LOGINDi bawah sorot lampu ring light yang terlalu terang, aku menatap pantulan wajahku di cermin besar salon langganan para sosialita Jakarta itu. Wanita di cermin itu tampak sempurna. Rambut hitam legamnya telah di-blow bergelombang, kulitnya dipulas bedak mahal hingga pori-porinya lenyap, dan bibirnya dipulas merah marun yang bold.
Cantik. Sangat cantik.
Tapi matanya mati. Seperti mata ikan yang sudah dibekukan di freezer supermarket.
"Sempurna, Bu Elena," puji stylist salon itu dengan nada riang yang palsu, sambil menyemprotkan hairspray terakhir. "Pak Adrian pasti makin lengket kalau lihat Ibu begini."
Aku ingin tertawa mendengarnya. Tawa histeris yang menyakitkan. Kalau saja dia tahu bahwa suamiku mendandaniku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk disajikan di atas piring perak bagi pria lain.
Adrian muncul dari ruang tunggu. Dia sudah mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos polo kasual, tapi matanya masih menyimpan kegelisahan yang sama. Dia berdiri di belakang kursiku, menatap pantulanku di cermin. Bukan dengan tatapan memuja, tapi tatapan quality control. Memastikan barang dagangannya tidak cacat.
"Kurang merah, Mbak," komentar Adrian tiba-tiba, menunjuk bibirku. "Bikin lebih... menantang. Jangan terlalu soft."
Stylist itu tampak bingung sejenak, tapi segera mengangguk patuh. "Baik, Pak."
Saat kuas lipstik itu kembali menyentuh bibirku, aku mengepalkan tangan di bawah kain penutup dada. Rasanya seperti sedang didandani untuk upacara pengorbanan.
Satu jam kemudian, kami berada di butik lingerie eksklusif di Plaza Indonesia.
Ini adalah bagian terburuknya.
Adrian menolak membiarkanku memilih sendiri. Dia berjalan menyusuri rak-rak gantungan yang memajang kain-kain renda tipis dan sutra transparan dengan percaya diri yang menjijikkan.
"Yang ini, El?" Dia mengangkat sebuah chemise putih sopan.
Aku baru mau mengangguk, tapi dia langsung menggeleng sendiri. "Ah, tidak. Terlalu polos. Membosankan."
Dia melempar baju itu kembali ke rak, lalu melangkah ke bagian koleksi terbaru yang diberi label 'Seduction Series'. Tangannya berhenti pada sepotong kain—kalau itu bisa disebut kain—berwarna hitam pekat dengan aksen tali-temali rumit dan renda transparan di bagian dada.
"Ini," Adrian menyeringai, matanya berkilat aneh. "Ini baru 'kelas'."
"Adrian, itu..." Tenggorokanku tercekat. "Itu transparan. Itu baju pelacur."
"Kecilkan suaramu," desis Adrian, senyumnya hilang seketika. Dia mencengkeram lengan atasku, menyeret sedikit ke sudut butik yang sepi. "Kita tidak sedang belanja baju pengajian, Elena. Kita sedang berusaha memuaskan selera triliuner. Cakra itu pria Alpha. Dia tidak butuh wanita pemalu. Dia butuh tontonan."
"Aku tidak mau pakai itu," tolakku, air mata mulai menggenang lagi.
"Pakai. Atau aku masuk ke sana dan memakaikannya paksa padamu," ancamnya dingin.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil lingerie hitam itu. Kainnya terasa licin dan dingin di tanganku, seolah terbuat dari dosa.
Aku masuk ke ruang ganti. Saat aku melihat diriku di cermin fitting room, aku nyaris muntah. Pakaian itu tidak menutupi apa pun. Justru menonjolkan segalanya. Kulit pucatku terlihat kontras dengan renda hitam yang membalut payudara dan pinggulku. Aku terlihat murah. Aku terlihat siap dipakai.
Saat aku keluar dengan membalut tubuhku menggunakan mantel luar, Adrian sudah menunggu di kasir. Dia membayar belanjaan itu dengan uang tunai—uang terakhir yang dia miliki di dompetnya. Investasi terakhir untuk hasil 50 miliar.
"Satu hal lagi," ujar Adrian saat kami berjalan menuju mobil.
Dia mengeluarkan botol parfum kecil dari saku celananya. Chanel No. 5. Parfum klasik yang wanginya kuat dan menggoda. Dia menyemprotkannya ke leher dan pergelangan tanganku, lalu—dengan lancang—menyemprotkannya sedikit ke belahan dadaku.
Aku tersentak mundur, menepis tangannya. "Apa-apaan kamu?!"
"Supaya wangi," jawabnya enteng, memasukkan botol itu ke tasku. "Jangan malu-maluin aku, El. Kalau dia tidak puas, dia bisa membatalkan transaksi. Ingat itu. Kamu harus... service dia. Lakukan apa pun yang dia minta. Apa pun."
Aku menatap pria di hadapanku ini. Dulu aku mencintainya. Dulu aku berpikir dia adalah pelindungku. Sekarang, dia berdiri di sana, memastikan istrinya cukup 'wangi' dan 'seksi' untuk tidur dengan musuhnya, hanya demi menyelamatkan kulitnya sendiri.
Rasa cinta itu tidak retak. Rasa cinta itu sudah menjadi debu.
"Ayo," katanya sambil membuka pintu mobil. "Jangan terlambat. Orang kaya benci menunggu."
Aku masuk ke dalam mobil, duduk kaku seperti patung lilin. Aroma parfum mahal yang menyengat hidungku kini terasa seperti bau formalin.
Persiapan selesai. Barang dagangan sudah dikemas rapi.
Tinggal menunggu pembelinya membuka bungkusan ini dan menghancurkan apa yang tersisa di dalamnya.
Lobi hotel bintang lima itu menjulang angkuh dengan pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dan langit-langit berlapis emas. Aroma lili segar dan uang lama menguar di udara, menyambut siapa pun yang melangkah masuk.Bagi tamu lain, ini adalah surga kemewahan. Bagiku, ini adalah gerbang penjara."Jalan yang tegap," bisik Adrian di telingaku, tangannya menekan punggung bawahku, mendorongku maju. "Jangan terlihat seperti orang mau dihukum mati. Kamu sedang 'liburan'."Aku memaksakan kakiku melangkah di atas karpet tebal yang meredam suara heels-ku. Mantel panjangku kurapatkan, menutupi lingerie laknat yang melekat di kulitku seperti racun. Di balik saku mantel, tanganku meremas amplop hitam dari pengacara tadi siang hingga lecek.Kami masuk ke dalam lift pribadi yang dikhususkan untuk tamu Penthouse.Pintu emas menutup perlahan, memisahkan kami dari keramaian lobi. Kini, hanya ada kami berdua di dalam kotak besi berlapis cermin ini.Suasana hening. Mencekam.Aku melirik pantulan Adrian
Di bawah sorot lampu ring light yang terlalu terang, aku menatap pantulan wajahku di cermin besar salon langganan para sosialita Jakarta itu. Wanita di cermin itu tampak sempurna. Rambut hitam legamnya telah di-blow bergelombang, kulitnya dipulas bedak mahal hingga pori-porinya lenyap, dan bibirnya dipulas merah marun yang bold.Cantik. Sangat cantik.Tapi matanya mati. Seperti mata ikan yang sudah dibekukan di freezer supermarket."Sempurna, Bu Elena," puji stylist salon itu dengan nada riang yang palsu, sambil menyemprotkan hairspray terakhir. "Pak Adrian pasti makin lengket kalau lihat Ibu begini."Aku ingin tertawa mendengarnya. Tawa histeris yang menyakitkan. Kalau saja dia tahu bahwa suamiku mendandaniku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk disajikan di atas piring perak bagi pria lain.Adrian muncul dari ruang tunggu. Dia sudah mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos polo kasual, tapi matanya masih menyimpan kegelisahan yang sama. Dia berdiri di belakang kursiku, menatap
Ruangan rapat di lantai 40 gedung perkantoran elit SCBD itu terasa seperti ruang operasi: steril, dingin, dan berbau kematian. Dinding kacanya menyajikan pemandangan langit Jakarta yang kelabu, sekelabu perasaanku saat ini.Aku duduk di kursi kulit hitam yang terlalu besar, merasa kerdil. Di hadapanku, sebuah dokumen setebal dua sentimeter tergeletak di atas meja marmer yang mengilap. Judulnya tertulis dengan huruf kapital tebal: PERJANJIAN PENYELESAIAN UTANG PIUTANG & KESEPAKATAN KERAHASIAAN (NDA).Di sebelahku, Adrian duduk dengan kaki bergoyang gelisah. Dia sudah mengenakan setelan jas baru—topeng retaknya sudah ditambal—meski lebam di pipinya masih terlihat jelas di bawah lapisan foundation tipis."Silakan dibaca poin-poin krusialnya, Bu Elena," ujar pria di hadapan kami.Pengacara itu—sebut saja dia Pak Anwar—memiliki wajah datar tanpa emosi, seolah dia sedang mengurus jual-beli tanah, bukan jual-beli manusia. Dia mendorong dokumen itu ke arahku dengan ujung jari.Aku menatap ker
Angin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata."Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap."Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yan
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.Adrian belum pulang.Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa."Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu er
Lift pribadi itu meluncur naik tanpa suara, membawa Adrian menembus lantai demi lantai Gedung Dirgantara Tower. Setiap detiknya terasa menyiksa. Di dinding lift yang terbuat dari cermin perunggu, Adrian bisa melihat bayangannya sendiri: jas yang kusut, sudut bibir yang bengkak membiru, dan mata yang menyiratkan keputusasaan.Dia sudah mencoba merapikan diri di toilet lobi, tapi bau amis darah dan keringat dingin masih menempel samar di kemejanya.Ting.Pintu lift terbuka.Bukan ruang kantor biasa yang menyambutnya, melainkan sebuah penthouse luas dengan dinding kaca setinggi lima meter yang menyajikan panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam. Indah, namun dingin.Suhu ruangan itu sepertinya disetel sepuluh derajat lebih rendah dari luar. Adrian menggigil, bukan hanya karena dinginnya AC, tapi karena aura ruangan itu. Semuanya bernuansa monokrom—hitam, abu-abu, dan perak. Tidak ada foto keluarga







