Beranda / Urban / Kuli Gagah Spesialis / 49. Bisa-bisanya!

Share

49. Bisa-bisanya!

Penulis: Risya Petrova
last update Tanggal publikasi: 2026-07-30 23:35:34

Hujan badai mengguyur ibu kota sejak sore, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Tetapi di dalam ruang kantor bengkel yang gelap dan sepi, keringat dingin justru mengucur deras di dahi Mario.

Pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu, mondar-mandir bagaikan setrikaan rusak. Napasnya memburu tak beraturan, mencerminkan keputusasaan yang tengah menjepit lehernya. Ancaman dari kakak iparnya, Indra, terus berputar di kepalanya tanpa henti.

"Kalau kamu nggak bisa nemuin Wildan, aku yang akan c
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 127

    "Woi! Lepasin, anjing!" Beno yang terkejut setengah mati segera menerkam tubuh Indra, berusaha menarik pria itu ke belakang. “Bajingan laknat! Lepaaas!”Akan tetapi, kepanikan dan serangan mendadak tersebut sudah terlanjur membuahkan hasil. Kemudi mobil seketika kehilangan kendali. Ban SUV berukuran besar itu tergelincir di atas aspal yang tergenang air banjir."Hati-hati, di depan!!" teriak Beno panik saat melihat arah mobil. “Awas! Banting setirnya!”Wildan mencoba meraih setir dari kursi penumpang, namun semuanya sudah terlambat. Kendaraan berat itu oleng ke arah kiri dan menabrak pembatas jalan beton dengan benturan yang sangat keras.BRAK!!!Suara hantaman logam yang beradu dengan beton terdengar memekakkan telinga. Kaca depan mobil retak seribu. Asap putih dari airbag yang mengembang langsung memenuhi kabin mobil, menciptakan kebutaan sementara dan guncangan hebat yang membuat semua orang di dalamnya terpelanting keras.Di tengah kepanikan, suara alarm mobil yang melengking, dan

  • Kuli Gagah Spesialis   126. Sialan!

    Setelah menyeret tubuh Indra yang babak belur dari dalam penthouse mewahnya, Wildan dan Beno melemparkan sang mantan jaksa secara kasar ke kursi belakang mobil SUV hitam yang telah bersiaga.Hujan deras mulai mengguyur Jakarta, menghantam atap mobil dengan suara berisik. Di dalam kabin yang temaram, Wildan duduk di kursi penumpang depan dengan tatapan lurus dan rahang mengeras."Injak gasnya," perintah Wildan kepada pengemudinya dengan nada bariton yang tegas. "Aku mau sampai di rumah secepat mungkin. Aku harus kelarin kesalahpahaman ini malam ini juga. Bawa bajingan ini hidup-hidup ke hadapan Maya.""Siap, Bos Besar. Tapi jalan tol arah rumah Bos sedang perbaikan dan banjir yang menggenang lumayan tinggi kalau kita lewatin," lapor sang pengemudi sambil memutar setir. "Kita terpaksa harus potong kompas lewat jalur alternatif di area pinggiran kota. Jalannya agak sempit.""Aku nggak peduli mau lewat mana. Yang penting cepat!" desak Wildan tidak sabar.Di kursi belakang, Beno duduk di s

  • Kuli Gagah Spesialis   125. Buat perhitungan

    Hilangnya lapisan pelindung bayaran di sekitar tempat persembunyian Indra memberikan jalan yang luar biasa lapang bagi invasi mematikan serangan sang penguasa jalanan.Tepat pada tengah malam, Wildan memimpin langsung operasi penyerbuan senyap ke dalam gedung penthouse tersebut. Ia tidak menggunakan lift utama. Bersama Beno dan lima anggota elit Black Wolf, Wildan menggunakan akses jalur servis untuk menembus masuk tanpa memancing perhatian pihak keamanan reguler gedung.Di lantai empat puluh, lorong menuju unit penthouse itu sunyi senyap. Tidak ada satu pun penjaga bertubuh kekar yang tersisa untuk menghalangi mereka."Bersih, Bos. Tikus-tikus bayaran itu udah kabur semua gara-gara uangnya kita sita siang tadi," lapor Beno dengan suara berbisik, memegang linggis baja di tangan kanannya."Bagus. Buka pintunya. Paksa," perintah Wildan dengan nada sangat dingin.Sementara itu, di dalam ruang utama penthouse, Indra sedang duduk santai di atas sofa kulit mewahnya. Ia baru saja menuangkan

  • Kuli Gagah Spesialis   124. Indra terpojok

    Instruksi darurat dari Wildan langsung memicu perburuan siber di markas bawah tanah Black Wolf. Sepanjang malam, ruang rapat itu berubah menjadi pusat komando yang luar biasa sibuk dan tegang. Tim peretas bayaran Wildan bekerja tanpa henti, mengerahkan seluruh sumber daya komputasi yang mereka miliki untuk membongkar enkripsi digital yang digunakan oleh peretas suruhan Indra."Gimana progresnya? Waktu kita nggak banyak!" tuntut Wildan. Pria itu berdiri menjulang di belakang kursi ketua peretas, matanya menatap tajam ke arah barisan kode yang bergerak acak di layar."Sistem mereka pakai perutean anonim di tiga negara berbeda, Bos. Pertahanannya lumayan rapat," jawab sang ketua peretas tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor. Keringat dingin menetes di pelipisnya. "Tapi berkat dana server VIP yang Bos kasih barusan, kita bisa maksa nembus gerbang utamanya sekarang."Akibat kepiawainan anak-anak buah Wildan di bagian IT yang sangat cerdas dan juga kucuran dana operasional yang begit

  • Kuli Gagah Spesialis   123. Menyeret Indra!

    Cincin berlian di jari manis Maya kini terasa sangat berat dan mencekik. Maya mencoba menarik cincin itu, namun ukurannya yang terlampau pas membuatnya sulit dilepas. Ia akhirnya hanya bisa menangis sesenggukan, terjebak dalam sangkar pria yang ternyata menyimpan dendam paling mematikan pada keluarganya.Sementara itu, di luar pintu kamar yang terkunci rapat, Wildan tidak beranjak satu sentimeter pun. Pria itu terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin. Punggung lebarnya bersandar kaku pada daun pintu kayu jati. Perasaan frustrasi yang mendidih membakar dadanya.Langkah kaki terdengar mendekat. Wulan berjalan menghampiri adiknya dengan raut wajah yang sama hancurnya. Mata wanita paruh baya itu sembab sehabis menangis."Wil ... kamu mau sampai kapan ngurung Maya di dalam sana? Kasihan dia, Wil. Kondisi mentalnya lagi nggak stabil, apalagi dia lagi hamil," tegur Wulan pelan, ikut duduk berjongkok di sebelah adiknya.Wildan mendongak, menatap kakaknya dengan mata merah yang memanc

  • Kuli Gagah Spesialis   122. Murka salah paham

    "Nggak," jawab Wildan cepat. “Aku nggak akan keluar dari sini.” Ia melangkah maju dan berdiri menjulang di depan ranjang. Matanya menatap Maya dengan nanar dan juga penuh penyesalan. "Dengerin aku baik-baik, Maya,” ucap Wildan, sengaja mengubah nada bicaranya menjadi lebih tinggi, untuk menunjukkan ketegasannya. "Aku nggak peduli kamu mau nangis, kamu mau mukul aku, atau kamu mau teriak benci sama aku tiap hari. Kamu tetep bakal ada di rumah ini. Kamu nggak akan aku biarin keluar satu langkah pun dari kamar ini." "Kamu egois! Kamu nyekap aku sama persis kayak yang dilakuin Mas Indra!" balas Maya dengan suara bergetar menahan marah. "Iya, aku egois!" potong Wildan tanpa ragu. "Karena kalau aku biarin kamu keluar, Indra bakal langsung nyulik kamu. Dia yang kirim email arsip pengadilan itu ke tablet kamu buat misahin kita dengan salah paham. Kamu pikir aku bakal ngebiarin rencana bajingan itu berhasil? Nggak akan pernah." Maya menatap nanar wajah pria di hadapannya. Hatinya benar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status