Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 5 Membandingkan Marfa dan Alena

Share

Bab 5 Membandingkan Marfa dan Alena

Author: Ratu As
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-11 17:45:50

Liam dan Alena sontak menghentikan langkah mereka. Suara melengking Vian tidak mungkin tidak terdengar. Apalagi saat ini Vian langsung meraih tangan Liam dan menahannya.

"Papa?!" ulang anak itu sambil mendongak dan menatap Liam dengan wajah cerah.

Langkah Marfa terasa begitu berat, ia gagal menahan putranya yang berlari gesit. Sekarang ia tidak tahu harus bagaimana membalas tatapan Liam yang terasa tajam untuknya.

"Papa? Kenapa kamu memanggilnya seperti itu? Apa Dokter Liam mirip dengan papamu?" tanya Alena dengan membungkuk dan tersenyum ke arah anak itu.

Mendengar dari pertanyaan itu, sepertinya Liam bahkan belum menceritakan pada mantan istrinya jika sudah menikah lagi.

"Kamu pasien yang tadi kan?" lanjut Alena ingin mengusap kepala Vian, namun anak itu bersembunyi di belakang kaki Liam. Ia menatap Alena takut.

"Vian, tidak boleh begitu." Marfa bicara sambil menarik Vian agar melepas genggamannya pada Liam. Ia tidak berniat lancang mengaku sebagai istri Liam, selagi lelaki itu bahkan diam saja dengan statusnya.

"Maaf, dia masih terlalu kecil, mungkin ingat dengan papanya--"

"Oh, apa papanya sudah meninggal?" Alena kembali menyahut.

Wajah kecil Vian berkerut bingung. "Mama, kenapa bicara be--"

Buru-buru Marfa menutup mulut anaknya. Sekilas ia juga melihat Liam yang tetap diam dan tenang seolah tidak sedang dalam posisi sulit. Lelaki itu justru dengan santainya melihat jam tangan.

"Waktuku tinggal lima belas menit lagi." Ucapan Liam seperti peringatan untuk Alena segera bergegas, jadi ia tidak lagi menggubris Marfa dan putranya.

"Baiklah, kalau begitu ayo cepat," kata Alena terburu, wanita itu segera melangkah.

Sementara Liam bicara pada Marfa. "Kamu masih sehat, harusnya bisa menjaga Vian lebih baik. Jangan biarkan dia berlari seperti tadi."

Marfa tidak menjawab, ia hanya mengangguk. Ia tahu salah, sebelum ini dokter pernah mengingatkannya tentang Vian yang tidak boleh berlari kencang demi kesehatan jantungnya.

Namun kali ini, entah Liam bicara karena itu, atau karena ia bermaksud untuk Marfa lebih bisa menahan Vian agar tidak mendekatinya di depan mantan istrinya seperti tadi.

"Ma, kenapa biarin Papa pergi?" Anak itu menatap punggung Liam yang menjauh dengan wajah kecewa.

"Sayang, Papa sedang bekerja. Pokoknya saat di rumah sakit, Vian tidak boleh seperti tadi." Marfa memperingatkan dengan nada halus, namun tampaknya tetap tidak bisa menghapus sedih di wajah anak itu.

***

Di rumah.

​"Marfa, apa yang sedang kamu lakukan?" tegur Lisya. Matanya menatap tajam ke arah Marfa yang sejak tadi sibuk berkutat di taman.

​"Ibu... aku lihat banyak tanaman bugenvil di sini. Aku berniat membuatnya tumbuh warna-warni dalam satu pohon dengan cara menyambungnya," jawab Marfa pelan, mencoba bersikap ramah.

​Lisya memperhatikan Marfa yang dengan cekatan memotong ujung-ujung batang bugenvil, lalu menyatukannya menggunakan teknik grafting dan membalutnya rapi dengan plastik pengikat.

Bukannya terkesan, Lisya justru melipat tangan di dada dengan raut wajah tertekuk.

"Untuk apa membuang-buang waktu dan memeras keringat di taman seperti ini? Kamu itu seorang istri, ada banyak hal lain yang bisa bermanfaat bagi suamimu."

​Marfa tersentak. Tangannya yang memegang pisau pemotong terhenti sejenak. "Tapi, Bu... kalau berhasil, pohon ini akan sangat indah."

​"Ibu tidak butuh pohon indah, Marfa," potong Lisya tegas. "Dari pada buang waktu dan tenaga main tanah di taman, lebih baik kamu cari tahu bagaimana caranya agar kamu bisa cepat hamil dan memberikan Liam anak!"

​Marfa menunduk, meremas erat plastik pengikat di tangannya.

​Padahal di desanya dulu, Marfa terkenal bertangan lihai dalam merawat tanaman. Ia bahkan mahir membuat bonsai bernilai fantastis. Terakhir, seorang kolektor kaya teman ayahnya sempat menawar bonsai beringin karya Marfa seharga puluhan juta.

Namun di rumah ini, semua keahliannya sama sekali tidak dihargai dan dianggap sampah.

​"Ibu! Sedang apa?" tegur Hilya, adik bungsu Liam yang baru saja pulang dari kampus.

​Gadis itu berdiri di tepi teras, melirik remeh ke arah Marfa yang kotor berdebu, lalu menatap ibunya.

​"Ini, Ibu sedang menasihati kakak iparmu yang sibuk sendiri," jawab Lisya.

​Hilya tertawa miring. "Ngapain sih repot-repot ngurusin tanaman? Ibu kan bisa panggil tukang kebun. Lagian, kelihatan banget kelasnya. Dulu Ibu punya menantu seorang dokter cantik, berpendidikan, dan terpandang. Sekarang malah dapet yang sekelas tukang kebun. Sayang banget."

​Cibiran Hilya bergema jelas di telinga Marfa. Namun, seperti biasa, Lisya tidak membela dirinya. Mertuanya itu justru mendengus pelan.

​"Sudah, Hilya. Jangan buang waktu melayani hal tidak penting. Ayo masuk," ucap Lisya pada Hilya.

Sebelum berlalu, Lisya kembali melirik Marfa dari atas ke bawah dengan tatapan dingin.

​"Dengar, Marfa. Jangan buat dirimu makin memalukan di rumah ini. Bersihkan badanmu dan fokus pada tujuan awal kamu dinikahi Liam, berikan keluarga ini keturunan. Paham?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (4)
goodnovel comment avatar
Sweety
hmmm mertua jhttt
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Keluarga black flag semua
goodnovel comment avatar
Bee Hart
jadi penasaran cerai sama Alena kenapa sih?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 93 Kabar Bahagia

    ​"Aduh, Non Marfa kok tanya begitu, sih?" Bi Ratih tampak canggung. Ia bingung harus menjawab apa agar tidak salah bicara. ​Melihat raut ragu itu, Marfa langsung paham. ​"Sudahlah, Bi. Tidak usah dijawab." Marfa tetap tersenyum tipis, lalu memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman. ​"Non Marfa," Bi Ratih akhirnya memberanikan diri bersuara. "Saya tidak tahu pasti. Dari dulu, Pak Liam itu susah ditebak keputusannya. Tapi yang Saya lihat sekarang, Pak Liam perhatian sekali sama Non Marfa dan Vian. Hal yang jarang banget beliau tunjukkan ke orang lain." ​Benarkah? Marfa enggan terlalu percaya. Namun, kata-kata Bi Ratih pelan-pelan menerbitkan hangat dan harapan kecil di dadanya. *** ​Hari ini jadwal Marfa ke rumah sakit untuk memastikan keberhasilan program bayi tabungnya. Ia berangkat sendiri setelah mengantar Vian ke sekolah, sebab Liam sudah bertugas sejak pagi. ​Setibanya di sana, seorang perawat langsung menyapa dengan ramah. ​"Bu Marfa," perawat itu tersenyum hangat. "Sa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 92 Menceraikanku

    "Siapa nama anaknya Bu wiwit tadi?" tanya Marfa saat ia sadar nama itu cukup familiar. "Tyo, nama lengkapnya aku lupa. Empat tahun lalu kalo nggak salah Bu Wiwit jadiin anak muridnya sebagai anak angkat karena cukup berprestasi.""Oh." Marfa hanya mengangguk, ia ingat dengan seseorang yang menolong Vian saat di mall, namanya juga Tyo. Tapi nama itu bisa saja kebetulan sama. Sampai di rumah, ada mobil Lisya yang terparkir di halaman. Marfa menarik napas sebelum berjalan menuju pintu utama. Ia memenangkan diri lebih dulu, karena setiap kedatangan Lisya selalu saja membuat perasaannya tak enak. Pasti ada hal pedas yang akan dikatakannya. Begitu Marfa masuk, wanita paruh baya itu langsung menatapnya dengan tajam. "Marfa, kenapa kamu beraktivitas di luar? Bukankah sebaiknya banyak istirahat di rumah. " Lisya menatap Marfa dengan tatapan memindai. "Kudengar soal bayi tabung itu kalian sedang dalam proses melakukannya."Marfa mengangguk. "Benar, Bu. Aku pergi sudah seatas izin Mas Liam.

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 91 Pemilik Bonsai yang Membuat Marfa Penasaran

    "Yang itu?" Rayyan tampak berpikir, lalu melihat sekitar. Marfa tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ukiran samar itu. Rasa penasaran yang mendesak membuatnya memutar tubuh menuju Rayyan.​"Rayyan, tolong bantu aku. Bisakah kita cari tahu siapa pemilik bonsai ini?" pinta Marfa dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan.​Melihat raut wajah Marfa yang begitu serius, Rayyan langsung mengangguk. Tanpa membuang waktu, ia membawa Marfa menuju stan panitia untuk mengecek data registrasi peserta pameran.​Tak butuh waktu lama bagi Rayyan untuk menemukan perwakilan dari pemilik bonsai tersebut. Namun sayang, sosok yang berjaga di dekat area pameran itu bukanlah sang pemilik asli, melainkan hanya seorang perwakilan atau orang suruhan.​Rayyan mendatangi pria bersetelan rapi itu dan bertanya mewakili Marfa. "Permisi, Pak. Bolehkah kami tahu siapa pemilik asli dari bonsai beringin ini?"​Pria itu tersenyum sopan sembari menggeleng pelan. "Maaf, Mas, Mbak. Majikan saya tidak bisa hadir la

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 90 Familiar

    "Eh, liat liat itu! Mereka udah pergi!" Nana menyenggol sikut Marfa yang sejak tadi bengong. Marfa kembali menoleh, ia lihat yang melabrak Hilya sudah pergi sedangkan Hilya dan temannya tampak sangat kesal dan menghentak-hentakan kaki. "Udah kita pergi ajah yuk! Kan niatnya mau belanja hari ini," ajak Nana kembali menggandeng lengan Marfa. Keduanya menghabiskan cukup waktu sampai jam pulang anak-anak. Nana bahkan bersikeras mengantar Marfa dan Vian sampai rumah. "Oh ya, ini undangan buat kamu. Rayyan bilang kamu harus datang karena Bu Wiwit kusus mengundangmu ke acara itu." Marfa melihat kertas undangan yang Nana sodorkan—sebuah acara pameran bonsai bertaraf internasional. Acara itu pasti sangat bergengsi dan dihadiri orang-orang dari berbagai mancanegara. Marfa tersenyum tipis, sejak kemarin ia bahkan lupa setiap kali ada acara seperti itu yang Rayyan katakan. Sepertinya kali ini ia benar-benar harus melihatnya. "Kalau Mas Liam mengizinkan aku pasti datang." Mendengarnya

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 89 Jago Edit Foto

    Mata Lio yang sudah memerah membulat takut, anak itu mencebik sedih-hampir menangis. "Bu Alena lepas. Kamu membuatnya takut!" bela Marfa mencoba melepas tangan Alena yang begitu kuat. "Lio tidak salah. Jika kamu takut semuanya akan berimbas padamu, itu masalahmu! Di sini Lio butuh keadilan!" Alena melirik sinis Marfa. "Kamu terus membelanya?" Ia menatap Marfa penuh benci, "Marfa! Kamu tidak perlu ikut campur!" Alena membentak, tidak hanya suaranya yang tinggi namun sentakannya juga kuat saat melepaskan tangan Marfa yang menghalangi. Marfa yang tidak dalam posisi siap terhuyung dan tubuhnya terdorong hingga jatuh membentur sudut meja. "Ah-!" pekik Marfa pelan, tangannya reflek mengusap perut. "Mama!" Vian mendekat dan langsung memegang lengan ibunya. "Mama tidak apa-apa?" Marfa menggeleng pelan meski matanya berkabut dan memerah menahan sakit. Ia rasakan perutnya tidak nyaman. "Apa yang kamu lakukan, Alena?" tegur Liam dari arah pintu. Entah sejak kapan ia pulang, namun meliha

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 88 Alena Melabrak

    ​Langkah kaki kedua perawat itu akhirnya menjauh dan pintu ruangan tertutup pelan. Begitu suasana benar-benar hening, Marfa perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar pemulihan dengan pandangan kabur oleh genangan air mata. Tak lama Liam masuk, ia berjalan seperti biasa, mendekati ranjang lalu duduk di kursi. "Kamu merasa ada yang tidak nyaman?" tanyanya memperhatikan kondisi Marfa. Marfa menggeleng pelan. "Tidak, hanya masih sedikit pusing, mungkin efek obat bius.""Kalau begitu, istirahatlah dulu. Aku kembali bekerja, dua jam lagi aku ke sini," ujar Liam sembari melihat jam di tangannya. "Kalau ada sesuatu panggil saja," lanjutnya sebelum benar-benar pergi. "Baik, Mas." Marfa mengangguk patuh. Liam masih berdiri, beberapa detik ia hanya diam menatap Marfa seolah ragu hendak melakukan sesuatu, dan akhirnya ia lakukan sebelum melangkah pergi Liam membungkukkan badannya, tiba-tiba saja mengecup kening Marfa, seolah sedang menyalurkan ketenangan di sana. Mata Marfa m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status