LOGIN"Ah ... Wil ... rasanya ... enak banget," rintih Maya, memejamkan mata saat gelombang kenikmatan itu perlahan membangun ritme di dalam dirinya.Kemudian Wildan mengusap kelopak bunga di bagian paling sensitif tubuh Maya. Dengan jari telunjuknya, ia mengusapnya, memastikan Maya sudah siap untuk dimasuki."Buka matamu, Sayang. Liat aku," perintah Wildan dengan napas tersengal.Maya menurut. Ia membuka kedua matanya. Manik matanya bertatapan lekat dengan bola mata Wildan yang hitam pekat.Wildan mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir manis Maya. Melumatnya dengan lembut dan menjelajahi rongga mulutnya dengan lidahnya. Sedangkan keperkasaannnya yang sudah mengeras dan berdiri tegak sempurna seolah sudah bisa mencari sinyal sendiri untuk memasuki lembah lembab yang sejak ta
Fajar mulai menyingsing membelah langit ibu kota. Semburat cahaya keemasan perlahan mengusir sisa-sisa malam yang dingin. Di jalanan yang masih lengang, Wildan memacu mobil SUV hitamnya kembali menuju kediaman mewahnya. Setibanya di pelataran rumah, Wildan mematikan mesin mobil dan melangkah masuk. Suasana rumah sangat tenang. Ia berjalan menuju kamar utama dan membuka pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara bising.Di atas ranjang berukuran besar tersebut, Wildan melihat Maya masih tertidur pulas. Mata wanita itu tampak sedikit bengkak, sisa kelelahan akibat menangis setelah mendapat serangan mental dari siaran televisi sore kemarin.Tidak ingin membangunkan Maya secara mengejutkan dengan pakaian luarnya yang berbau malam, Wildan memilih masuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Ia membersihkan diri dengan cepat di bawah pancuran air hangat, membasuh seluruh sisa ketegangan yang menempel di tubuhnya.Setelah mengenakan celana pendek berbahan katun, Wildan perlahan nai
Mobil SUV hitam Wildan baru saja melewati gerbang besi kediaman militer tersebut, melaju pergi meninggalkan perkarangan. Tepat setelah lampu belakang mobil itu menghilang dari pandangan, badai murka yang sesungguhnya meledak di dalam ruang kerja Jenderal Soebroto.Pria tua itu berdiri dengan dada bergemuruh hebat. Tangannya mengebrak meja kerja kayunya dengan sangat keras."Provost! Masuk kalian semua sekarang!" raung Jenderal Soebroto dengan suara menggelegar yang menggema ke seluruh penjuru rumah.Tiga anggota provost berseragam lengkap langsung berlari masuk dan memberikan hormat."Siap, Jenderal!""Seret Indra dan Ratna ke ruangan ini detik ini juga! Jangan pedulikan kalau mereka sedang tidur. Seret mereka kemari!" perintah sang Jenderal tanpa ampun.Hanya butuh waktu lima menit bagi para petugas untuk membawa Indra dan Ibu Ratna turun. Indra melangkah masuk dengan piyama sutranya. Wajahnya terlihat kebingungan, namun sisa-sisa arogansi sebagai anak jenderal masih menempel jelas d
Malam itu juga, Wildan menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam. Suara mesin menderu kasar membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi. Amarah mendidih di dadanya setiap kali ia teringat wajah pucat dan air mata Maya yang kembali tumpah akibat manipulasi murahan di televisi tadi sore.Di kursi penumpang sebelah kiri, Sonia duduk tenang sambil memangku sebuah koper logam berwarna perak. Wildan tidak membawa Beno atau pasukan preman jalanannya. Dia sangat sadar, menerobos barikade tentara bersenjata laras panjang di rumah Jenderal Soebroto pakai otot sama saja dengan tindakan bunuh diri yang konyol. Malam ini, Wildan menggunakan taktik diplomasi tingkat tinggi."Kamu yakin Jenderal tua itu mau nemuin kita jam segini, Bos?" tanya Sonia memecah keheningan, melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sebelas malam lewat."Aku sekarang bukan montir atau kuli miskin yang bisa diusir satpam," jawab Wildan datar, matanya fokus menatap jalanan di depan. "Reputasi bengkel kita pegang klien-klien elit
Menjelang sore hari, langit Jakarta mulai meredup, Wildan memutuskan untuk membatalkan seluruh jadwal rapat sorenya secara sepihak."Ben, gue cabut duluan hari ini. Urus semua pengerjaan supercar klien VVIP kita, jangan sampai ada yang terlambat," instruksi Wildan seraya meraih jaket kulitnya dari sandaran kursi."Siap, Bos. Mau gue siapkan pengawalan tambahan ke mansion?" tawar Beno dengan sigap."Nggak perlu. Pastikan saja anak buah lo terus memantau pergerakan orang-orang Hendra di pelabuhan. Gue harus pulang sekarang untuk memastikan keamanan psikologis Maya secara langsung," jawab Wildan tegas.Tanpa membuang waktu, Wildan memacu mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Namun, begitu ia tiba di kediaman mewahnya dan melangkah melewati pintu ruang tengah, Wildan terkesiap.Pemandangan yang luar biasa menyayat hati tersaji jelas di hadapannya.Instruksi pemblokiran jaringan televisi dan internet yang ia perintahkan dengan sangat ketat pagi tadi ternyata sedikit terlamba
Keesokan paginya, suasana di markas Black Wolf berbanding terbalik dengan kehancuran mental yang sedang melanda kubu lawan. Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi gudang raksasa itu, menyinari deretan mobil sport mewah yang tengah dikerjakan oleh para mekanik dengan semangat yang menyala-nyala. Bunyi decit mesin dan denting perkakas logam bersahut-sahutan, menandakan denyut nadi bisnis yang berdetak sangat kencang.Berkat keberhasilan jebakan maut di area pelabuhan semalam, seluruh pasokan suku cadang impor untuk bengkel berhasil diamankan tanpa hambatan sedikit pun. Hal ini membuat operasional pengerjaan mobil klien VVIP berjalan luar biasa lancar."Mesin V8 supercharged pesanan klien dari Menteng sudah terpasang sempurna, Bos!" lapor salah satu kepala mekanik yang berjalan menghampiri, mengelap tangannya yang berlumuran oli menggunakan kain lap. "Barang impor yang datang semalam kualitasnya benar-benar tingkat atas.""Bagus. Pastikan finishing-nya tanpa cacat. Jangan sampai a







