تسجيل الدخول"Om Rayyan, Papa Vian dokter loh! Papa kerja di rumah sakit!" sahut Vian bangga. Terlihat jelas binar di mata bening itu saat menceritakan tentang Liam. "Oh, dokter. Keren sekali, Vian." Rayyan mengangguk-anggukan kepala, membalas hangat antusias Vian. Sesampainya di sana, hawa panas di perjalanan tadi seakan menguap digantikan dengan sejuk dan asri dari teduhnya rumah itu. Rumah Nina dikelilingi pepohonan dan berbagai jenis tanaman hias yang tertata rapi di pelataran. Vian pun langsung bersorak gembira begitu disambut hangat oleh Nina. Nina tinggal bersama anak dan adiknya di sana karena orang tuanya sudah meninggal. Sementara suami bekerja di luar kota yang pulangnya tiga bulan sekali. Ketiga anak kecil itu berhamburan menuju area bermain di teras samping, begitu asyik dan penuh tawa."Bagaimana kondisimu?" tanya Marfa perhatian, ia memindai penampilan Nina yang masih terlihat pucat namun sudah jauh lebih baik dan bisa beraktivitas. "Sudah mendingan, Fa. Besok juga pasti bisa
Begitu tiba di gerbang sekolah Vian, Marfa disambut oleh sosok yang tak asing. Rayyan tengah berdiri di dekat area parkir, ia berangkat bersama si kembar Farida dan Faris yang langsung berlarian mendekati Vian. "Selamat pagi, Vian," sapa Rayyan hangat ia juga mendekat sembari berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Vian dan si kembar. Matanya lalu beralih menatap Marfa."Selamat pagi, Pak Guru," ucap Marfa dengan senyum tipis.Rayyan sempat terkekeh canggung. Gerakan tubuhnya mengusap tengkuk memperlihatkan sedikit rasa serba salah.Kemarin, Marfa menyapanya dengan sebutan 'Mas Rayyan'. Sekarang dipanggil pak guru olehnya membuat pemuda itu berdeham. Namun, Rayyan lekas menguasai diri dan membalas senyuman itu."Oh ya, Mbak Marfa," ujar Rayyan usai Vian berlari kecil masuk ke area kelas. "Hari ini Mbak Nina masih sakit, jadi belum bisa mengantar si kembar."Marfa menatap Rayyan penuh rasa simpatik. Nina biasanya yang selalu riang menyapanya lalu menemaninya mengobrol di rua
Pertanyaan yang meluncur dari bibir Marfa, sarat akan tuduhan yang selama ini menyiksa batinnya. Liam menghentikan langkah, menatap istrinya tanpa ada kepanikan sedikit pun di wajahnya. "Marfa, ini sudah larut. Apa kamu sengaja menungguku pulang hanya untuk mengajak ribut?" Suara Liam terdengar sangat tenang, teratur, dan dingin, pola reaksi yang justru makin menyiksa Marfa. Pria itu menyandarkan punggungnya di pintu yang baru ditutup, menatap Marfa seolah istrinya sedang melontarkan ocehan yang tak masuk akal. "Jawab saja, Pak Liam! Katakan yang sejujurnya!" pinta Marfa dengan air mata yang akhirnya lolos. Ia tidak bisa lagi memendamnya. Kecurigaan dan rasa terasing yang menumpuk selama ini menuntutnya meminta kejelasan. "Kamu baru saja pulang bersama Alena, kan? Kamu pikir aku tidak lihat?" cecar Marfa, suaranya tercekat oleh rasa sakit. "Rumah di sebelah itu ... Alena yang tinggal di sana, kan? Apa sejak awal kalian sengaja memilih tempat ini agar bisa berdekatan?"
"Mama! Mama ayo masuk!" panggil Vian yang sudah di dalam bersama ayahnya. Marfa mengalihkan fokus, ia pamit pada tetangga yang sebelumnya menyapa dan ia juga tidak lagi menoleh pada Alena. Hanya saja hatinya terasa diremas sekali lagi. Ia baru saja menyelipkan harapan baru, namun lagi-lagi harus sadar diri. Sepertinya suaminya memang masih terikat dengan masa lalu, dan belum tentu bisa membuka hati untuk Marfa. Saat memasuki rumah itu, ruangan masih kosong. Belum banyak barang-barang di sana kecuali sofa, beberapa lemari dan lainnya. "Aku belum sempat membeli banyak furniture, kalau kamu sempat bisa bantu aku memilihnya," ucap Liam sembari menuntun Marfa untuk melihat kamar mereka. Marfa mengangguk, ia mengikuti langkah Liam tanpa banyak bicara. Hanya Vian yang riang saat itu. Marfa berdiri di ambang pintu kamar, Liam menatapnya, menunggu respon karena sejak tadi Marfa diam saja. "Kamu tidak suka?" "A-pa?" Marfa tersentak, ia tidak menyangka jika Liam akan berpikiran ia tidak
"Bu, mengertilah," Liam mulai terlihat lelah. "Soal hamil dan punya anak itu bukan kuasa manusia."Ia lalu berdiri. "Jadi jangan terus mendesak menantu Ibu."Liam tidak ingin lagi berdebat. Ia memilih meninggalkan ruangan dan beranjak kamar. ***Malamnya, Liam sudah berbaring di ranjang lebih dulu sebelum Marfa masuk setelah menidurkan Vian.Melihat suaminya sudah beristirahat, Marfa merasa sedikit heran. Pria itu biasanya selalu sibuk dengan gawai atau berkas medisnya hingga larut malam. Marfa melangkah pelan, naik ke sisi ranjang tanpa menimbulkan suara karena tidak ingin mengganggu tidur Liam.Ia memiringkan tubuhnya, berbaring menghadap Liam. Dalam keheningan malam, Marfa leluasa memperhatikan paras suaminya, wajah yang belakangan ini kerap membuat dadanya meragu antara gejolak hangat yang asing atau rasa ngilu yang mengiris hati.Tanpa sadar, jemari Marfa terulur. Ia menyentuh perlahan batang hidung suaminya yang mancung. Di saat-saat seperti ini, ketika Liam terpejam dan t
Liam mengangguk pelan, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia melihat jam tangannya, lalu meminta Marfa untuk segera pulang. Marfa mengerti, waktu begitu berharga bagi pria sibuk seperti Liam. Tanpa mengulur waktu atau memprotes lebih jauh, Marfa bergegas meninggalkan ruangan. ** "Liam, kamu sudah pulang?" tegur Lisya heran saat mendapati putranya tiba di rumah lebih awal dari biasanya. Wanita itu baru saja selesai mandi dan tampil rapi. Rupanya, Rusdi juga sudah berada di ruang tengah. Melihat kedatangan putranya, ada pendar kebahagiaan yang samar di wajah pria paruh baya itu. "Ayah," panggil Liam sembari mendudukkan diri di sofa, tepat di hadapan ayahnya. Raut wajahnya menyiratkan niat untuk membicarakan hal penting. "Aku ingin bicara. Besok aku akan membawa Marfa dan Vian pindah ke rumah baru," kata Liam langsung pada inti, tanpa basa-basi sedikitpun. Rusdi tersentak. Selama ini, ia mengira Liam tidak pernah mempertimbangkan opsi itu. "Maksudmu, kalian akan pinda







