分享

Bab 55

作者: Risya Petrova
last update publish date: 2026-08-01 22:53:19

Bab 55

Sinar matahari pagi yang pucat tak mampu mengusir hawa dingin di dalam Penginapan Kamboja. Maya menatap pantulan dirinya di cermin wastafel.

"Aku nggak bisa terus-terusan sembunyi di sini. Penginapan kumuh pinggiran Jakarta ini bukan tempat aman, ini jebakan," gumam Maya pada dirinya sendiri. Tangannya bergerak cepat memeras ujung cardigannya yang sudah mulai mengering.

Logika Maya memetakan ancaman dengan sangat jernih. Jaringan bawah tanah Wildan yang berisi para preman, anak jalanan,
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 57

    Satu minggu berlalu sejak malam badai itu merenggut Maya dari pelukannya. Di Jakarta, rasa penyesalan yang membakar ulu hati Wildan perlahan mulai mendingin, membeku, dan bertransformasi menjadi bahan bakar murni untuk bangkit.Kepergian Maya sama sekali tidak membuat Wildan hancur dalam keterpurukan yang pasif. Pria itu tidak lagi memukuli dinding atau meratapi nasib di sudut gudang. Sebaliknya, insting prianya yang berpikir logika, kini bekerja dengan kewarasan yang sangat tajam dan presisi.Malam itu di dalam ruang kerja gudangnya, Wildan berdiri menghadap papan tulis besar. Matanya menatap tajam ke arah peta ibu kota dan sekitarnya yang dipenuhi ratusan coretan spidol merah.Beno melangkah masuk membawa dua gelas kopi hitam. Wajah tangan kanan Wildan itu terlihat kelelahan, namun tak berani mengeluh."Kopi, Bos," ucap Beno, meletakkan gelas di meja. "Anak-anak udah sisir area Jabodetabek. Kita juga udah ngecek ke data beberapa klinik bersalin pinggiran, tapi hasilnya masih nihil.

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 56

    Udara sejuk khas daerah perbukitan langsung menyambut wajah Maya begitu taksi online yang membawanya berlalu pergi. Ia berdiri sejenak di pertigaan desa yang asri, menghirup napas dalam-dalam. Di kiri dan kanannya hanya hamparan pepohonan rimbun, rumah-rumah warga yang saling berjauhan, dan ketenangan yang belum pernah ia rasakan di ibu kota.Dengan langkah pelan menahan perih di telapak kakinya, Maya menghampiri sebuah warung kelontong kecil yang dijaga oleh seorang ibu paruh baya berwajah teduh."Permisi, Bu. Maaf mengganggu waktunya," sapa Maya dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Apa di sekitar desa ini ada rumah kecil atau kamar yang bisa disewa bulanan?"Ibu pemilik warung itu menghentikan aktivitasnya menata sayuran, menatap Maya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan ramah. "Eh, Neng. Cari kontrakan ya? Kebetulan paviliun kecil di samping rumah Ibu lagi kosong. Neng ini dari mana asalnya? Kok sendirian aja?"Maya menelan ludah, bersiap meluncurkan kebohong

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 55

    Bab 55Sinar matahari pagi yang pucat tak mampu mengusir hawa dingin di dalam Penginapan Kamboja. Maya menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. "Aku nggak bisa terus-terusan sembunyi di sini. Penginapan kumuh pinggiran Jakarta ini bukan tempat aman, ini jebakan," gumam Maya pada dirinya sendiri. Tangannya bergerak cepat memeras ujung cardigannya yang sudah mulai mengering.Logika Maya memetakan ancaman dengan sangat jernih. Jaringan bawah tanah Wildan yang berisi para preman, anak jalanan, dan pekerja serabutan pasti sedang menyisir setiap sudut ibu kota saat ini. Tetap berada di Jakarta sama saja dengan menunggu waktu untuk ditangkap. Ia harus keluar dari kota ini, hari ini juga.Dengan langkah terpincang-pincang menahan perih di telapak kakinya, Maya keluar dari penginapan. Ia menutupi kepalanya dengan tudung cardigan, berjalan menunduk menghindari tatapan orang-orang.Tujuan pertamanya adalah mesin ATM. Di sebuah minimarket yang sepi, Maya memasukkan kartu ATM atas nama ibunya

  • Kuli Gagah Spesialis   54. Emosi

    Sementara Maya memulai pelariannya menembus hiruk-pikuk stasiun kereta pinggiran, kekacauan yang jauh lebih brutal justru sedang meluluhlantakkan kediaman mewah milik Indra.Di dalam ruang kerjanya yang luas dan elegan, buku-buku tebal hukum berserakan di atas karpet Persia. Asbak kristal pecah menghantam dinding. Indra mondar-mandir bagaikan iblis kesetanan yang kehilangan rantainya. Wajah jaksa terhormat itu tampak sangat mengerikan. Pelipisnya diperban, hidungnya dibebat akibat tulang yang remuk dihajar Wildan, dan ego maskulinnya hancur tak tersisa.Ia memegang ponsel mahal di telinganya dengan cengkeraman yang nyaris meremukkan benda tersebut."Kalian ini detektif atau sekumpulan orang cacat otak?!" maki Indra menggelegar ke arah kepala detektif sewaannya di ujung telepon. "Satu orang perempuan hamil! Cuma satu! Masa sampai sekarang kalian nggak bisa nemuin jejaknya?!""M-maaf, Pak Indra. Hujan badai semalam menghapus semua jejak fisik. Kami sudah menyisir—""Aku nggak butuh ala

  • Kuli Gagah Spesialis   53. Menghilang

    Cahaya matahari pagi yang keabu-abuan menyusup redup melalui celah jendela kaca yang berdebu tebal. Sinar pucat itu jatuh menimpa wajah Maya yang tertidur melingkar di atas Penginapan Kamboja, hanya beralaskan kardigan tipisnya yang sudah setengah mengering. Semalaman penuh ia tak sanggup naik ke atas kasur lapuk di sudut ruangan karena kakinya yang terluka dan kelelahan ekstrem sehabis menerobos badai.Namun tidur lelap akibat kelelahan itu tidak berlangsung lama.Tiba-tiba, perut Maya bergejolak hebat. Gelombang mual yang luar biasa agresif menghantam ulu hatinya tanpa ampun.Maya langsung membuka mata, tersentak bangun, dan berlari tertatih-tatih menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan."Huek! Uhukk ... huek!"Maya mencengkeram kuat pinggiran wastafel keramik yang penuh noda kecokelatan itu. Ia memuntahkan cairan bening berulang kali hingga kerongkongannya terasa sangat perih dan air mata keluar dari sudut matanya. Napasnya tersengal-sengal, bahunya bergetar hebat menahan siksaa

  • Kuli Gagah Spesialis   52. Akan kucari!

    Hujan badai masih menggila, namun deru motor Wildan memecah keheningan kompleks perumahan sepi itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ban motornya mendecit keras saat ia mengerem mendadak di depan gerbang rumah sewaan.Wildan melompat turun tanpa mematikan mesin. Jaket kulitnya basah kuyup. Dua penjaga Beno yang berdiri di teras depan terlihat pucat pasi ketakutan."Bos—"Wildan tidak memperdulikan suara yang memanggilnya. Ia berlari kesetanan masuk ke dalam rumah. Ruang tamu kosong. Kamar utama kosong. Wildan terus berlari hingga langkahnya terhenti secara paksa di ambang pintu dapur.Pemandangan di depannya sukses membuat darah di nadinya membeku seketika.Wulan sedang duduk berlutut di lantai keramik, menangis histeris sambil memegangi kepalanya. Tepat di depannya, terdapat pecahan gelas kaca yang berserakan, dan yang paling mengerikan, ada genangan dan ceceran darah segar yang mewarnai lantai putih tersebut. Darah yang menetes menuju pintu belakang yang terbuka."Mbak Wulan!

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status