Accueil / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 18 Program Bayi Tabung

Partager

Bab 18 Program Bayi Tabung

Auteur: Ratu As
last update Date de publication: 2026-08-08 08:43:12

Liam membaca kalimat di kertas. Keningnya tampak berkerut, seolah sedang mencerna sesuatu.

Marfa menunggu respon suaminya, namun bibir lelaki itu tidak bergerak sedikit pun.

"Aku tidak menuduh Lio, tapi aku sangat yakin putraku berkata jujur. Jika Pak Liam ke sini ingin mempertegas kalau Vian tidak boleh lagi bicara, lebih baik pendam saja."

Marfa bicara dengan tegas dan teguh. Ia tidak mau putranya yang sejak awal lemah akan semakin tertekan karena harus memikirkan masalah ini. Apalagi jika
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 22 Buat Marfa Hamil

    Liam mengangguk pelan, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia melihat jam tangannya, lalu meminta Marfa untuk segera pulang.​Marfa mengerti, waktu begitu berharga bagi pria sibuk seperti Liam. Tanpa mengulur waktu atau memprotes lebih jauh, Marfa bergegas meninggalkan ruangan.**​"Liam, kamu sudah pulang?" tegur Lisya heran saat mendapati putranya tiba di rumah lebih awal dari biasanya. Wanita itu baru saja selesai mandi dan tampil rapi.​Rupanya, Rusdi juga sudah berada di ruang tengah. Melihat kedatangan putranya, ada pendar kebahagiaan yang samar di wajah pria paruh baya itu.​"Ayah," panggil Liam sembari mendudukkan diri di sofa, tepat di hadapan ayahnya. Raut wajahnya menyiratkan niat untuk membicarakan hal penting. "Aku ingin bicara. Besok aku akan membawa Marfa dan Vian pindah ke rumah baru," kata Liam langsung pada inti, tanpa basa-basi sedikitpun. ​Rusdi tersentak. Selama ini, ia mengira Liam tidak pernah mempertimbangkan opsi itu. "Maksudmu, kalian akan pindah? Rumah

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 21 Pelumas

    Sepanjang koridor rumah sakit, Marfa memperhatikan cengkeraman tangan Liam di pergelangan tangannya. Kuat dan erat. Beberapa staf dan pasien yang berpapasan sempat melirik ke arah mereka dengan tatapan penasaran, tetapi Liam tetap melangkah tegak dan berwajah datar, seolah tidak terpengaruh apapun. ​"Masuklah. Setelah selesai, temui aku di ruangan," pesan Liam begitu mereka tiba di depan ruang poli kandungan.​Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan melangkah menuju ruang kerjanya sendiri. Marfa sempat mematung sejenak, menghela napas panjang untuk menata hatinya sebelum akhirnya mendorong pintu ruangan Dokter Ayla.​Cukup lama Marfa berada di dalam. Usai mendengarkan penjelasan panjang lebar dari sang dokter, ia melangkah menyusuri koridor menuju ruangan suaminya, menuruti perintah pria itu.​"Permisi... Dokter Liam," panggil Marfa dari balik pintu yang sedikit terbuka, sekadar memastikan suaminya ada di dalam.​"Masuk," sahut suara berat dari dalam.​Marfa mendorong pintu p

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 20 Panggil Dia Pag Guru, Jangan Mas!

    "Maaf tidak perlu, aku bisa membawanya ke bengkel," ujar Marfa sebelum Rayyan menyahuti permintaan anak-anak. Ia tidak mau merepotkan, juga akan sangat canggung jika nanti orang rumah tahu ia diantar pulang oleh lelaki asing. "Aku Rayyan, adiknya Mbak Nina," kata Rayyan melihat sungkan di wajah Marfa, ia memperkenalkan diri lebih dulu, lalu tersenyum untuk mencairkan suasana."Kamu Mbak Marfa kan?""Benar." Marfa mengangguk, ia ingat jika Nina pernah bercerita soal adiknya yang mengajar di SMP. Ternyata Nina juga menceritakan Marfa pada adiknya. "Kalau tidak mau ikut, bagaimana kalau aku bantu saja? Di depan ada bengkel. Mari Mbak Marfa, aku yang bawa sepeda motornya.""Tidak usah--" Sebelum Marfa menolak, Rayyan lebih dulu mengambil alih sepeda motor Marfa dan menuntunnya.Mau tak mau Marfa mengikuti sambil menggandeng anak-anak. Bengkelnya tidak jauh, tepat berada di depan sekolah hanya lebih ke kanan sedikit. "Pak, tolong tambal bannya ya. Sepertinya bocor karena paku," kata R

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 19 Pemuda Bernama Rayyan

    ​Tatapan Liam menggelap. "Bayi tabung?"​"Ya," sahut Marfa, meski hatinya berat namun mengingat hubungannya dengan suami yang renggang, ia merasa keputusan itu cukup masum akal. "Bukankah itu lebih efisien? Ibu mungkin bisa mendapatkan cucu yang diinginkan lebih cepat, Pak Liam mendapatkan penerus tanpa harus bersusah payah menyentuh wanita kampung sepertiku--" Dan Marfa tidak perlu lagi merasa sakit hati saat ditinggalkan ketika ia dalam puncak khayalan. Namun itu hanya ia ucapkan dalam hati, masih ada rasa malu untuk mengakuinya terang-terangan. Liam terdiam, rahangnya mengeras dan cengkeraman tangannya di pundak Marfa semakin mengetat. "Mau buat anak dengan bayi tabung atau secara langsung, itu ada dalam kendaliku, Marfa," kata Liam dingin. "Ketimbang mencoba sesuatu yang riskan, akan lebih baik jika kamu fokus dengan promil dari dokter Ayla," tegasnya kemudian menegakkan tubuhnya dan memilih mengakhiri perdebatan mereka dengan keluar dari kamar. Marfa kembali meringkuk sendir

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 18 Program Bayi Tabung

    Liam membaca kalimat di kertas. Keningnya tampak berkerut, seolah sedang mencerna sesuatu. Marfa menunggu respon suaminya, namun bibir lelaki itu tidak bergerak sedikit pun. "Aku tidak menuduh Lio, tapi aku sangat yakin putraku berkata jujur. Jika Pak Liam ke sini ingin mempertegas kalau Vian tidak boleh lagi bicara, lebih baik pendam saja." Marfa bicara dengan tegas dan teguh. Ia tidak mau putranya yang sejak awal lemah akan semakin tertekan karena harus memikirkan masalah ini. Apalagi jika Liam memojokkannya lagi. "Aku tidak bilang begitu." Liam menghela napas berat. "Lio memang salah dan dia sudah mengakuinya." Marfa yang sebelumnya memalingkan wajah kini menatap Liam lagi dengan raut terkejut. Ia hanya tidak menyangka anak itu akan mengakuinya, jadi memang benar saat di panti Vian mendapat perundungan. "Namun, Lio juga masih kecil. Dia pasti tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Mungkin hanya takut posisinya akan tersingkir, anak-anak sering merasa iri," kata Liam bijak, namu

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 17 Tuduhan

    Vian tidak langsung menjawab, namun wajahnya berubah pias dan bibirnya gemetar sebelum berani bersuara. Marfa menariknya dalam pelukan lalu mengusap punggung putranya. "Kita ke toilet saja dulu, nanti kalau Vian sudah tenang bisa bicara sama Mama."Vian mengangguk melanjutkan langkah kecilnya ke toilet. Marfa kembali menanyai putranya sebelum mereka kembali ke meja. Ia menatap dalam dan memindai wajah kecil Vian. "Kak Lio bilang, Vian jelek dan bodoh .... Papa tidak suka. Vian juga sakit, sebentar lagi Vian mati," ucap Vian polos mengingat ucapan Lio saat di panti waktu itu. Mendengarnya jelas membuat Marfa terkejut, Lio terlihat pendiam dan tidak banyak tingkah, tapi kata-kata itu terlalu pedas untuk diucapkan seorang anak. "Kak Lio sama temennya juga dorong-dorong Vian.... " Marfa menghela napas, mendengar penuturan putranya kini ia paham kenapa saat pulang dari panti Vian sampai ketakutan dan demam. "Vian, kenapa bicara begitu?" tegur Alena yang kebetulan menyusul ingin ke t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status