بيت / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 52. Keras kepala Arini

مشاركة

52. Keras kepala Arini

last update تاريخ النشر: 2026-01-26 11:43:18

Fahri tetap menunggu.

Udara dini hari makin dingin. Asap rokok dari ujung parkiran bercampur bau bensin dan sampah. Di dalam gedung karaoke itu, musik terus berdentum, pintu sesekali terbuka, orang-orang keluar masuk dengan tawa mabuk.

Jam di ponselnya berganti pelan.

01.48.

02.15.

02.41.

Fahri tidak bergerak. Matanya terus mengawasi pintu samping. Penjaga di sana mulai lengah, sibuk dengan ponsel, sesekali menguap.

Ketika penjaga itu menjauh beberapa langkah untuk menerima telepon, Fahri berdi
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 152. Fatimah lagi

    Iya, bagian tadi memang masih terlalu dibuat-buat. Saya akan turunkan kadar dialog dan candanya, lebih banyak narasi, dan percakapannya dibuat seperti pasangan yang sudah nyaman satu sama lain.Zidan berdiri dari tempatnya."Sayang, ayo balik. Kita ke kota."Khalisa ikut berdiri sambil mengenakan kembali sepatunya."Ke kota?""Iya. Cari makan."Khalisa mengambil ponselnya dan membuka maps."Jauh nggak?""Nggak terlalu. Sekitar empat puluh menit."Khalisa melihat rute yang tertera di layar."Empat puluh menit?""Iya.""Kirain dekat."Zidan hanya tersenyum kecil.Mereka berjalan kembali ke rumah melalui jalan yang sama. Setelah sampai, Zidan mengambil kunci mobil, sementara Khalisa mengambil tas kecilnya.Tidak lama kemudian mereka berangkat.Mobil melewati jalan desa yang masih sepi. Perkebunan dan rumah-rumah batu perlahan tertinggal di belakang. Beberapa menit pertama, Khalisa lebih banyak diam sambil menikmati pemandangan dari balik jendela.Setelah sekitar dua puluh menit, jalan mu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 151. Kebersamaan Khalisa dan Zidan

    Zidan merangkul bahu Khalisa ketika mereka berjalan menyusuri jalan kecil menuju perkebunan.Khalisa tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan pemandangan di sekelilingnya. Udara pagi terasa dingin, tetapi sinar matahari mulai menghangatkan jalan yang mereka lewati.Beberapa saat kemudian, Zidan menoleh kepadanya."Bahagia?"Khalisa ikut menoleh. Bukannya menjawab, ia malah tersenyum lebar."Menurut Mas?"Zidan memperhatikan wajah istrinya beberapa detik."Kelihatannya sih iya.""Kelihatannya?"Khalisa memasang wajah pura-pura kesal."Mas ini gimana, sih? Lihat saja wajahku."Ia menunjuk pipinya sendiri."Ini wajah orang bahagia."Zidan tertawa."Iya, iya. Aku percaya."Khalisa ikut tertawa. Setelah itu mereka kembali berjalan tanpa banyak bicara.Beberapa menit kemudian, jalan kecil itu membawa mereka sampai ke sebuah perkebunan yang cukup luas.Khalisa langsung berhenti.Matanya membesar melihat beberapa ekor sapi yang sedang merumput. Di sisi lain, sebuah aliran sungai kecil

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 150. Suasana malam hari

    Sore berganti malam.Desa itu semakin sepi. Lampu-lampu rumah mulai menyala, sementara jalanan di depan rumah mereka hampir tidak dilewati kendaraan.Khalisa sedang duduk di ruang tamu ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.Ia menoleh ke arah jendela."Mas, ada mobil."Zidan yang sedang memainkan ponselnya mengangkat kepala."Iya.""Siapa?""Orang yang biasa bantu aku di sini."Tak lama kemudian, seorang pria masuk membawa beberapa kantong besar."Pak Zidan, pesanannya sudah datang.""Iya, taruh di meja."Khalisa ikut berdiri.Begitu melihat makanan yang dibawa, ia langsung mengernyit."Mas...""Hm?""Kamu pesan sebanyak ini?"Zidan melihat meja yang hampir penuh."Kayaknya iya.""Kayaknya?""Aku nggak ingat pesan sebanyak itu."Khalisa menatapnya."Terus siapa yang pesan?"Zidan diam sebentar."Ya... mungkin aku."Khalisa terkekeh."Ini makanan atau mau buka warung?""Kalau habis ya nggak masalah.""Mana mungkin habis malam ini.""Besok tinggal dipanasin."Khalisa meng

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 149. Kemunculan Fahri

    Keesokan paginya, suasana di depan kontrakan masih cukup sepi.Arlina sudah bersiap sejak pagi. Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana, lalu membawa tas kecil yang berisi beberapa perlengkapan.Di depan kontrakan, sebuah motor bekas terparkir.Motor itu memang tidak baru. Catnya sudah sedikit kusam dan beberapa bagian bodinya memiliki goresan.Namun bagi Arlina, motor tersebut sangat berarti.Ia membelinya dengan harga murah dan membayarnya secara cicilan sedikit demi sedikit."Yang penting bisa dipakai kerja," gumamnya.Arlina memasukkan kunci ke kontak.Baru saja ia hendak menyalakan mesin, terdengar suara seseorang dari belakang."Arlina?"Arlina langsung menoleh.Matanya membulat."Kak Fahri?"Fahri berdiri beberapa langkah darinya.Wajah laki-laki itu terlihat jauh berbeda dibanding terakhir kali Arlina melihatnya.Tubuhnya tampak lebih kurus.Wajahnya kusut.Matanya terlihat lelah.Fahri berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu adiknya."Kamu mau ke mana pagi-pagi?""Kerja,

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 149. Kepedulian Arlina

    Setelah suasana kembali sedikit tenang, Bu Laila akhirnya mengajak Arini masuk ke kamar kecil di bagian belakang kontrakan.Kamar itu tidak luas. Hanya ada sebuah kasur tipis, lemari plastik, dan meja kecil yang sudah terlihat kusam."Sudah, kamu istirahat saja," ujar Bu Laila.Arini mengangguk pelan."Iya, Bu."Bu Laila kemudian keluar dari kamar.Berbeda dengan sebelumnya, kali ini pikirannya sudah jauh lebih ringan. Uang yang diberikan Arini membuatnya tidak lagi memikirkan dari mana putrinya mendapatkannya.Baginya, selama masih ada uang untuk membeli makanan, masalah itu bisa dipikirkan belakangan.Sementara itu, Arlina yang masih berada di ruang tengah diam-diam memperhatikan kakaknya.Ada sesuatu yang membuatnya penasaran.Sikap Arini berbeda dari biasanya.Apalagi setelah mendengar pertanyaan Pak Arman.Arlina tidak langsung masuk ke kamarnya.Ia memilih menunggu beberapa saat.Ketika melihat Bu Laila sudah kembali duduk di ruang depan sambil memeriksa uang yang diberikan Arin

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 148. Kerja apa kamu Arini?

    Setelah pertanyaan Arlina, tidak ada satu pun yang langsung menjawab. Arini hanya duduk sambil menundukkan kepala. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas dengan erat. Sementara Bu Laila sibuk memasukkan uang pemberian Arini ke dalam dompetnya. Pak Arman yang sejak tadi memperhatikan putrinya akhirnya memanggil. "Arini." Arini mengangkat wajah. "Iya, Pak?" "Sini." Nada suara Pak Arman membuat Arini sedikit gugup. Ia perlahan mendekat. "Ada apa, Pak?" Pak Arman menatap putrinya cukup lama. "Apa pekerjaan kamu sekarang?" Arini terdiam. "Aku kerja, Pak." Pak Arman mengernyit. "Bapak tahu kamu kerja." "Bapak tanya, kamu kerja apa?" Arini mulai gelisah. "Kenapa sih, Pak?" "Bapak mau menyudutkan Arini?" "Apa Bapak nggak bersyukur ada Arini yang cari uang untuk kita makan?" Bu Laila yang mendengar itu langsung menyela. "Sudahlah, Man." "Jangan terus desak Arini." "Yang penting dia pulang bawa uang." Pak Arman tidak menghiraukan istrinya.

  • Ku Miskinkan Suamiku   25. keputusan khalisa untuk menggugat

    Setelah mobil Grab itu benar-benar menghilang di ujung jalan, Khalisa masih berdiri di dekat pintu beberapa detik. Rumah terasa terlalu sepi setelah keributan panjang barusan. Suara napasnya sendiri terdengar jelas di telinga. Ia lalu melangkah ke ruang tengah dan duduk di sofa. Tangannya gemetar

  • Ku Miskinkan Suamiku   23. kembali ke kampung

    Fahri menjauh sedikit dari kerumunan. Ia berdiri di dekat teras, ponsel kembali di tangannya. Jarum alisnya mengeras saat ia membuka aplikasi dan memesan Grab untuk pulang ke rumah orang tuanya. Jemarinya bergerak cepat, seolah ingin memastikan kendaraan itu datang secepat mungkin.Di belakangnya,

  • Ku Miskinkan Suamiku   22. Silahkan pergi!

    Nayla masih terisak ketika Fahri tiba-tiba meledak.“Cukup!” bentaknya sambil melangkah ke tengah ruangan. Dadanya naik turun. Wajahnya memerah. “Ini urusan rumah tanggaku. Tante jangan ikut campur!”Bu Rina menatapnya lurus. Tidak terkejut. Tidak mundur.“Kalau kamu pikir ini masih sekadar urusan

  • Ku Miskinkan Suamiku   21. Perdebatan

    Khalisa berdiri di depan kulkas dengan pintu terbuka lebar. Ia menatap rak-rak kosong itu cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang terlewat oleh matanya. Padahal ia ingat betul, kemarin malam ia masih menyusun camilan—pudding, roti, beberapa kotak makanan ringan—semuanya ia simpan rapi.Pintu k

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status