共有

Bab. 3

作者: Molista
last update 公開日: 2026-06-30 15:42:37

“Pagi juga, sayangku,” jawabku sambil tersenyum. Berusaha membuang rasa gugupku.

Aku harus tetap terlihat bahagia, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal duniaku seperti berputar keluar dari jalur edar. Dan yang lebih lucu… Suamiku yang selingkuh, tapi kenapa justru aku yang ketakutan? 

David duduk di sampingku. Dari raut wajahnya, sepertinya ia tak sempat membaca chatinganku dengan Vanes. Ya, aku harap begitu.

Aku menatapnya. “Mas, aku boleh minta sesuatu?” tanyaku, sedikit memiringkan tubuh.

Dia tersenyum. Senyum yang dulu selalu membuatku meleleh seperti lilin yang terbakar. Jauh berbeda dengan sekarang, senyum itu justru membuat aku merasa muak dan membuatku ingin menendangnya.

“Sejak kapan aku melarangmu meminta sesuatu padaku, Sayang?” jawabnya.

Aku tersenyum, lalu menggandeng tangannya, bersikap manja seperti biasa agar semua terlihat baik-baik saja. Padahal aku ingin muntah mendengar jawabannya. “Aku ingin kita pergi makan malam berdua malam ini. Sudah lama kita tidak keluar berdua.”

Dia diam sebentar. Aku tau dia bingung menjawab ajakanku. Itu karena dia sudah punya janji dengan Vanes malam ini.

“Aku juga mau suasana yang agak tenang. Nggak perlu mewah. Yang penting kita berdua. Dan…” Aku kembali bicara karena dia terlalu lama menjawab. “Dan aku mau sebuah hadiah.”

“Hadiah?” tanyanya sambil mengangkat alis. “Bukannya kemarin aku sudah memberikan ha—”

“Itu kan aku yang minta,” potongku pelan. “Tentu saja beda dengan barang yang kamu berikan tanpa aku tahu sebelumnya, iya kan?”

Dia menatapku, lalu tersenyum kecil. “Baiklah. Kamu mau apa?”

Aku menggeleng pelan, dengan wajah yang aku buat semanja mungkin. “Aku mau lihat selera Mas saja. Apapun itu, aku akan menerimanya dengan sangat senang,”

Beberapa detik hening. Dia memikirkan sesuatu. Dan aku tahu apa yang dia pikirkan. Apalagi selain mencari cara untuk menolakku? Bukankah seharusnya malam ini ia bisa berduaan dengan si pelakor?

“Mas, kok diam sih,” panggilku membuyarkan lamunannya.

Raut wajah David benar-benar membuktikan kebingungan yang dengan mudah bisa aku baca.

Dia tersenyum kaku. “Sayang, aku hanya sedang memikirkan hadiah apa yang harus aku berikan padamu, sedangkan apapun yang kamu inginkan bisa kamu beli sendiri. Tapi aku akan tetap memikirkannya. Dan untuk makan malamnya…, sepertinya tidak bisa malam ini. Aku ada janji sama orang kantor.”

Alasan yang sudah aku duga. Aku langsung melepaskan tangannya, dan memasang wajah cemberut. 

“Ini penting, sayang. Urusan kerjaan yang nggak bisa ditunda,” imbuhnya lagi.

“Tapi aku cuma minta satu malam. Kenapa kamu nggak bisa? Padahal kita sudah jarang punya waktu berduaan,” kataku pelan, tapi nada suaraku berubah. “Atau… jangan-jangan sekarang kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”

David terlihat ragu. Tapi langsung menggeser tubuhnya agar menghadap ke arahku. Ia menggenggam tanganku, tapi aku segera menarik tanganku dan tetap cemberut. 

“Sayang, jangan begitu,” ucapnya pelan sambil kembali menggapai tanganku. “Aku sibuk agar usaha keluarga kita semakin maju. Dan…, tentu saja selain bekerja, waktuku hanya untuk kamu. Jadi bagaimana bisa kamu bilang jika aku nggak cinta lagi? Semua ini aku lakukan buat kamu seorang. Kamu juga tahu, aku sedang berusaha agar tetap menjadi menantu yang bisa diandalkan oleh ayahmu, iya kan?”

Aku mengangguk pelan. Ya, pernikahan kami yang tak begitu direstui Papa, memaksa David agar berusaha keras mengambil hati sang mertua. Salah satunya bekerja keras, sebagai bukti bahwa dia pantas menjadi menantu seorang Abraham Wathson. 

“Kalau begitu, bagaimana jika aku minta Papa agar memberimu izin satu hari, untuk menemaniku? papa pasti mengizinkannya.” 

“Jangan melibatkan Papa, aku tidak mau Papa berpikir buruk tentangku.”

“Asal kamu bisa punya waktu denganku, kenapa tidak?” ucapku yang langsung mengambil ponsel.

“Sayang,” David langsung mencegahku, sesuai dugaanku. Ia diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, tapi aku bisa melihat kepanikkannya. Ayo… pilih mas. Apa kamu berani menolakku demi pelakor itu? Kamu tahu resikonya jika aku sudah mengadu pada Papa, kan?

Akhirnya dia menghela napas. “Baiklah. Kita pergi malam ini.”

Senyumku langsung muncul. “Beneran?”

“Iya.”

“Kalau begitu aku akan berpandangan cantik malam ini, dan kamu yang pilih tempatnya, ya?” ucapku lagi. Dan aku kembali menyantap sarapan sambil menahan senyum.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat wajahnya yang gelisah. Kasihan sekali, kamu. Rencanamu berantakan ya? Atau kamu sedang berpikir keras agar tetap bisa bertemu dengannya malam ini?

Tak lama, ponselku kembali kembali berbunyi. Aku hanya melirik sekilas. Pasti dia. Tapi kali ini aku tidak tertarik membalas. Biar saja dia menunggu.

Beberapa menit kemudian, ponsel David berdering. Dia langsung berdiri.

“Aku angkat telepon dulu dari klien. Sepertinya ini penting,” katanya sambil beranjak.

Aku mengangguk meski ia sudah terlebih dulu meninggalkanku. Klien? Aku hampir tertawa dengan alasan itu. Jika itu klien, kenapa harus menjauh dariku.

Silakan saja kamu terus berbohong padaku, Mas. Aku justru penasaran… sekarang kalian berdua mau mengatur ulang rencana seperti apa untuk tetap bisa bertemu malam ini?

Tak berapa lama David kembali. Ia duduk di sampingku, menyesap kopinya, lalu menatap ke arahku.

“Sayang, Pak Ardi meminta aku menemui klien dari Singapore malam ini,” ucapnya.

Aku berhenti menyuap sarapanku, lalu menoleh ke arahnya. “Terus?” tanyaku.

“Kita tunda makan malamnya besok saja, bagaimana?”

Aku diam.

“Aku harus membahas tentang kerjasama kita dengan perusahaan Singapore. Ini peluang besar agar produk dari perusahaan kita semakin meluas ke berbagai negara,” jelasnya lagi.

Aku menghela nafas. “Baiklah,” ucapku dengan nada kecewa.

David mendekat dan mencium keningku. “Terimakasih,” ucapnya, lalu ia segera menghabiskan sarapannya. 

Aku mengantarnya sampai keluar pintu rumah. Melambaikan tangan dengan senyum seperti biasa, saat ia akan berangkat kerja.

Begitu mobil semakin menjauh, saat itu juga senyumku hilang. Aku mengambil ponsel dari saku celanaku, dan langsung menghubungi Faris.

“Apa benar, malam ini David harus bertemu klien dari singapore?” tanyaku.

“Pak Ardi sudah bertemu pak Robert kemarin. Jadi saya rasa tidak ada lagi pertemuan.”

Seperti dugaanku… Bertemu klien hanyalah sebuah alasan. Aku tersenyum. “Bantu aku main drama malam ini,” ucapku pada Faris sebelum memutuskan panggilan.

Aku tidak marah meski David berhasil membohongiku, karena itu artinya… malam ini aku bisa memberi kejutan untuk mereka.

Aku membuka pesan Vanessa yang tadi sengaja aku abaikan.

“Jangan terlalu senang dulu. Meski kamu dapat hadiah darinya, tetap saja kamu nggak pernah benar-benar punya hati David.” 

Aku tersenyum tipis, lalu membalas singkat.

“Aku tahu. Kamu memang selalu unggul dalam merayu hati David.” 

Aku langsung kirim tanpa lupa memberikan emoji di akhir kalimat.

Tanda “dibaca” langsung muncul. Dan balasan pun tak lama aku terima.

“Tentu saja aku lebih unggul segalanya dari kamu. Tidak sepertimu yang terlalu payah.”

Begitulah balasannya. Tapi aku tidak membuka pesan itu. Aku hanya membaca lewat noitifikasi di layar.

Aku membuka aplikasi chat itu berkali-kali, hanya untuk memastikan dia melihat status online-ku. Dan ia tahu jika aku selalu online, tapi pesan darinya tetap tidak aku buka.

Biar dia gelisah dan juga marah-marah sendiri di sana. Karena nanti malam kita akan bertemu. Aku akan memberi kejutan untuknya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.30

    Caroline menatap hotel itu cukup lama. Tangannya masih menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus berusaha mencari alasan yang masuk akal.Mungkin wanita itu memang keluarganya. Mungkin mereka hanya datang untuk membicarakan sesuatu. Atau mungkin ada urusan penting yang tidak bisa dilakukan di tempat lain.Namun satu hal yang tidak bisa Caroline jelaskan adalah, alasan mengapa hatinya justru terasa begitu tidak nyaman.“Kenapa aku harus peduli?” Ia menghembuskan napas kasar. “Dia bukan kekasihku apalagi suamiku. Lalu kenapa aku harus penasaran dengan apa yang akan ia lakukan dengan wanita itu?”Kalimat itu justru membuat Caroline terdiam. ‘Benar. Faris hanyalah seorang ajudan yang selama ini bekerja untuk keluargaku. Seseorang yang bertugas menjagaku, memastikan kebutuhanku terpenuhi, melindungiku, dan membantuku dalam pekerjaan. Tidak lebih.’Caroline kembali menatap ke arah hotel. ‘Jadi kenapa aku merasa seperti perempuan bodoh yang sedang memata-matai pacarnya sendiri?’Carolin

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.29

    “Kamu tidak akan bertanya tentang Faris, jika tidak ada tujuannya. Iya kan?” ucap Ayu kembali.“Ma, aku hanya tanya saja. Sedikit penasaran.”“Benarkah?” Ayu ragu dengan jawaban Caroline.“Ma… Faris ajudanku, dan aku rasa tidak ada salahnya juga aku bertanya tentangnya, kan?”“Ok ok ok.” Ayu hanya terkekeh pelan, lalu mereka melanjutkan makan malam tanpa membahas Faris lagi.Sejak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya semalam, Caroline tak lagi ingin tahu tentang adik yang dimaksud Faris. Sebagai pemilik perusahaan furnitur keluarga, ia tak ingin memikirkan hal yang baginya bukalah hal penting. Apalagi sekarang ia mulai lebih sering turun langsung ke lapangan. Ia ingin mengetahui sendiri bagaimana perkembangan proyek-proyek yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.Pagi itu, Caroline bersama Faris pergi meninjau salah satu proyek produksi furnitur yang sedang dikerjakan untuk sebuah hotel baru.Begitu turun dari mobil, suara mesin pemotong kayu dan aktivitas para pekerja lang

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.28

    Sudah satu minggu sejak Caroline meninggalkan pernikahan David dan Vanessa, ia merasa hidup dengan udara kebebasan.Pagi itu Caroline berdiri di depan cermin, mengenakan blazer putih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya ditata sederhana. Tidak ada lagi cincin pernikahan di jari manisnya. Statusnya sudah resmi berubah. Ia sempat menatap jari itu beberapa detik. Dulu, benda kecil itu membuatnya merasa memiliki seseorang. Namun sekarang…, ia justru merasa lebih ringan setelah benda itu tidak lagi ada.Ia kembali menatap ke arah cermin. “Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, wanita yang menyandang status janda itu…, adalah aku.”Caroline menghela nafas, lalu mengambil tasnya. Ia keluar dari kamar dengan senyum yang akan menemaninya melewati hari ini."Selamat pagi, Nona," sapa Faris yang sudah menunggu di ruang depan.Caroline berhenti."Sepagi ini kamu sudah datang?"Faris melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul tujuh."Caroline tertawa kecil. "Rasanya

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.27

    Suara pertengkaran terdengar sampai ke luar. David mendekat perlahan, memastikan apa yang sedang terjadi."Mudah sekali kamu bilang akan bertanggung jawab setelah semua ini terjadi? Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mempermalukan kami!!" bentak ayah Vanessa.David mengernyit. “Bertanggung jawab tentang apa? Dan siapa yang ayah Vanessa maksud?” lirihnya.Ia berjalan cepat menuju pintu yang terbuka. Begitu masuk, matanya langsung membelalak. Pria yang ada di video bersama Vanessa, kini sedang berdiri di ruang tamu.“Pa, Hendri siap tanggung jawab. Bisa nggak Papa jangan marah-marah terus,” ucap Vanessa berdiri di depan pria bernama Hendri, seolah menjadi tameng untuk pria itu saat ayahnya marah.“Kamu ini, sama saja! Bikin malu keluarga! Sekarang kamu sudah terikat pernikahan dengan David, dan sekarang David meninggalkanmu karena bajingan ini.”“Cukup, Pa! David pergi karena dia lebih memilih untuk mengemis pada istri lamanya itu. Bukan karena Hendri!” PLAK!!Tangan ibu Vanessa m

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.26

    Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita

  • Kubiarkan Pelakor Itu Memiliki Suamiku    Bab.25

    "Vanessa!” Suara David terdengar berat dan sedikit tinggi, membuat seluruh tamu di ruangan ikut menoleh.“Sayang, apa kamu akan mengejar Caroline dan memintanya untuk tetap bertahan? Kamu nggak akan meninggalkan aku, kan” tanya Vanessa yang belum menyadari jika saat ini David tengah marah padanya.David tak menjawab, tapi tatapan tajamnya membuat Vanessa tahu jika semua tidak baik-baik saja.“Jelaskan ini,” ucap David sambil memberikan ponselnya pada Vanessa, agar wanita itu melihat sendiri kesalahan apa yang sudah ia lakukan.Vanessa bingung, tapi ia tetap mengambil ponsel David dan segera melihatnya. Ia terlihat mulai panik saat video mulai di putar, lalu menatap ke arah David dengan bibir bergetar."Sa-sayang, kamu jangan percaya video ini. Ini…, ini hanya editan. Aku tidak mungkin melakukan ini."David merebut ponselnya. "Editan? Kamu bilang ini editan?"Vanessa buru-buru mengangguk. "Iya. Mereka pasti sengaja menjebakku agar kamu membenciku. Dan.., dan anak ini, anak ini adalah a

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status