Se connecterWildan memastikan wanitanya bisa melupakan sejenak segala beban dari dunia luar. Di atas ranjang king size yang empuk, Wildan menindih tubuh Maya dengan tumpuan kedua sikunya, menatap lekat ke dalam mata bulat yang kini menatapnya penuh damba."Nggak usah mikirin Indra atau pengacaranya malam ini, May. Sekarang cuma ada aku sama kamu," bisik Wildan dengan suara bariton yang serak.Tangan besar pria itu bergerak mengusap rahang Maya, lalu turun menyusuri leher dan pundak wanitanya yang sudah terbuka. Wildan menunduk, melumat bibir Maya dengan sangat lembut namun menuntut. Ciuman itu perlahan berubah menjadi lumatan basah yang saling memabukkan.Maya mengalungkan kedua lengannya di leher tegap sang bos besar, membalas ciuman itu dengan napas yang mulai memburu. "Wil …," desah Maya tertahan saat bibir Wildan berpindah mengecupi area sensitif di leher dan tulang selangkanya.Sentuhan panas itu merasuki seluruh indra mereka. Sadar bahwa Maya sedang mengandung, Wildan mengendalikan tempo pe
Akibat kegagalan penyusupan gagal dari orang suruhan Indra itu, Wildan segera bereaksi keras. Di ruang kerjanya, ia memanggil Beno dengan sorot mata yang menyala penuh amarah."Ben, lacak sekarang juga dari mana Indra bisa dapat uang buat bayar kurir pasar gelap itu!" perintah Wildan dengan nada bariton yang tegas. "Semua rekening dia udah diblokir KPK. Nggak masuk akal dia bisa sewa kurir yang kerjanya serapi itu!"Beno langsung mengangguk tegas dan segera mengerahkan jaringannya. Tidak butuh waktu lama bagi tangan kanan Wildan tersebut untuk kembali dengan membawa sebuah fakta krusial yang menyebalkan."Bos, informasi dari jaringan bawah tanah kita udah valid," lapor Beno dengan wajah tegang. "Indra masih dapet kucuran dana masif dari ibunya. Ibu Ratna yang diam-diam ngasih dia uang."Wildan menggebrak meja dengan kasar. "Bangsat! Selama ibu keparatnya itu masih ngasih dia uang, Indra bakal terus-terusan ngirim teror ke rumah ini. Kita harus potong urat nadi dananya sekarang juga!"
Teguran moral dari Wulan sore kemarin rupanya tidak sekadar lewat di telinga. Kalimat kakaknya itu memberikan hantaman realitas yang masuk awal untuk Wildan. Pria yang kini menguasai jaringan otomotif dan dunia bawah tanah ibu kota itu menyadari bahwa teguran sang kakak sangatlah benar. Maya butuh kepastian. Namun di saat bersamaan, ia dihadapkan pada sebuah kebuntuan birokrasi yang mustahil ditembus dalam semalam.Keinginan terbesarnya untuk segera menikahi Maya secara sah dan melindunginya dari fitnah masyarakat terpaksa harus tertahan keras oleh fakta di lapangan. Status perceraian Maya masih disandera oleh kelicikan Indra yang sengaja menggantung nasib wanitanya.Oleh karena itu, keesokan paginya, Wildan tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung mendatangi Sonia di ruang kerjanya dan menginstruksikan pengacaranya tersebut."Gunakan segala cara yang lo bisa, Sonia," perintah Wildan dengan nada bariton bernada lugas. "Sogok petugas pengadilan, cari celah hukum, atau tekan hakim
Sementara itu, di markas Black Wolf, Wildan sama sekali tidak menyadari bahwa rahasia paling kelamnya telah jatuh ke tangan musuh. Sang penguasa baru ibu kota itu justru sedang menikmati kedamaian bersama Maya.Sore itu, suasana di rumah mewah Wildan terasa sangat tenang. Wildan dan Maya tampak bersantai dengan sangat mesra di teras belakang rumah yang menghadap ke taman luas. Sinar matahari senja yang hangat berwarna keemasan menjadi saksi bisu kemesraan mereka, memberikan jeda ketenangan yang sangat dibutuhkan oleh Maya setelah melewati berbagai rentetan teror mental belakangan ini.Maya menyandarkan kepalanya di dada bidang Wildan, sementara pria itu terus mengusap lembut perut Maya yang mulai membuncit."Udaranya mulai dingin, Sayang. Kamu nggak mau masuk?" bisik Wildan pelan, mengecup puncak kepala wanitanya."Sebentar lagi, Wil. Aku masih mau lihat langit senjanya," jawab Maya sambil tersenyum tulus. Matanya terpejam meresapi angin sore. "Berada di sini sama kamu bikin perasaank
Penyelidikan rahasia yang dilakukan oleh detektif bayaran Indra bergerak dengan sangat masif dan cepat. Berkat kucuran dana tanpa batas dari Ibu Ratna, tembok birokrasi dan arsip lama yang menyembunyikan masa lalu musuhnya berhasil dijebol. Hanya dalam hitungan hari, sang detektif berhasil menembus lapisan rahasia yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh Wildan.Sore itu, detektif berpakaian serba hitam tersebut melangkah masuk ke dalam penthouse persembunyian Indra. Ia meletakkan sebuah map laporan tebal bersampul cokelat ke atas meja kaca."Ini semua data yang Bapak minta. Bersih, sangat detail, dan sudah dikonfirmasi kebenarannya," ucap sang detektif dengan suara serak. "Identitas asli Wildan memang sengaja ditutupi, tapi uang Bapak berhasil membuka mulut para penjaga arsip pengadilan lama."Indra tidak membuang waktu. Dengan tangan yang masih menyisakan memar, sang mantan jaksa merampas map tersebut dan membukanya dengan kasar. Ia membaca lembar demi lembar laporan usang yang beri
Sementara musuh utamanya sedang bersembunyi dan merencanakan balas dendam di bawah ketiak ibunya, Wildan tidak membuang waktu. Ia segera mengambil tindakan cepat untuk mengamankan kebebasan Maya dari segala jerat hukum pernikahan neraka yang membelenggunya dengan Indra.Pagi itu, Wildan duduk di ruang kerjanya bersama Sonia. Laporan keuangan bengkel ditepikan sejenak, digantikan oleh tumpukan dokumen legalitas."Urus surat cerai Maya hari ini juga, Sonia," perintah Wildan lugas. "Daftarin gugatan cerai dan pembatalan pernikahan ke pengadilan agama. Aku mau status pernikahannya sama Indra putus sah di mata hukum negara secepat mungkin."Sonia menghela napas panjang. Pengacara licin itu meletakkan sebuah map merah ke atas meja dengan raut wajah frustrasi."Aku udah coba urus semuanya sejak pagi tadi, Bos. Tapi langkah kita kena jalan buntu yang sangat keras," lapor Sonia jujur.Alis Wildan menukik tajam. "Jalan buntu gimana? Indra udah jadi buronan KPK. Prosesnya harusnya gampang karena







