Share

Bab 6 Lingerie

Penulis: Ratu As
last update Tanggal publikasi: 2026-07-11 19:08:51

Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Lisya berbalik pergi bersama Hilya, meninggalkan Marfa yang berdiri mematung di tengah taman.

***

Malamnya Liam pulang. Langkah kakinya yang hendak menaiki tangga mendadak melambat saat suara sang ibu menyapa dari sofa ruang tengah.

​"Pulang juga kamu," tegur Lisya. Wanita itu berdiri lalu menyerahkan sebuah paperbag berlogo merek ternama dengan desain yang elegan kepada putra sulungnya. "Bawa ini untuk Marfa. Suruh dia memakainya!"

​Liam menerima paperbag itu dengan kening berkerut tanpa berniat memeriksa isinya. Karena rasa lelah setelah seharian bekerja, ia hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.

​Saat pintu kamar terbuka, terlihat Marfa sedang duduk di tepi ranjang. Kedatangan Liam yang tiba-tiba cukup mengagetkannya.

​"Pak Liam, kamu sudah pulang?" Marfa melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

​Ia segera beranjak mendekat untuk mengambil alih tas kerja suaminya. Namun, sebelum Marfa sempat berucap lagi, Liam menyodorkan paperbag itu begitu saja kepadanya.

​"Pakai ini," kata Liam singkat dan dingin.

​Marfa menerima paperbag itu dengan bingung. Belum sempat ia bertanya, Liam sudah menyela lebih dulu. ​"Aku mau mandi."

​Tanpa membuang waktu, Liam langsung melangkah menuju kamar mandi untuk berendam air hangat, meninggalkan Marfa yang berdiri sendirian dengan rasa penasaran yang membuncah.

​Marfa membuka isi paperbag. Matanya membelalak saat jemarinya menyentuh bahan kain sutra yang sangat tipis dan transparan. Itu adalah sepotong lingerie yang sangat terbuka dan seksi.

Liam memintanya memakai itu? Baru membayangkannya saja Marfa sudah merasa malu. Ia sudah selesai datang bulan, tapi haruskah langsung melayani suaminya dengan pakaian seperti itu.

Ah, bahkan itu tidak bisa disebut sebagai pakaian! Ada banyak celah yang terbuka.

Marfa terduduk di depan meja rias, lingerie itu masih di pangkuannya. Ia terlalu canggung untuk mencobanya, tapi kalau tidak ia lakukan takut Liam akan marah. Jadi sebelum lelaki itu keluar dari kamar mandi, Marfa mengganti baju tidurnya.

Liam berendam cukup lama dengan air hangat sampai otot-otot yang seharian terasa tegang kini lumayan mengendur. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia lihat Marfa yang duduk di tepi ranjang membelakanginya.

Rambut panjangnya yang menjuntai hingga pinggang menutup penuh bagian tubuhnya dari belakang. Jadi Liam hanya bisa melihat itu saja. Aneh.

"Apa kamu berniat menakutiku?" tegurnya.

Penampilan Marfa saat ini mungkin terlihat seperti penampakan hantu dari belakang.

Liam berdiri di dekat ranjang, ia menyentuh helai ujung rambut Marfa lalu bergeser hingga bisa melihat tubuh Marfa dari depan.

Liam sempat terlihat kaget. Sebelumnya Marfa selalu berpakaian tertutup, bahkan saat tidur pun memakai piyama panjang. Lalu sekarang wanita itu justru memakai baju minim bahan yang membuat sebagian tubuhnya terekspos jelas.

"Pak Liam--"

"Kenapa memakai yang seperti itu?" desis Liam dengan ekspresi yang tampak kurang suka. Wajahnya yang semula melunak kembali mengeras.

"Maaf… Apa ini tidak cocok untukku? Tapi, ini--"

"Cepat ganti," titah Liam, memalingkan wajah seolah enggan melihat Marfa dengan pakaian seperti itu.

Liam bergegas memakai baju lalu keluar tanpa mempedulikan Marfa sedikit pun.

Marfa terduduk lemas, ia terbayang wajah Liam yang terlihat jijik padanya. Sekalipun Liam tidak berkata apapun, namun tatapannya yang tidak nyaman melihat Marfa memakai lingerie itu membuat Marfa bertanya-tanya.

Liam tidak suka? Bukankah Liam yang menyuruhnya memakai itu?

**

"Kenapa Ibu beri untuk Marfa pakaian yang seperti itu?" Di tengah keheningan malam, suara Liam terdengar menderu. "Itu sangat buruk, Bu. Tidakkah Ibu punya inisiatif lain?"

Protes dari putranya membuat Lisya mendengus.

"Kenapa? Alena dulu selalu membeli yang seperti itu, kamu menyukainya kan? Lalu apa salahnya jika sekarang Marfa yang pakai? Kamu juga pasti akan suka!"

"Ibu terlalu lancang menyuruhnya memakai itu.” Liam tampak marah, namun ia tetap bicara dengan nada tenang.

Kening Lisya berkerut, ia tidak mengerti dengan maksud putranya yang seakan tidak menyukainya, padahal Lisya sudah pilihkan yang persis seperti yang sering Alena beli. Karena itu, Lisya bahkan harus mencari-cari banyak informasi.

"Kamu tidak suka Marfa memakai lingerie itu? Apa iya tampak buruk? Lalu apa hanya Alena saja yang tampak bagus memakai seperti itu di matamu?” cecar Lisya yang lebih kesal karena putranya membantahnya.

“Ibu tidak perlu bawa-bawa Alena. Itu karena pakaian yang Ibu pilih memang tidak cocok untuk Marfa.”

Marfa membeku, ia meremas lingerie yang sudah dilepasnya. Ucapan suaminya mendengung di telinganya. Kata-kata tidak cocok itu seperti sebuah perbandingan kalau Marfa tidak pantas memakai apa pun yang terlihat bagus untuk Alena.

"Lalu apa yang cocok? Apa baju serba kedodoran yang biasa dia pakai itu?" celetuk Hilya yang entah sejak kapan ikut menyimak lalu bersuara. "Memang sih, kalau Kak Marfa yang pakai pasti tetap tidak menarik!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 22 Buat Marfa Hamil

    Liam mengangguk pelan, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia melihat jam tangannya, lalu meminta Marfa untuk segera pulang.​Marfa mengerti, waktu begitu berharga bagi pria sibuk seperti Liam. Tanpa mengulur waktu atau memprotes lebih jauh, Marfa bergegas meninggalkan ruangan.**​"Liam, kamu sudah pulang?" tegur Lisya heran saat mendapati putranya tiba di rumah lebih awal dari biasanya. Wanita itu baru saja selesai mandi dan tampil rapi.​Rupanya, Rusdi juga sudah berada di ruang tengah. Melihat kedatangan putranya, ada pendar kebahagiaan yang samar di wajah pria paruh baya itu.​"Ayah," panggil Liam sembari mendudukkan diri di sofa, tepat di hadapan ayahnya. Raut wajahnya menyiratkan niat untuk membicarakan hal penting. "Aku ingin bicara. Besok aku akan membawa Marfa dan Vian pindah ke rumah baru," kata Liam langsung pada inti, tanpa basa-basi sedikitpun. ​Rusdi tersentak. Selama ini, ia mengira Liam tidak pernah mempertimbangkan opsi itu. "Maksudmu, kalian akan pindah? Rumah

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 21 Pelumas

    Sepanjang koridor rumah sakit, Marfa memperhatikan cengkeraman tangan Liam di pergelangan tangannya. Kuat dan erat. Beberapa staf dan pasien yang berpapasan sempat melirik ke arah mereka dengan tatapan penasaran, tetapi Liam tetap melangkah tegak dan berwajah datar, seolah tidak terpengaruh apapun. ​"Masuklah. Setelah selesai, temui aku di ruangan," pesan Liam begitu mereka tiba di depan ruang poli kandungan.​Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan melangkah menuju ruang kerjanya sendiri. Marfa sempat mematung sejenak, menghela napas panjang untuk menata hatinya sebelum akhirnya mendorong pintu ruangan Dokter Ayla.​Cukup lama Marfa berada di dalam. Usai mendengarkan penjelasan panjang lebar dari sang dokter, ia melangkah menyusuri koridor menuju ruangan suaminya, menuruti perintah pria itu.​"Permisi... Dokter Liam," panggil Marfa dari balik pintu yang sedikit terbuka, sekadar memastikan suaminya ada di dalam.​"Masuk," sahut suara berat dari dalam.​Marfa mendorong pintu p

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 20 Panggil Dia Pag Guru, Jangan Mas!

    "Maaf tidak perlu, aku bisa membawanya ke bengkel," ujar Marfa sebelum Rayyan menyahuti permintaan anak-anak. Ia tidak mau merepotkan, juga akan sangat canggung jika nanti orang rumah tahu ia diantar pulang oleh lelaki asing. "Aku Rayyan, adiknya Mbak Nina," kata Rayyan melihat sungkan di wajah Marfa, ia memperkenalkan diri lebih dulu, lalu tersenyum untuk mencairkan suasana."Kamu Mbak Marfa kan?""Benar." Marfa mengangguk, ia ingat jika Nina pernah bercerita soal adiknya yang mengajar di SMP. Ternyata Nina juga menceritakan Marfa pada adiknya. "Kalau tidak mau ikut, bagaimana kalau aku bantu saja? Di depan ada bengkel. Mari Mbak Marfa, aku yang bawa sepeda motornya.""Tidak usah--" Sebelum Marfa menolak, Rayyan lebih dulu mengambil alih sepeda motor Marfa dan menuntunnya.Mau tak mau Marfa mengikuti sambil menggandeng anak-anak. Bengkelnya tidak jauh, tepat berada di depan sekolah hanya lebih ke kanan sedikit. "Pak, tolong tambal bannya ya. Sepertinya bocor karena paku," kata R

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 19 Pemuda Bernama Rayyan

    ​Tatapan Liam menggelap. "Bayi tabung?"​"Ya," sahut Marfa, meski hatinya berat namun mengingat hubungannya dengan suami yang renggang, ia merasa keputusan itu cukup masum akal. "Bukankah itu lebih efisien? Ibu mungkin bisa mendapatkan cucu yang diinginkan lebih cepat, Pak Liam mendapatkan penerus tanpa harus bersusah payah menyentuh wanita kampung sepertiku--" Dan Marfa tidak perlu lagi merasa sakit hati saat ditinggalkan ketika ia dalam puncak khayalan. Namun itu hanya ia ucapkan dalam hati, masih ada rasa malu untuk mengakuinya terang-terangan. Liam terdiam, rahangnya mengeras dan cengkeraman tangannya di pundak Marfa semakin mengetat. "Mau buat anak dengan bayi tabung atau secara langsung, itu ada dalam kendaliku, Marfa," kata Liam dingin. "Ketimbang mencoba sesuatu yang riskan, akan lebih baik jika kamu fokus dengan promil dari dokter Ayla," tegasnya kemudian menegakkan tubuhnya dan memilih mengakhiri perdebatan mereka dengan keluar dari kamar. Marfa kembali meringkuk sendir

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 18 Program Bayi Tabung

    Liam membaca kalimat di kertas. Keningnya tampak berkerut, seolah sedang mencerna sesuatu. Marfa menunggu respon suaminya, namun bibir lelaki itu tidak bergerak sedikit pun. "Aku tidak menuduh Lio, tapi aku sangat yakin putraku berkata jujur. Jika Pak Liam ke sini ingin mempertegas kalau Vian tidak boleh lagi bicara, lebih baik pendam saja." Marfa bicara dengan tegas dan teguh. Ia tidak mau putranya yang sejak awal lemah akan semakin tertekan karena harus memikirkan masalah ini. Apalagi jika Liam memojokkannya lagi. "Aku tidak bilang begitu." Liam menghela napas berat. "Lio memang salah dan dia sudah mengakuinya." Marfa yang sebelumnya memalingkan wajah kini menatap Liam lagi dengan raut terkejut. Ia hanya tidak menyangka anak itu akan mengakuinya, jadi memang benar saat di panti Vian mendapat perundungan. "Namun, Lio juga masih kecil. Dia pasti tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Mungkin hanya takut posisinya akan tersingkir, anak-anak sering merasa iri," kata Liam bijak, namu

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 17 Tuduhan

    Vian tidak langsung menjawab, namun wajahnya berubah pias dan bibirnya gemetar sebelum berani bersuara. Marfa menariknya dalam pelukan lalu mengusap punggung putranya. "Kita ke toilet saja dulu, nanti kalau Vian sudah tenang bisa bicara sama Mama."Vian mengangguk melanjutkan langkah kecilnya ke toilet. Marfa kembali menanyai putranya sebelum mereka kembali ke meja. Ia menatap dalam dan memindai wajah kecil Vian. "Kak Lio bilang, Vian jelek dan bodoh .... Papa tidak suka. Vian juga sakit, sebentar lagi Vian mati," ucap Vian polos mengingat ucapan Lio saat di panti waktu itu. Mendengarnya jelas membuat Marfa terkejut, Lio terlihat pendiam dan tidak banyak tingkah, tapi kata-kata itu terlalu pedas untuk diucapkan seorang anak. "Kak Lio sama temennya juga dorong-dorong Vian.... " Marfa menghela napas, mendengar penuturan putranya kini ia paham kenapa saat pulang dari panti Vian sampai ketakutan dan demam. "Vian, kenapa bicara begitu?" tegur Alena yang kebetulan menyusul ingin ke t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status