Share

Bab. 4

Author: Molista
last update publish date: 2026-06-30 15:43:13

Malam ini aku sudah siap. Aku membiarkan David pergi dengan pelakor itu, tapi bukan berarti aku menyerah. Aku hanya mengatur permainan.

Suamiku memang bukan orang penting. Tapi dia bekerja di perusahaan furnitur milik keluargaku sebagai CEO, menggantikan aku. Karena memang seharusnya akulah yang duduk di kursi CEO di perusahaan, dimana ayahku sebagai ownernya.

Namun siapa sangka… usahaku untuk mengangkat derajat suami yang bukan apa-apa tanpa aku itu, ternyata tak di hargai. Dia justru berkhianat hingga lupa siapa dia sebelum bertemu denganku.

Faris memberikan alamat tempat mereka berduaan malam ini. Sebuah restoran yang cukup bagus. Tidak terlalu mewah, tapi jelas bukan tempat biasa. Tempat dengan pemandangan kota dari lantai atas, persis seperti yang Vanes katakan.

Dadaku sempat terasa sesak mengingat perjuanganku agar bisa bersama David. Aku mengenal David sejak kuliah di tahun kedua. Dia tampan, dan pintar. Bahkan tak sedikit wanita yang mengidamkannya di kampus.

Aku menyukainya sejak itu, apalagi perhatian dan kepedulian yang ia berikan mampu mencuri hatiku. Namun perbedaan status kami memang sangat jauh. David seorang pemuda desa yang berjuang untuk kuliah dengan beasiswa yang mengandalkan prestasinya.

Sementara aku…. seorang anak tunggal yang sedang dipaksa siap untuk melanjutkan bisnis keluarga. Sedangkan cita-citaku saat sudah menikah nanti, hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang bahagia menjaga anak dan suami. Dulu aku selalu membayangkan punya suami yang rajin bekerja, dan aku selalu menyambut saat dia pulang dengan bahagia.

Semua hampir terjadi. Aku selalu menyambut David dengan manja saat dia pulang bekerja. Bahkan Tuhan sempat memberi kami kepercayaan akan buah hati, sebelum akhirnya ia mengambil kembali karena sebuah kecelakaan yang membuatku keguguran.

Hatiku semakin sakit saat mengingat, bagaimana aku melawan keluargaku yang tak setuju dengan hubungan kami. Aku melawan mereka dan hampir membuat semua keluarga membenciku.  Keluargaku memang bukan orang terkaya di negeri ini, tapi kedudukan mereka cukup berpengaruh. Dibanding dengan David, status keluarga kami bagai langit dan bumi.

Aku yang buta akan cinta waktu itu berjuang mati-matian untuk mendapatkan restu keluarga. Dan sekarang… mataku terbuka lebar oleh kenyataan pahit. Ternyata… orang yang aku perjuangkan mengkhianatiku. Bermain di belakang dengan mudah tanpa rasa malu.

Aku memejamkan mata sejenak menenangkan diri. Dadaku bergemuruh, tapi aku harus bisa mengendalikannya.

~Tenang, Caroline. Kamu masih pegang kendali. Kalau mereka ingin bermain… maka kamu harus membuktikan siapa yang lebih ahli dalam permainan ini.~

Aku menghela nafas beberapa kali sebelum masuk ke restoran itu, lalu menunggu di dekat area lift.

Menurut informasi yang diberikan Faris, mereka sudah hampir sampai. Lima menit… Sepuluh menit. Dan akhirnya… mereka datang.

Aku melihat mereka berjalan berdampingan. Terlihat santai sambil bergandengan tangan, seolah dunia ini milik mereka berdua. Dan merasa apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah dosa.

Aku tersenyum tipis menatap mereka. Aku masih berdiri tenang menunggu pintu lift terbuka, lalu melangkah cepat mendekat saat pintu akan tertutup. Langkahku cepat terburu-buru, hingga akhirnya aku bisa menahan pintu itu.

“Tunggu, saya juga mau naik—” Aku berhenti di tengah kalimat, pura-pura terkejut menatap ke arah mereka. “Sayang?”

Sumpah, aku ingin tertawa saat melihat mereka berdua panik. Namun aku masih berpura-pura bodoh.

Wajahku langsung berubah agar terlihat bingung. “Kok kamu di sini? Bukannya malam ini kamu mau ketemu klien dari Singapore?

Aku melirik ke arah wanita di sampingnya. Wajah yang selama ini hanya bermain di balik pesan tanpa identitas itu, akhirnya kami saling tatap saat ini.

“Ini siapa? Emmm, sepertinya aku pernah melihatnya,” tanyaku, pura-pura tidak tahu.

David terlihat kaku sesaat, tapi cepat menguasai diri. Bahkan tangan yang sempat berpegangan seketika itu juga mereka lepaskan. Dan aku… pura-pura tidak melihatnya.

“Sayang, ini Vanessa. Dia staf di kantor. Aku minta dia bantu pesan tempat untuk kita,” katanya.

Aku mengernyit. “Tempat? Untuk kita?”

Dia tidak langsung menjawab. Bagus. Panik saja dulu.

Aku melangkah masuk ke dalam lift, dan langsung menggandeng tangan David. Bergelayut manja, sengaja.

Pintu lift tertutup dan membawa kami naik ke lantai tiga restoran itu. Aku bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Terutama dari Vanessa, yang terlihat menahan emosi.

Begitu pintu terbuka di lantai atas, David langsung mengajakku keluar. Ia menggandeng tanganku, menuntunku ke sebuah ruangan. “Di sini,” katanya.

Aku melihat sekitar, lalu tersenyum lebar. “Tempatnya bagus…”

Aku menatapnya pura-pura sedih. “Tapi sayang… aku tadi sudah janji makan malam sama Papa dan Mama di sini.”

David langsung menoleh. “Apa? Kamu janji makan malam sama Mama dan Papa disini?”

Dia benar-benar panik. Aku sempat melihat David melirik vanessa, dan aku melihat wajah Vanessa yang menahan amarah dari pantulan kaca.

Aku mengangguk, bergelayut sambil menatapnya polos. “Tadi pagi aku pikir kamu nggak bisa nemenin aku. Jadi aku bilang mereka untuk temenin aku karena kamu sibuk. Aku ajak mereka ke sini.”

Wajahnya berubah. panik. “Kenapa kamu bilang begitu? Kan aku sudah bilang—”

“Tadi pagi kamu bilang nggak bisa,” potongku pelan. “aku juga kan sudah lama tidak makan malam dengan mereka.”

Dia menghela napas, terlihat kesal. “Seharusnya kamu tidak langsung ngomong sama mereka. Aku sengaja batalin bertemu klien penting demi bisa nyiapin ini buat kamu, tapi kamu malah…,”

Aku tersenyum kecil, pura-pura menyesal. “Maaf… aku nggak tahu.” Aku semakin merapat, sengaja. “Sekarang aku harus gimana? Papa dan Mama sudah menunggu di ruang itu,” ucapku sambil menunjuk sebuah ruangan vvip yang tak jauh dari tempat yang David pesan.

Dia berpikir sejenak, lalu berkata, “Telepon Papa. Bilang kamu nggak jadi makan sama mereka, karena aku memberikan kejutan makan malam untukmu,” ucapnya sambil melirik sekilas ke arah Vanessa.

Aku mengangguk. “Baiklah, aku akan menelpon mereka.”

Aku mengeluarkan ponsel, lalu menelepon Papa.

“Pa…”

Suaraku langsung berubah serius.

“Maaf ya, aku nggak jadi makan malam sama Papa sama Mama. Ternyata suamiku tercinta ini sudah nyiapin kejutan buat aku. Nggak mungkin aku menolaknya, kan?”

Aku melirik sekilas ke arah Vanessa.

Wajahnya terlihat kaku menahan amarah.

“Papa sama Mama makan berdua saja ya. Anggap saja lagi kencan,” lanjutku sambil terkekeh kecil.

Setelah panggilan selesai, aku menatap David.

“Papa nggak masalah, dia malah senang banget dengarnya,” kataku. “Katanya kamu perhatian dan pintar buat kejutan sampai aku salah sangka.”

Tentu saja aku melebih-lebihkan, karena Papa hanya ber-oh saja saat aku memberitahunya tadi. Tapi melihat ekspresi bangga di wajah David… Ah, menyenangkan juga.

Dia langsung memelukku. “Maaf sudah membuatmu salah paham.

Aku membalas pelukannya, tapi mataku melirik ke arah Vanessa. Wanita itu langsung mengalihkan pandangan, seakan muak dengan apa yang ia lihat.

Sayangnya, permainan baru saja dimulai. Aku harap dia tidak cepat menyerah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.28

    Sudah satu minggu sejak Caroline meninggalkan pernikahan David dan Vanessa, ia merasa hidup dengan udara kebebasan.Pagi itu Caroline berdiri di depan cermin, mengenakan blazer putih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya ditata sederhana. Tidak ada lagi cincin pernikahan di jari manisnya. Statusnya sudah resmi berubah. Ia sempat menatap jari itu beberapa detik. Dulu, benda kecil itu membuatnya merasa memiliki seseorang. Namun sekarang…, ia justru merasa lebih ringan setelah benda itu tidak lagi ada.Ia kembali menatap ke arah cermin. “Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, wanita yang menyandang status janda itu…, adalah aku.”Caroline menghela nafas, lalu mengambil tasnya. Ia keluar dari kamar dengan senyum yang akan menemaninya melewati hari ini."Selamat pagi, Nona," sapa Faris yang sudah menunggu di ruang depan.Caroline berhenti."Sepagi ini kamu sudah datang?"Faris melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul tujuh."Caroline tertawa kecil. "Rasanya

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.27

    Suara pertengkaran terdengar sampai ke luar. David mendekat perlahan, memastikan apa yang sedang terjadi."Mudah sekali kamu bilang akan bertanggung jawab setelah semua ini terjadi? Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mempermalukan kami!!" bentak ayah Vanessa.David mengernyit. “Bertanggung jawab tentang apa? Dan siapa yang ayah Vanessa maksud?” lirihnya.Ia berjalan cepat menuju pintu yang terbuka. Begitu masuk, matanya langsung membelalak. Pria yang ada di video bersama Vanessa, kini sedang berdiri di ruang tamu.“Pa, Hendri siap tanggung jawab. Bisa nggak Papa jangan marah-marah terus,” ucap Vanessa berdiri di depan pria bernama Hendri, seolah menjadi tameng untuk pria itu saat ayahnya marah.“Kamu ini, sama saja! Bikin malu keluarga! Sekarang kamu sudah terikat pernikahan dengan David, dan sekarang David meninggalkanmu karena bajingan ini.”“Cukup, Pa! David pergi karena dia lebih memilih untuk mengemis pada istri lamanya itu. Bukan karena Hendri!” PLAK!!Tangan ibu Vanessa m

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.26

    Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.25

    "Vanessa!” Suara David terdengar berat dan sedikit tinggi, membuat seluruh tamu di ruangan ikut menoleh.“Sayang, apa kamu akan mengejar Caroline dan memintanya untuk tetap bertahan? Kamu nggak akan meninggalkan aku, kan” tanya Vanessa yang belum menyadari jika saat ini David tengah marah padanya.David tak menjawab, tapi tatapan tajamnya membuat Vanessa tahu jika semua tidak baik-baik saja.“Jelaskan ini,” ucap David sambil memberikan ponselnya pada Vanessa, agar wanita itu melihat sendiri kesalahan apa yang sudah ia lakukan.Vanessa bingung, tapi ia tetap mengambil ponsel David dan segera melihatnya. Ia terlihat mulai panik saat video mulai di putar, lalu menatap ke arah David dengan bibir bergetar."Sa-sayang, kamu jangan percaya video ini. Ini…, ini hanya editan. Aku tidak mungkin melakukan ini."David merebut ponselnya. "Editan? Kamu bilang ini editan?"Vanessa buru-buru mengangguk. "Iya. Mereka pasti sengaja menjebakku agar kamu membenciku. Dan.., dan anak ini, anak ini adalah a

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.24

    Vanessa mengangkat pecahan gelas itu tinggi-tinggi. Wajahnya dipenuhi amarah. Matanya memerah, napasnya memburu. Ia melangkah cepat ke arah Caroline."Vanessa! Hentikan!" teriak ayahnya.Namun wanita itu sudah tak mampu berpikir jernih. "Semua ini gara-gara kamu!" teriaknya sambil mengayunkan pecahan gelas itu ke arah Caroline.Caroline merasa takut dan berusaha menghindar, tapi detik itu juga Faris segera pasang badan untuknya. Faris berdiri tepat di hadapan Caroline, dan tangannya dengan cepat menahan tangan Vanessa."Kamu benar-benar mencari masalah baru,” ucap Faris pelan tapi terdengar berat.Vanessa mencoba mendorong tubuh Faris, tetapi pria itu sama sekali tidak bergeming. "Menyingkir dari hadapanku!" bentaknya.Faris tak memberi reaksi, hanya tatapan datar ke arah Vanessa."Dia menghancurkan acaraku! Dia menghancurkan hidupku! Semuanya!"Faris menekan pergelangan tangan Vanessa hingga wanita itu meringis kesakitan, dan akhirnya melepaskan pecahan gelas itu. Lalu dengan kasar

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.23

    Semua orang menoleh ke arah suara itu. Terutama Vanessa. Senyum di bibirnya seketika hilang saat melihat siapa yang berani mengganggu acaranya.Tatapan mata tajam, dan tangannya pun mengepal kuat. “Lina, bukankah kemarin kamu bilang nggak akan datang ke sini?” tanyanya.Lina tersenyum, lalu berhenti di tengah aula. Ia menghela nafas sebelum memberikan jawaban. “Aku dengar akan ada pertunjukan seru, jadi aku putuskan untuk datang.”“Pertunjukan apa maksudmu?” tanya Vanessa bingung.Lina mengangkat bahunya, lalu ia menatap sekeliling. Ia mencari keberadaan Nadia, dan saat ia melihat wanita itu, Lina pun langsung tersenyum sambil melambaikan tangan. “Kak Nadia, tolong souvenir titipan dari bos milliadernya di bagikan, ya!”Nadia sempat bingung, karena Caroline tak memberitahunya tentang hal ini. Namun detik itu juga ia menerima pesan dari Caroline, yang memintanya untuk mengikuti arahan Lina.“Apa mungkin Caroline mengenal wanita itu?” tanya Daren.“Aku nggak tahu, tapi Caroline sudah me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status