Share

Gendis 5

last update Last Updated: 2025-11-05 20:48:36

"Kamu sejak tadi ngoceh nggak jelas. Langsung aja ke mana arah pembicaraannya. Aku banyak kerjaan, Han," kata Gendis dengan nada datar.

"Kok, kamu nggak dengerin ucapanku. Aku minta maaf atas kekhilafanku, Sayang. Perempuan itu menggoda dan menjebakku. Demi Allah, aku nggak ada niat selingkuh dari kamu." Reyhan mulai memainkan akting epik yang dikatakan oleh sang ibu.

"Oh, ya? Aku udah tahu kok. Kamu tenang saja," kata Gendis yang mendadak berubah sikap, menjadi lebih lunak.

Hati Reyhan bersorak girang saat ini. Ia tahu jika sang istri sangat bucin padanya. Ternyata benar kata sang ibu, minta maaf adalah solusi terbaik. Gendis tampak biasa saja.

"Oh, ya, Sayang, makasih banyak kamu udah bayarin biaya rumah sakit Ayu." Reyhan semakin tidak jelas.

"Oh, si Ayu sakit? Emang sakit apa?" tanya Gendis dengan wajah polos.

"Nggak usah bercanda, Sayangnya aku. Aku tahu, kamu suka ngasih aku dan keluargaku kejutan. Tapi, kali ini aku makasih banget. Kamu selalu ada saat aku terpuruk," kata Reyhan membuat Gendis mengerjab beberapa kali.

"Aku beneran nggak tahu loh, kamu ngomong apa? Perasaan, aku nggak ada pengeluaran untuk rumah sakit. Cek saja di bagian administrasi." Gendis tampak santai saat mengatakannya. "Lagian, aku malah nggak tahu kalo Ayu masuk rumah sakit? Atau jangan-jangan selingkuhan Ayu yang bayarin. Kamu nggak tau?" tanya Gendis tampak santai.

"Nggak usah ngawur. Ayu dan Adam itu dulu pacaran dari jaman SMP, nggak adalah mereka kaya gitu. Lagian, ngapain adikku selingkuh? Atau kamu lagi nyindir aku, Ndis?" tanya Reyhan tampak tidak suka mendengar ucapan wanita yang saat ini sedang menata brokoli dan wortel juga telur di atas piring.

"Aku ngomongin fakta, Han. Semua orang juga sudah tahu. Ayu adikmu selingkuh sama Andika. Andika yang punya usaha properti itu. Ya, mungkin uang Adam nggak cukup buat kehidupan hedon adik kamu. Makanya, Adam sampai nggelapin uang dari resto aku. Sekarang Adam aja ada di kantor polisi. Dia harus tanggung jawab. Ya, siap-siap aja si Ayu juga bakalan ditahan. Dia menerima uang itu." Reyhan sangat syok mendengar ucapan Ayu saat ini.

Reyhan bahkan tidak tahu menahu perihal hubungan rumah tangga sang adik. Ia terlalu sibuk mengejar selangkangan wanita di luar sana. Reyhan melirik Gendis yang tampak tenang saat makan. Wanita yang telah dinikahi lima tahun lamanya itu tampak tidak terusik dengan apa pun.

"Apa nggak ada jalan lain untuk Adam?" tanya Reyhan membuat Gendis menoleh dan menatap tajam.

"Nggak ada. Semua sudah aku serahin sama pengacara yang ngurusin semua restoran aku. Kamu kalo ada uang, gantiin aja uang restoranku yang dibawa kabur sama si Adam," kata Gendis tanpa mau kompromi saat ini.

Reyhan kesulitan menelan saliva. Sikap Gendis sudah sangat berubah saat ini. Tidak lagi Gendis yang manja dan akan menyambut kedatangannya saat pulang. Gendis bahkan tampak tidak peduli sama sekali dengan keberadaannya.

Hari semakin siang, Gendis menghadiri beberapa rapat tentang UMKM di lingkungan mahasiswa. Ia menjadi bintang tamu yang menyuarakan tentang bisnis yang berawal dari rumah. Semua bisa dilakukan saat ini karena kemajuan tekhnologi. Gendis menginspirasi banyak orang-orang disekitarnya.

"Mbak Gendis, Mas Reyhan tadi minta izin pengen lihat pemasukan restoran bulan ini." Novita berbisik agar tidak didengar oleh siapa pun.

"Kamu kasih aja. Liatkan sama dia. Bukan data yang asli. Data yang satunya," kata Gendis santai meski ada Reyhan tak jauh dari mereka.

Gendis berusaha tersenyum pada Novita untuk menghindari kecurigaan Reyhan. Reyhan pun mendekat dengan wajah sumringah saat ini. Ia bahagia saat melihat omset dari restoran yang tak biasa. Reyhan sudah tidak bisa mengakses data administrasi terbaru restoran milik Gendis.

"Mbak Gendis, terima kasih atas kerja samanya." Andika--pengusaha properti menengah tiba-tiba medekat dan membuat Gendis punya ide baru.

Suasana mendadak canggung karena Andika kaget melihat Reyhan ikut bersama Gendis. Ia takut jika kakak Ayu itu akan berbuat kasar. Andika juga tidak bisa langsung pergi setelah menyapa Gendis. Gendis pasti akan mengobrol seputar seminar tadi.

"Sama-sama, Mas Andika. Oh, ya, kemarin Ayu masuk rumah sakit. Aku baru dengar tadi pagi dari suamiku." Gendis sengaja membakar emosi dua laki-laki itu. "Ayu sakit apa, Han?" tanya Gendis mengalihkan pandangan pada laki-laki yang masih sah menjadi suaminya itu.

"Eh? Itu, anu... Ayu pendarahan, Ndis," kata Reyhan gugup karena takut.

Reyhan menjadi penyebab sang adik pendarahan saat itu. Ia tidak mau dilaporkan pada pihak berwajib. Sudah beberapa tahun menikah dengan Adam, Ayu memang tak kunjung hamil. Ini adalah kehamilan pertama Ayu.

"Oh, baru tahu aku. Ayu hamil, Han?" tanya Gendis dengan tatapan yang sulit diartikan.

"I-iya, kata Dokter usia kandungannya baru sepuluh minggu. Jadi, ya, masih agak lemah." Reyhan dengan santainya mengatakan hal itu.

"Kamu emang nggak tahu, ya, Han? Adam itu dinyatakan mandul. Ayu hamil sama siapa? Ini benaran, 'kan Ayu hamil? Dokter salah diagnosa nggak?" Coba kamu cek lagi ke rumah sakit yang bersangkutan," kata Gendis mencoba memprovokasi sang suami dan Andika.

Wajah Andika mendadak menjadi seputih kapas. Ia salah langkah. Gendis bukan perempuan yang bisa ditindas sama sekali. Beberapa waktu yang lalu, kerja sama mereka berdua batal; Gendis tidak jadi memakai jasa milik Andika untuk membangun rumah.

"Ndis, ini di tempat umum loh. Kok kamu malah ngomong yang nggak jelas." Reyhan juga menjadi panik saat ini. "Kita bisa loh pakai banget ngomongin ini di rumah," lanjutnya merasa tidak enak saat banyak orang yang berbisik-bisik.

"Di rumah? 'Kan masalahnya ada di sini, Mas. Rumah itu tempat untuk istirahat melepas penat. Kalo ngomongin masalah, ya, pada tempatnya. Aku udah berusaha menyelesaikan masalah pada tempatnya. Ya, seperti yang kamu bilang saat di rumah Ibuk," kata Gendis tampak sangat tenang.

"Mbak Gendis, aku pamit dulu, ya. Lain waktu kita obrolin lagi masalah bisnis kita yang tertunda ini." Andika merasa kikuk karena tahu ke mana arah pembicaraan Gendis saat ini.

"Loh? Jangan pergi dulu. Aku mau tanya satu hal, Mas Andika. Ini sih pertanyaan dari Reyhan tadi pagi. Aku nggak pernah bayar uang rumah sakit punya Ayu. Apa itu kamu yang bayar?" Pertanyaan Gendis membuat semua orang menatap ke arah Andika. "Andai bukan Mas Andika atau saya yang bayar? Apa mungkin Ayu berselingkuh lebih dari satu laki-laki?" tanya Gendis yang tampak santai.

Gendis pandai melempar umpan untuk dua laki-laki. Reyhan jelas merasa terluka harga dirinya. Ayu sang adik yang selama ini disayanginya ternyata tega mempermalukannya. Wajah Reyhan merah padam menahan amarah.

Terima kasih sudah membaca.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kubeli Harga Dirimu, Mas!   Ekstra Part(End)

    Lima tahun sudah berlalu sejak hari ketika Gendis meninggalkan masa lalunya yang kelam. Di rumah kecil bercat putih di pinggiran kota Yogyakarta, ia hidup bersama putrinya, Naira, yang kini berusia delapan tahun. Setiap pagi, aroma kopi dan roti panggang selalu memenuhi udara, berpadu dengan tawa kecil Naira yang ceria.Keputusan pindah dari ibu kota ke kota asal sudah dipertimbangkan Gendis masak-masak. Kehidupan di ibu kota tidak baik untuk sang anak. Anaknya sudah mulai cerdas dengan banyak pertanyaan. Ponsel--benda pipih itu memberitahu banyak hal pada sang anak. Sebuah pengorbanan yang tidak mudah. Gendis mencari beberapa orang yang bisa dipercaya untuk mengelola restoran geprek miliknya. Nawang--sang kakak pun ikut turun tangan membantu. Ternyata, pengorbanan yang menyakitkan itu berbuah manis. “Bunda, hari ini aku mau pakai baju ungu ya. Soalnya Kak Sari bilang warna ungu itu warna keberanian!” seru sang anak sambil berlari kecil ke meja makan.Gendis tersenyum lembut, mengus

  • Kubeli Harga Dirimu, Mas!   Gendis 40

    Reyhan terkejut saat melihat kedatangan Karina bersama beberapa laki-laki. Wajah mereka begitu sangar. Reyhan menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu, Karina tidak akan memberikan tumpangan tempat tinggal lagi."Kamu kenapa, Sayang? Kita bisa bicarakan masalah kita. Jangan karena pemberitaan di media sosial kita malah jadi ribut. Gendis memang nggak suka lihat kita berdua bahagia," kata Reyhan berusaha tenang."Rey, aku nggak mau namaku hancur. Aku susah payah agar dapat pekerjaan melalui media sosial. Ada baiknya kamu tidak lagi tinggal di sini. Apartemen ini milikku," kata Karina tanpa basa-basi sama sekali."Ya, aku tahu. Tapi, kalo aku keluar dari sini, aku tinggal di mana?" Reyhan menampakkan mimik muka yang menyedihkan."Aku nggak tahu. Kamu usaha cari tempat tinggal. Kali ini maaf, aku nggak bisa lagi." Karina lantas keluar dari unit apartemen dan membuat Reyhan bingung.Tiga orang laki-laki itu lantas mengemas semua barang Reyhan tanpa menunggu perintah. Reyhan jelas tidak b

  • Kubeli Harga Dirimu, Mas!   Gendis 39

    Langit sore di Jakarta mulai memerah ketika kabar tentang Reyhan muncul di beranda media sosial. Dua bulan berlalu sejak pertengkarannya dengan Gendis, mantan istrinya yang dulu begitu dicintainya. Kini, wajah Reyhan muncul lagi — kali ini bersama seorang selebgram cantik bernama Karina Adisty.Foto mereka sedang makan malam di restoran mewah beredar cepat.Komentar netizen langsung meledak.> “Cepet banget move on-nya, Bang Reyhan.”“Karina, hati-hati! Itu duda panas!”“Gendis jauh lebih elegan daripada ini.”Masih banyak lagi komentar netizen yang membuat kepala Reyhan sakit kali ini. Pertemuannya dengan Karina bukan tanpa sebab. Mereka ada kerja sama salah satu brand pakaian ternama. Selama dua bulan ini Reyhan menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan. Namun, kali ini Reyhan justru dianggap memanfaatkan Karina sama halnya saat dulu bersama Gendis. Tuduhan itu tidak salah, tetapi juga tidak benar. Reyhan memang dekat dengan sang selebgram. Netizen kali ini sangat menyoroti kehidup

  • Kubeli Harga Dirimu, Mas!   Gendis 38

    Ariyanto--pengacara yang dulu membantu setiap Gendis ada masalah. Laki-laki yang pernah mengalami kecelakaan saat sidang cerainya dulu dengan Reyhan. Mereka dekat seperti saudara saat ini. Aryanto kebetulan mampir."Mau bagaimana lagi, Mas. Aku nggak punya waktu buat meladeni orang gila seperti mereka. Dikasih hati malah minta jantung." Gendis mengatakan yang sebenarnya."Baguslah, biar mereka juga belajar banyak dari masalah ini," jawab Aryanto tegas.Mereka mengobrol bersama. Aryanto mengabarkan jika sudah bisa mendirikan kantor pengacaranya sendiri. Ia juga banyak membantu pengacara muda yang baru saja berkarir. Gendis sangat bahagia mendengar kabar itu. Ruang tunggu rumah sakit sore itu dipenuhi aroma antiseptik dan suara alat medis berdenting pelan. Reyhan duduk di kursi panjang berwarna abu, kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal di atas lutut. Matanya merah, lelah karena begadang dan menangis. Di balik kaca ruang perawatan, tubuh Rusmi—ibunya—terbaring lemah dengan sela

  • Kubeli Harga Dirimu, Mas!   Gendis 37

    Bu Sulastri entah sejak kapan ada di rumah Gendis. Gendis tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya itu. Selalu saja seperti ini. Bu Sulastri berjalan mendekat."Ndis, kamu tahu ular kalo udah ganti kulit?" Bu Rusmi menatap sang anak dengan tatapan tajam. "Ular tetaplah ular, berbisa. Semakin berganti kulit maka bisanya semakin kuat," lanjutnya yang merupakan kode keras dari feeling seorang ibu."I-iya, Bu. Aku udah nolak mereka kok," jawab Gendis gugup karena ternyata diam-diam sang ibu mengamati."Ibu bukan nggak suka kamu membantu. Tapi, ingat mereka pernah membuatmu hancur. Bukan tidak mungkin jika kamu akan dibuat lebih hancur dari kemarin. Keadaanmu juga belum pulih sepenuhnya selama hampir dua setengah tahun ini. Kamu masih harus menanggung apa yang seharusnya tidak kamu tanggung." Bu Rusmi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar depan.Gendis menunduk, merasa malu karena hampir saja masuk jebakan mereka. Benar, mereka tidak patut dikasihani lagi. Mereka juga sumbe

  • Kubeli Harga Dirimu, Mas!   Gendis 36

    Angin sore meniup rambut Gendis yang tergerai, menggoyangkan daun pohon ketapang yang meneteskan sisa air hujan. Hening beberapa detik. Hanya bunyi dedaunan dan detak jantung yang terasa di dada masing-masing. Suasana yang sangat canggung. “Baiklah,” kata Bu Rusmi akhirnya. “Ibu tunggu kamu kapan pun siap.”Rusmi tidak mau memaksa mantan menantunya untuk baik padanya. Gendis menunduk sedikit, lalu berpamitan dengan langkah cepat, menahan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Ah, ia terlalu gampang merasa terenyuh. Namun, setiap kali mengingat apa yang permah mereka lakukan, hati Gendis Dua hari kemudian, bel rumah Gendis berbunyi. Suara lembut dari luar terdengar, “Mbak Gendis?”Gendis menatap dari balik jendela, sedikit terkejut melihat Ayu, adik Reyhan, berdiri dengan payung berwarna biru dan senyum yang terlalu manis untuk pagi yang dingin. Entah apa yang diinginkan oleh perempuan yang telah dicampakkan Andika itu. Gendis tampak ragu untuk membukakan pintu rumah.“Boleh aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status