LOGINGedung Zenith sudah mulai gelap. Tapi di lorong lantai 18 tadi, ada tiga orang yang lagi ngumpul di balik troli makanan bekas. Mereka adalah Bara si Master Jiwa, Risa si murid cemas yang sudah mendingan, dan Gerry si Master Tier 3 yang baru saja dipermalukan pakai sambal.
"Oke, jadi gini rencananya," bisik Bara, suaranya tetap tenang walau bajunya masih bau sambal. "Tim Ilmiah Alpha itu nggak pakai Chi, mereka pakai teknologi dan robot. Mereka pasti sudah sampai di Lab Delta, di bawah tanah." Gerry masih cemberut, Chi-nya sekarang kayak lampu bohlam yang mau mati, redup banget. "Aku nggak ngerti kenapa aku harus ikut! Aku Master Chi, bukan teknisi!" "Justru itu, Gerry," kata Bara. Dia menjelaskan. "Aku cuma Tier 1, kekuatanku cuma buat ngatur pikiran. Risa, Chi-nya masih Tier 3, dia jago fokus. Tapi kita butuh kekuatan fisik mentah buat ngancurin mesin mereka, dan itu cuma kamu yang punya. Asal kamu janji satu hal: jangan marah." Gerry mendengus. "Gimana aku nggak marah kalau robot mereka nanti ngehina aku?" Bara senyum. "Kamu boleh marah, Gerry. Tapi kamu harus mengubah amarahmu. Jangan pakai buat ngehina orang lain, pakai buat bahan bakar yang efisien. Kita sebut ini Reframing—kamu mengubah emosi negatif jadi hal yang positif. Marah pada robot itu wajar, tapi gunakan amarah itu buat mukul robotnya, jangan buat teriak-teriak nggak jelas. Oke?" Gerry akhirnya mengangguk pelan. Dia nggak sepenuhnya yakin, tapi dia tahu Bara benar. Bara sudah kasih dia Mindfulness, dan sekarang Bara kasih dia izin buat marah, tapi dengan cara yang benar. Mereka bertiga menyusup ke ruang server lama, tempat pintu rahasia Lab Delta berada. Risa pakai Kinesis halusnya buat buka kunci pintu. "Aku fokus pada sentuhan, lima, empat, tiga..." Risa bergumam, menenangkan dirinya dengan teknik Grounding yang diajarkan Bara. Chi-nya stabil. Klek. Pintu terbuka. Di dalamnya, tangga spiral berkarat turun ke bawah tanah. Dingin dan gelap banget. "Bara, aku nggak enak perasaannya," bisik Risa. "Tenang, Risa. Anggap aja kita lagi camping di gua," kata Bara santai. Di bawah sana, Lab Delta terlihat kayak set film sci-fi yang mahal. Dindingnya baja, lampunya biru dingin. Di tengahnya ada mesin raksasa yang Bara yakini buat memproduksi Energi Gelap secara massal, yang Tuan Black pakai buat teror. Dan di sana, ada Profesor Delta, Master Ilmiah Tier 7 yang super jenius. Dia nggak pakai baju Master, cuma jas lab putih. Di samping Profesor Delta, ada sekitar enam Drone Perang Ilmiah—robot kecil, tapi Chi-nya setara Tier 6. "Selamat datang, Master Bunga Layu," sapa Profesor Delta dengan senyum dingin. Dia sama sekali nggak takut. "Aku tahu kau Master Jiwa. Tapi di sini, kami pakai logika dan teknologi, bukan omong kosong filosofi kuno." Profesor Delta menunjuk Gerry dan Risa. "Dan kau membawa sampah emosionalmu kemari? Lihat, Risa cemas, Gerry marah. Robotku nggak punya emosi, jadi mereka nggak bisa kau manipulasi." "Oh ya?" Bara membalas, senyumnya semakin tulus. "Robot Anda nggak punya hati, tapi Anda, Profesor, Anda manusia. Dan saya yakin Anda punya kelemahan emosional." Profesor Delta tertawa keras. "Ego saya solid, Master Jiwa! Serang mereka, Drone Alpha!" Enam drone Alpha langsung terbang menyerang. Bara tahu, kalau dia pakai Kinesis buat ngatur mesin, energinya pasti bocor dan Profesor Delta bakal tahu kelemahan Bara. Mereka harus mengandalkan Gerry. "Gerry! Sekarang saatnya! Marah!" teriak Bara. Gerry, yang sudah menahan amarah sejak di lantai 18, akhirnya meledak. Tapi, kali ini dia ingat pelajaran Bara: Reframing. Amarah itu nggak dia luapkan jadi teriak-teriak, tapi jadi fokus fisik. Aksi Gerry (Amarah yang Terkontrol): Gerry melompat. Chi Tier 3-nya, yang tadinya lemah, mendadak jadi kuat karena amarahnya disalurkan dengan benar. Gerry berlari ke arah Drone Alpha. DHUAR! BRAK! Gerry meninju drone pertama. Robot itu langsung penyok. Dia menghindari tembakan laser drone kedua dengan gerakan yang sangat akurat. Dia memukul drone ketiga ke dinding sampai hancur. Ini adalah pertarungan fisik Master Chi yang brutal dan efisien. Risa juga bergerak. Dia tidak berkelahi, tapi dia menggunakan Kinesis halusnya buat menciptakan gangguan kecil pada sensor drone yang lain. Drone itu jadi goyah, tembakannya meleset. Bara sendiri? Dia cuma berdiri di belakang, mengamati Profesor Delta. "Luar biasa, Gerry! Amarahmu keren! Kalahkan mereka semua!" teriak Bara menyemangati Gerry. Bara tahu, menyemangati Gerry itu jauh lebih efektif daripada memberi instruksi Master. Profesor Delta, yang melihat drone-nya hancur satu per satu, mulai panik. "Tidak mungkin! Perhitungan saya bilang Chi Tier 3 tidak bisa menghancurkan drone Alpha!" teriak Profesor Delta. Dia mulai menekan tombol-tombol di konsol utamanya. Aksi Bara Mencari Kelemahan Mental: Bara tahu, Master Ilmiah seperti Profesor Delta ini sombong karena logika dan data mereka. Mereka benci hal-hal yang tidak terduga. Bara tersenyum damai dan berjalan pelan ke arah Profesor Delta. "Profesor, Anda harusnya tenang. Perhitungan Anda salah," kata Bara. "Salah apa?! Chi Gerry hanya Tier 3, itu data yang sudah terverifikasi!" balas Profesor Delta, nadanya tinggi. "Anda benar, Chi Gerry Tier 3. Tapi Anda lupa menghitung variabel terbesar: Ego dan Keterkejutan," kata Bara. "Anda terkejut karena dia kuat, itu membuat fokus Anda hilang. Dan Anda terlalu percaya pada data sehingga Anda tidak melihat potensi manusia untuk berubah. Anda terlalu mengandalkan hitungan, Profesor." Bara kemudian mengambil pulpen dari saku kemejanya, dan menusuk salah satu kabel kecil di konsol Profesor Delta. Bukan kabel penting, hanya kabel display biasa. ZZZZTT! Layar konsol Profesor Delta langsung mati. Profesor Delta langsung panik total. "Layar! Data utama saya! Tidak mungkin!" "Saya minta maaf, Profesor! Saya tidak sengaja menusuk kabel itu! Tangan saya licin!" Bara pura-pura panik. Profesor Delta tidak peduli dengan Chi lagi. Dia hanya peduli dengan data. Dia mulai menjerit-jerit sambil memukul-mukul konsolnya yang mati. "Anda lihat, Profesor?" kata Bara tenang. "Kelemahan Anda bukan fisik. Kelemahan Anda adalah ketergantungan buta pada logika. Anda tidak bisa menghadapi hal acak yang tidak masuk hitungan, seperti saya yang tersandung pulpen." Gerry menghancurkan drone terakhir. Dia terengah-engah, Chi-nya terkuras, tapi dia puas. Dia sudah melampiaskan amarahnya dengan cara yang benar. "Sudah selesai, Bara! Aku berhasil!" teriak Gerry. Bara menunjuk Profesor Delta yang sedang menangis panik di depan konsolnya yang mati. "Profesor Delta sudah selesai, Gerry. Dia hancur secara mental," kata Bara. Bara dan Risa mulai merekam semua data di Lab Delta. Mereka menemukan bahwa Zenith merencanakan untuk menjual pil yang menciptakan kecemasan ke seluruh dunia untuk melemahkan Master lainnya. Saat mereka sibuk merekam, Tuan Black kembali. Dia melihat Profesor Delta menangis histeris. Tuan Black terkejut. "Apa yang kau lakukan pada Master Ilmiahku?!" desis Tuan Black. "Aku cuma menusuk kabelnya dengan pulpen, Tuan," Bara menjawab santai. "Dan dia terlalu percaya pada data, jadi dia nggak bisa move on dari kegagalan kecil. Anda lihat? Master terkuat pun bisa hancur hanya karena kabel putus." Tuan Black menyadari, dia tidak bisa mengalahkan Bara. Dia tidak bisa membuat Bara takut, dan dia tidak bisa menyerang orang yang sudah dikuasai ketenangan. Tuan Black tahu, dia telah kalah telak. Tuan Black malah kabur lagi. Bara, Risa, dan Gerry berhasil keluar dari Lab Delta, membawa semua bukti. Gerry menatap Bara. "Kau... kau benar. Aku harusnya lebih tenang. Aku harusnya nggak marah." Bara tersenyum., Gerry. Kamu baru saja lulus ujian terbesar. Sekarang, ayo kita bawa semua bukti ini ke Tuan Raka."Cahaya dipusat dunia berputar pelan seperti lingkaran putih yang terus berputar. Bara berdiri paling depan, tubuhnya tegak, tapi kedua tangannya terlihat gemetar. Kael mendekatinya. “Hei… jangan diam terlalu lama. Kau buat aku gugup.” Gerry mengangkat tangan. “Aku dari tadi gugup! Aarrghh… aku tidak mau mati di bab terakhir!” Liora menoleh tajam. “Gerry. Tenang.” “Aku mencoba tenang!” Gerry menekan dadanya. “Tapi tempat ini sangat menakutkan!” Risa melangkah mendekat sambil memegang bahu Bara. “Bara… apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” Bara menatap kepusat cahaya itu. “Jika aku tidak masuk ke inti, dunia akan runtuh. Tapi kalau aku masuk, mungkin aku tidak kembali.” Alen menarik baju Bara dari samping. “Paman Bara… jangan pergi sendirian…” Bara tersenyum kecil. “Paman tidak pergi untuk meninggalkan kalian. Paman pergi untuk membuat kalian tetap hidup.” Kael mengerutkan kening. “Kalau kau bicara seperti itu… terdengar seperti perpisahan.” “Karena memang begitu,” j
Suasana di ruang pusat semakin kuat. Cahaya dari inti dunia memancar dengan kuat, membuat bayangan bergerak seperti hidup. Bara berdiri paling depan, wajahnya tegang namun fokus. Kael melirik ke kiri dan kanan. “Sial… tempat ini seperti menunggu kita. Aku tidak suka tempat seperti ini.” Gerry menelan saliva. “Aduh… aku juga tidak suka. Kalau ini meledak, aku pasti pingsan.” Liora berjalan mendekati Bara. “Semua aliran energi ini mengarah padamu. Jika inti ini sudah aktif penuh, kau bisa terseret kedalamnya.” Bara menatap inti yang berputar terang. “Aku tahu. Tapi kita sudah terlalu jauh untuk mundur.” Risa mendekat sambil menggenggam tangan Alen. “Bara… apa kau yakin bisa menghentikan ini? Penjaga tadi mengatakan bahwa tidak ada jalan aman.” Bara menatap Risa. “Aku tidak butuh jalan aman. Aku butuh jalan yang tepat.” Kael mendengus. “Hei… jawabanmu itu selalu membuat aku tambah cemas.” Gerry langsung merespons cepat. “Iya! Kalau ada cara yang tidak membuat aku mati,
Bara berdiri di depan gerbang raksasa itu. Permukaannya berwarna abu gelap dengan garis cahaya tipis yang bergerak pelan, seperti nadi yang menunggu keputusan terakhir. Kael mendekat sambil mengusap wajahnya. “Aduh… tempat ini membuat kepalaku sakit. Gerbangnya seperti melihat kita.” Gerry memukul dadanya pelan. “Aarrghh… aku tidak mau masuk. Tolong katakan kalau kita punya pilihan lain.” “Tidak ada,” jawab Bara singkat. “Ini satu-satunya jalan menuju pusat.” Liora memeriksa ujung gerbang. “Bara, ada tanda Nada Ketiga di bagian samping.” Ia menyentuh sedikit, lalu menarik tangannya dengan cepat. “Panas.” Risa menggendong Alen lebih erat. “Jika kita masuk, apa yang menunggu kta di dalam?” Bara menatap gerbang itu tanpa bergeser. “Penentu akhir.” Kael menggeram pendek. “Brengsek… kalau yang menunggu itu makhluk aneh seperti Penjaga tadi, aku akan mundur sedikit, bukan lari, tapi… ya mundur.” Gerry menjitak lengannya sendiri. “Tolong jangan bercanda! Aku hampir pingsan
Lorong menuju pusat dunia semakin menyempit. Dinding batu bergetar pelan, seakan menolak kehadiran mereka. Kael mengangkat tangan. “Lihat itu… lantainya bergerak lagi.” Gerry langsung mundur satu langkah. “Aduh… jangan bergerak dulu. Kalau lantainya runtuh, aku ikut jatuh.” Liora menunduk, memperhatikan permukaan lantai yang bergeser perlahan seperti lempengan. “Ini bukan runtuhan. Ini sedang menyusun ulang jalurnya.” Kael mendesis. “Bagus sekali. Dunia ini punya kesadaran sekarang.” Bara berjalan paling depan. “Gerbang pusat ada di ujung koridor ini. Kita harus lanjut.” Risa memegang lengan Bara. “Tunggu. Saya dengar suara langkah dari kanan.” Kael menoleh cepat. “Apa lagi yang muncul kali ini?” Alen memegang tangan ibunya erat. “Ibu… aku dengar ada memanggil aku lagi.” Gerry langsung mengangkat kedua tangan. “Tidak! Jangan ikuti suara itu! Itu pasti jebakan! Pasti!” Liora menghunus belatinya. “Siap apa pun yang keluar.” Bara memejamkan mata sebentar, lalu men
Lorong terakhir itu terbuka perlahan, memperlihatkan cahaya putih dari dalam ruang pusat. Bara berdiri paling depan, menatap gerbang besar yang tampak seperti berlapis-lapis cahaya. Kael menelan ludah. "Aku tidak suka gerbang seperti ini. Terlalu sunyi. Biasanya ini pertanda ada sesuatu yang menunggu." Gerry mengangkat tangannya yang gemetar. "Aduh… Aku rasa lututku mau copot. Tolong jangan biarkan aku yang berjalan paling depan." Liora berdiri di sisi Bara, tatapannya tidak lepas dari cahaya di depan. "Begitu kita masuk, ruangan ini bisa menutup jalannya sendiri. Kita harus waspada." Risa mendekat sambil memeluk Alen. "Bara… apakah ini benar-benar titik akhirnya?" "Ya," jawab Bara dengan suara pelan. "Jika kita ingin menghentikan benturan Nada Ketiga, semuanya harus terjadi di dalam sana." Kael menepuk telapak tangannya. "Baik. Kalau begitu, kita masuk dan selesaikan saja." Gerry memekik pelan. "Aarrghh… itu kedengarannya seperti rencana yang sangat buruk, tapi aku ik
Lorong terakhir itu terbuka seperti pintu batu yang bergerak perlahan. Dari balik celah, cahaya putih menyebar perlahan, membuat bayangan mereka memanjang di lantai. Kael menahan napasnya. "Aduh… akhirnya. Tapi kenapa tempat ini terasa seperti ruang penghakiman?" Gerry memegangi dadanya. "Saya setuju. Kalau ini pusat dunia, saya berharap ada kursi empuk. Tapi seperti biasa… tidak ada apapun." Liora mengamati dinding yang penuh garis melingkar. "Energinya kuat. Pusat dunia sudah tidak jauh lagi." Bara berdiri paling depan. "Kita masuk perlahan. Jangan sampai terpisah." Risa menggenggam tangan Alen. "Nak, di sini tetap dekat ibu, ya. Jangan lihat ke mana-mana tanpa izin." Alen mengangguk. "Ya, Bu…" Mereka melangkah maju. Saat pintu terbuka lebar, sebuah ruangan besar menyambut mereka. Lantainya seperti piringan besar yang bergerak pelan. Cahaya turun dari atas, mirip hujan rintik. Kael mendesis. "Wah. Tempat ini lebih aneh dari yang aku bayangkan." Gerry menunjuk ke tengah rua







