Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 39 Liam Meminum Jamu

Share

Bab 39 Liam Meminum Jamu

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-08-21 09:23:09

​"A-apa, Nek? Kenapa Nenek bicara begitu..." cicit Marfa dengan raut terkejut.

​Marfa mendadak ragu. Sebenarnya, ia sendiri tidak pernah tahu pasti bagaimana hasil periksa medis suaminya. Hanya saja, yang ia tahu, performa Liam di atas ranjang terasa sangat normal, bahkan terbilang mumpuni layaknya lelaki per-ka-sa. Lantas, bukankah hal itu sudah cukup menandakan kalau suaminya sehat dan tidak ada masalah?

​Wati mengibaskan tangannya santai. "Ya Nenek cuma tanya, Fa. Orang zaman sekarang kan be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 100 Suami Perhatian

    ​"Jaga diri baik-baik. Jangan terlalu lelah," pesan Liam sebelum berangkat ke rumah sakit. ​Marfa mengekor di belakang Liam hingga sampai di depan pintu utama. Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Liam menghentikan langkah dan menoleh lagi pada Marfa. ​"Jangan sungkan menelepon jika ada apa-apa. Sekecil apa pun itu," tambah Liam lagi, memastikan istrinya paham bahwa ia selalu bisa diandalkan.Marfa tersenyum, kalimat itu sekarang sangat akrab di telinganya. Liam selalu mengingatkannya untuk menghubungi jika ada masalah. Begitu Liam berangkat ke rumah sakit, kekacauan pagi hari pun dimulai. Sejak kemarin Lio berubah jadi sangat manja dan penuh tuntutan, terutama di jam-jam sibuk saat bersiap-siap ingin berangkat sekolah. Sikapnya yang dulu mandiri kini berubah menjadi sangat sulit diatur dan kerap membuat Marfa kewalahan.​"Tante Marfa! Lio tidak mau pakai baju yang ini! Mau baju olahraga yang warna biru!" seru Lio dari dalam kamarnya, melempar seragam sekolah yang sudah rapi disetr

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 99 Ngidam

    ​Pertanyaan itu sempat melintas, namun Marfa tak ingin merusak momen indah ini dengan keraguan. Terlepas dari apa pun alasannya, Marfa tetap mengulas senyum bahagia. Ia makin menyusupkan wajahnya ke dada bidang Liam, menikmati hangatnya dekapan sang suami sebelum pagi benar-benar menyapa. * Liam keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya,ia tampak segar ada tetesan air yang membasahi rambut hitamnya. Begitu membuka pintu, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Marfa yang sudah duduk di tepi ranjang dengan seulas senyum ke arahnya. ​"Mas, bajunya sudah kusiapkan," ucap Marfa dengan wajah yang jauh lebih berseri, meski rona di bibirnya masih terlihat agak pias. ​Mata tajam Liam langsung tertuju pada selang infus yang masih menggantung dan menempel di punggung tangan istrinya. Pria itu menghela napas pendek, tatapannya menyirat sedikit ketegasan. ​"Kalau masih pusing dan lemas, jangan banyak bergerak dulu, Marfa," tegurnya tenang namun sarat peringa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 98 Sikap Lembut Suami

    Tak lama kemudian, derap langkah terburu-buru terdengar mendekati kamar. Liam kembali dengan membawa kantong plastik berisi bubur manis yang diminta Marfa. Tanpa banyak bicara, pria itu memindahkan bubur tersebut ke mangkuk, lengkap dengan sendoknya.​Liam duduk di tepi ranjang. Suasana kaku dan dingin yang biasa melingkupinya mendadak luluh oleh raut cemas yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia mengaduk bubur itu, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu mengulurkan suapan ke hadapan Marfa.​"Buka mulutmu," ujar Liam, suaranya terdengar lembut namun penuh penekanan.​Marfa menatap sendok itu ragu. Pening di kepalanya memang sedikit mereda setelah infus terpasang, tetapi rasa mual masih bersarang kaku di kerongkongannya. "Mas, aku bisa makan sendiri..."​"Kamu bahkan tidak punya tenaga untuk memegang sendok," potong Liam tegas. Tangannya tetap bertahan di udara. "Makan sedikit, Marfa. Jangan buat aku bersikap lebih keras dari ini."​Sikap bersikeras Liam membuat Marfa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 97 Suami yang Sigap

    ​"Oh, baiklah. Ayo masuk. Kamu sudah sarapan?" Marfa tersenyum lembut, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka. Tak ingin membahas masalah orang dewasa dengan anak-anak. Entah apa yang Alena lakukan bersama Liam, Marfa hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu di antara mereka. ​Lio hanya menggeleng pelan tanpa bersuara.​"Kalau begitu, kita sarapan dulu ya sebelum kamu siap-siap berangkat ke sekolah," lanjut Marfa hangat.​Dengan penuh perhatian, Marfa merangkul pundak Lio dan menuntun anak itu masuk ke rumah. Ia mengabaikan sejenak spekulasi liar di kepalanya tentang Liam dan Alena, dan memilih fokus menyiapkan sarapan bergizi untuk Lio dan Vian pagi itu."Tante, Lio tidak mau ini," tolak anak itu saat Marfa menyajikan sup daging. "Lio mau ayam goreng," pintanya sesuatu yang tidak ada di meja. "Biar aku yang buatkan, Non." Ratih sigap menawarkan bantuan. Namun Lio langsung menolaknya mentah-mentah. "Tidak mau. Aku mau Tante Marfa yang buatkan!" tegas Lio dengan wajah kak

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 96 Menekan Perasaan Pribadinya

    Setelah selesai makan malam, Vian berniat meminta papanya untuk mengajak mereka jalan-jalan sebentar. Namun, sebelum bibir kecil anak itu sempat berucap, ponsel di saku jas Liam berdering.​Liam mengangkatnya cepat. Wajahnya yang semula dingin berubah makin tegang seiring mendengar laporan di seberang telepon. Ada kondisi darurat di rumah sakit yang mengharuskan pria itu datang secepatnya.​"Papa harus ke rumah sakit sekarang, Vian. Kamu pulang sama Mama, ya?" Liam langsung berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan sigap tanpa membuang waktu.​Perubahan situasi yang mendadak itu membuat Marfa dan Vian sempat tertegun bingung. Vian menatap papanya dengan raut sedikit kecewa, sementara Marfa masih mencoba menenangkan situasi. ​Melihat raut serius di wajah Liam, Marfa memilih menekan perasaan pribadinya. Ia tahu tanggung jawab suaminya sebagai dokter jauh lebih penting karena ini menyangkut hidup dan mati seorang pasien.​"Hati-hati, Mas," ucap Marfa pelan, tanpa niat sedikit pun untuk m

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 95 Hadiah Kecil

    Meski kecil, Vian sangat peka. Marfa tidak perlu cemas saat ada Vian, anak itu sangat mengerti perasaanya. Andai boleh, Marfa juga enggan bertemu Alena, karena setiap bertemu tatap dengannya ada rasa sesak yang tiba-tiba meremas dadanya. *** Marfa sudah bersiap dengan Vian, Liam pun sudah memarkirkan mobilnya di depan. Liam menepati janjinya, karena itu Marfa menekan egonya yang sejak siang tadi gelisah karena teringat dengan tatapan sendu Alena yang seakan tidak terima Liam bersamanya. "Papa, apa malam ini hanya bertiga?" tanya Anak itu dengan langkah meloncat ke dekat Liam. Liam mengangguk. "Besok Kak Lio akan datang, malam ini sama Papa dan Mama saja." Vian mengangguk paham. Liam bicara seperti itu karena sebelumnya Marfa mengirim pesan untuk membawa Lio. Ketiganya menunju ke sebuah restoran yang sudah Liam reservasi. Restoran bintang lima yang menyediakan banyak menu dan sudah terkenal di ibu kota. Pelayan menyambut mereka lalu menuntun Marfa dan Vian ke private

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status