MasukBeno meludah kecil ke lantai beton, lalu melambaikan tangan kepada anak buahnya untuk segera menyeret tubuh Victor menjauh. Dua orang pasukan Black Wolf bergerak cepat, memborgol tangan gembong senjata internasional itu dan melemparkannya ke bagian belakang truk taktis lapis baja.Di atas tanah beton yang dingin, Indra Wiguna masih terkapar tak berdaya. Napasnya tersengal-sengal, matanya menatap kosong ke langit malam pelabuhan yang mulai memudar, menyisakan rona kelabu fajar yang merayap naik di ufuk timur. Segala keangkuhan, gelar sarjana hukum di luar negeri, dan statusnya sebagai anak seorang jenderal besar musnah dalam satu malam, menyisakan puing-puing kehancuran jiwa yang tak bisa disembuhkan lagi.Wildan melangkah mendekat, berdiri tepat di atas kepala Indra. Bayangan tubuh kokoh sang penguasa jalanan menutupi wajah Indra dari terpaan angin laut."Bawa dia," perintah Wildan singkat tanpa menoleh."Siap, Bos," sahut Beno yang langsung maju bersama dua orang anak buahnya. Merek
Bab 195"Aku nggak mungkin terkalahkan," geram Indra lirih, suaranya parau dan terputus-putus di bawah tekanan sepatu bot Wildan yang menghimpit dadanya.Ada keputusasaan yang teramat pekat di dalam matanya, sebuah penyangkalan kekanak-kanakan dari seorang pria yang sepanjang hidupnya selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan berkat nama besar dan kekuasaan sang ayah. Di benak Indra, kekalahan adalah sebuah konsep asing yang hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya yang merasa ditakdirkan untuk berada di puncak rantai makanan.Wildan menunduk, menatap wajah musuh bebuyutannya dengan ekspresi dingin tanpa secercah pun rasa iba. Ia tidak membalas penyangkalan itu dengan teriakan atau ejekan murahan. Sebaliknya, nada suara Wildan justru terdengar tenang, begitu datar, namun sarat akan kenyataan yang jauh lebih mematikan daripada peluru apa pun."Kau hidup di dalam delusi yang diciptakan oleh fasilitas dan nama besar keluargamu, Indra," ucap Wildan tajam, suaranya merendah men
Mendengar ucapan Wildan yang menusuk tajam, dunia seolah berhenti berputar bagi Indra Wiguna. Jari telunjuknya yang tadinya menempel erat pada pelatuk pistol otomatis mendadak kaku, urat-urat di pelipisnya menegang hebat, dan napasnya tertahan di kerongkongan."A-apa maksudmu ...?" suara Indra tercekat, nada tinggi penuh amarah itu seketika runtuh berganti menjadi getaran ketakutan yang luar biasa. "Ayah dan Ibu ... mendengarkan apa melalui radio ...?"Di kejauhan, tersembunyi di balik kegelapan ruang kerja yang hancur di kediaman Soebroto, perangkat radio penerima militer yang ditinggalkan menyala mengeluarkan suara bising dari pelabuhan. Jenderal Soebroto dan Ibu Ratna yang terduduk lemas di lantai terpaku ngeri. Jantung mereka bagaikan berhenti berdetak saat mendengar suara putra tunggal mereka bergetar ketakutan melalui gelombang udara malam yang sunyi."Mereka mendengar setiap rintihan putus asamu, Indra," lanjut Wildan dengan suara bariton yang menghujam jiwa. "Mereka mendengar
Desir angin laut malam di pesisir utara Jakarta terasa begitu pekat membawa bau amis air asin dan kelembapan malam. Garis pantai yang membentang luas di kawasan pelabuhan tua itu tampak gelap gulita, diselimuti bayangan kontainer-kontainer logistik berukuran raksasa yang berjejer rapi bagaikan kuburan besi raksasa.Di balik tumpukan kontainer dan kegelapan dermaga, puluhan kendaraan taktis lapis baja milik pasukan Black Wolf terparkir tanpa menyalakan lampu satu pun. Mesin-mesin diesel mereka dimatikan, menyisakan keheningan mati yang mematikan.Wildan berdiri tegak di atas lambung sebuah truk kargo terbengkalai, mengenakan rompi taktis serba hitam dengan senapan serbu laras panjang yang terkokang sempurna di tangannya. Sorot mata elangnya menatap lurus ke arah cakrawala laut lepas di ufuk utara, tempat titik cahaya merah sebuah helikopter perlahan-lahan mulai membesar."Semua unit posisikan diri," suara berat Beno berbisik tegas melalui alat komunikasi intercom internal yang te
"Saya tadinya sempat berpikir harus mencarinya sampai ke ujung dunia untuk menuntaskan urusan kami. Ternyata, dia sendiri yang mengantarkan nyawanya ke mulut singa."Ibu Ratna membelalakkan matanya, napasnya tak beraturan di balik rangkulan suaminya. "Jangan sombong kamu, bajingan! Indra tidak sendiri! Dia bersama pasukan bayaran internasional dan dipersenjatai perlengkapan militer mutakhir! Kali ini kamu pasti mati!" teriak wanita paruh baya itu dengan sisa-sisa tenaga dan kebencian yang meluap-luap.Wildan menoleh perlahan, menatap tajam ke arah Ibu Ratna tanpa rasa tersinggung sedikit pun. "Silakan pegang keyakinan itu erat-erat, Bu Ratna. Nikmati setiap detik harapan palsu sebelum anak kebanggaan Ibu itu berlutut di hadapan saya dengan kepala tertunduk."Wildan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jenderal Soebroto. Pria tua yang dulunya disegani sebagai perwira tinggi bintang dua itu kini tampak begitu rapuh, terseret dalam pusaran kehancuran total yang diciptakan oleh kebodo
Suara desau angin dari ayunan guci keramik itu memecah keheningan detik-detik terakhir di dalam ruang kerja yang porak-poranda. Namun insting seorang penguasa jalanan yang telah ratusan kali lolos dari maut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Tepat sepersekian detik sebelum hantaman maut itu meremukkan tengkoraknya, pantulan bayangan di pecahan kaca jendela mendadak menangkap kilatan benda keras yang meluncur cepat ke arahnya.Wildan tidak sempat berbalik sepenuhnya. Ia hanya mampu melemparkan tubuhnya ke samping dengan gerakan refleks secepat kilat.PRANG!Guci keramik hias berukuran sedang itu menghantam sisi bahu dan pelipis kiri Wildan sebelum akhirnya pecah berkeping-keping menghujani lantai kayu. Serpihan keramik tajam berhamburan ke segala arah, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.Wildan terhuyung ke depan, lututnya hampir menyentuh lantai. Darah segar seketika menetes hangat dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang kokoh. Rasa sakit akibat hantaman brutal







