Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 41 Acara Malam di Desa

Share

Bab 41 Acara Malam di Desa

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-08-21 09:28:15
"Ini minumnya, Mas."

​Liam menerima gelas itu tanpa banyak bicara, matanya sempat menatap Marfa yang kini sengaja menghindari kontak mata dengannya.

​"A-ku mau jemput Vian dulu di rumah Ibu, Mas," pamit Marfa bergegas. Rasa malu setiap bertatapan dengan Liam membuat dirinya butuh ruang untuk bernapas dan menetralkan detak jantungnya yang masih berantakan.

***

​Begitu Isya berlalu, keriuhan di rumah Maryo makin terasa. Halaman depan sudah dipasangi terpal besar dan dilapisi karpet tebal. Para
Ratu As

Ehem, Liam... 🫠🫠🫠

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 41 Acara Malam di Desa

    "Ini minumnya, Mas." ​Liam menerima gelas itu tanpa banyak bicara, matanya sempat menatap Marfa yang kini sengaja menghindari kontak mata dengannya. ​"A-ku mau jemput Vian dulu di rumah Ibu, Mas," pamit Marfa bergegas. Rasa malu setiap bertatapan dengan Liam membuat dirinya butuh ruang untuk bernapas dan menetralkan detak jantungnya yang masih berantakan. *** ​Begitu Isya berlalu, keriuhan di rumah Maryo makin terasa. Halaman depan sudah dipasangi terpal besar dan dilapisi karpet tebal. Para lelaki desa, mulai dari tetangga sekitar hingga tokoh masyarakat, sudah duduk bersila membentuk lingkaran besar. Suara obrolan riuh dan aroma asap rokok menyan bercampur wangi bumbu masakan mendominasi udara malam. ​Ketika Liam melangkah ke area kenduri bersama Marfa, beberapa mata langsung tertuju padanya. Pria kota itu tampil rapi dan bersih dengan kemeja rapi yang tergulung sedikit di bagian lengan serta celana kain hitam. Penampilannya penuh wibawa dan berkelas meski tidak memakai sesuatu

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 40

    Marfa yakin rasa jamu racikan neneknya itu sangat pahit, tetapi ekspresi Liam hampir tidak berubah sedikit pun saat meminumnya. Pria itu tetap tenang tanpa mengernyit ataupun menunjukkan raut ragu.​"Pahit, Mas?" tanya Marfa polos, penasaran.​Setelah cairan pekat dalam botol itu habis, Liam menjauhkan wadah itu sembari meremas pelan jemari Marfa, sebelum perlahan melepaskannya.​"Pahit. Kamu mau coba?" tanya Liam dengan suara rendah.​Marfa melirik botol kaca yang kini sudah tandas. Ia hendak menggeleng pelan untuk menolak, namun tanpa diduga Liam merengkuh pinggangnya lebih rapat.​Sebelum Marfa sempat mengucapkan kata, bibir Liam sudah mendarat sempurna di atas bibirnya.​Pria itu mendaratkan ciuman yang dalam dan menuntut, seolah sengaja membagi rasa pahit-hangat rempah yang masih tertinggal di indra pengecapnya sebagai bentuk hukuman kecil untuk sang istri.​Marfa membelalak kaget. Jemarinya refleks meremas bahu kokoh Liam saat kehangatan dan rasa pahit jamu itu menyapu bibirnya,

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 39 Liam Meminum Jamu

    ​"A-apa, Nek? Kenapa Nenek bicara begitu..." cicit Marfa dengan raut terkejut.​Marfa mendadak ragu. Sebenarnya, ia sendiri tidak pernah tahu pasti bagaimana hasil periksa medis suaminya. Hanya saja, yang ia tahu, performa Liam di atas ranjang terasa sangat normal, bahkan terbilang mumpuni layaknya lelaki per-ka-sa. Lantas, bukankah hal itu sudah cukup menandakan kalau suaminya sehat dan tidak ada masalah?​Wati mengibaskan tangannya santai. "Ya Nenek cuma tanya, Fa. Orang zaman sekarang kan beda. Banyak laki-laki kelihatan gagah, badannya tegap, tapi ternyata bibitnya kurang tokcer. Makanya Nenek tanya, Nak Liam pernah diperiksa sama dokter khusus belum?"Wati bicara dengan bahasanya yang kolot. ​Marfa makin salah tingkah. Pipi dan lehernya mendadak hangat. Mana mungkin ia menjelaskan detail kehidupan intimnya kepada sang nenek?​"Mas Liam itu dokter, Nek. Dia pasti lebih tahu soal kesehatan dirinya sendiri," kilah Marfa berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Lagipula ... kami berdu

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 38 Jamu Herbal

    Liam berdeham lagi sebelum akhirnya berdiri dan pamit pada Wati untuk masuk ke kamar. Di sana hanya ada Liam dan Marfa, sementara Vian bermain bersama teman-temannya di rumah Maryo. Marfa membuka jendela, udara segar masuk dari sana. Tanpa perlu AC, suasana di desa sudah dingin dan sejuk. "Tidurlah dulu, kamu pasti lelah." Marfa berbalik, niatnya hendak keluar, namun ia melihat Liam yang terduduk di tepi ranjang sambil memijat lengannya dan sesekali mengusap tengkuk. Liam terlihat kelelahan. "Mas Liam, tanganmu sakit? Atau pegal?" Dengan perhatian Marfa mendekat, bagaimana pun suaminya kelelahan karena menyetir lama untuk mengantarnya ke kampung. Jadi Marfa bertekat untuk membalas kebaikannya. "Mau aku bantu pijat?" "Kamu bisa?" Liam tidak menolak, ia tetap tenang saat Marfa mengajukan diri. Marfa mengangguk. "Aku ambil minyak urut dulu di kamar Nenek." Ia keluar sebentar, ke lemari tua di lorong untuk mengambil minyak urut buatan neneknya. Begitu tutupnya dibuka, wangi ar

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 37 Tempat yang Sudah Kusiapkan

    Orang-orang sekitar yang tadi sibuk merewang kini berhenti, mereka dengan serentak menyambut kedatangan Marfa dan suaminya. "Kakek, Nenek apa kabar?" sapa Vian manis, meski seperti biasa sepasang tua itu tidak terlalu menghiraukan kehadirannya. Maryo dan istrinya tersenyum dan mengusap kepala Vian sekilas, sekedar basa-basi. Fokus mereka tetap pada Liam. "Wah, beruntung sekali si Marfa sudah jadi janda gara-gara ditinggal pria mokondo sekarang malah dapat dokter." "Bener, nasibnya mujur." Beberapa orang yang melihat memuji, namun ada juga yang diam-diam menatap sinis. "Liam, silahkan masuk Nak. Bapak senang sekali kamu bisa datang." Maryo mempersilahkan. Liam berjalan masuk dengan ekspresinya yang biasa saja--datar dan terkesan dingin. Tentu saja orang-orang yang baru melihatnya hanya bisa membatin. "Suami Marfa sombong sekali," Mereka mulai saling berbisik. Kebiasaan di desa orang-orang saling beramah tamah, sikap Liam yang bahkan tidak membalas sapaan mereka dengan senyum te

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 36 Menantu Kebanggaan

    Setibanya di rumah, Marfa langsung bergegas membersihkan area rooftop. Tanaman-tanaman hias yang dibelinya tadi pagi ia angkut satu per satu ke lantai atas, lalu mulai menatanya serapi mungkin.​Butuh waktu beberapa jam hingga seluruh pot tersusun cantik memanjakan mata.​"Mama..."​Suara mungil si kecil mengalihkan perhatian Marfa. ​Vian berjalan menyusulnya, berdiri di ambang pintu rooftop sembari mengucek matanya yang masih lengket. Anak itu baru saja bangun.Begitu mendapati area rooftop yang kemarin kosong kini telah disulap menjadi taman asri, mata bulat Vian berbinar kagum.​"Wah... indah sekali, Ma!" seru Vian menghampiri ibunya antusias. "Apa Vian boleh bermain di sini nanti?"​Marfa tersenyum lembut sembari mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Nanti Mama beli meja, kursi, dan beberapa furnitur pelengkap. Tempat ini bisa jadi area bersantai kita."​Vian menyambut ide itu dengan gembira. Anak kecil itu lalu berjongkok tepat di sebelah Marfa yang masih sibuk mengurus sarung tangan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status