로그인Lasmi bergeming, ia tidak merespon tatapan hancur dari putrinya itu. Ia tetap berdiri tak acuh dengan ekspresi dingin dan masa bodoh dengan apa yang Marfa dan Vian rasakan. Sejak dulu, Marfa selalu dianaktirikan di rumah ini. Bapaknya begitu membanggakan dan menyayangi Arman sebagai putra sulung, sementara Ibunya sangat memanjakan adik-adiknya. Marfa berada di tengah—sendirian, hanya dianggap beban yang merepotkan. Apalagi saat statusnya masih janda beberapa waktu lalu, Marfa benar-benar diperlakukan tak ubahnya sebuah aib keluarga yang harus disembunyikan."Bapak, sudahlah. Kalau Mbak Marfa tidak mau bantu cuci piring, suruh saja dia di depan catat buku tamu," sela Lely, adik perempuan Marfa yang baru saja lulus SMA.Gadis itu berdiri bersedekap dada dengan wajah meremehkan. "Sekarang kan sudah jadi orang kaya, mana mau dia pegang-pegang barang kotor--""Lely! Mbak tidak begitu, ya!" potong Marfa, suaranya meninggi. Ia jauh lebih berani menghadapi adiknya dibanding saat berhada
Pagi itu, mobil Liam sudah siap terparkir di halaman. Setelah pamit dan memberikan pesan singkat pada Vian, pria itu segera bersiap kembali ke kota karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Sedangkan Marfa dan Vian berniat tinggal sehari atau dua hari lagi. "Dah, Papa! Hati-hati di jalan!" ucap Vian riang sembari melambaikan tangan ke arah mobil Liam yang mulai melaju perlahan meninggalkan pekarangan.Setelah mobil itu menghilang di balik belokan jalan, Marfa menggenggam jemari kecil Vian. Mereka berdua berjalan santai dari rumah sang nenek menuju tenda hajatan di rumah orang tuanya. Marfa sendiri sudah mengenakan pakaian yang rapi untuk menghadiri acara syukuran khitanan keponakannya itu.Sesampainya di sana, suasana sudah sangat riuh. Orang tua dan saudara-saudaranya bersiap untuk menyambut para tamu undangan yang mulai berdatangan. Mereka tampak padu dalam balutan pakaian seragam yang selaras dan menawan.Marfa terduduk sejenak sebelum ikut merewang di acara keluarga
"Ini minumnya, Mas." Liam menerima gelas itu tanpa banyak bicara, matanya sempat menatap Marfa yang kini sengaja menghindari kontak mata dengannya. "A-ku mau jemput Vian dulu di rumah Ibu, Mas," pamit Marfa bergegas. Rasa malu setiap bertatapan dengan Liam membuat dirinya butuh ruang untuk bernapas dan menetralkan detak jantungnya yang masih berantakan. *** Begitu Isya berlalu, keriuhan di rumah Maryo makin terasa. Halaman depan sudah dipasangi terpal besar dan dilapisi karpet tebal. Para lelaki desa, mulai dari tetangga sekitar hingga tokoh masyarakat, sudah duduk bersila membentuk lingkaran besar. Suara obrolan riuh dan aroma asap rokok menyan bercampur wangi bumbu masakan mendominasi udara malam. Ketika Liam melangkah ke area kenduri bersama Marfa, beberapa mata langsung tertuju padanya. Pria kota itu tampil rapi dan bersih dengan kemeja rapi yang tergulung sedikit di bagian lengan serta celana kain hitam. Penampilannya penuh wibawa dan berkelas meski tidak memakai sesuatu
Marfa yakin rasa jamu racikan neneknya itu sangat pahit, tetapi ekspresi Liam hampir tidak berubah sedikit pun saat meminumnya. Pria itu tetap tenang tanpa mengernyit ataupun menunjukkan raut ragu."Pahit, Mas?" tanya Marfa polos, penasaran.Setelah cairan pekat dalam botol itu habis, Liam menjauhkan wadah itu sembari meremas pelan jemari Marfa, sebelum perlahan melepaskannya."Pahit. Kamu mau coba?" tanya Liam dengan suara rendah.Marfa melirik botol kaca yang kini sudah tandas. Ia hendak menggeleng pelan untuk menolak, namun tanpa diduga Liam merengkuh pinggangnya lebih rapat.Sebelum Marfa sempat mengucapkan kata, bibir Liam sudah mendarat sempurna di atas bibirnya.Pria itu mendaratkan ciuman yang dalam dan menuntut, seolah sengaja membagi rasa pahit-hangat rempah yang masih tertinggal di indra pengecapnya sebagai bentuk hukuman kecil untuk sang istri.Marfa membelalak kaget. Jemarinya refleks meremas bahu kokoh Liam saat kehangatan dan rasa pahit jamu itu menyapu bibirnya,
"A-apa, Nek? Kenapa Nenek bicara begitu..." cicit Marfa dengan raut terkejut.Marfa mendadak ragu. Sebenarnya, ia sendiri tidak pernah tahu pasti bagaimana hasil periksa medis suaminya. Hanya saja, yang ia tahu, performa Liam di atas ranjang terasa sangat normal, bahkan terbilang mumpuni layaknya lelaki per-ka-sa. Lantas, bukankah hal itu sudah cukup menandakan kalau suaminya sehat dan tidak ada masalah?Wati mengibaskan tangannya santai. "Ya Nenek cuma tanya, Fa. Orang zaman sekarang kan beda. Banyak laki-laki kelihatan gagah, badannya tegap, tapi ternyata bibitnya kurang tokcer. Makanya Nenek tanya, Nak Liam pernah diperiksa sama dokter khusus belum?"Wati bicara dengan bahasanya yang kolot. Marfa makin salah tingkah. Pipi dan lehernya mendadak hangat. Mana mungkin ia menjelaskan detail kehidupan intimnya kepada sang nenek?"Mas Liam itu dokter, Nek. Dia pasti lebih tahu soal kesehatan dirinya sendiri," kilah Marfa berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Lagipula ... kami berdu
Liam berdeham lagi sebelum akhirnya berdiri dan pamit pada Wati untuk masuk ke kamar. Di sana hanya ada Liam dan Marfa, sementara Vian bermain bersama teman-temannya di rumah Maryo. Marfa membuka jendela, udara segar masuk dari sana. Tanpa perlu AC, suasana di desa sudah dingin dan sejuk. "Tidurlah dulu, kamu pasti lelah." Marfa berbalik, niatnya hendak keluar, namun ia melihat Liam yang terduduk di tepi ranjang sambil memijat lengannya dan sesekali mengusap tengkuk. Liam terlihat kelelahan. "Mas Liam, tanganmu sakit? Atau pegal?" Dengan perhatian Marfa mendekat, bagaimana pun suaminya kelelahan karena menyetir lama untuk mengantarnya ke kampung. Jadi Marfa bertekat untuk membalas kebaikannya. "Mau aku bantu pijat?" "Kamu bisa?" Liam tidak menolak, ia tetap tenang saat Marfa mengajukan diri. Marfa mengangguk. "Aku ambil minyak urut dulu di kamar Nenek." Ia keluar sebentar, ke lemari tua di lorong untuk mengambil minyak urut buatan neneknya. Begitu tutupnya dibuka, wangi ar







