Mag-log in"Aduh, Non Marfa kok tanya begitu, sih?" Bi Ratih tampak canggung. Ia bingung harus menjawab apa agar tidak salah bicara. Melihat raut ragu itu, Marfa langsung paham. "Sudahlah, Bi. Tidak usah dijawab." Marfa tetap tersenyum tipis, lalu memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman. "Non Marfa," Bi Ratih akhirnya memberanikan diri bersuara. "Saya tidak tahu pasti. Dari dulu, Pak Liam itu susah ditebak keputusannya. Tapi yang Saya lihat sekarang, Pak Liam perhatian sekali sama Non Marfa dan Vian. Hal yang jarang banget beliau tunjukkan ke orang lain." Benarkah? Marfa enggan terlalu percaya. Namun, kata-kata Bi Ratih pelan-pelan menerbitkan hangat dan harapan kecil di dadanya. *** Hari ini jadwal Marfa ke rumah sakit untuk memastikan keberhasilan program bayi tabungnya. Ia berangkat sendiri setelah mengantar Vian ke sekolah, sebab Liam sudah bertugas sejak pagi. Setibanya di sana, seorang perawat langsung menyapa dengan ramah. "Bu Marfa," perawat itu tersenyum hangat. "Sa
"Siapa nama anaknya Bu wiwit tadi?" tanya Marfa saat ia sadar nama itu cukup familiar. "Tyo, nama lengkapnya aku lupa. Empat tahun lalu kalo nggak salah Bu Wiwit jadiin anak muridnya sebagai anak angkat karena cukup berprestasi.""Oh." Marfa hanya mengangguk, ia ingat dengan seseorang yang menolong Vian saat di mall, namanya juga Tyo. Tapi nama itu bisa saja kebetulan sama. Sampai di rumah, ada mobil Lisya yang terparkir di halaman. Marfa menarik napas sebelum berjalan menuju pintu utama. Ia memenangkan diri lebih dulu, karena setiap kedatangan Lisya selalu saja membuat perasaannya tak enak. Pasti ada hal pedas yang akan dikatakannya. Begitu Marfa masuk, wanita paruh baya itu langsung menatapnya dengan tajam. "Marfa, kenapa kamu beraktivitas di luar? Bukankah sebaiknya banyak istirahat di rumah. " Lisya menatap Marfa dengan tatapan memindai. "Kudengar soal bayi tabung itu kalian sedang dalam proses melakukannya."Marfa mengangguk. "Benar, Bu. Aku pergi sudah seatas izin Mas Liam.
"Yang itu?" Rayyan tampak berpikir, lalu melihat sekitar. Marfa tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ukiran samar itu. Rasa penasaran yang mendesak membuatnya memutar tubuh menuju Rayyan."Rayyan, tolong bantu aku. Bisakah kita cari tahu siapa pemilik bonsai ini?" pinta Marfa dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan.Melihat raut wajah Marfa yang begitu serius, Rayyan langsung mengangguk. Tanpa membuang waktu, ia membawa Marfa menuju stan panitia untuk mengecek data registrasi peserta pameran.Tak butuh waktu lama bagi Rayyan untuk menemukan perwakilan dari pemilik bonsai tersebut. Namun sayang, sosok yang berjaga di dekat area pameran itu bukanlah sang pemilik asli, melainkan hanya seorang perwakilan atau orang suruhan.Rayyan mendatangi pria bersetelan rapi itu dan bertanya mewakili Marfa. "Permisi, Pak. Bolehkah kami tahu siapa pemilik asli dari bonsai beringin ini?"Pria itu tersenyum sopan sembari menggeleng pelan. "Maaf, Mas, Mbak. Majikan saya tidak bisa hadir la
"Eh, liat liat itu! Mereka udah pergi!" Nana menyenggol sikut Marfa yang sejak tadi bengong. Marfa kembali menoleh, ia lihat yang melabrak Hilya sudah pergi sedangkan Hilya dan temannya tampak sangat kesal dan menghentak-hentakan kaki. "Udah kita pergi ajah yuk! Kan niatnya mau belanja hari ini," ajak Nana kembali menggandeng lengan Marfa. Keduanya menghabiskan cukup waktu sampai jam pulang anak-anak. Nana bahkan bersikeras mengantar Marfa dan Vian sampai rumah. "Oh ya, ini undangan buat kamu. Rayyan bilang kamu harus datang karena Bu Wiwit kusus mengundangmu ke acara itu." Marfa melihat kertas undangan yang Nana sodorkan—sebuah acara pameran bonsai bertaraf internasional. Acara itu pasti sangat bergengsi dan dihadiri orang-orang dari berbagai mancanegara. Marfa tersenyum tipis, sejak kemarin ia bahkan lupa setiap kali ada acara seperti itu yang Rayyan katakan. Sepertinya kali ini ia benar-benar harus melihatnya. "Kalau Mas Liam mengizinkan aku pasti datang." Mendengarnya
Mata Lio yang sudah memerah membulat takut, anak itu mencebik sedih-hampir menangis. "Bu Alena lepas. Kamu membuatnya takut!" bela Marfa mencoba melepas tangan Alena yang begitu kuat. "Lio tidak salah. Jika kamu takut semuanya akan berimbas padamu, itu masalahmu! Di sini Lio butuh keadilan!" Alena melirik sinis Marfa. "Kamu terus membelanya?" Ia menatap Marfa penuh benci, "Marfa! Kamu tidak perlu ikut campur!" Alena membentak, tidak hanya suaranya yang tinggi namun sentakannya juga kuat saat melepaskan tangan Marfa yang menghalangi. Marfa yang tidak dalam posisi siap terhuyung dan tubuhnya terdorong hingga jatuh membentur sudut meja. "Ah-!" pekik Marfa pelan, tangannya reflek mengusap perut. "Mama!" Vian mendekat dan langsung memegang lengan ibunya. "Mama tidak apa-apa?" Marfa menggeleng pelan meski matanya berkabut dan memerah menahan sakit. Ia rasakan perutnya tidak nyaman. "Apa yang kamu lakukan, Alena?" tegur Liam dari arah pintu. Entah sejak kapan ia pulang, namun meliha
Langkah kaki kedua perawat itu akhirnya menjauh dan pintu ruangan tertutup pelan. Begitu suasana benar-benar hening, Marfa perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar pemulihan dengan pandangan kabur oleh genangan air mata. Tak lama Liam masuk, ia berjalan seperti biasa, mendekati ranjang lalu duduk di kursi. "Kamu merasa ada yang tidak nyaman?" tanyanya memperhatikan kondisi Marfa. Marfa menggeleng pelan. "Tidak, hanya masih sedikit pusing, mungkin efek obat bius.""Kalau begitu, istirahatlah dulu. Aku kembali bekerja, dua jam lagi aku ke sini," ujar Liam sembari melihat jam di tangannya. "Kalau ada sesuatu panggil saja," lanjutnya sebelum benar-benar pergi. "Baik, Mas." Marfa mengangguk patuh. Liam masih berdiri, beberapa detik ia hanya diam menatap Marfa seolah ragu hendak melakukan sesuatu, dan akhirnya ia lakukan sebelum melangkah pergi Liam membungkukkan badannya, tiba-tiba saja mengecup kening Marfa, seolah sedang menyalurkan ketenangan di sana. Mata Marfa m







