. Sementara itu, Zidan berjalan menuju meja akad. Langkahnya tenang dan mantap. Pria itu mengenakan setelan putih gading yang membuat penampilannya semakin berwibawa. Para tamu memperh

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 119. Hari pernikahan

    Perjalanan menuju lokasi acara berlangsung dalam suasana yang penuh rasa penasaran.Khalisa duduk di kursi belakang mobil mewah itu bersama Tami, Nadia, Dinda, dan Tante Rina. Sejak meninggalkan rumah, jantungnya tidak pernah benar-benar tenang.Entah sudah berapa kali ia menatap keluar jendela.Entah sudah berapa kali pula ia mengingat kembali percakapannya dengan Zidan beberapa minggu terakhir.Bukankah mereka sudah sepakat?Akad sederhana.Hanya keluarga dan kerabat dekat.Tidak perlu berlebihan.Tidak perlu pesta besar.Namun semakin dekat ke hari pernikahan, semakin banyak kejutan yang muncul satu per satu.Mulai dari butik pengantin mahal.Tim MUA profesional.Mobil mewah yang menjemputnya pagi ini.Dan sekarang...Mobil yang mereka tumpangi perlahan memasuki area sebuah gedung megah yang berdiri di pusat kota.Khalisa langsung membelalakkan mata.Di halaman gedung itu sudah berjejer puluhan mobil mewah.Beberapa pria berjas dan wanita berpakaian elegan tampak berjalan keluar ma

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 90. Kamu pilihanku

    “Kayla! Apa-apaan sih kamu ke sini?”Suara Adit terdengar keras begitu ia mendekat.Langkahnya cepat, wajahnya terlihat jelas menahan emosi.Kayla menoleh dengan tatapan tidak kalah tajam.“Itu urusan aku, Dit,” balasnya dingin. “Lagipula kamu ngapain ke sini lagi? Mau aku laporin kamu ke mama kamu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 84. Fahri memohon

    Khalisa masih memegang ponselnya beberapa detik setelah percakapan itu berakhir. Layarnya sudah gelap, tetapi pikirannya belum benar-benar tenang.Tami yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bertanya pelan.“Siapa, Lis?”Khalisa mengangkat wajahnya sedikit.“Adit, Tan,” jawabnya pelan. “Khalisa ken

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 81. Pilihan

    Ruangan itu terasa semakin sempit.Khalisa menarik napas pelan, lalu menunduk sopan.“Kalau gitu… aku permisi,” ujarnya lirih.Adit langsung melangkah maju.“Jangan pulang, Lis. Aku yang mengundang kamu makan. Dan kita belum selesai.”“Adit, jaga perasaan Kayla!” bentak Bu Reni tajam.“Ma, cukup!”

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 80. Makan bersama

    Khalisa akhirnya menggeleng pelan.“Tapi maaf, Dit. Aku mau sendiri hari ini,” jelasnya lembut.Adit mendesah kecil. “Hmm… nggak bisa banget ya?”Khalisa tersenyum tipis. “Nggak.”Adit menggaruk tengkuknya, lalu pura-pura baru ingat sesuatu. “Oh iya, Lis. Aku sebenarnya mau ngajak kamu ke rumahku m

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status