Share

BAB 8 MENARA EMAS

Author: Lara Luka
last update Last Updated: 2026-01-31 09:50:18

Lobi hotel bintang lima itu menjulang angkuh dengan pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dan langit-langit berlapis emas. Aroma lili segar dan uang lama menguar di udara, menyambut siapa pun yang melangkah masuk.

Bagi tamu lain, ini adalah surga kemewahan. Bagiku, ini adalah gerbang penjara.

"Jalan yang tegap," bisik Adrian di telingaku, tangannya menekan punggung bawahku, mendorongku maju. "Jangan terlihat seperti orang mau dihukum mati. Kamu sedang 'liburan'."

Aku memaksakan kakiku melangkah di atas karpet tebal yang meredam suara heels-ku. Mantel panjangku kurapatkan, menutupi lingerie laknat yang melekat di kulitku seperti racun. Di balik saku mantel, tanganku meremas amplop hitam dari pengacara tadi siang hingga lecek.

Kami masuk ke dalam lift pribadi yang dikhususkan untuk tamu Penthouse.

Pintu emas menutup perlahan, memisahkan kami dari keramaian lobi. Kini, hanya ada kami berdua di dalam kotak besi berlapis cermin ini.

Suasana hening. Mencekam.

Aku melirik pantulan Adrian di cermin. Dia tidak melihatku. Dia sibuk merapikan kerah kaos polonya, lalu mengecek jam tangannya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan ritme gelisah.

Dia tidak sabar.

Bukan tidak sabar karena khawatir meninggalkanku, tapi tidak sabar ingin segera menyelesaikan transaksi ini dan mendapatkan uangnya.

"Nanti kalau sudah selesai... besok pagi," Adrian memecah keheningan tanpa menoleh, suaranya bergema aneh di ruang sempit itu. "Langsung hubungi aku. Aku jemput di lobi bawah. Jangan keluyuran. Kita langsung pulang."

Aku tidak menjawab. Tenggorokanku terlalu sakit untuk mengeluarkan suara.

Ting.

Lift berhenti di lantai teratas. Lantai 50.

Pintu terbuka. Lorong panjang membentang di hadapan kami, sunyi dan remang-remang, hanya diterangi lampu dinding yang membiaskan cahaya keemasan. Hanya ada satu pintu ganda besar di ujung lorong itu.

Kamar 666. Presidential Suite.

(Angka itu mungkin kebetulan, atau mungkin selera humor Cakra yang gelap. Bagiku, itu peringatan).

Langkah kami menggema di lorong itu. Semakin dekat ke pintu, semakin berat napasku. Jantungku berdetak begitu kencang hingga rasanya tulang rusukku akan retak.

Tepat lima langkah dari pintu, Adrian berhenti mendadak.

Aku menoleh, bingung. "Adrian?"

Dia tidak maju lagi. Wajahnya pucat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia menatap pintu kayu mahoni itu dengan ketakutan murni.

"Aku... aku cuma bisa antar sampai sini," katanya terbata, mundur selangkah.

"Apa?"

"Aku tidak bisa ketemu dia, El. Kalau dia lihat mukaku, nanti dia berubah pikiran. Dia benci aku," Adrian beralasan, tapi aku tahu itu bohong. Dia takut. Dia pengecut yang tidak berani menyerahkan "paket"-nya langsung ke tangan pembeli.

"Kamu... kamu mau meninggalkanku sendiri di depan pintu?" tanyaku tak percaya.

Adrian maju cepat, mencengkeram bahuku, lalu mencium keningku sekilas—ciuman yudas.

"Ingat, Sayang. Lima puluh miliar. Nasib kita ada di tanganmu. Jadilah... menyenangkan," bisiknya cepat, lalu dia berbalik.

Tanpa menoleh lagi, suamiku—pria yang bersumpah melindungiku di altar lima tahun lalu—berjalan cepat kembali ke arah lift. Dia setengah berlari, seolah dikejar setan. Pintu lift terbuka, menelannya masuk, dan tertutup kembali.

Aku berdiri sendiri.

Di lorong sunyi. Di lantai 50. Di depan pintu kamar pria lain.

Keheningan yang ditinggalkan Adrian terasa memekakkan telinga. Aku merasa sangat kecil. Sangat sepi. Dan sangat marah. Kemarahan itu perlahan membakar rasa takutku, mengubah air mata yang hendak tumpah menjadi tekad yang dingin.

Baiklah, Adrian. Kalau kau menjualku, maka aku bukan lagi milikmu malam ini.

Dengan tangan gemetar namun pasti, aku mengeluarkan kartu akses hitam dari amplop.

Aku menempelkannya ke sensor pintu.

Bip. Klik.

Suara kunci terbuka terdengar seperti letusan pistol di keheningan malam.

Aku menarik napas panjang, menahan oksigen terakhir dari dunia "normal"-ku, lalu mendorong gagang pintu yang berat itu.

Pintu terbuka lebar.

Angin dingin dari AC sentral langsung menerpa wajahku, membawa aroma yang khas—campuran tembakau mahal, kayu cendana, dan... bahaya.

Cahaya di dalam ruangan temaram. Siluet seorang pria berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menghadap kelap-kelip kota Jakarta. Dia memegang gelas anggur di satu tangan, membelakangiku. Posturnya tinggi, tegap, dan mengintimidasi bahkan dari kejauhan.

Dia tidak berbalik saat pintu terbuka. Dia tahu aku di sini.

"Masuk," suaranya rendah, berat, dan bergetar di lantai tempatku berpijak. "Dan kunci pintunya, Nyonya Pratama."

Kakiku melangkah melewati ambang pintu.

Dan saat pintu tertutup di belakangku dengan bunyi klik yang final, aku tahu satu hal:

Elena yang masuk ke ruangan ini tidak akan pernah sama dengan Elena yang akan keluar besok pagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 8 MENARA EMAS

    Lobi hotel bintang lima itu menjulang angkuh dengan pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dan langit-langit berlapis emas. Aroma lili segar dan uang lama menguar di udara, menyambut siapa pun yang melangkah masuk.Bagi tamu lain, ini adalah surga kemewahan. Bagiku, ini adalah gerbang penjara."Jalan yang tegap," bisik Adrian di telingaku, tangannya menekan punggung bawahku, mendorongku maju. "Jangan terlihat seperti orang mau dihukum mati. Kamu sedang 'liburan'."Aku memaksakan kakiku melangkah di atas karpet tebal yang meredam suara heels-ku. Mantel panjangku kurapatkan, menutupi lingerie laknat yang melekat di kulitku seperti racun. Di balik saku mantel, tanganku meremas amplop hitam dari pengacara tadi siang hingga lecek.Kami masuk ke dalam lift pribadi yang dikhususkan untuk tamu Penthouse.Pintu emas menutup perlahan, memisahkan kami dari keramaian lobi. Kini, hanya ada kami berdua di dalam kotak besi berlapis cermin ini.Suasana hening. Mencekam.Aku melirik pantulan Adrian

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 7 PERSIAPAN BARANG DAGANGAN

    Di bawah sorot lampu ring light yang terlalu terang, aku menatap pantulan wajahku di cermin besar salon langganan para sosialita Jakarta itu. Wanita di cermin itu tampak sempurna. Rambut hitam legamnya telah di-blow bergelombang, kulitnya dipulas bedak mahal hingga pori-porinya lenyap, dan bibirnya dipulas merah marun yang bold.Cantik. Sangat cantik.Tapi matanya mati. Seperti mata ikan yang sudah dibekukan di freezer supermarket."Sempurna, Bu Elena," puji stylist salon itu dengan nada riang yang palsu, sambil menyemprotkan hairspray terakhir. "Pak Adrian pasti makin lengket kalau lihat Ibu begini."Aku ingin tertawa mendengarnya. Tawa histeris yang menyakitkan. Kalau saja dia tahu bahwa suamiku mendandaniku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk disajikan di atas piring perak bagi pria lain.Adrian muncul dari ruang tunggu. Dia sudah mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos polo kasual, tapi matanya masih menyimpan kegelisahan yang sama. Dia berdiri di belakang kursiku, menatap

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 6 KONTRAK SETAN

    Ruangan rapat di lantai 40 gedung perkantoran elit SCBD itu terasa seperti ruang operasi: steril, dingin, dan berbau kematian. Dinding kacanya menyajikan pemandangan langit Jakarta yang kelabu, sekelabu perasaanku saat ini.Aku duduk di kursi kulit hitam yang terlalu besar, merasa kerdil. Di hadapanku, sebuah dokumen setebal dua sentimeter tergeletak di atas meja marmer yang mengilap. Judulnya tertulis dengan huruf kapital tebal: PERJANJIAN PENYELESAIAN UTANG PIUTANG & KESEPAKATAN KERAHASIAAN (NDA).Di sebelahku, Adrian duduk dengan kaki bergoyang gelisah. Dia sudah mengenakan setelan jas baru—topeng retaknya sudah ditambal—meski lebam di pipinya masih terlihat jelas di bawah lapisan foundation tipis."Silakan dibaca poin-poin krusialnya, Bu Elena," ujar pria di hadapan kami.Pengacara itu—sebut saja dia Pak Anwar—memiliki wajah datar tanpa emosi, seolah dia sedang mengurus jual-beli tanah, bukan jual-beli manusia. Dia mendorong dokumen itu ke arahku dengan ujung jari.Aku menatap ker

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 5 ULTIMATUM BERDARAH

    Angin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata."Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap."Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yan

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 4 PENJUAL ISTRI

    Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.Adrian belum pulang.Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa."Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu er

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 3 IBLIS BERJAS HITAM

    Lift pribadi itu meluncur naik tanpa suara, membawa Adrian menembus lantai demi lantai Gedung Dirgantara Tower. Setiap detiknya terasa menyiksa. Di dinding lift yang terbuat dari cermin perunggu, Adrian bisa melihat bayangannya sendiri: jas yang kusut, sudut bibir yang bengkak membiru, dan mata yang menyiratkan keputusasaan.Dia sudah mencoba merapikan diri di toilet lobi, tapi bau amis darah dan keringat dingin masih menempel samar di kemejanya.Ting.Pintu lift terbuka.Bukan ruang kantor biasa yang menyambutnya, melainkan sebuah penthouse luas dengan dinding kaca setinggi lima meter yang menyajikan panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam. Indah, namun dingin.Suhu ruangan itu sepertinya disetel sepuluh derajat lebih rendah dari luar. Adrian menggigil, bukan hanya karena dinginnya AC, tapi karena aura ruangan itu. Semuanya bernuansa monokrom—hitam, abu-abu, dan perak. Tidak ada foto keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status