Share

Bab 8

Author: HierzhaThree
last update Huling Na-update: 2025-05-26 20:31:59

"Mama, aku laper!" rengek Firda sambil memegang perutnya.

Mendengar panggilan anaknya, Linda baru sadar kalau sudah siang, dan anaknya harus sarapan sebelum pergi.

"Aduh, gimana ya?" Linda kebingungan.

"Masak saja sana Lin. Aku ikut makan sekalian. Lapar juga nih," sela Andi yang juga kelaparan.

"Aku kan nggak bisa masak, Mas," tutur Linda.

"Masak telur atau apalah yang penting jadi makanan," ujar Andi.

"Oke. Oke." Linda bergegas ke dapur.

Sedangkan Bu Rodhiah sedari tadi duduk sambil melamun, pikirannya tidak tenang memikirkan ucapan cucunya tadi. Andini sudah mengetahui rahasia besar yang ia simpan. Bagaimana kalau ternyata Ratna tahu dan meminta haknya. Bagaimana kalau dia meminta rumah ini di jual?

"Aaarrghh, tidak!!" Bu Rodhiah tidak berani membayangkan hal itu.

Andi yang sudah selesai memakai sepatu melihat ibunya begitu aneh. Andi segera menghampiri Ibunya.

"Kenapa Bu?" tanya Andi.

"Andi! Andini kan sudah tahu kalau rumah ini itu milik ayahnya. Terus kalau Ratna nanti minta jual rumah ini gimana?" tanya Bu Rodhiah panik.

"Tenang saja Bu, Mbak Ratna nggak akan melakukan itu. Sepertinya dari ucapan Andini yang bisik-bisik, ibunya belum tahu kenyataan kalau rumah ini milik Mas Anto. Buktinya sampai sekarang Mbak Ratna masih nurut kan sama kita, berarti karena dia nggak tahu apa-apa Bu. Yang bahaya itu Andini, Bu," jelas Andi.

"Iya Ndi. Andini memang bahaya. Ibu cuma takut rumah ini di jual," panik Bu Rodhiah.

"Tenang saja Bu, nggak mungkin dijual."

Tiba-tiba terdengar suara Linda memanggil Andi. Linda membawakan dua piring sudah berisi nasi dan lauknya.

"Mas Andi! Firda!" teriak Linda.

"Apku mau makan dulu ya Bu,” pamit Andi dan meninggalkan ibunya.

Firda keluar dari kamarnya dan duduk didepan televisi mengambil satu piring yang sudah disediakan mamanya.

"Hoek! Hoek!" Firda memuntahkan suapan pertama yang ia makan.

"Kenapa Fir?" tanya Linda dan mengambil piring yang ada dari tangan Firda.

Sedangkan Andi yang hendak saja menyuapkan nasi ke mulutnya berhenti dan menatap keponakannya. Ia tiba-tiba saja menjadi ragu untuk makan.

"Mama masak apa mau meracuni kita sih Ma?" tanya Firda mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan yang ada di mulutnya.

"Memangnya kenapa Fir?" tanya Linda.

"Mamah cicipi aja sendiri!” jawab Firda.

Linda pun sedikit memakan telur yang ia masak. Wanita itu pun memuntahkan makanan tersebut.

"Memangnya telurnya kenapa Nda?" tanya Andi.

"Telurnya bau busuk Mas, plus asin banget," jawab Linda.

Andi meletakkan piring yang masih ia pegang dari tadi.  "Lah kamu Lin, nggak bisa diharapkan."

Firda dan Andi pun bangun dan memilih untuk langsung berangkat. Linda ke dapur dan meletakkan piring ke wastafel, tapi karena sudah penuh, jadi ia letakkan piring tersebut ke bak dibawah yang sudah disediakan untuk menampung piring kotor.

Linda keluar dapur dan menghampiri ibunya.

"Bu," panggil Linda.

"Hemm," jawab Bu Rodhiah hanya dengan berdehem. Pikirannya lagi kacau, bahkan dari tadi ada orang mau beli ke warungnya saja, Bu Rodhiah enggan melayani.

"Bu, piring kotor di belakang banyak banget. Ibu nanti suruh Mbak Ratna mencuci ya Bu," ujar Linda.

"Jangan! Awas aja kamu menyuruh Ratna. Dah, kamu aja yang mencuci. Kaya gitu aja repot," sergah Bu Rodhiah.

"Masa aku Bu?" tanya Linda tidak percaya. Apalagi piring kotor itu piring 3 hari yang lalu, baunya sudah tidak karuan.

"Yasudah sana kamu barengan cuci sama Anisa kalau dia mau," jawab Bu Rodhiah kemudian bangun dari duduknya dan keluar.

Linda mendengus kesal. Karena tidak mau mencuci piring itu sendiri. Akhirnya dia memilih untuk mengajak kakak iparnya. Baru saja Linda bangun dari sofa, terlihat Ratna keluar dari kamarnya sambil menggendong anak bungsunya.

Linda memandang Ratna dengan tatapan sengit, sambil mengomel. "Senang lah sekarang jadi Ratu. Nggak mengerjakan ini dan itu. Awas aja ya kamu, Mbak."

Ratna yang tidak mau ribut, memilih terus berjalan tanpa meladeni ocehan Linda.

Linda semakin kesal karena Ratna tidak merespon sindirannya. Ia berjalan dengan emosi menuju ke kamar Anisa.

Tok! Tok! Tok!

Linda terus mengetuk pintu kamar Anisa. Tetapi tidak juga di buka. Linda terus berusaha mengetuknya lagi. Tak berapa lama, akhirnya pintu kamar pun terbuka. Terlihat sosok Anisa yang sedang menguncir rambut panjangnya dan wajahnya yang terlihat masih mengantuk.

"Ada apa Lin?" tanya Anisa.

"Mbak, ibu menyuruh aku dan Mbak Anisa mencuci piring yang ada di wastafel.”

"Cuci piring?" tanya Anisa sambil melotot matanya tidak percaya.

"Iya Mbak."

"Nggak mau! Biasanya juga Mbak Ratna. Tunggulah sampai dia pulang nanti, biar dia aja yang cuci," ujar Anisa enteng tanpa beban.

"Mbak Ratna sudah pulang semalam," jelas Linda.

Baru saja membicarakan Ratna, tiba-tiba wanita itu muncul dengan menggendong Athala yang masih memakai handuk.

"Nah itu orangnya. Umur panjang kamu Mbak Ratna," ucap Anisa sambil menunjuk ke arah Ratna yang sedang berjalan.

Ratna yang mulai melewati mereka pun masa bodoh. Telinganya mendengar pembicaraan mereka. Ternyata mereka sedang membicarakan tentang dirinya, dan meributkan masalah cucian piring.

"Mbak Ratna!" panggil Anisa.

Ratna pun berhenti dan menoleh ke arah Anisa. "Kenapa Anisa?"

"Setelah ini, Mbak Ratna langsung mencuci piring yang ada di wastafel ya Mbak. Terus jangan lupa, cuci baju juga. Nanti aku beri tambahan deh 20 ribu," ujar Anisa dengan sikap sombongnya.

"Maaf ya Anisa. Per hari ini, aku sudah tidak mau mencuci baju kamu lagi. Bukan hanya mencuci saja, memasak pun aku sudah tidak mau. Sekali lagi maaf ya," jelas Ratna dengan tenang. Wanita itu berusaha tenang meskipun jantungnya berdebar cepat.

"Sombong sekali kamu Mbak Ratna. Baru saja pergi keluar satu kali, pulang-pulang sudah langsung sombong aja. Memangnya kamu sudah nggak butuh uang lagi?" Tanya Anisa dengan senyum mengejek.

"Bukannya aku nggak butuh uang, Anisa. Tapi aku mau fokus ke Athala dulu," jelas Ratna.

"Oh begitu. Awas aja kamu. Nanti aku adukan ke ibu, biar kamu tahu rasa!" kesal Anisa.

Ratna tidak pedulikan lagi ocehan Anisa. Ia melanjutkan jalannya, sambil mengajak ngobrol Athala.

Bu Rodhiah yang kebetulan masuk ke dalam, melihat Ratna sedang berjalan menggendong Athala.

"Ibu, lihat tuh Mbak Ratna. Sekarang sudah nggak mau ngapa-ngapain lagi disini. Katanya dia juga nggak mau mencuci dan memasak lagi!" tutur Anisa dengan nada agak keras.

Ratna yang mendengar itu semua pura-pura tidak peduli. Bu Rodhiah menatap Ratna dengan tatapan sengit. Ia tidak suka menantunya itu santai-santai. Tapi mau menyuruh-nyuruh Ratna pun, Bu Rodhiah tidak berani. Cucunya, Andini lebih berbahaya. 

Wanita tua itu melanjutkan berjalan masuk ke dalam. Tujuannya masuk ke dalam rumah, hendak membangunkan anak bungsunya.

"Kamu dan Linda sekarang cuci dan masak sendiri. Jangan suruh-suruh Ratna lagi," tegas Bu Rodhiah pada Anisa dan Linda.

Anisa masih shock dengan peringatan mertuanya itu. Mulutnya masih terbuka tidak percaya sampai mertuanya itu berlalu.

"Mbak Anisa mah nggak percaya ucapanku!” ujar Linda.

"Ibu kenapa Lin?" tanya Anisa. "Kenapa Ibu kaya takut gitu sama Mbak Ratna?"

Linda pun menceritakan tentang ancaman Andini kepada ibunya pagi tadi. Anisa yang mendengarkan cerita Linda, merasa sesak napas.

"Terus sekarang bagaimana dong Lin?" tanya Anisa merasa bingung.

"Aku juga nggak tahu Mbak," jawab Linda pasrah.

"Aku punya ide Lin. Aku yakin dengan ini semua, Mbak Ratna pasti mau melakukan apa yang kita suruh," ucap Anisa dengan senyuman jahat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 90

    Di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan, Robi duduk bersama beberapa temannya. Asap rokok mengepul di udara, bercampur dengan aroma kopi hitam yang mereka seruput. Mereka sudah berkumpul sejak tadi, mengobrol tentang banyak hal, dari kerjaan yang tak kunjung datang hingga tentang judi online yang sedang mereka mainkan. "Jadi kamu kembali lagi dengan istrimu, Rob?" tanya salah satu temannya, sambil mengaduk kopi dalam gelas kecilnya. Robi menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik yang sudah reyot. Ia menghembuskan napas berat sebelum menjawab. "Iya. Mau gimana lagi? Di rumah orang tuaku, kena sindir terus gara-gara nggak kerja." Matanya melirik temannya dengan ekspresi malas. "Ya gimana mau kerja, motor aja nggak ada." Temannya tertawa kecil. "Untungnya kamu, Rob. Masih diterima istrimu meskipun punya banyak kesalahan." Robi menyeringai, bibirnya melengkung dengan kesombongan terselubung. "Dia nggak bisa lepas dari aku. Apapun masalahnya, dia nggak akan bisa lepas dari aku,"

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 89

    Rio menatap lembaran kertas di tangannya. Tanda tangan yang Andini minta sebagai syarat Alvin meminjam uang."Kamu ngomong apa ke mereka, kok bisa dapat tanda tangan secepat itu?" tanya Rio curiga, matanya mengamati Alvin yang berdiri dengan santai di depannya. "Kamu nggak bilang yang minta tanda tangan itu Andini, kan?"Alvin tertawa kecil, menggeleng. "Nggak kok. Santai aja, Rio."“Tapi ngomong-ngomong, Andini mau pakai buat apa?” tanya Alvin.“Entahlah. Aku pun nggak tahu,” jawab Rio pura-pura nggak tahu. “Yakin, kamu nggak tahu Yo?” tanya Alvin.“Iya,” jawab Rio singkat.Keduanya pun terdiam sesaat. Rio yang Alvin kenal, tidak seperti dulu. Jika dulu Rio akan bercerita semua apa yang dialaminya. Sekarang tidak. Bahkan Alvin baru tahu kemarin, kalau Andini sudah menjadi calon istri Rio. Entah kapan mereka jadian."Kamu berubah, Rio," lanjut Alvin tiba-tiba, suaranya le

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 88

    "Mas, aku mau keluar dulu ya. Temanku kecelakaan," ujar Anisa dengan nada cemas sambil meraih tas kecilnya.Andi, yang tengah duduk di sofa sambil memangku Disa, anak mereka yang baru berusia dua bulan lebih, langsung menatap istrinya. "Aku antar," katanya tegas.Anisa menggeleng cepat. "Nggak usah, Mas. Aku sendirian aja. Kamu jaga Disa. Dia lagi tidur, kan?"Andi melirik ke arah putrinya yang terlelap dalam dekapan. Tarikan napasnya terdengar berat, seakan ingin membantah, tapi dia tahu Anisa benar. Dia tidak bisa meninggalkan Disa sendirian."Yaudah, hati-hati. Jangan lama-lama," ucapnya akhirnya, meski raut wajahnya masih tampak ragu.Tanpa banyak bicara lagi, Anisa segera meraih kunci motor dan melesat keluar rumah. Hatinya penuh kegelisahan. Farhan Hartawan, pria yang selama ini menjadi tumpuannya dalam diam, mengalami kecelakaan. Bagaimana kondisinya sekarang?Sesampainya di Rumah Sakit Bhakti

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 87

    Bu Rodhiah tiba di rumah sakit tepat pukul delapan malam. Udara malam yang dingin menyelinap ke dalam jaket tipisnya saat ia melangkah menuju kamar rawat Hera. Di dalam tirai bagian Hera, hanya ada Hera yang terlelap di ranjang rumah sakit, dengan bayinya meringkuk di sampingnya. Cahaya lampu temaram membuat wajah Hera tampak lebih pucat, kelelahan masih tergambar jelas di raut wajahnya.Bu Rodhiah mendekat, lalu dengan lembut menepuk tangan putrinya."Hera," panggilnya pelan.Hera tersentak dan membuka matanya, lalu terkejut mendapati ibunya berdiri di samping tempat tidur."Ibu," gumamnya dengan suara serak.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Bu Rodhiah.“Sudah mendingan Bu. Ibu kok lama banget sih datangnya?”“Tadi tanggung, ada pembeli. Jadi nunggu melayani pembeli selesai, baru kesini,” jawab Bu Rodhiah."Alvin mana?" tanya Bu Rodhiah, matanya langsung menyapu ruangan, menc

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 86

    "Maaf ya, Yo. Aku terlalu sering merepotkan kamu," ucap Andini pelan. Ada nada sungkan dalam suaranya sambil melanjutkan makanannya yang belum habis.Rio tersenyum kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Santai aja. Selama itu demi kebaikan, aku pasti dukung. Lagipula, rumah itu memang hak kamu dan adikmu. Kalian berhak mendapatkannya."Andini mendesah pelan. "Tapi aku butuh bukti otentik. Kalau nanti masalah ini diperdebatkan, aku nggak mau kalah begitu saja.""Kita berdoa aja, semoga Alvin bisa dapetin tanda tangan nenek dan om tantemu," kata Rio, suaranya penuh keyakinan."Aamiin," gumam Andini.Mereka kembali melanjutkan makan. Sendok-sendok beradu dengan piring, tapi keheningan di antara mereka terasa lebih berat dari sebelumnya. Sesekali, Rio melirik Andini yang duduk di hadapannya. Tatapannya lembut, nyaris sendu. Ia mengamati cara Andini menyuap makanan, caranya menghela napas sejenak sebelum mengambil

  • Ku Bayar Derita Ibuku sebagai Menantu   Bab 85

    Hera akhirnya melahirkan melalui operasi sesar. Bayinya seorang perempuan, cantik, dengan wajah yang begitu mirip dengan Alvin.Di luar ruang operasi, Alvin asik duduk sambil bermain game nya. Saat seorang suster memanggil Alvin untuk masuk ke dalam, Alvin mengikutinya memasuki ruangan yang di dalamnya ternyata terdapat banyak ruangan lagi. Terlihat suster membawa bayi mungil dalam selimut putih, ia segera menghampiri."Pak, anaknya diazankan dulu," ucap suster itu sambil tersenyum.Alvin terdiam, menatap bayi kecil yang kini ada di hadapannya. Tubuhnya begitu mungil, wajahnya tenang meski napasnya masih terdengar kecil. Perlahan, ia mengulurkan tangan untuk menggendongnya. Tapi, begitu bayi itu ada di pelukannya, rasa panik justru menyerangnya."Istri saya mana, Bu?" tanyanya, suaranya terdengar kaku."Masih di ruang operasi. Sebentar lagi selesai."Alvin mengangguk, lalu kembali menatap bayinya.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status