Lampu kristal chandelier di ballroom Hotel Mulia itu membiaskan cahaya yang menyakitkan mata. Kilauannya jatuh tepat di atas gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuhku, membuatnya berkilau seolah aku adalah piala kemenangan yang baru saja dipoles.Namun, di balik lapisan kain mahal itu, aku merasa seperti manekin etalase. Dingin. Kosong. Dan tak bernyawa."Senyum, El. Itu Pak Handoko, investor properti terbesar di Surabaya."Bisikan Adrian menggelitik telingaku, hangat namun penuh tuntutan. Tangannya melingkar di pinggangku, meremas sedikit terlalu kencang. Bukan pelukan sayang, melainkan peringatan. Jangan permalukan aku.Aku menarik sudut bibirku, menciptakan lengkungan yang sudah kulatih ratusan kali di depan cermin kamar mandi. Senyum 'Istri Bahagia'. Senyum yang menutupi fakta bahwa pernikahan kami yang baru menginjak tahun kelima ini sudah lama menjadi bangkai yang diberi parfum mahal."Selamat malam, Pak Handoko," sapaku. Suaraku terdengar stabil, terpelajar, persis se
آخر تحديث : 2026-01-27 اقرأ المزيد