Compartir

8. Besar sekali!

last update Fecha de publicación: 2026-07-20 23:17:18

Tangga besi menuju mes karyawan berderit pelan setiap kali sepatu kets Wildan dan langkah anggun Maya menapakinya. Begitu pintu kayu tripleks di lantai atas dibuka, hawa dingin dari AC tua berdesir menyambut mereka.

Ruangan itu sangat sederhana, khas kamar bujangan lapangan. Hanya ada satu ranjang kayu single dengan seprai abu-abu polos, sebuah lemari pakaian kecil, dan sebuah kipas angin yang mati. Ruangan ini tidak bersekat, membuat jarak di antara mereka terasa begitu dekat dan intim.

Maya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kuli Gagah Spesialis   17. Runtuhnya ego

    Malam semakin larut. Di atas kasur busa tipis berbau apek, mata Maya tiba-tiba terbuka lebar. Napasnya tersengal. Ia baru tertidur beberapa jam, tapi bayangan kepalan tangan Indra di alam mimpi langsung membangunkannya paksa.Maya meraba sudut bibirnya yang lebam. Matanya menyapu sekeliling. Ruangan petak yang sempit, cat tembok yang mengelupas, dan lampu jalan yang menembus celah gorden usang. Otaknya akhirnya mencerna sepenuhnya kenyataan pahit itu.Ia kabur dari rumah. Ia tidak punya apa-apa sekarang."Ya Tuhan …," bisik Maya. Tubuhnya mulai gemetaran lagi karena trauma KDRT yang didapatkannya dari Indra juga rasa takut sendirian dengan kekurangan uang. Pikiran Maya berputar liar. Ke mana ia harus pergi besok? Ke rumah ibunya? Indra pasti akan datang ke sana dengan seragam jaksanya, tersenyum sopan di depan keluarganya, lalu diam-diam menyeretnya pulang untuk disiksa lagi. Keluarganya tidak akan ada yang berani melawan.Ke Mario? Sama saja. Adiknya itu bergantung pada koneksi Indr

  • Kuli Gagah Spesialis   16. Bobo berdua

    Suasana di dalam rumah kontrakan kecil itu terasa sangat hening. Ketegangan fisik akibat pelarian yang melelahkan mulai mereda, tergantikan oleh suara jangkrik dari luar gang padat penduduk. Namun, trauma psikologis masih membelenggu Maya. Wanita itu duduk memeluk lututnya di atas kasur busa tipis, tubuhnya sesekali bergetar gemetaran mengingat amukan suaminya."Mbak Maya, tunggu sebentar di sini. Saya mau mencari alat untuk mengobati luka Mbak," ucap Wildan memecah keheningan. Pria itu perlahan melepaskan dekapannya.Maya langsung mencengkeram erat kemeja montir itu. Matanya membelalak panik. "Jangan pergi, Wil! Bagaimana kalau orang-orangnya Mas Indra melacak dan menemukan tempat ini?"Wildan menatap mata sembab sang nyonya dengan sorot teduh yang menenangkan. "Saya cuma ke area dapur di belakang situ, Mbak. Nggak sampai lima langkah dari tempat Mbak duduk. Mereka nggak akan bisa menemukan kita di gang sempit ini. Saya jamin."Mendengar nada suara Wildan yang tenang dan tegas, ceng

  • Kuli Gagah Spesialis   15. Jemput aku

    Bab 15Setelah berhasil meloloskan diri dari neraka rumah tangganya, Maya kini berada di luar kediamannya dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Di bawah terik matahari yang mulai senja dan angin dingin ibu kota yang sebentar lagi menusuk tulang, ia berlari tertatih-tatih tanpa arah menyusuri jalanan aspal kompleks perumahan elite tersebut. Kaki telanjangnya yang putih mulus kini tergores batu dan kerikil tajam, meninggalkan sensasi perih yang menjalar di setiap langkahnya. Baju mewahnya robek di bagian bahu, menampilkan luka memar kemerahan yang perlahan berubah warna."Tuhan ... tolong aku … jangan biarkan Mas Indra menangkapku …," rintih Maya dengan nafas memburu dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang lebam.Maya terus menoleh ke belakang dengan kepanikan yang luar biasa. Setiap kali ada sorot lampu mobil dari kejauhan atau suara deru mesin, ia langsung bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan besar dan pilar lampu jalan karena ketakutan setengah mati jika suam

  • Kuli Gagah Spesialis   14. KDRT

    Di ruang kerjanya, layar ponsel pintar itu menyala terang, menampilkan rentetan foto dari sebuah hotel kumuh. Berbekal laporan pandangan mata sang sopir dan bukti foto dari hotel di pinggiran kota tersebut, amarah sang jaksa korup itu seketika mendidih hingga ke ubun-ubun. Urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar. Sementara itu, Maya yang baru saja tiba di kediaman mewahnya sama sekali tidak menyadari badai mematikan yang tengah menantinya. Ketika Maya melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah dan pikiran yang masih kacau akibat kegagalan inseminasinya tadi, ia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menutup pintu utama dengan gerakan gontai, melepaskan syal yang menutupi lehernya.Namun, ia langsung disambut oleh atmosfer yang sangat mencekam. Hawa di dalam rumah megah itu terasa sedingin es.Indra sudah berdiri mematung di ruang tengah. Pria itu menatap lurus ke arah pintu dengan mata memerah kilap, rahang mengeras tajam, dan postur tubuh yang siap

  • Kuli Gagah Spesialis   13. Hotel Melati

    "Wildan, kita tidak mungkin meneruskan rencana kita di bengkel lagi," desis Maya cepat melalui sambungan telepon. Suaranya terdengar sangat pelan, bergetar, dan dipenuhi oleh kewaspadaan yang mencekam. "Mario benar-benar sudah curiga. Tadi pagi dia bahkan meneleponku lagi dan menginterogasiku habis-habisan soal alasanku naik ke kamar mes kemarin. Mario hanya mengkhawatirkan aku. Kalau kita nekat ketemuan di sana lagi, cepat atau lambat penyamaran kita akan terbongkar. Habislah kita berdua."Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. "Iya, Mbak Maya bener," balas Wildan sembari mengelap tangannya yang berlumuran oli kotor menggunakan kain lap bekas. Ia melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada karyawan lain atau montir yang mendengarkan percakapannya. "Bos Mario sekarang juga mulai memperketat pengawasan di seluruh area bengkel. Dia selalu bersiaga, bahkan nyuruh mandor buat ngecek semua aktivitas karyawan yang mencurigakan. Ruang gerak kita berdua bener-bener menjadi sangat t

  • Kuli Gagah Spesialis   Serum?

    "Jawab, Mbak! Ini tabung apa?!" bentak Mario. Suaranya menggema keras, memantul di dinding kamar mes yang sempit itu. Ia mengacungkan tabung kaca steril dan tas pendingin kecil itu tepat di depan wajah kakaknya.Napas Maya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup brutal menghantam tulang rusuk. Di dalam kepalanya yang berputar cepat, Maya sangat menyadari bahwa ia tidak ingin adiknya, Mario, mengetahui rencananya yang sebenarnya. Otaknya dipaksa bekerja di luar batas normal untuk mencari jalan keluar darurat. Rahasia mengenai kesepakatan inseminasi dan urusannya dengan Wildan adalah hal yang sangat tabu, yang jika sampai bocor, akan menjadi skandal besar dan senjata mematikan bagi keluarga Indra. Membayangkan amarah Indra dan ejekan ibu mertuanya saja sudah cukup membuat lutut Maya lemas.Maya sudah terbiasa menjadi seorang nyonya besar yang terbiasa menjaga postur di depan publik. Oleh karena itu, dengan sisa-sisa ketenangan dan gengsi yang ia kumpulkan secara paksa, Maya segera

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status