Share

Bab 6

Author: HierzhaThree
last update Last Updated: 2025-05-26 20:30:07

Linda menghampiri ibunya yang sedang di warung. Ibunya sedang melayani pelanggan. Sambil menunggu ibunya melayani pelanggan, Linda duduk dekat pintu. Ia melihat warung ibunya ternyata cukup lengkap.

Linda jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah masuk ke warung ibunya. Kalaupun ia butuh apa-apa, biasanya Linda menyuruh Ratna untuk mengambilnya.

Mata Linda terus menelusuri isi warung ibunya. Beras bertumpuk berkarung-karung, dan juga stock mie  yang berkarton-karton. Linda hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat itu semua. Pantesan ibunya sanggup membiayai kuliah Hera, dan memberi uang jajan Hera cukup besar. Ternyata warungnya sudah lumayan. 

"Ada apa Lin? Tumben kamu kesini?" tanya Bu Rodhiah sambil berjalan mendekat ke arah dimana Linda duduk. Warungnya sudah sepi karena pelanggan sudah terlayani semua.

"Anu Bu, aku mau ngomong sesuatu," jawab Linda ragu. Meskipun dia tidak pernah memberi ibunya, tapi Linda jarang sekali minta tolong ibunya apalagi soal keuangan. Selama ini suaminya sudah mencukupi kebutuhannya, jadi Linda tidak pernah meminta tolong apapun ke ibunya. Kecuali kalau ibunya punya sesuatu yang lebih, Linda akan meminta bukannya meminjam.

"Ngomong apa?" tanya Bu Rodhiah sambil mengambil kursi dan duduk tak jauh dari Linda.

"Anu Bu, aku mau pinjam uang," jawab Linda ragu. Wanita itupun tidak berani menatap ibunya. Sebenarnya Linda malu karna harus meminjam uang pada ibunya. Tapi karena suaminya yang memaksa, Linda terpaksa melakukannya.

"Pinjam uang? Berapa?" tanya Bu Rodhiah menatap lekat anaknya.

"Aku mau pinjam 55 juta Bu," jawab Linda dengan ragu. Ia masih belum berani menatap ibunya. Ada rasa takut juga, karena ini pertama kalinya Linda meminjam sebanyak itu.

"Banyak sekali Lin. Memangnya mau buat apa?" tanya Bu Rodhiah dengan menatap tajam anaknya. Terlihat anaknya begitu takut sampai tidak berani menatapnya.

Linda bingung akan menjawab apa. Kalau jujur suaminya yang butuh, dia malu. Apalagi kalau nanti ibunya cerita ke kakaknya, Andi, atau ke Hera. Nampak sekali rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.

"Aku pengin buka usaha Bu, dari pada aku duduk-duduk saja di rumah. Temanku ajak bisnis bareng," ujar Linda bohong. Mungkin dengan alasan bisnis, ibunya akan membantunya. Berbeda jika alasan karena suaminya butuh, ibunya pasti akan bertanya-tanya terus.

"Kamu yakin sama teman kamu itu? 55 juta bukan uang yang sedikit lho Lin," tanya Bu Rodhiah memastikan. Apalagi zaman sekarang banyak sekali penipuan bermodus bisnis.

"Ibu tenang saja. Temanku yang satu ini sudah banyak usaha. Dan sekarang dia mau buka lagi, tapi di bidang lain. Terus dia mengajakku untuk kerja sama," jawab Linda meyakinkan Bu Rodhiah. Kali ini Linda sudah berani menatap ibunya. Ia harus meyakinkan ibunya agar wanita itu percaya dengan kebohongannya.

"Terus kira-kira kamu kembalikannya kapan?" tanya Bu Rodhiah mencari kepastian.

"Aku nggak bisa janji, Bu. Tapi aku usahakan sebelum 6 bulan, aku sudah bayar semua ke Ibu," jawab Linda menatap ibunya.

"Tabungan ibu nggak banyak Lin, itu juga tabungan dulu karena alamarhum kakakmu setiap bulan selalu ngasih uang ke Ibu. Ibu tabung, dan ditambah jual tanah kemarin. Tapi kalau segitu ibu ada. Ibu buat persiapan Hera bayar semesteran, kalau cuma ngandelin warung ibu nggak bisa," cerita Bu Rodhiah.

Linda tidak percaya, apalagi melihat warung ibunya yang penuh. Tidak mungkin tabungan ibunya tidak banyak. Kalau untuk Hera, ibunya selalu usahakan. Sedangkan Linda setelah lulus SMA, langsung bekerja dengan alasan Linda cewek nggak perlu sekolah tinggi-tinggi.

"Nanti ibu transfer ke rekening aku aja ya Bu," ujar Linda.

"Iya. Nanti ibu transfer. Tapi kamu jangan cerita ke Andi atau Hera ya. Nanti mereka iri."

"Iya Bu. Ya udah aku masuk dulu." Linda pun bangun dari duduknya dan keluar meninggalkan warung ibunya.

Wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah, dan melihat suaminya masih terbaring di sofa.

Mendengar suara kaki masuk, Robi segera membuka matanya. Tak berapa lama, terlihat istrinya duduk tak jauh darinya. Robi pun segera bangun, karena penasaran dengan hasil pinjaman istrinya.

"Gimana Sayang?" tanya Robi pada istrinya. "Ibu meminjamkan atau tidak?"

Linda mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Ibu me___". Ucapan Linda terhenti karena tiba-tiba kamar kakaknya terbuka. Terlihat Anisa, kakak iparnya keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan. Wanita itu baru bangun tidur, dan hendak pergi ke kamar mandi.

Linda hanya melirik Anisa yang lewat begitu saja tanpa menyapa Linda dan suaminya.

"Istri apaan, bangunnya siang amat," nyinyir Linda lirih.  Linda tidak suka melihat Anisa yang semakin lama, bertingkah seperti ratu. Bangun selalu siang, tidak pernah menyiapkan makan untuk suami. Bahkan belanja bulanan atau belanja sayuran saja selalu nitip ke Linda. Meskipun begitu, Linda juga iri dengan kakak iparnya tersebut. Anisa cantik, dan punya pertemanan yang bagus. Tidak seperti dirinya, yang setiap hari di rumah.

“Sudah, nggak usah urusin orang lain. Kamu belum jawab pertanyaan ku,” ujar Robi penasaran.

“Oh iya. Ibu mau meminjamkan uang. Kebetulan aku ada simpanan 25 juta Mas. Aku pinjam ibu 55 juta. Tapi aku nggak bilang kamu yang pinjam. Aku malu, Mas,” ungkap Linda.

“Terus kamu beri alasan apa ke Ibu?” tanya Robi.

“Aku bilang ke Ibu, uang itu untuk usaha. Dan aku mengembalikan sebelum 6 bulan,” jawab Linda.

“Aduh Sayang. Kenapa kamu menjanjikan secepat itu. Kita dapat uang sebanyak itu dalam waktu 6 bulan, darimana?” Robi merasa kesal dengan istrinya.

“Ya mau gimana lagi. Kalau aku janjikan lama, takutnya ibu nggak mau pinjamkan. Nanti dari gaji kamu, aku simpan sedikit-sedikitlah.”

“Haduh pusing.” Robi menepuk jidatnya. Masalah yang ini selesai, muncul masalah baru lagi. Robi juga tidak tahu, dirinya akan di tetap diperbolehkan bekerja lagi di perusahaan itu atau tidak. Mengingat kasusnya cukup berat. Lolos, tidak mau masuk penjara saja sudah bonus bagi Robi saat ini.

“Terus gimana dong Mas?” tanya Linda ikut bingung juga. Dirinya tidak bisa membantu suaminya. Selama ini ia hanya bisa menerima uang dari suaminya, dan mengatur sebisa mungkin.

“Pikir nanti sajalah. Yang penting sekarang sudah lega. Aku nggak masuk penjara, karena sudah ada uang.”

“Memangnya kamu kenapa Mas? Kenapa harus membayar uang sebanyak itu?” tanya Linda pada suaminya.

“Itu Sayang, aku di fitnah temanku. Dia kan bantuin aku narikin setoran outlet, aku kira selama ini dia setorkan ke perusahaan. Ternyata tidak. Bodohnya aku, percaya aja gitu sama dia. Dan kemarin ada audit, ketahuan semua. Tapi perusahaan mengira aku yang makan uangnya, padahal bukan aku,” cerita Robi dengan nada dan wajah memelas.

“Harusnya kamu ngomong apa adanya dong Mas. Masa kamu nggak ada pembelaan sama sekali,” protes Linda.

“Sudah Sayang. Tapi percuma saja. Di dalam kontrak, area itu yang megang aku. Jadi akulah yang kena.”

“Ya bukan gitu. Kamu masa nggak pernah chat an sama teman kamu gitu, atau bukti yang lain. Kamu tunjukkan saja bukti itu, mungkin dengan itu perusahaan akan memberi keringanan. Nggak sampai 75 juta.”

“Sudah Sayang. Percuma saja. Mereka nggak mau tahu. Intinya aku harus ganti segitu. Kalau tidak, mereka akan proses kasus ini ke kantor polisi,” cerita Robi. 

“Nanti aku yang ke perusahaan kamu, biar aku yang ngomong.”

“Jangan gitu dong Sayang. Takutnya nanti malah merembet kemana-mana. Sudahlah, nggak usah perpanjang. Yang penting sekarang sudah dapat uangnya. Aku janji bakal mengembalikan secepatnya. Toh katanya nanti, kalau terbukti bukan aku yang pakai, uangnya akan dikembalikan lagi kok,” lanjut Robi. Ia sengaja berbohong untuk menenangkan sang istri. Kalau tidak, pasti istrinya akan nekat datang ke kantor. Yang ada malah ketahuan, kalau selama ini Robi sudah sering makan setoran.

“Oh, serius? Begitu kata perusahaan. Kalau begitu sih nggak apa-apa. Toh kamu nggak pakai, berarti nanti uangnya kembali,” ucap Linda dengan senyum bahagia. Akhirnya masalah uang selesai. Dia bisa bantu suami, tapi juga tidak akan lama berurusan dengan ibunya. Ia tahu ibunya itu kalau ada anaknya yang hutang, akan cerita-cerita kemana-mana. Dan di tagih terus.

_____

Athala begitu bahagia di dalam kereta. Selama ini, ia hanya bisa melihat kereta dari ponsel kakaknya. Bahkan mainan kereta pun Athala tidak punya.

Saat Andini kecil, ayahnya selalu membelikan apa yang anaknya mau. Sedangkan saat Athala, ayahnya meninggal. Jadi dia tidak bisa merasakan kebahagiaan yang Andini rasakan.

“Kakak, Athala seneng banget. Dari tadi sibuk lihat pemandangan sambil nggak berhenti ngoceh,” ucap Ratna dengan tersenyum.

“Ia Bu. Kita tidak pernah ngajak dia jalan-jalan. Jadi sekalinya jalan, dia seneng banget,” ujar Linda ikut bahagia melihat adiknya seperti itu.

“Alhamdulillah ya Sayang. Allah kasih rejeki buat kita jalan.”

“Iya Bu. Alhamdulillah. Kalau misal kontrak ini sudah deal, nanti ibu bantu aku buatkan nasi kuning ya. Kita bagi-bagi ke tetangga. Ngomong aja sukuran, nggak usah diucapkan secara detail.”

“Iya sayang, nanti ibu masakkan.”

Keduanya menikmati kebahagiaan diatas kereta. Melihat Athala yang begitu antusias melihat pemandangan sekitar.

Andini menatap ibunya yang duduk disampingnya. Nampak sekali wajah ibunya banyak kerutan, meskipun masih terlihat cantik. Ibunya memang cantik. Tua pun tetap cantik. Matanya menhitam, nampak sekali ibunya lelah.

Andini memegang erat lengan ibunya, Ratna pun menoleh ke arah anaknya. “Kenapa Kak?”

“Aku ingin bareng ibu terus sampai kapanpun. Aku akan mengajak Ibu dan Athala bahagia bareng denganku,” jawab gadis itu.

“Masa sama ibu terus? Kalau kamu sudah menikah ya kamu harus sama suami kamu lah. Nggak boleh sama ibu,” ucap Ratna.

“Aku belum kepikiran menikah Bu. Sepertinya kalau lulus nanti, aku mau kerja dulu sampai aku kaya. Aku mau memastikan kehidupan Ibu dan Athala terjamin dulu.”

“Terimakasih Sayang.”

Andini pun memeluk ibunya. Di dunia ini hanya ibunya yang ia punya. Wanita itu berjuang sendiri, mengabaikan kewarasan mentalnya demi kedua anaknya. Ia memilih bertahan di rumah mertuanya yang seperti harimau, demi anak-anaknya bisa berteduh. Meskipun dirinya tersakiti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 90

    Di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan, Robi duduk bersama beberapa temannya. Asap rokok mengepul di udara, bercampur dengan aroma kopi hitam yang mereka seruput. Mereka sudah berkumpul sejak tadi, mengobrol tentang banyak hal, dari kerjaan yang tak kunjung datang hingga tentang judi online yang sedang mereka mainkan. "Jadi kamu kembali lagi dengan istrimu, Rob?" tanya salah satu temannya, sambil mengaduk kopi dalam gelas kecilnya. Robi menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik yang sudah reyot. Ia menghembuskan napas berat sebelum menjawab. "Iya. Mau gimana lagi? Di rumah orang tuaku, kena sindir terus gara-gara nggak kerja." Matanya melirik temannya dengan ekspresi malas. "Ya gimana mau kerja, motor aja nggak ada." Temannya tertawa kecil. "Untungnya kamu, Rob. Masih diterima istrimu meskipun punya banyak kesalahan." Robi menyeringai, bibirnya melengkung dengan kesombongan terselubung. "Dia nggak bisa lepas dari aku. Apapun masalahnya, dia nggak akan bisa lepas dari aku,"

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 89

    Rio menatap lembaran kertas di tangannya. Tanda tangan yang Andini minta sebagai syarat Alvin meminjam uang."Kamu ngomong apa ke mereka, kok bisa dapat tanda tangan secepat itu?" tanya Rio curiga, matanya mengamati Alvin yang berdiri dengan santai di depannya. "Kamu nggak bilang yang minta tanda tangan itu Andini, kan?"Alvin tertawa kecil, menggeleng. "Nggak kok. Santai aja, Rio."“Tapi ngomong-ngomong, Andini mau pakai buat apa?” tanya Alvin.“Entahlah. Aku pun nggak tahu,” jawab Rio pura-pura nggak tahu. “Yakin, kamu nggak tahu Yo?” tanya Alvin.“Iya,” jawab Rio singkat.Keduanya pun terdiam sesaat. Rio yang Alvin kenal, tidak seperti dulu. Jika dulu Rio akan bercerita semua apa yang dialaminya. Sekarang tidak. Bahkan Alvin baru tahu kemarin, kalau Andini sudah menjadi calon istri Rio. Entah kapan mereka jadian."Kamu berubah, Rio," lanjut Alvin tiba-tiba, suaranya le

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 88

    "Mas, aku mau keluar dulu ya. Temanku kecelakaan," ujar Anisa dengan nada cemas sambil meraih tas kecilnya.Andi, yang tengah duduk di sofa sambil memangku Disa, anak mereka yang baru berusia dua bulan lebih, langsung menatap istrinya. "Aku antar," katanya tegas.Anisa menggeleng cepat. "Nggak usah, Mas. Aku sendirian aja. Kamu jaga Disa. Dia lagi tidur, kan?"Andi melirik ke arah putrinya yang terlelap dalam dekapan. Tarikan napasnya terdengar berat, seakan ingin membantah, tapi dia tahu Anisa benar. Dia tidak bisa meninggalkan Disa sendirian."Yaudah, hati-hati. Jangan lama-lama," ucapnya akhirnya, meski raut wajahnya masih tampak ragu.Tanpa banyak bicara lagi, Anisa segera meraih kunci motor dan melesat keluar rumah. Hatinya penuh kegelisahan. Farhan Hartawan, pria yang selama ini menjadi tumpuannya dalam diam, mengalami kecelakaan. Bagaimana kondisinya sekarang?Sesampainya di Rumah Sakit Bhakti

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 87

    Bu Rodhiah tiba di rumah sakit tepat pukul delapan malam. Udara malam yang dingin menyelinap ke dalam jaket tipisnya saat ia melangkah menuju kamar rawat Hera. Di dalam tirai bagian Hera, hanya ada Hera yang terlelap di ranjang rumah sakit, dengan bayinya meringkuk di sampingnya. Cahaya lampu temaram membuat wajah Hera tampak lebih pucat, kelelahan masih tergambar jelas di raut wajahnya.Bu Rodhiah mendekat, lalu dengan lembut menepuk tangan putrinya."Hera," panggilnya pelan.Hera tersentak dan membuka matanya, lalu terkejut mendapati ibunya berdiri di samping tempat tidur."Ibu," gumamnya dengan suara serak.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Bu Rodhiah.“Sudah mendingan Bu. Ibu kok lama banget sih datangnya?”“Tadi tanggung, ada pembeli. Jadi nunggu melayani pembeli selesai, baru kesini,” jawab Bu Rodhiah."Alvin mana?" tanya Bu Rodhiah, matanya langsung menyapu ruangan, menc

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 86

    "Maaf ya, Yo. Aku terlalu sering merepotkan kamu," ucap Andini pelan. Ada nada sungkan dalam suaranya sambil melanjutkan makanannya yang belum habis.Rio tersenyum kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Santai aja. Selama itu demi kebaikan, aku pasti dukung. Lagipula, rumah itu memang hak kamu dan adikmu. Kalian berhak mendapatkannya."Andini mendesah pelan. "Tapi aku butuh bukti otentik. Kalau nanti masalah ini diperdebatkan, aku nggak mau kalah begitu saja.""Kita berdoa aja, semoga Alvin bisa dapetin tanda tangan nenek dan om tantemu," kata Rio, suaranya penuh keyakinan."Aamiin," gumam Andini.Mereka kembali melanjutkan makan. Sendok-sendok beradu dengan piring, tapi keheningan di antara mereka terasa lebih berat dari sebelumnya. Sesekali, Rio melirik Andini yang duduk di hadapannya. Tatapannya lembut, nyaris sendu. Ia mengamati cara Andini menyuap makanan, caranya menghela napas sejenak sebelum mengambil

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 85

    Hera akhirnya melahirkan melalui operasi sesar. Bayinya seorang perempuan, cantik, dengan wajah yang begitu mirip dengan Alvin.Di luar ruang operasi, Alvin asik duduk sambil bermain game nya. Saat seorang suster memanggil Alvin untuk masuk ke dalam, Alvin mengikutinya memasuki ruangan yang di dalamnya ternyata terdapat banyak ruangan lagi. Terlihat suster membawa bayi mungil dalam selimut putih, ia segera menghampiri."Pak, anaknya diazankan dulu," ucap suster itu sambil tersenyum.Alvin terdiam, menatap bayi kecil yang kini ada di hadapannya. Tubuhnya begitu mungil, wajahnya tenang meski napasnya masih terdengar kecil. Perlahan, ia mengulurkan tangan untuk menggendongnya. Tapi, begitu bayi itu ada di pelukannya, rasa panik justru menyerangnya."Istri saya mana, Bu?" tanyanya, suaranya terdengar kaku."Masih di ruang operasi. Sebentar lagi selesai."Alvin mengangguk, lalu kembali menatap bayinya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status