Home / Pendekar / Kultivator Surgawi / 1 Pengkhianatan di Bukit Bunga

Share

Kultivator Surgawi
Kultivator Surgawi
Author: Klan Fang

1 Pengkhianatan di Bukit Bunga

Author: Klan Fang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-14 08:54:08

Angin musim semi berhembus lembut di atas Bukit Bunga Merah, membawa serta harum ribuan kelopak yang bermekaran di antara jalan setapak berbatu. Di sinilah, di tempat yang katanya paling indah di seluruh Kota Yanfeng, sepasang muda-mudi berlarian dengan tawa yang mengisi setiap sudut bukit itu.

Pemuda itu tampan bukan kepalang. Rahangnya tegas, matanya hitam pekat seperti batu obsidian, dan senyumnya adalah senjata paling berbahaya yang pernah dimilikinya, walaupun dia sendiri tidak pernah menyadarinya. Namanya Chu Jianqiu, seorang kultivator muda yang dulu dianggap berbakat oleh tidak sedikit orang di kota ini.

Dulu.

Di sebelahnya berlari seorang gadis dengan gaun biru pucat berkibar bak sayap kupu-kupu. Liu Tianyao. Kulitnya putih seperti giok, bibirnya merah alami, dan rambutnya hitam panjang yang sesekali tersibak oleh angin. Setiap lelaki yang pernah melihatnya pasti akan berpaling dua kali.

"Jianqiu! Jangan lari begitu cepat!" serunya sambil tertawa, suaranya nyaring seperti lonceng perak.

Chu Jianqiu terkekeh lalu memperlambat langkahnya, membiarkan gadis itu menyusul dan langsung memeluk lengannya dari belakang. Dia berbalik, menatap wajah gadis itu dari dekat, dan hatinya berdegup seperti biasa.

'Tiga tahun. Tiga tahun aku mencintainya.'

"Duduk dulu," ujarnya sambil menunjuk sebongkah batu datar besar yang diselimuti lumut halus, tepat di tepi tebing dengan pemandangan kota di bawah. "Aku punya kejutan untukmu."

Liu Tianyao mengerucutkan bibirnya dengan gemas, lalu duduk dengan anggun di atas batu itu. "Kejutan? Kejutan apa?"

Mata gadis itu berbinar-binar. Setidaknya, begitulah yang terlihat oleh Chu Jianqiu.

Pemuda itu tersenyum lebar. Dengan gerakan penuh antusias, dia merogoh kantong penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna merah menyala. Pil itu berpendar redup dalam genggamannya, memancarkan kehangatan yang bahkan bisa dirasakan dari jarak beberapa langkah.

Liu Tianyao mengernyit. "Ini... pil pembakar darah?"

"Benar." Chu Jianqiu mengangguk mantap.

"Aku tidak," gadis itu terdiam sejenak, kebingungan menghiasi wajahnya. "Aku tidak membutuhkan pil seperti ini, Jianqiu. Untuk apa?"

Pemuda itu tertawa kecil, lalu menjentikkan jari ke arah pil itu.

"Bukan untukmu, Tianyao. Ini untukku."

Hening sejenak. Angin berhembus, membawa gugur beberapa kelopak bunga merah di antara mereka berdua.

"Untukmu?" Liu Tianyao mengulang kata itu pelan.

Chu Jianqiu mengangguk, matanya berbinar penuh keyakinan. "Aku membaca sebuah kitab pengobatan kuno tiga bulan lalu. Tertulis di sana bahwa serangan hawa dingin seburuk yang kau derita hanya bisa dihilangkan sepenuhnya jika sang penyembuh mengaktifkan garis darah panasnya hingga beberapa kali lipat dari biasanya." Dia menghela napas panjang. "Selama tiga tahun ini, pengobatan yang kulakukan belum pernah cukup efektif. Tapi kali ini berbeda. Kali ini aku yakin."

Gadis itu memandanginya. "Tapi pil pembakar darah itu akan melukai dirimu sendiri."

"Tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa?" Liu Tianyao menaikkan satu alisnya. "Jianqiu, pil itu akan..."

"Tidak apa-apa," ulang pemuda itu lebih tegas, dan senyumnya melebar tanpa sedikit pun bayangan keraguan. "Kau sudah menderita cukup lama. Ini saatnya semua itu berakhir."

Liu Tianyao tertunduk.

Wajahnya tersembunyi dari pandangan Chu Jianqiu.

Dan di situlah, di balik helai rambutnya yang terurai, sebuah senyuman perlahan merekah di sudut bibirnya. Bukan senyuman haru. Bukan senyuman terharu. Melainkan senyuman yang dingin, tipis, dan penuh kalkulasi, senyuman seseorang yang tengah menyaksikan sebuah rencana berjalan tepat seperti yang diinginkan.

Namun Chu Jianqiu tidak melihat itu.

Dia terlalu sibuk memandangi langit, bersyukur dalam hati.

Pil pembakar darah itu meleleh di lidahnya seperti bara.

Satu tarikan napas. Dua. Tiga.

Kemudian panas itu merayap dari perut, menjalar ke dada, naik ke bahu, turun ke ujung jari. Darahnya mulai mendidih dalam nadi. Bukan rasa sakit biasa. Ini seperti ribuan jarum kecil menusuk dari dalam sambil sebuah tungku menyala di rongga dadanya.

Chu Jianqiu mengatupkan rahang rapat-rapat dan tidak mengeluarkan satu pun erangan.

'Tidak boleh menunjukkan kelemahan di hadapannya.'

Dia mengangkat kedua tangannya, meletakkannya di atas punggung Liu Tianyao, dan mulai menyalurkan qi yang kini membara seperti lahar. Garis darah panas dalam dirinya, kemampuan langka yang diwarisi dari leluhurnya, kini berputar dengan kecepatan yang belum pernah dia capai sebelumnya, didorong habis-habisan oleh efek pil terkutuk itu.

Pengobatan dimulai.

Dan kali ini, memang berbeda.

Dalam hitungan menit pertama saja, Liu Tianyao sudah menghela napas panjang. Hawa dingin yang selama bertahun-tahun bersarang di meridiannya mulai terusir, didorong keluar oleh gelombang panas yang mengalir dari tangan Chu Jianqiu. Gadis itu bisa merasakannya dengan sangat jelas, sesuatu yang selama ini menggerogoti tubuhnya dari dalam kini mulai runtuh, lapisan demi lapisan.

Sementara itu, Chu Jianqiu terus bertahan.

Satu jam.

Dua jam.

Keringat bercucuran membasahi bajunya. Wajahnya memutih. Napasnya makin pendek. Tapi tangannya tidak pernah bergeser dari punggung sang gadis.

Dia memikirkan tiga tahun terakhir ini. Betapa tidak terhitung ramuan yang dia cari dari berbagai penjuru kota. Betapa banyak malam tanpa tidur yang dia habiskan untuk mempelajari manuskrip pengobatan. Betapa dia sama sekali tidak sempat berlatih kultivasi, sementara teman-teman seangkatannya kini sudah melompat dua hingga tiga tingkatan di atasnya.

Tidak ada yang dia sesali.

'Asal kau sembuh, Tianyao. Asal kau sembuh.'

Jam ketiga.

Chu Jianqiu sudah hampir tidak merasakan tubuhnya sendiri. Qi-nya nyaris habis. Panas dalam darahnya sudah menguras hampir seluruh cadangan vitalitas yang dia miliki. Setiap hembusan napas terasa seperti menelan abu panas.

Tapi di saat itulah, sesuatu yang besar terjadi.

Hawa dingin terakhir yang bersembunyi jauh di dalam inti meridian Liu Tianyao akhirnya pecah, tersapu habis oleh gelombang panas terakhir yang Chu Jianqiu hantamkan dengan seluruh sisa kekuatannya.

Selesai.

Pemuda itu menarik tangannya pelan. Tubuhnya goyah. Dia hampir jatuh, tapi berhasil menstabilkan diri dengan satu lutut menyentuh tanah.

"Tianyao," panggilnya dengan suara serak, napasnya tersengal-sengal. "Sudah... sudah tidak ada lagi. Kau bebas. Hawa dingin itu sudah hilang sepenuhnya."

Dia mengangkat kepala dengan susah payah, menunggu jawaban gadis itu.

Dan Liu Tianyao bangkit.

Perlahan. Anggun. Seperti seseorang yang baru saja selesai beristirahat.

Dia berdiri memunggungi Chu Jianqiu selama beberapa detik, menatap pemandangan kota di bawah bukit. Jari-jarinya bergerak perlahan ke gagang pedang di pinggangnya.

Kemudian dia berbalik.

Dan Chu Jianqiu melihat wajahnya.

Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada air mata syukur. Tidak ada senyuman lembut yang selama tiga tahun ini selalu membuatnya sanggup menanggung segalanya.

Yang ada hanya kedinginan. Kedinginan yang jauh lebih menusuk dari hawa dingin mana pun yang pernah Chu Jianqiu rasakan dalam hidupnya.

Senyuman tipis itu merekah di bibir Liu Tianyao.

"Kau sudah menyelesaikan tugasmu, Chu Jianqiu," ujarnya dengan suara datar, hampir santai. Pedangnya setengah tercabut dari sarungnya. "Lebih baik kau mati sekarang."

Hening.

Bahkan angin seolah berhenti bertiup.

Chu Jianqiu menatap gadis itu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.

'Apa...?'

"Tianyao," akhirnya dia berhasil mengeluarkan satu kata. "Apa maksudmu?"

Liu Tianyao mendengus pelan. "Maksudku sangat jelas."

"Aku baru saja..." tenggorokannya tercekat. "Aku baru saja menghabiskan tiga tahun hidupku untukmu. Aku baru saja meminum pil pembakar darah demi menyembuhkanmu. Aku..."

"Ya, ya." Gadis itu melambaikan tangan dengan malas, seolah mendengar hal yang tidak terlalu menarik. "Dan aku berterima kasih atas itu. itu memang Sangat berguna bagiku."

"Berguna?"

"Tentu saja." Liu Tianyao menatapnya dengan tatapan yang kini terasa benar-benar asing, tatapan seseorang yang menatap sebuah alat yang sudah tidak diperlukan lagi. "Kau berpikir aku sungguh-sungguh mencintaimu, Chu Jianqiu? Kau berpikir gadis sepertiku akan puas menjadi istri dari seorang pemuda yang bahkan tidak bisa menjaga kemajuan kultivasinya sendiri?"

Setiap kata itu mendarat seperti tamparan.

"Keluargamu biasa-biasa saja. Prospekmu tidak ada. Dan sekarang, setelah meminum pil pembakar darah itu, tubuhmu sudah rusak dan kultivasimu sudah tidak bisa diselamatkan lagi." Dia memiringkan kepala sedikit. "Lalu apa gunanya kamu bagiku?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Abdulhamid Sutarwi
kisahnya nih sebuah penghianatan.
goodnovel comment avatar
KUDALUMPINGKU KUDALUMPINGKU
Baca cerita nya sesuai dan bacanya sangat pas dengannya tulisnya dan sesuai du baca nya terima kasih
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kultivator Surgawi   3840 Fu Taihe

    Bab 3840 Fu Taihe"Kakak Xiahou, aku tidak takut, jadi apa yang kau takutkan?" Xu Henghu menatap Xiahou Bai dari atas ke bawah dan berkata tanpa berkata-kata, "Kau benar-benar lebih khawatir daripada kaisar, kau hanya ikut campur!"Wajah Xiahou Bai memerah mendengar ini. Sialan, apa kau pikir aku mau berurusan denganmu, dasar iblis wanita tak taat hukum? Intinya, jika terjadi sesuatu padamu, Monster Tua Duan tidak akan membiarkanku lolos begitu saja.Dia pernah memukuli Xu Henghu, dan dipukul di kepala oleh Duan Laoguai, kemudian diseret ke tempat terpencil dan diancam.Bahkan hingga kini, dia masih mengingat adegan itu dengan jelas.Pak Tua Duan mengatakan bahwa muridnya telah dianiaya, jadi dia akan menguburnya hidup-hidup.Sambil berbicara, dia juga menggali lubang.Awalnya, dia tidak tahu bahwa lelaki tua yang jorok itu adalah Duan, si Monster Tua yang terkenal di Aliansi Dao, jadi dia menyebutkan identitasnya sebagai murid Taois dari Aliansi Dao dalam upaya untuk mengancamnya.Di

  • Kultivator Surgawi   3839 Pertemuan Kembali dengan Wu Lingbing

    Bab 3839: Pertemuan Kembali dengan Wu LingbingDengan itu, Chu Jianqiu melesat pergi, meninggalkan Menara Tertinggi Kekacauan, membuka pintu, dan berjalan keluar.Chu Jianqiu pergi menemui Kepala Istana Tianfeng. Kepala Istana memberitahunya beberapa hal penting mengenai Turnamen Bela Diri Benua Tengah dan memintanya untuk mempersiapkan diri agar dapat berpartisipasi dalam Turnamen Bela Diri Benua Tengah keesokan harinya.Chu Jianqiu tidak berlama-lama di kamar Master Istana Phoenix Surgawi dan segera pergi.Setelah meninggalkan ruangan Master Istana Phoenix Surgawi, Chu Jianqiu pergi mencari Ru Hua.Setelah memasuki ruangan tempat lukisan itu berada, Chu Jianqiu melihat sekeliling dan mendapati bahwa Xu Henghu tidak ada di sana."Ruhua, di mana Xu Henghu? Bukankah dia di sini bersamamu?" tanya Chu Jianqiu sambil menatap Ruhua."Saudari Henghu baru saja pergi. Xiahou Bai, seorang murid Tao dari Aliansi Dao, datang mencarinya, mengatakan bahwa dia adalah seorang tetua dari Aliansi Dao

  • Kultivator Surgawi   3838 Sembilan Transformasi Naga Surgawi

    Bab 3838 Sembilan Transformasi Naga Surgawi Setelah derasnya informasi di benaknya mereda, empat kata muncul dengan jelas di benak Chu Jianqiu: Sembilan Transformasi Naga Surgawi! Pada saat itu, Chu Jianqiu juga menyadari bahwa apa yang baru saja dilihatnya bukanlah pemandangan sebenarnya, melainkan bayangan hantu dari warisan yang disebut Sembilan Transformasi Naga Langit. Aula megah ini adalah inti sebenarnya dari reruntuhan istana naga kuno ini—tempat warisan. Klon naga emas Chu Jianqiu duduk bersila di aula utama, diam-diam mencerna sejumlah besar informasi yang baru saja membanjiri pikirannya. Klon naga emas Chu Jianqiu membutuhkan waktu tiga hari tiga malam untuk memproses sejumlah besar informasi yang ada di pikirannya. Ini belum merupakan pemahaman yang lengkap, melainkan hanya garis besar kasar. Banjir pesan yang ia terima berisi begitu banyak informasi sehingga dibutuhkan waktu yang tidak diketahui lamanya untuk memahaminya sepenuhnya. Setelah awalnya meneliti inform

  • Kultivator Surgawi   3837 Naga Langit yang Sangat Besar

    Bab 3837 Naga Langit yang Sangat BesarKarena Harimau Pemangsa telah menghilang beberapa hari terakhir ini, Qing'er telah mengambil alih tugas menjaga gerbang untuk tuan muda.Ru Hua juga tahu bahwa Chu Jianqiu menugaskan seseorang untuk menjaga gerbang karena dia tidak ingin orang lain mengetahui rahasia Menara Tertinggi Kekacauan.Meskipun Ru Hua berpikiran sederhana, dia tidak bodoh. Tentu saja, dia tidak akan menceritakan rahasia sepenting itu kepada orang lain.Setelah mendengar perkataan Ru Hua, Xu Henghu tidak membahas topik itu lebih lanjut.Dia mengobrol dengan Ruhua beberapa saat lagi, lalu bangkit untuk mengucapkan selamat tinggal, meninggalkan kamar Ruhua, dan kembali ke kamarnya sendiri.Istana Tianfeng sangat luas. Bahkan dengan puluhan ribu murid Istana Tianfeng yang tinggal di sana, masih banyak ruangan dan halaman yang tersedia. Karena Xu Henghu ingin tinggal di sini, Istana Tianfeng tidak mungkin mengusirnya.Pada hari-hari berikutnya, Xu Henghu selalu hadir di setia

  • Kultivator Surgawi   3836 Saudari Henghu, jika Anda menyukainya, silakan pilih salah satu!

    Bab 3836 Saudari Henghu, jika Anda menyukainya, silakan pilih salah satu!Sejak Xu Henghu tiba di kediaman Istana Tianfeng, ada satu orang tambahan yang berebut makanan di meja makan sehari-hari.Setelah merasakan khasiat Nasi Gigi Naga, Xu Henghu menolak untuk meninggalkan kediaman Istana Tianfeng.Agar bisa tetap tinggal di kediaman Istana Tianfeng, dia berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan Ruhua.Adapun Ru Hua, karena Xu Heng Hu membela Chu Jian Qiu dengan begitu adil di jamuan makan Perusahaan Perdagangan Baotong, dia juga sangat menyukai Xu Heng Hu. Tak lama kemudian, keduanya menjadi sahabat karib yang bisa membicarakan apa saja.Begitu Ru Hua menganggap seseorang sebagai saudara perempuan yang baik, dia secara alami akan memberikan semua hal terbaik kepada orang tersebut.Atas bujukan Xu Henghu, dia memberikan harta sihir tingkat tinggi seperti Pil Pembersih Sumsum, Pil Agung yang Mendalam, Pil Peremajaan, Jimat Peningkat Kekuatan, Jimat Perisai Emas Agung, Jimat Penyembun

  • Kultivator Surgawi   3835 Kucing putih besar itu sering menyebut namamu!

    Bab 3835 Kucing putih besar itu sering menyebut namamu!Mendengar itu, Jiang Shu terdiam.Sebaiknya dia tidak terlalu terlibat dalam hal semacam ini.Meskipun bibi saya saat ini berada di bawah tahanan rumah oleh keluarga Jiang, dia tetaplah putri sulung kepala keluarga dan salah satu ahli bela diri paling berbakat di generasi itu dalam keluarga Jiang.Aku mendengar bahwa dua tahun lalu, bibiku berhasil mencapai Alam Evolusi Surgawi setengah langkah.Tanpa sumber daya kultivasi apa pun untuk mendukungnya, dia tetap mampu menembus ke Alam Evolusi Surgawi setengah langkah hanya melalui kultivasinya sendiri. Bakat bela diri seperti itu sungguh menakutkan.Jika bibiku suatu hari nanti berhasil mencapai Alam Evolusi Surgawi, keluarga Jiang mungkin tidak akan terus menahannya di bawah tahanan rumah.Biaya untuk menempatkan seorang ahli Alam Evolusi Surgawi di bawah tahanan rumah sangat besar.Jika putranya terbunuh, semua orang yang terlibat akan menderita nasib buruk begitu bibinya berhasi

  • Kultivator Surgawi   7 Jimat dan Penghinaan di Paviliun Lingfu

    Perusahaan Perdagangan Wanwu adalah nama yang dikenal oleh hampir setiap orang di Dinasti Qian Agung. Bukan sekadar dikenal, melainkan dihormati, bahkan ditakuti. Bisnisnya menjangkau seluruh wilayah kekaisaran tanpa terkecuali, dengan cabang di setiap prefektur besar. Di dalamnya diperjualbelikan

  • Kultivator Surgawi   6 Sembilan Hari yang Tersisa

    Ru Hua masuk ke kamar dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Gadis pelayan itu mengerutkan kening, bibirnya sedikit mengatup sebelum akhirnya dia membuka suara."Tuan Muda, saya baru mendengar kabar dari beberapa orang di koridor. Tuan Muda Chu Han telah mengajukan usul kepada

  • Kultivator Surgawi   5 Membuktikan Diri

    Malam itu, setelah Ru Hua mengompres pipinya yang masih sedikit bengkak dan membawakan makan malam sederhana yang dia makan tanpa banyak bicara, Chu Jianqiu duduk bersila di kamarnya, memejamkan mata, dan masuk ke dalam menara. Pintu pertama yang terbuka menyambutnya dengan hawa spiritual yang men

  • Kultivator Surgawi   4 Ditindas Keluarga Sendiri

    Chu Jianqiu menyandarkan kepala ke dinding dan memejamkan mata. Di dalam alam pikirannya, cahaya menara itu berdenyut pelan. Hangat. Seperti detak jantung yang lain. Dia tidak tahu dari mana menara itu berasal. Mungkin ibunya meninggalkannya sebelum pergi. Mungkin ayahnya. Mungkin juga keduanya t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status