LOGINPenolakan kasar dan tamparan keras dari Maya menciptakan keheningan yang luar biasa mencekam di dalam ruang tengah tersebut. Suara tamparan itu seolah memekakkan telinga. Wulan yang masih duduk berlutut di atas karpet menahan napasnya, tidak berani bersuara atau bergerak sedikit pun.Wildan, pria yang biasanya selalu memiliki kendali atas segala situasi di jalanan maupun di dalam bengkelnya, kini hanya bisa terdiam membeku. Rahangnya mengeras tajam. Urat-urat di lehernya menonjol menahan gejolak emosi yang tertahan di dada."May, aku mohon. Dengerin penjelasanku dulu," ucap Wildan dengan suara bariton yang parau."Penjelasan apa lagi?!" jerit Maya. Matanya menatap Wildan dengan sorot penuh rasa jijik. "Semua bukti udah ada di depan mata kamu! Kamu sengaja jadi montir di bengkel Mario. Kamu sengaja nolongin aku. Kamu nyembunyiin identitas ayahku yang ternyata jadi saksi palsu buat ibumu! Semuanya cuma rencana balas dendam, kan?!"Wildan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tub
Mata Maya terpaku pada deretan nama yang tertulis di layar tabletnya. Tepat di bawah nama Indra Wiguna, deretan nama saksi-saksi persidangan itu memuat satu nama yang sangat ia kenal. Nama yang membuat aliran darah di sekujur tubuhnya berhenti berdesir.Saksi-saksi: Surya Kusuma.Itu adalah nama mendiang ayah kandungnya.Menyadari fakta bahwa salah satu saksi pemberat hukuman ibu kandung Wildan adalah ayahnya sendiri, dunia Maya seketika runtuh berkeping-keping. Tablet pintar di tangannya terlepas hingga jatuh membentur lantai karpet akibat jari-jarinya yang bergetar hebat kehilangan tenaga.Napas Maya menjadi sangat sesak. Ia meraup udara dengan mulut terbuka, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan luas itu tiba-tiba tersedot habis tak tersisa. Rentetan kebetulan yang selama ini ia anggap sebagai takdir mendadak menjelma menjadi sebuah konspirasi yang sangat kejam. Ia akhirnya menyadari bahwa seluruh awal mula hubungannya dengan Wildan murni didasari oleh motivasi balas dendam yang
Jari telunjuk Indra baru saja menekan tombol kirim di layar laptopnya. Seringai mematikan tercetak jelas di wajah lebam mantan jaksa tersebut. Kegagalan mengirimkan paket teror fisik melalui kurir jalanan kemarin nyatanya sama sekali tidak menyurutkan niat busuknya. Ia tahu betul penjagaan fisik di gerbang utama kediaman bos Black Wolf luar biasa ketat terhadap setiap barang atau kurir tak dikenal. Beno dan anak buahnya tidak akan membiarkan satu celah pun terbuka."Kamu pikir, kamu bisa ngurung Maya di dalam sangkar emas mu, Wildan?" kekeh Indra sendirian di dalam penthouse mewahnya, menatap layar dengan kilat mata penuh kebencian. "Keamanan fisik lo mungkin nggak bisa ditembus, tapi kamu lupa kalau istri kamu masih terhubung sama dunia luar."Sebab ia kini memegang senjata psikologis paling mematikan berupa rahasia masa lalu Wildan, sang mantan jaksa memutar otaknya untuk mencari celah pengiriman yang tidak mungkin terdeteksi oleh radar keamanan Beno. Indra memutuskan untuk beralih
Wildan memastikan wanitanya bisa melupakan sejenak segala beban dari dunia luar. Di atas ranjang king size yang empuk, Wildan menindih tubuh Maya dengan tumpuan kedua sikunya, menatap lekat ke dalam mata bulat yang kini menatapnya penuh damba."Nggak usah mikirin Indra atau pengacaranya malam ini, May. Sekarang cuma ada aku sama kamu," bisik Wildan dengan suara bariton yang serak.Tangan besar pria itu bergerak mengusap rahang Maya, lalu turun menyusuri leher dan pundak wanitanya yang sudah terbuka. Wildan menunduk, melumat bibir Maya dengan sangat lembut namun menuntut. Ciuman itu perlahan berubah menjadi lumatan basah yang saling memabukkan.Maya mengalungkan kedua lengannya di leher tegap sang bos besar, membalas ciuman itu dengan napas yang mulai memburu. "Wil …," desah Maya tertahan saat bibir Wildan berpindah mengecupi area sensitif di leher dan tulang selangkanya.Sentuhan panas itu merasuki seluruh indra mereka. Sadar bahwa Maya sedang mengandung, Wildan mengendalikan tempo pe
Akibat kegagalan penyusupan gagal dari orang suruhan Indra itu, Wildan segera bereaksi keras. Di ruang kerjanya, ia memanggil Beno dengan sorot mata yang menyala penuh amarah."Ben, lacak sekarang juga dari mana Indra bisa dapat uang buat bayar kurir pasar gelap itu!" perintah Wildan dengan nada bariton yang tegas. "Semua rekening dia udah diblokir KPK. Nggak masuk akal dia bisa sewa kurir yang kerjanya serapi itu!"Beno langsung mengangguk tegas dan segera mengerahkan jaringannya. Tidak butuh waktu lama bagi tangan kanan Wildan tersebut untuk kembali dengan membawa sebuah fakta krusial yang menyebalkan."Bos, informasi dari jaringan bawah tanah kita udah valid," lapor Beno dengan wajah tegang. "Indra masih dapet kucuran dana masif dari ibunya. Ibu Ratna yang diam-diam ngasih dia uang."Wildan menggebrak meja dengan kasar. "Bangsat! Selama ibu keparatnya itu masih ngasih dia uang, Indra bakal terus-terusan ngirim teror ke rumah ini. Kita harus potong urat nadi dananya sekarang juga!"
Teguran moral dari Wulan sore kemarin rupanya tidak sekadar lewat di telinga. Kalimat kakaknya itu memberikan hantaman realitas yang masuk awal untuk Wildan. Pria yang kini menguasai jaringan otomotif dan dunia bawah tanah ibu kota itu menyadari bahwa teguran sang kakak sangatlah benar. Maya butuh kepastian. Namun di saat bersamaan, ia dihadapkan pada sebuah kebuntuan birokrasi yang mustahil ditembus dalam semalam.Keinginan terbesarnya untuk segera menikahi Maya secara sah dan melindunginya dari fitnah masyarakat terpaksa harus tertahan keras oleh fakta di lapangan. Status perceraian Maya masih disandera oleh kelicikan Indra yang sengaja menggantung nasib wanitanya.Oleh karena itu, keesokan paginya, Wildan tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung mendatangi Sonia di ruang kerjanya dan menginstruksikan pengacaranya tersebut."Gunakan segala cara yang lo bisa, Sonia," perintah Wildan dengan nada bariton bernada lugas. "Sogok petugas pengadilan, cari celah hukum, atau tekan hakim







