LOGINTagihan uang biaya perawatan Ayu jelas tidak main-main. Reyhan pusing dengan keadaan ini. Adam--sang adik ipar saat ini masih menjalani pemeriksaan di kantor polisi. Gendis ternyata tidak main-main saat ini, laporan itu benar-benar dibuat.
"Pak, mohon ditandatangani, semua biaya sudah dibayarkan." Seorang perawat membuyarkan lamunan Reyhan yang sejak tadi memilih duduk di luar kamar rawat inap sang adik. "Janin dan ibunya berhasil selamat," kata perawat itu sambil menyerahkan map yang berisi jumlah tagihan milik Ayu. "Mbak... ini siapa yang bayar?" tanya Reyhan sambil menatap ke arah perawat cantik itu. "Wah... kalo itu saya tidak tahu. Ini dari pihak administrasi hanya meminta saya untuk menyerahkan bukti tanda sudah lunas saja sebelum Bu Gendis pulang sore ini," kata perawat itu ramah. "Oh, gitu? Baik. Terima kasih, Mbak. Mbak, saya boleh minta nomor ponsel? Siapa tahu ada yang adik saya butuhkan." Reyhan masih saja tebar pesona saat ini. "Boleh, Pak." Perawat itu menyerahkan tiga belas digit nomor ponsel. Reyhan lantas mengetikkan pada ponsel. Ia mengucapkan terima kasih dengan sopan. Ah, ya, seliar itu ternyata fantasi Reyhan. Laki-laki tidak bersyukur itu masih saja mencari mangsa. "Han... gimana? Udah dapet uang dari Gendis?" tanya Bu Rusmi yang saat ini panik karena tagihan rumah sakit luar biasa besar. "Udah dibayar," kata Reyhan sambil menunjukkan salinan bukti pembayaran dari bagian administrasi rumah sakit ini. Bu Rusmi membaca dengan seksama tulisan yang ada pada kertas itu. Benar, ada cap tanda lunas dari bagian administrasi rumah sakit. Wanita paruh baya itu tampak sangat lega. Setidaknya, tidak sampai menjual perhiasan yang didapatkan dari membujuk Gendis dulu. "Han... mending kamu minta maaf sama Gendis. Trus janji nggak ngulang lagi. Dia pasti luluh. Gendis itu cinta mati loh sama kamu," kata Bu Rusmi memberikan nasihat. "Ibu nggak lihat apa kemarin, dia aja berani nginjak harga diriku sebagai suami loh di depan banyak orang," tolak Reyhan yang tidak paham bagaimana isi otak sang ibu. "Han... sesekali kita emang harus merendah untuk mendapatkan ikan yang besar. Coba deh, kamu lihat usaha Gendis. Per bulan aja dia dapat milyaran dari semua usaha dia. Kamu cuma dapat lima belas persennya bukan?" Bu Rusmi kali ini menggunakan otak liciknya. "Kamu tunjukkan bahwa kamu berubah. Masalah kemarin, masalah perselingkuhan itu, bilang saja pihak perempuan yang gatal," lanjutnya seolah tidak akan membuat masalah di masa yang akan datang. Reyhan memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut sang ibu. Ide briliant! Mengapa tidak terpikirkan dari kemarin? Reyhan bahkan tidak bisa berpikir sama sekali karena telah dipermalukan oleh sang istri. "Han... nggak cuma kamu yang untung. Suami dua adik kamu juga masih bisa kerja di tempat Gendis. Mau cari kerjaan di mana lagi yang senyaman punya Gendis?" Bu Rusmi masih berusaha mempengaruhi sang anak. "Nanti aku pikirkan lagi," kata Reyhan yang sejak tadi menatap ke arah ponsel. Ya, Reyhan langsung menghubungi nomor perawat itu. Salah satu trik lama yang dipakai Reyhan. Langsung menghubungi secara intens lalu menghilang beberapa hari dengan alasan ada pekerjaan mendadak. Cara basi, tetapi lumayan sukses untuk memperdaya perempuan. Sementara itu, Gendis sedang berbicara dengan pengacara yang disewanya. Sang pengacara, Ariyanto cs menyarankan agar Gendis fokus mencari barang bukti. Yang dihadapi adalah Reyhan dengan segala kelicikannya. Ari--sapaan akrab sang pengacara juga tahu detail bagaimana sifat Reyhan dan keluarganya. "Ndis, kamu itu harus santai. Mainkan strategi dulu. Reyhan nggak akan mungkin mau langsung tanda tangan. Takutnya, dia minta harta gono-gini dengan jumlah tidak wajar. Ingat, selama lima tahun ini, dia juga ikut bekerja. Ya, kita tahulah, dia kerja sebagai pencitraan saja supaya dianggap sebagai suami dan ayah yang bertanggungjawab pada keluarga." Ari menjelaskan detail saat ini. "Kamu ikuti saja dulu maunya dia. Kami akan berusaha membantu," lanjutnya sambil meyakinkan Gendis. "Aku udah jijik, Mas. Dia dan keluarganya itu benalu. Hanya mau uangku saja. Si Adam aja udah nyolong seratus juta. Lalu gimana sama si Alvian?" tanya Gendis yang mulai stres dengan pembukuan dari restoran yang dikelola suami dari sang adik ipar itu. "Nggak usah stres. Tapi, kita sebisa mungkin tetap waspada. Kamu tidak perlu turun tangan sendiri. Aku udah sebar orang-orang untuk memantau Reyhan. Kita semua tahu, dia itu gila selangkangan perempuan. Kamu cukup bersikap tenang. Terima dia saat datang ke rumah. Tapi, jangan dulu berhubungan badan. Ya, bikinlah alasan sibuk ini dan itu. Satu hal, kerjakan tesis kamu," kata Ari yang merasa prihatin dengan keadaan Gendis. "Kok boro-boro bisa mikir tesis, Mas. Aku mikir kegilaan Reyhan saja sudah bikin semua ambyar," kata Gendis sambil mengembuskan napas. "Nah, itu yang salah. Saat suami selingkuh, kamu harus sibuk upgrade diri. Jangan hanya diam penuh dendam. Kamu harus menyibukkan diri dengan hal positif. Nah, kamu akan tahu, Reyhan benar-benar berubah atau hanya pura-pura," kata Ari yang berhasil mempengaruhi pikiran Gendis. Ucapan Ari meski tidak seratus persen bisa diterima otak Gendis, tetapi setidaknya bisa mempengaruhi. Wanita yang baru saja bertengkar hebat dengan Reyhan itu tampak diam. Gendis kali ini sibuk memikirkan cara agar Reyhan tidak berkutik nantinya. Gendis juga tidak mau rugi. "Baik, aku akan coba, Mas. Makasih banyak, Mas Ari dan tim selalu ada saat aku butuh," kata Gendis dengan tulus. Pagi datang dengan cepat. Tidur Gendis terusik karena dibangunkan oleh salah satu asistennya. Ada Reyhan yang menunggu di luar. Beberapa waktu yang lalu, Gendis memamg meminta pada satpam kompleks agar tidak mengizinkan Reyhan masuk. "Gimana, Mbak?" tanya sang asisten rumah tangga tampak sangat ketakutan. "Bilang saja, tunggu sebentar lagi. Nanti aku turun. Kamu tawarin makanan. Aura miskinnya udah kelihatan," kata Gendis membuat sang asisten rumah tangga terdiam, bingung. "Ini beneran nggak apa-apa, Mbak? Mas Reyhan itu...."Ucapan sang asisten terputus saat ini. "Nggak apa-apa, tenang saja," kata Gendis sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Lima belas menit berlalu, Gendis pun turun ke lantai satu. Ia melihat ayah dari sang putra tampak lahap memakan sarapan. Padahal hanya nasi goreng biasa. Gendis punya alasan untuk menghina Reyhan saat ini. "Kamu udah bangun, Sayang? Makasih loh sarapannya. Ini masakan kamu? Pantas enak banget." Reyhan berusaha berdiri menyambut Gendis. "Enak? Itu nasi goreng karena semalam ada nasi sisa di dapur. Sayang kalo dibuang. Kalo kamu suka, makan saja. Aura miskin kamu udah jelas terlihat kok," hina Gendis yang saat ini sedang mengambil air minum pada dispenser.Lima tahun sudah berlalu sejak hari ketika Gendis meninggalkan masa lalunya yang kelam. Di rumah kecil bercat putih di pinggiran kota Yogyakarta, ia hidup bersama putrinya, Naira, yang kini berusia delapan tahun. Setiap pagi, aroma kopi dan roti panggang selalu memenuhi udara, berpadu dengan tawa kecil Naira yang ceria.Keputusan pindah dari ibu kota ke kota asal sudah dipertimbangkan Gendis masak-masak. Kehidupan di ibu kota tidak baik untuk sang anak. Anaknya sudah mulai cerdas dengan banyak pertanyaan. Ponsel--benda pipih itu memberitahu banyak hal pada sang anak. Sebuah pengorbanan yang tidak mudah. Gendis mencari beberapa orang yang bisa dipercaya untuk mengelola restoran geprek miliknya. Nawang--sang kakak pun ikut turun tangan membantu. Ternyata, pengorbanan yang menyakitkan itu berbuah manis. “Bunda, hari ini aku mau pakai baju ungu ya. Soalnya Kak Sari bilang warna ungu itu warna keberanian!” seru sang anak sambil berlari kecil ke meja makan.Gendis tersenyum lembut, mengus
Reyhan terkejut saat melihat kedatangan Karina bersama beberapa laki-laki. Wajah mereka begitu sangar. Reyhan menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu, Karina tidak akan memberikan tumpangan tempat tinggal lagi."Kamu kenapa, Sayang? Kita bisa bicarakan masalah kita. Jangan karena pemberitaan di media sosial kita malah jadi ribut. Gendis memang nggak suka lihat kita berdua bahagia," kata Reyhan berusaha tenang."Rey, aku nggak mau namaku hancur. Aku susah payah agar dapat pekerjaan melalui media sosial. Ada baiknya kamu tidak lagi tinggal di sini. Apartemen ini milikku," kata Karina tanpa basa-basi sama sekali."Ya, aku tahu. Tapi, kalo aku keluar dari sini, aku tinggal di mana?" Reyhan menampakkan mimik muka yang menyedihkan."Aku nggak tahu. Kamu usaha cari tempat tinggal. Kali ini maaf, aku nggak bisa lagi." Karina lantas keluar dari unit apartemen dan membuat Reyhan bingung.Tiga orang laki-laki itu lantas mengemas semua barang Reyhan tanpa menunggu perintah. Reyhan jelas tidak b
Langit sore di Jakarta mulai memerah ketika kabar tentang Reyhan muncul di beranda media sosial. Dua bulan berlalu sejak pertengkarannya dengan Gendis, mantan istrinya yang dulu begitu dicintainya. Kini, wajah Reyhan muncul lagi — kali ini bersama seorang selebgram cantik bernama Karina Adisty.Foto mereka sedang makan malam di restoran mewah beredar cepat.Komentar netizen langsung meledak.> “Cepet banget move on-nya, Bang Reyhan.”“Karina, hati-hati! Itu duda panas!”“Gendis jauh lebih elegan daripada ini.”Masih banyak lagi komentar netizen yang membuat kepala Reyhan sakit kali ini. Pertemuannya dengan Karina bukan tanpa sebab. Mereka ada kerja sama salah satu brand pakaian ternama. Selama dua bulan ini Reyhan menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan. Namun, kali ini Reyhan justru dianggap memanfaatkan Karina sama halnya saat dulu bersama Gendis. Tuduhan itu tidak salah, tetapi juga tidak benar. Reyhan memang dekat dengan sang selebgram. Netizen kali ini sangat menyoroti kehidup
Ariyanto--pengacara yang dulu membantu setiap Gendis ada masalah. Laki-laki yang pernah mengalami kecelakaan saat sidang cerainya dulu dengan Reyhan. Mereka dekat seperti saudara saat ini. Aryanto kebetulan mampir."Mau bagaimana lagi, Mas. Aku nggak punya waktu buat meladeni orang gila seperti mereka. Dikasih hati malah minta jantung." Gendis mengatakan yang sebenarnya."Baguslah, biar mereka juga belajar banyak dari masalah ini," jawab Aryanto tegas.Mereka mengobrol bersama. Aryanto mengabarkan jika sudah bisa mendirikan kantor pengacaranya sendiri. Ia juga banyak membantu pengacara muda yang baru saja berkarir. Gendis sangat bahagia mendengar kabar itu. Ruang tunggu rumah sakit sore itu dipenuhi aroma antiseptik dan suara alat medis berdenting pelan. Reyhan duduk di kursi panjang berwarna abu, kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal di atas lutut. Matanya merah, lelah karena begadang dan menangis. Di balik kaca ruang perawatan, tubuh Rusmi—ibunya—terbaring lemah dengan sela
Bu Sulastri entah sejak kapan ada di rumah Gendis. Gendis tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya itu. Selalu saja seperti ini. Bu Sulastri berjalan mendekat."Ndis, kamu tahu ular kalo udah ganti kulit?" Bu Rusmi menatap sang anak dengan tatapan tajam. "Ular tetaplah ular, berbisa. Semakin berganti kulit maka bisanya semakin kuat," lanjutnya yang merupakan kode keras dari feeling seorang ibu."I-iya, Bu. Aku udah nolak mereka kok," jawab Gendis gugup karena ternyata diam-diam sang ibu mengamati."Ibu bukan nggak suka kamu membantu. Tapi, ingat mereka pernah membuatmu hancur. Bukan tidak mungkin jika kamu akan dibuat lebih hancur dari kemarin. Keadaanmu juga belum pulih sepenuhnya selama hampir dua setengah tahun ini. Kamu masih harus menanggung apa yang seharusnya tidak kamu tanggung." Bu Rusmi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar depan.Gendis menunduk, merasa malu karena hampir saja masuk jebakan mereka. Benar, mereka tidak patut dikasihani lagi. Mereka juga sumbe
Angin sore meniup rambut Gendis yang tergerai, menggoyangkan daun pohon ketapang yang meneteskan sisa air hujan. Hening beberapa detik. Hanya bunyi dedaunan dan detak jantung yang terasa di dada masing-masing. Suasana yang sangat canggung. “Baiklah,” kata Bu Rusmi akhirnya. “Ibu tunggu kamu kapan pun siap.”Rusmi tidak mau memaksa mantan menantunya untuk baik padanya. Gendis menunduk sedikit, lalu berpamitan dengan langkah cepat, menahan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Ah, ia terlalu gampang merasa terenyuh. Namun, setiap kali mengingat apa yang permah mereka lakukan, hati Gendis Dua hari kemudian, bel rumah Gendis berbunyi. Suara lembut dari luar terdengar, “Mbak Gendis?”Gendis menatap dari balik jendela, sedikit terkejut melihat Ayu, adik Reyhan, berdiri dengan payung berwarna biru dan senyum yang terlalu manis untuk pagi yang dingin. Entah apa yang diinginkan oleh perempuan yang telah dicampakkan Andika itu. Gendis tampak ragu untuk membukakan pintu rumah.“Boleh aku







