Share

Bab. 5

Author: Molista
last update publish date: 2026-06-30 15:43:50

Aku tersenyum tipis. Puas melihat ekspresi Vanessa yang berusaha menyembunyikan amarahnya.

Dan aku tidak mungkin lupa mengapresiasinya yang jadi penonton di sebelah kami. Setelah melepaskan pelukan David, aku menatapnya dan mengulurkan tangan ke arahnya untuk menyapanya.

“Kita belum kenalan, kan? Aku baru tahu namamu, tapi kamu pasti belum tahu siapa aku,” ucapku bertingkah bodoh. Padahal aku yakin semua karyawan ayahku pasti sudah tahu siapa aku, apalagi si Vanessa ini.

Vanesa menatapku kaku. Meski dia hanya seorang karyawan, tapi tatapan matanya cukup angkuh terhadapku. Mungkin karena ia merasa dekat dengan David, sehingga ia punya keberanian menentangku.

“Anda pasti istrinya pak David, kan? Sejak tadi Anda menyebut Pak David dengan sebutan suami terus,” jawabnya tanpa menerima uluran tanganku.

Jawabannya membuat aku ingin sekali menamparnya, jika saja tak ingat rencanaku untuk menjatuhkan mereka secara perlahan. Aku tersenyum sambil menarik kembali tanganku.

“Ah, benar juga. Bodohnya aku,” ucapku sambil menggeleng pelan, dan dengan senyuman kecil. “Tapi…, bukankah kamu juga salah satu staf di perusahaan Papa? Itu artinya suamiku ini bos kamu, kan? Lalu kenapa kamu enggan menerima uluran tanganku untuk sekedar menghormatiku, sebagai istri dari bosmu?”

Aku sengaja menekankan kalimat terakhir, agar dia sedikit sadar diri. Aku kembali mengulurkan tangan sambil berkata. “bahkan aku sebagai istri bosmu dengan rendah hati mengulurkan tanganku terlebih dulu, untuk kedua kalinya.”

Dan akhirnya ia menjabat tanganku meski terlihat terpaksa.

“Nah gitu dong. Orang cantik nggak boleh sombong, apa lagi sama istri bosmu sendiri,” ucapku memuji meski rasanya mau muntah. Aku kembali menoleh ke arah David. “Sayang, kita akan mulai makan malam romantis ini kapan? Capek tahu, berdiri terus.”

“Ah, ya. Kita masuk sekarang saja, ya?”

Aku mengangguk, tapi sebelum masuk ruangan, aku kembali menoleh ke arah Vanessa. “Kamu nggak pulang? Nggak mungkin kamu sedang menunggu kami invite masuk ke dalam, kan? Nggak jadi romantis dong nanti makan malam kami.”

Vanessa menatap ke arah David sekilas sebelum mejawabku. “Saya akan pulang sekarang, kok. Permisi,” ucapnya yang langsung meninggalkan kami.

“Tunggu.” Aku menahannya, tapi saat dia menghentikan langkah dan menoleh, aku justru menoleh ke arah suamiku. “Sayang, kamu nggak ngucapin terimakasih sama bawahanmu, yang sudah membantumu menyiapkan kejutan untukku?”

“Oh, itu. Em, Vanes, terimakasih banyak atas bantuanmu malam ini,” ucap David. Dan aku merasa senang saat melihat raut wajah Vanessa yang menahan kesal.

Vanesa hanya mengangguk kecil, lalu kembali melangkah. 

“Tunggu.” Aku kembali menghentikan langkahnya. Dan dia terpaksa kembali menoleh.

“Ada apa lagi, Bu Caroline?” tanyanya. Meski terdengar lembut, tapi aku bisa melihat dengan jelas sorot mata tidak senangnya.

Aku tersenyum sambil melangkah ke arahnya, lalu mengambil beberapa lembar uang dari dalam tasku. Aku mengulurkan uang itu ke arahnya.

“Ambillah, anggap saja ini bonus dariku.”

Dia terdiam sejenak. Mungkin dalam hatinya, ia menganggap ini adalah penghinaan. Dan ya, itu benar. Aku sengaja memberikan uang ini padanya, karena aku tahu David memberikan berpuluh kali lipat padanya, di belakangku.

“Jangan sungkan,” ucapku lagi sambil menggapai tangannya, dan memaksanya menerima uang yang mungkin hanya lima lembar uang kertas merah itu. “Kamu sudah cukup bekerja keras untuk kami, jadi sudah seharusnya kamu mendapatkannya. Maaf aku cuma ada cash segini, lain kali aku tambah, ya?” imbuhku sambil mengedipkan mata, lalu aku kembali menghampiri David.

“Kamu memberinya uang?” tanya David.

Aku mengangguk, lalu kembali menoleh ke arah Vanessa yang ternyata sudah melangkah pergi, ia berdiri membelakangi kami untuk menunggu pintu lift. Aku bahkan tak peduli meski dia tak mengucapkan terimakasih atas hadiahku. Karena yang terpenting bagiku sekarang adalah, aku bisa menunjukan padanya jika istri sah akan selalu menang.

“Sepertinya dia sangat senang menerima uang itu sampai lupa mengucapkan terimakasih,” ucapku.

“Dia pasti senang, apalagi dia sangat membutuhkan uang untuk biaya kuliah adiknya dan ibunya yang sakit-sakitan.”

Mendengar jawaban David, aku pun langsung menatapnya. Tidak menyangka jika ternyata suamiku ini benar-benar sangat peduli dengan selingkuhannya, hingga masalah keluarganya pun dia tahu. Atau jangan-jangan dia juga membantu biaya hidup keluarga si pelakor? Ah, jika itu benar maka ini akan membuatku semakin ingin menghancurkan mereka secepatnya.

“Kamu tahu banyak tentangnya? Apa kamu selalu tahu permasalahan setiap karyawanmu, sayang?” tanyaku dengan tatapan yang membuat ia salah tingkah.

David terlihat panik saat aku terus menatapnya, tapi ia juga berusaha untuk tetap tenang. Terlihat jelas tarikan nafasnya yang terlihat begitu sesak. 

“Sayang aku hanya berusaha menjadi atasan yang baik. Setidaknya dengan peduli setiap masalah karyawan akan membuat aku dipandang baik oleh mereka, iya kan?”

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. Pura-pura percaya dengan setiap ucapannya. Aku kembali menoleh, tepat saat pintu lift yang membawa wanita itu tertutup. Dan senyumku hilang bersamaan dengan menutupnya pintu itu. 

Sumpah, aku merasa muak dan sangat jijik saat melihatnya tadi. Jika saja aku adalah orang yang tidak bisa mengendalikan amarahku, mungkin aku sudah menariknya ke balkon restoran dan melemparnya hingga ke lantai bawah. Aku tidak akan takut dengan hukum yang akan mengejarku nanti, karena aku tahu… ayahku bisa mengendalikan banyak hal. Namun sayangnya, aku dan keluargaku bukan manusia yang selalu menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah.

Aku kembali menoleh ke arah David. Senyum palsuku kembali mengembang. 

“Melihat dia dari dekat, ternyata dia sangat cantik dan menggoda. Tapi…, auranya sangat kuat sebagai wanita penggoda istri orang, iya kan?”

avid terlihat kaget dengan ucapanku. “Apa maksudmu?”

Aku menghela nafas sebelum menjawab. “Tidak ada,” jawabku singkat.

Aku melepaskan tanganku yang sejak tadi bergelayut padanya, berlari ke balkon restoran dimana pemandangan langit malam yang indah langsung memanjakan mataku. Setidaknya ini bisa sedikit menyegarkan pikiranku yang terlalu muak dengan keadaan beberapa detik yang lalu.

Aku memejamkan mata, berusaha menghirup udara malam yang menyegarkan, hingga… Aku terkejut saat tangan David tiba-tiba melingkar di perutku dari belakang.

“Sayang, aku sangat merindukanmu,” ucapnya.

Rindu…? Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku mencintaimu. Dan sekarang aku justru muak dengan kata-kata itu. Bagaimana bisa seorang suami mengatakan rindu pada istrinya, sementara di waktu yang sama ia mengajak selingkuhannya untuk makan malam di tempat yang istrinya inginkan. Bayangkan saja jika malam ini aku tidak datang, maka saat ini mereka sedang berduaan di tempat ini. Bahagia dengan uang dari keluargaku.

Cih! jangan mimpi.

“Sayang. kenapa diam saja? Apa kamu tidak merindukanku juga?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.29

    “Kamu tidak akan bertanya tentang Faris, jika tidak ada tujuannya. Iya kan?” ucap Ayu kembali.“Ma, aku hanya tanya saja. Sedikit penasaran.”“Benarkah?” Ayu ragu dengan jawaban Caroline.“Ma… Faris ajudanku, dan aku rasa tidak ada salahnya juga aku bertanya tentangnya, kan?”“Ok ok ok.” Ayu hanya terkekeh pelan, lalu mereka melanjutkan makan malam tanpa membahas Faris lagi.Sejak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya semalam, Caroline tak lagi ingin tahu tentang adik yang dimaksud Faris. Sebagai pemilik perusahaan furnitur keluarga, ia tak ingin memikirkan hal yang baginya bukalah hal penting. Apalagi sekarang ia mulai lebih sering turun langsung ke lapangan. Ia ingin mengetahui sendiri bagaimana perkembangan proyek-proyek yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.Pagi itu, Caroline bersama Faris pergi meninjau salah satu proyek produksi furnitur yang sedang dikerjakan untuk sebuah hotel baru.Begitu turun dari mobil, suara mesin pemotong kayu dan aktivitas para pekerja lang

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.28

    Sudah satu minggu sejak Caroline meninggalkan pernikahan David dan Vanessa, ia merasa hidup dengan udara kebebasan.Pagi itu Caroline berdiri di depan cermin, mengenakan blazer putih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya ditata sederhana. Tidak ada lagi cincin pernikahan di jari manisnya. Statusnya sudah resmi berubah. Ia sempat menatap jari itu beberapa detik. Dulu, benda kecil itu membuatnya merasa memiliki seseorang. Namun sekarang…, ia justru merasa lebih ringan setelah benda itu tidak lagi ada.Ia kembali menatap ke arah cermin. “Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, wanita yang menyandang status janda itu…, adalah aku.”Caroline menghela nafas, lalu mengambil tasnya. Ia keluar dari kamar dengan senyum yang akan menemaninya melewati hari ini."Selamat pagi, Nona," sapa Faris yang sudah menunggu di ruang depan.Caroline berhenti."Sepagi ini kamu sudah datang?"Faris melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul tujuh."Caroline tertawa kecil. "Rasanya

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.27

    Suara pertengkaran terdengar sampai ke luar. David mendekat perlahan, memastikan apa yang sedang terjadi."Mudah sekali kamu bilang akan bertanggung jawab setelah semua ini terjadi? Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mempermalukan kami!!" bentak ayah Vanessa.David mengernyit. “Bertanggung jawab tentang apa? Dan siapa yang ayah Vanessa maksud?” lirihnya.Ia berjalan cepat menuju pintu yang terbuka. Begitu masuk, matanya langsung membelalak. Pria yang ada di video bersama Vanessa, kini sedang berdiri di ruang tamu.“Pa, Hendri siap tanggung jawab. Bisa nggak Papa jangan marah-marah terus,” ucap Vanessa berdiri di depan pria bernama Hendri, seolah menjadi tameng untuk pria itu saat ayahnya marah.“Kamu ini, sama saja! Bikin malu keluarga! Sekarang kamu sudah terikat pernikahan dengan David, dan sekarang David meninggalkanmu karena bajingan ini.”“Cukup, Pa! David pergi karena dia lebih memilih untuk mengemis pada istri lamanya itu. Bukan karena Hendri!” PLAK!!Tangan ibu Vanessa m

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.26

    Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.25

    "Vanessa!” Suara David terdengar berat dan sedikit tinggi, membuat seluruh tamu di ruangan ikut menoleh.“Sayang, apa kamu akan mengejar Caroline dan memintanya untuk tetap bertahan? Kamu nggak akan meninggalkan aku, kan” tanya Vanessa yang belum menyadari jika saat ini David tengah marah padanya.David tak menjawab, tapi tatapan tajamnya membuat Vanessa tahu jika semua tidak baik-baik saja.“Jelaskan ini,” ucap David sambil memberikan ponselnya pada Vanessa, agar wanita itu melihat sendiri kesalahan apa yang sudah ia lakukan.Vanessa bingung, tapi ia tetap mengambil ponsel David dan segera melihatnya. Ia terlihat mulai panik saat video mulai di putar, lalu menatap ke arah David dengan bibir bergetar."Sa-sayang, kamu jangan percaya video ini. Ini…, ini hanya editan. Aku tidak mungkin melakukan ini."David merebut ponselnya. "Editan? Kamu bilang ini editan?"Vanessa buru-buru mengangguk. "Iya. Mereka pasti sengaja menjebakku agar kamu membenciku. Dan.., dan anak ini, anak ini adalah a

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.24

    Vanessa mengangkat pecahan gelas itu tinggi-tinggi. Wajahnya dipenuhi amarah. Matanya memerah, napasnya memburu. Ia melangkah cepat ke arah Caroline."Vanessa! Hentikan!" teriak ayahnya.Namun wanita itu sudah tak mampu berpikir jernih. "Semua ini gara-gara kamu!" teriaknya sambil mengayunkan pecahan gelas itu ke arah Caroline.Caroline merasa takut dan berusaha menghindar, tapi detik itu juga Faris segera pasang badan untuknya. Faris berdiri tepat di hadapan Caroline, dan tangannya dengan cepat menahan tangan Vanessa."Kamu benar-benar mencari masalah baru,” ucap Faris pelan tapi terdengar berat.Vanessa mencoba mendorong tubuh Faris, tetapi pria itu sama sekali tidak bergeming. "Menyingkir dari hadapanku!" bentaknya.Faris tak memberi reaksi, hanya tatapan datar ke arah Vanessa."Dia menghancurkan acaraku! Dia menghancurkan hidupku! Semuanya!"Faris menekan pergelangan tangan Vanessa hingga wanita itu meringis kesakitan, dan akhirnya melepaskan pecahan gelas itu. Lalu dengan kasar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status